Melawan, atau Benjol..!


Silakan sebut gw munafik lantaran ngga pro-Palestina, tapi setelah baca cerita ini, biarkan Tuhan tentukan siapa yang benar.

THE UNMEASURABLE PRICE OF WAR
Paul Martin

Sahabat saya Ashraf dan saya telah bekerja, makan, mengobrol..bahkan bertentangan pendapat, melalui begitu banyak tugas siaran – sebagian di bawah tekanan keras sebagai militan Palestina di Gaza melawan Israel, atau satu sama lain.

Pada hari ke-6 perang saat ini saya tak dapat menghubungi Ashraf di ponsel.

Kelak, dengan berlinangan air mata, dia memberi tahu saya kenapa. Adiknya yang paling kecil, Mahmoud, 12 tahun, dan sepupunya yang berumur 14 tahun, diberi tahu keadaan di luar sedang terlalu berbahaya. Rumah keluarga Ashraf berada di jalan yang sisinya merupakan gurun. Jadi anak-anak itu bermain dengan polos di atap datar rumah keluarga itu.

Lalu pesawat terbang Israel yang tak berawak menembakkan dua roket kecil.

Ashraf lari ke atas dan membawa anak-anak itu ke rumah sakit, tapi sia-sia. Keduanya dimakamkan hari itu juga.

Itulah yang terbaru dalam seri bencana bagi ayah Mahmoud dan Ashraf yang amat terpuji, seorang dokter. Dia telah berubah menjadi pengungsi sejak perang 1948.

Tahun lalu dia kehilangan satu putra, kameramen saya yang mengagumkan dan sulit tertahankan, Ahmed, dalam tabrakan mobil. Dan kini anaknya yang terkecil, Mahmoud.

PERISTIWA MENGERIKAN
Adakah alasan untuk serangan roket itu?

Mungkin saja. Kendaraan antena Israel tak berawak mungkin telah menyiarkan kembali gambar langsung yang tak menunjukkan anak-anak tapi sekedar figur tidak jelas yang bergerak di atas atap. Seberapa jelasnya gambaran pesawat terbang akan dak atap rumah Ashraf, akan menjadi subyek pemeriksaan, seperti yang dijanjikan Israel.

Juga, rumah Ashraf dekat dengan salah satu markas besar keamanan kota itu.

Pada Juni 2007 saya telah melihat – sedang berteduh di bawah papan daging yang berayun di dalam toko daging – ketika gedung itu ditangkap oleh pasukan Hamas.

Saya telah melihat rakyat sipil Israel tewas juga, hancur berkeping-keping dalam bom bunuh diri. Sebelas orang tewas – termasuk sekeluarga berenam di sisi jalan Jerusalem – kepingan badannya berhamburan di dinding.

Ada peristiwa mengerikan pada tahun 2001 di hotel pinggir pantai di Netanya. Pisau dan garpu tergantung menempel dalam langit-langit ruang makan, tempat 30 pria dan wanita lansia berkumpul untuk pesta makan-makan, semuanya kini sudah tewas.

Dan di kota Sderot, Israel, pada dua tahun lalu, saya bertemu supir ambulans yang telah ngebut ke peristiwa serangan roket yang meratakan rumah dekat jalur Gaza.

Ditemukannya cucuny sendiri, Osher, 1 tahun, terbaring dengan mata kirinya berayun keluar dan kepalanya pecah terbuka. Dokter menyelamatkan jiwanya.

Lalu di pinggir jalan Sderot, ada bangku kecil, terlukis dengan bebungaan merah dan biru pada titik tempat Ella, 17, seorang musisi yang berbakat, sedang jalan-jalan ketika sebuah roket menghantam dan membunuhnya.

PAKSAAN UNTUK MEMBUNUH
Saya juga telah bertemu para pembunuh – orang-orang yang telah merontokkan orang-orang tak berdosa macam Ella si Israel atau Mahmoud si Palestina. Mereka punya penjelasan sendiri. Beberapa bulan lalu, saya pergi dengan brigade penembak roket Palestina yang tekun mengirim persenjataan mereka ke jantung kota Israel (Sderot itu sendiri sebenarnya).

Mohammed, 24, (pada misi penembakan roket pertamanya) bilang bahwa pria, wanita, dan anak-anak Israel suatu hari nanti akan menghabisi para pejuang. “Jadi ayo bunuh mereka duluan,” katanya.

Berbulan-bulan kemudian, saya ketemu dia di jalanan Gaza. Dia telah memutuskan pensiun dari penembakan roket dan kembali ke pemrograman komputer.

Perdana menteri Hamas punya penasehat didikan Amerika, yang pernah bilang kepada saya di kamera, “Roket kami belum cukup mematikan, tapi suatu hari nanti, dengan izin Tuhan, they will be.”

Saya juga ketemu dua pilot Israel dari brigade Kobra, belitan ular menghias pada sisi helikopter satu-awak mereka, masing-masing dipasangi peluncur roket dan senapan mesin.

Salah satu pilot, Uri, menurunkan kacamata pilotnya, lalu mencabut keluar kliping koran Yahudi dengan foto seorang bocah pria dan kakeknya.

Mereka tewas, ceritanya, waktu pria ini sedang menjemput anak ini dari penitipan anak. Uri sedang terbang, bertujuan membunuh mereka yang disebutnya teroris. “Saya selalu bawa foto-foto ini kalau sedang bertugas,” dia menjelaskan. “..untuk mengingatkan saya bahwa saat saya memburu teroris, saya sedang melindungi orang-orang macam ini.”

Tidur nyenyakkah ia di malam hari? Saya bertanya kepadanya.

Terdiam sejenak. “Tidak,” katanya. “Terkadang saya terbangun dan penasaran, ketika saya melihat target kami yang dekat dengan rakyat sipil, apakah benar jika tidak saya tembak. Mungkin saya biarkan dia hidup dan besok dia akan bunuh rakyat sipil kami.”

Dari kaum pejuang Israel atau kaum Palestina, dapatlah saya rasakan empati yang besar terhadap mereka yang tidak bersalah.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

3 comments

  1. Salah satu sebab kenapa banyak turunan Israel (Yahudi) yang ganti kewarganegaraan, karena nggak tahan liat mental bangsanya sendiri yang nggak mau damai sama tetangga, selain juga coz takut anak-anak mereka disuruh jadi wamil buat ngegusur Palestina.

    Saya nggak menyangkal tentara mereka pada goblok bin bajingan semua, tapi harap diketahui itu karena indoktrinasi yang keliru dari pemerintahan mereka yang salah nerapin kitab Taurat.

    Banyak yang bersedia bantu Israel bikin negara sendiri, itu sebabnya wilayah Israel makin lama makin luas. Banyak yang bersedia bantuin Palestina juga, tapi nggak mau bersatu, padahal persatuan konsolidasi Liga Arab seharusnya cukup kuat buat mendesak Israel. Ini juga diperparah rakyat Palestinanya sendiri yang pecah jadi Hamas dan Fatah. Itu menjelaskan kenapa Israel makin kuat, sementara Palestina makin rontok sampai harus merekrut anak segala buat jadi tentara.

    Pada dasarnya, ini hanya pertarungan orang yang mempertahankan rumahnya sendiri. Tapi kalo untuk mempertahankan rumah itu harus menghajar rumah orang lain, itu sulit diterima.

  2. kalo gw kenapa kurang setuju… ama yang post mbak’e yang sekarang…

    gapapa kan mbak?

    soalnya pas ane ngeliat berita di Liputan6 pas Roket Israel ntu mbom Palestine mereka joged2 gtu di perbatasan..

    terus waktu ternyata bom israel pake yang fosfor putih (mbak’e pasti ngerti akibatnya, ane aja waktu nyiapin praktikum ati-ati banget) apakah ada rakyat sipil di israel yang mengecam.

    kalo diliat dari sejarahnya aja (coba mbak’e googling) wilayah palestine ko makin lama makin kecil ya? dan wilayah israel terus2an membludak kaya kurap-musim-ujan-di-badan-orang-yang-males-mandi apakah ada sipil israel yang demo?

    dan kalo mbak’e tau yang perang dipalestine bukan cuma orang2 militer dwang, anak2pun ikut perang gara-gara ga ada ada lagi cukup manpower

    senna-udah muak liat perang-

  3. Tulisan di atas gw terjemahin bebas dari BBC News, 10 Januari ’09, 12.16 GMT. Serta-merta gw ingat foto yang pernah gw repro ulang dari National Geographic Indonesia edisi Oktober ’08, karya Rachel Papo. Foto itu sungguh menggugah gw, jadi gw pasang untuk blog gw hari ini, tentang prajurit cewek yang lagi ngaso setelah latihan tempur. Perempuan Israel harus ikut wajib militer selama dua tahun. Rata-rata mereka jadi prajurit pada usia belasan, saat mestinya mereka lagi seneng-senengnya pacaran, pusing milih jurusan kuliah, dan repot belajar make stiletto. Setelah dua tahun wajib militer itu, mereka jadi warga bebas, kebanyakan melawat ke luar negeri untuk “menjernihkan pikiran”.

    Dengan kedua materi di atas, tidak sulit untuk simpati terhadap Palestina; tapi juga sulit untuk tidak simpati terhadap Israel. Apakah kita ini solider terhadap umat yang tertekan, tapi kita menolerir kaum penguasa militernya yang demen melempar misil sembarangan tanpa pandang bulu? Apakah orang-orang ini saling bunuh karena alasan agama, ataukah lantaran frustasi kaumnya dibantai oleh tetangganya? Bagaimana kalo kita lahir sebagai bangsa yang salah, yang ketika umur baru jadi ABG puber sudah dipaksa pegang-pegang bedil? Bagaimana kalo situasinya sempit, harus memilih antara “melawan atau benjol”?

    Gw nggak milih pro-Palestina. Gw milih pro-rakyat sipil yang hidup di tempat dan waktu yang salah. Dan rakyat sipil itu, ngga cuman sipil Palestina doang..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *