Souvenir Pembawa Petaka


Laki-laki memang tolol. Kadang-kadang mereka ngga tau tindakan mereka nyakitin kekasih mereka.

Di sebuah dusun di kota kecil di kabupaten gw, hiduplah sepasang suami-istri tua yang menyewakan apartemen di samping rumah mereka untuk seorang dokter perempuan yang lagi PTT di sana. Suatu hari masa tugas sang dokter itu berakhir, dan dia harus pulang ke Jawa. Lalu sebagai kenang-kenangan lantaran udah tinggal selama setahun di situ, sang dokter ninggalin fotonya kepada bapak-ibu kostnya.

Sebagai apresiasi tinggi terhadap dokter yang telah setia mengabdi untuk dusun itu, sang bapak kost majang foto sang dokter yang ukurannya cukup gede itu di dalam kamarnya. Foto itu ditaruh di sebelah foto si bapak sendiri, dan cuman dipisahin sama jam.

Foto itu tidak bertahan lama. Sang ibu kost ngebanting foto sang dokter sampai pecah, dan dikuncinya kamar itu sampai bapak kost ngga bisa masuk.

Selanjutnya ada dua dokter PTT yang tinggal ngekost di situ dan bertugas sampai masa kontraknya selesai, dan kisah itu turun-temurun ke dokter PTT berikutnya sebagai lelucon a la usia lansia. Selama bertahun-tahun bapak kost selalu bingung kenapa istrinya cenderung ketus kepada dirinya, sampai-sampai ia selalu minta konsul kepada dokter-dokter yang mendiami apartemen mungil itu. Dengan pendekatan a la dokter fresh-graduated yang masih perawan, mereka selalu bilang bahwa ibu kost punya sakit darah tinggi yang ngga boleh tersinggung. Tapi ngga ada satu pun yang berani bilang bahwa ibu kost punya masalah serius sama bapak kost, yaitu cem-bu-ru.

Akhirnya datanglah dokter PTT yang ketiga yang mendiami apartemen itu, seorang dokter yang keranjingan blogging dan senang jalan-jalan ke pasar malam. Suatu hari, setelah dia tinggal di situ selama empat bulan, sang bapak kost mengeluh kenapa istrinya ketus melulu dan dia sudah bosan lantaran dua dokter sebelumnya cuman ngasih nasehat favorit mereka (“Sabar ya Pak, sabar..”)

Setelah memutar-mutar pembicaraan beberapa kali, akhirnya dengan muka memerah si dokter blogger ini terpaksa bilang bahwa si ibu marah coz si bapak memajang foto perempuan muda di sebelah foto si bapak bertahun-tahun lalu.

Si bapak menyeringai bingung. Kenapa, dia ngga ngerti. Itu foto kenangan. Dokter itu pernah tinggal lama bersama mereka, jasanya tiada tara. Kenapa ia tidak boleh mengenangnya.

Di sinilah gw sadar kenapa wanita dan pria bisa berantem. Bukan lantaran yang satu dari Mars dan yang satu lagi dari Venus. Tapi lantaran yang satu berpikir pake perasaan, dan yang satu lagi..berpikir ngga pake otak.

Kepada si bapak kost, dokter blogger itu mencoba menjelaskan tentang perempuan yang cemburu. Cemburu ngga kenal umur, sudah tua pun bisa aja cemburu. Apalagi kalo udah menopause dan mesin peranakannya udah “turun”. Bapak kost manggut-manggut berusaha ngerti. Teori itu hanya bikin dia geli. Bagaimanapun dia hanya seorang pria yang kebetulan kelewat apresiatif terhadap foto mantan anak kostnya.

Mantan teman sekamar gw di apartemen gw ini, pernah bilang; sesuai kepercayaan orang Dayak, jika kamu mau meninggalkan tempat itu, baiknya tinggalkanlah salah satu barangmu. Dia sendiri, sebelum pulang ke kampung halamannya, dia ninggalin macem-macem; sendal jepit, jepitan jemuran, bahkan helm.

Masih 8 bulan lagi gw tinggal di sini, jadi gw belum tau mau ninggalin apa kalo gw pergi nanti. Yang pasti, ngga akan ninggalin foto. Ntar dipecahin juga deh..:-S

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

One comment

  1. Pacar gw pernah bilang, bahwa kesalahan umum para perempuan (yang sebenarnya dia mau bilang, termasuk kesalahan gw juga), adalah selalu diam kalo terjadi apa-apa. Dan kecuali kalo sampai ada yang ngasih tau, para pria akan selalu ngira bahwa memang ngga ada apa-apa.

    Ibu kost nampaknya butuh orang ketiga (dalam kasus ini, lebih tepatnya orang kelima) buat ngasih tau suaminya bahwa ia marah. Dan gw terkejut coz bapak kost ngga sadar selama bertahun-tahun akan apa yang jadi sumber masalah. Komunikasi ternyata tetap jadi problem besar, bahkan dalam rumah tangga masyarakat desa yang katanya serba kekeluargaan.

    Cemburu ngga kenal usia. Wanita menopause sulit ngungkapin cemburu, apalagi ini lingkungan dusun. Barangkali, ngga cuman perbaikan infrastruktur; tapi dusun terpencil ini juga butuh sumber-sumber daya manusia yang terpelajar, termasuk.. terapis pernikahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *