The Real Reality Show


Bayanginlah sebuah upacara pernikahan. Si mempelai pria ngucapin sumpahnya dengan terbata-bata. Diselipkannya cincin ke jari mempelai perempuannya, dan perempuan itu pun tersenyum. Ketika penghulu melegitimasi mereka menjadi suami-istri, ibunya mempelai perempuan langsung berurai air mata.Mendadak, bokap si mempelai pria muncul di ujung aula, dan berteriak marah, “Naaak! Wanita itu sebenarnya LAKI-LAKI!” Dan berikutnya, si mempelai perempuan jatuh pingsan.

Bukan, bagian lucunya bukanlah sosok bokap yang tiba-tiba datang merusak suasana dengan bilang bahwa putranya baru saja menikahi waria. Bagian lucunya adalah, bahwa upacara sakral itu disiarin langsung on-line dan disaksikan banyak orang via YouTube.

Truman Show dan Ed TV udah kasih kita ilham gimana kehidupan orang yang biasa-biasa aja bisa jadi reality show yang bikin tokohnya jadi seleb dadakan. Mungkin ini yang kasih inspirasi beberapa orang di dunia ini, untuk merekam langsung pernikahan mereka dan nyiarin via internet.

Lepas dari urusan bahwa tindakan supernarsis mereka itu sebenarnya buang-buang biaya, ternyata ada juga orang-orang yang mau manfaatin peluang itu. Seorang temen gw, web programmer di Surabaya, nawarin jasa buat bikin pernikahan on-line. Konsepnya, orang menikah, dan disiarin langsung via internet. Lha sekarang aja orang chatting pake web cam, kenapa orang ngga menikah pake web cam sekalian?

Bahkan sebelum gw bisa mencerna ide sinting itu, teman gw itu nyebutin ide melahirkan bayi on-line. Kalo menurut pemahaman gila gw, itu maksudnya bisa siapa aja yang melahirkannya, mungkin pasien gw yang melahirkan, atau gw sendiri yang melahirkan. Pokoknya proses bersalin itu disiarin on-line, dan semua orang di seluruh dunia ini bisa liat.

Pasien ibu-ibu hamil jaman sekarang memang pada narsis dan kecanduan Plurk. Perut mulas aja, ditulis statusnya di Plurk. Pergi ke rumah bersalin, Plurk lagi. Ndaftar ke loket, Plurk lagi. Masuk kamar bersalin, Plurk-in. Dokternya bilang udah pembukaan empat, dilaporin di Plurk. Pembukaan melebar jadi enam senti, Plurk lagi. Apalagi kalo udah pembukaan sepuluh dan tiba saatnya ngedhen. Anehnya, saat kepala bayi diumumkan udah nongol di pintu vagina, nggak ada tuh laporannya di Plurk.

Kalo seseorang bisa diamati gerak-geriknya via Plurk, maka nyiarin orang bersalin on-line bukan tidak mungkin. Ibu-ibu ini nampaknya bahkan bersedia disyuting sambil ngedhen-edhen mendorong bayinya keluar. Tinggal masalahnya dokter dan bidan yang bantu persalinannya. Mau nggak mereka disyuting waktu lagi siap-siap nangkap bayinya pop out?

Kalo perlu, privacy dilepas pun jadi. Yang penting, seluruh dunia tau kita lagi ngapain. Lagi prosesi menikah. Lagi beranak. Lagi ngedhen. Dan saat status update kita dikomentarin orang lain, makin narsislah kita. Hidup kita jadi reality show, yang bisa-bisa lebih seru ketimbang shownya keluarga Osbourne.

Kalo udah gitu, kapan kita punya ruang dan waktu buat diri kita sendirian?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

6 comments

  1. aRai says:

    woh keren pak wedding online … mereka yg mau “melakukan” hal itu mungkin karna berbagai alasan, salah satunya biar sodara² yg jauh bisa menyaksikan. Mungkin juga yg utama adalah “gaya hidup” biar dibilang wah gitu loch

    btw temenmu surabayanya dimana, kali aja aq kenal (lmao)

    eh bukan di plurk ya jadi ga mesti pake (lmao)

  2. Jemmy Adii says:

    Hi, makasih yah udh mau senggol aku lewat facebook ini……aku harapkan ada kritikan n masukan serta saran-saran dari anda terkait dengan tulisan2nya aku di blognya ak….makasih juga sudah kunjungi blognya aku.
    Hallo, ternyata kamu ada blog agi yah….mantap blognya…juga tulisannya.gbu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *