Tak Tahan Lagi!


Ini kabar buruk buat penderita bengek. Sampai kapan pun mereka nggak akan sembuh. Segala macam obat udah dicoba: steroid, salbutamol, terbutalin, dan entah apa lagi. Itu hanya menjaga supaya asma nggak kumat lagi. Tapi nggak ada garansi seumur hidup bahwa asmanya akan hilang sama sekali. Coz yang nggak beres di sini bukan pembuluh parunya yang sempit, tapi gen pasiennya yang hobi bikin lendir buat nyempit-nyempitin pembuluh paru.

Kenapa hari ini gw nulis soal asma, coz semalam bokap gw ngingetin gw tentang Monique, kolega gw. Bukan, dia bukan dokter! Monique adalah kolega gw dulu waktu gw pernah jadi penari. (Yes, gw pernah jadi penari. Nggak usah ketawa.)

Bukan penari ular. Itu sih Nicky Astria. (Atau Ita Purnamasari?) Tapi gw adalah penari burung. (Dan ini kayaknya lebih buruk daripada penari ular.)

Gw nggak ingat asal-muasalnya nyokap gw mengorbitkan gw jadi penari. Tujuannya supaya gw nggak jadi pemalu dan berani naik panggung. Gw nggak tau apakah niatnya itu berhasil, dan soalnya sekarang gw tetap layak disebut pemalu. Setidaknya, gw bikin orang-orang jadi malu.

Oke, cukup melanturnya. Karier gw sebagai penari burung dimulai pada umur 4 tahun. Gw menari bareng kolega-kolega lain, Monique dan Rena, yang juga sama kecilnya dengan gw, dan sama-sama dipaksa nyokap juga. Pokoknya, daulat mereka, menari a la burung, di atas panggung malam hiburan acara simposium di mana bokap-bokap kami jadi panitia. Nggak boleh ada yang salah, atau kami bakalan jadi burung beneran.

Sampai sekarang, gw masih marah kalo ingat kejadian itu. Umur kami bertiga baru 4 tahun, dan KENAPA KAMI NGGAK DIBAYAR? Betul-betul eksploitasi anak. Padahal ironisnya, bokap-bokap kami adalah dokter anak!

Dan yang namanya juga kolega, pertemanan gw dengan Monique dan Rena hanyalah sebatas urusan profesional. Di atas panggung kami adalah partner menari, tapi di luar panggung kami nggak pernah bareng. Nggak ada acara jalan-jalan makan es krim bareng. Nggak ada candle light dinner. Apalagi sampai hubungan berlanjut ke urusan ranjang. Pokoknya, betul-betul profesional!

Karena itu, gw nggak pernah tau Monique sakit asma.

Asma adalah alergi bawaan yang bikin penderitanya nggak tahan oleh situasi tertentu. Bisa jadi dia nggak tahan hawa dingin, nggak tahan asap, atau sekedar nggak tahan debu. Ketika dia harus menghadapi hal-hal yang jadi alerginya ini, badannya bereaksi jadi sesak napas sampai napasnya jadi bengek mirip kucing bernyanyi.

Pasien asma sangat menderita karena seharusnya dia tahan terhadap pemicu-pemicunya ini seperti orang normal. Lha orang lain aja bisa hidup sama debu, masa’ dia sendiri masuk ruangan yang nggak disapu sehari aja langsung sesak napas?

Karena itu diciptakan obat-obat steroid yang bisa bikin pasiennya mampu menoleransi pemicu asmanya supaya dia bisa hidup di lingkungan yang sebenarnya nggak bersahabat dengannya. Tapi ini tidak bisa manjur untuk waktu yang lama. Nggak heran, pasien asma sampai butuh make semprotan steroid terus-menerus. Kalo kamu mungkin punya motto “Jangan pernah tinggalkan rumah tanpa HP”. Lha motto gw “Jangan pernah tinggalkan rumah tanpa minyak wangi”. Nah, penderita asma punya motto “Jangan pernah tinggalkan rumah tanpa semprotan”.

Kenapa begitu? Karena sesak nggak boleh dicuekin dan harus buru-buru ditolong. Orang yang sesak jelas kekurangan oksigen. Dan kalo sesaknya kelamaan tanpa oksigen, maka pasokan oksigen ke otak akan kolaps.

Ironisnya, banyak dokter yang ngidap asma. Dan lebih banyak keluarganya dokter yang punya asma. Monique yang gw ceritain, itu contohnya.

Semalam bokap gw kasih kabar buruk. Monique, kolega menari gw dan anak tunggal dari kolega bokap gw, meninggal setelah nggak kuat melawan serangan asmanya.

Sudah 20 tahun lebih gw nggak kenal lagi sama Monique. Tapi mendengarnya meninggal, seolah merampas sebagian dari masa kecil gw, dan gw merasa kehilangan seorang teman.

Pasien-pasien asma gw selalu sedih waktu gw bilangin mereka harus selalu bawa semprotan di saku mereka untuk seumur hidup. Kepada mereka gw selalu bilang, bahwa apa-apa yang terjadi kepada badan mereka adalah pemberian Tuhan yang mesti disyukuri. Dan mereka beruntung bisa dapet pertolongan medis yang tepat.

Tapi gw nggak bisa bilang begitu untuk Monique, seorang sarjana hukum yang mestinya akan menikahi seorang dokter beberapa bulan lagi; dan juga anak tunggal dari seorang dokter anak yang udah bertahun-tahun dijejali kuliah tentang asma.

Karena dokter cuma bisa kasih ilmunya. Selebihnya, cuma Tuhan yang bisa bereskan.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

8 comments

  1. Iya kan? Iya kan?! Ngga enak kalo kerabat sendiri yang meninggal, kan? Apalagi kalo kita sebenarnya bisa nolong. Mungkin kita yang kurang pinter. Mungkin Tuhan yang lebih pinter dan kita masih harus belajar lagi..

  2. fauliza says:

    I’m sorry for your lost, vic!
    Hmm..aku juga pernah punya pengalaman yang mirip2. Waktu itu nenekku sakit dan aku kebagian nungguin di RS sendirian. Tiba2 nenek apneu, trus aku kalang kabut sendiri. dokter jaga yang dipanggil gak dateng2 krn lagi operan jaga. Akhirnya aku RJP sendiri sama perawat. Uukh..perasaan campur aduk deh! Perasaan antara pengen ‘do the best’ buat nenekku sama gak tega dgn usahaku ‘memperpanjang’ proses kematian… Akhirnya setelah setengah jam RJP, aku harus merelakan nenek pergi..
    Tapi setelah kejadian itu, jadi lebih punya empati sama pasien dan keluarganya. Walaupun notabene mereka bukan ‘saudara’ tapi aku bisa bilang sama mereka; I’ve been trough that before..

  3. Sebagai dokter, melihat kematian customer (dalam hal ini: pasien) yang udah sulit ditolong, biasa aja buat aku. Tapi kalo yang meninggal itu sejawatku sendiri, dan meninggalnya oleh sesuatu yang mestinya masih bisa kami tolong bersama-sama, rasanya sangat menyedihkan. Seolah-olah pekerjaan kami ini ngga ada artinya aja..

  4. Prof. says:

    Thank’s atas informasi mengenai asma nya….
    Tapi terus terang, bukan itu yang membuat ku memutuskan untuk melanjutkan membaca, kisah tentang sejawatnya….
    Selalu terasa ada yang hilang saat orang2 yang pernah mengisi hari2ku tidur untuk selamanya…..mereka terasa jauh, dan penyesalan demi penyesalan datang, kenapa tak ku lakukan saat masih bisa….,

    Selesai baca postingan ini, langsung kubuka arsip postinganku di 2008 (in memoriam)….., yach…aku benar-benar merindukan tawamu……

  5. Hawe, kalo bakat alergi kayaknya turun dari orang tua. Tidak selalu anak yang asma lantas punya ortu yang asma juga. Mungkin saja ortunya punya bakat asma, tapi karena ortunya kuat, jadi badan ortunya nggak gampang sesak. Yang pasti ini nggak ada hubungannya sama makanan goreng-gorengan.

    Sayang gw ngga tau deskripsi anaknya Hawe, jadi belum bisa nentuin apakah anaknya asma betulan atau bukan. Kontak lagilah kapan-kapan..

  6. hawe69 says:

    Asma berkaitan dengan alergi yah ? Apa ada unsur psikologisnya juga ?
    Karena dari dulu gw gak pernah dibilang asma, tapi baru kemarin karena anak gw batuk alergi dan dokter bilang kemungkinan ada bakat asma dari orang tua. Sekarang ini ngerasa kalo makan gorengan terlalu banyak, jadi susah bernafas, efek psikologis atau beneran asma ? tau deh.. 🙂

  7. jensen99 says:

    Hee.. meninggal?!?

    Duh, turut berduka cita, mbak. 🙁

    Saya juga asma, waktu masih kecil, tapi dah gak pernah kambuh lagi bertahun-tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *