Serasa Kuliah di Gang


Mau nggak kamu diobatin dokter yang mutunya cuman setengah-setengah? Jangan ketawa ya, coz ini nggak mustahil lho terjadi..

Gw mau punya adek baru. Bukan, bukan berarti nyokap gw hamil lagi (tolonglah, adek gw cuman satu itu aja udah cukup merepotkan, nggak perlulah ada bayi lain lagi di rumah!). Tapi maksud gw, gw mau punya kolega-kolega baru dari fakultas kedokteran yang mau dibangun bentar lagi di Universitas Palangka Raya, yang biasa disingkat Unpar itu (ternyata nggak cuman Bandung aja yang punya Unpar alias Universitas Parahyangan itu).

Bahkan gw aja terheran-heran. Soalnya, jangankan buat ngajarin mahasiswa, untuk ngelayanin kesehatan rakyat aja Kalimantan masih kewalahan. Contohnya aja, setau gw, sampai sekarang Kalimantan Tengah belum punya spesialis anestesi. Operasi yang dilakukan di sini, ternyata cuman dipimpin oleh dokter bedah dan dibius oleh perawat anestesi, yang sebenarnya nggak kompeten buat menentukan obat-obat anestesi. Ngga ada spesialis urologi, jadi ngga ada yang cukup kompeten buat mecahin batu ginjal, padahal ginjal para penduduk Kalimantan Tengah itu pada ngga beres lantaran mereka minum dari air sungai yang penuh kalsium. Nah, kalo ngeladenin publik yang sakit aja belum memenuhi standar, kok berani pula bikin sekolah kedokteran?

Tapi gitu deh, gelisah para praktisi medis pun tinggallah gelisah. Kalimantan Tengah maju terus mencanangkan impiannya punya sekolah kedokteran sendiri, biarpun masih terengah-engah bak pelari kurang minuman isotonik. Nggak cukup dokter lokal yang disuruh ngajari 40 mahasiswa angkatan percobaannya nanti, Unpar pun sepakat mau ngimpor dokter-dokter dari Universitas Indonesia untuk sudi ngajar di Palangka. Gw rasa tinggal dosen-dosen yang bersangkutan itu yang mesem-mesem girang. Kapan lagi sih bisa jalan-jalan ke Cali gratis? Dan karena gw tau betul perangainya orang-orang Jakarta yang nggak akan betah tinggal lama-lama di kota kecil yang doyan mati lampu ini, gw bisa nebak seberapa seringnya para dokter impor ini bakalan kabur ke rumah mereka di Jakarta di saban akhir pekan. Maka siapa yang pada akhirnya diuntungkan paling banyak dengan dokter impor dari Jakarta ini? Tepat: perusahaan maskapai penerbangan.

Seolah belum cukup, Kalimantan Tengah berusaha keras merayu para dokter PTT-nya untuk jadi PNS lokal. Hadiahnya cukup menggiurkan: beasiswa gratis sekolah spesialisasi. Konsekuensinya, para dokter mahasiswa bayaran ini mesti sudi bekerja di Kalimantan Tengah begitu lulus nanti.

Kenapa Kalimantan Tengah begitu bernafsu merekrut banyak sekali dokter? Bukan rahasia lagi, sebagian besar dokter di sini adalah perantauan dari Jawa yang asal-muasalnya ditugasin Inpres buat nolong Cali yang tertinggal. Dokter-dokter perantauan ini, kalo ngga jadi menantu penduduk lokal, rata-rata langsung minggat begitu masa kerjanya selesai. Jadi semangatnya bekerja untuk Cali hanyalah semata-mata karena alasan profesional, bukan karena alasan betah. Lha gimana mau betah? Gw aja contohnya, waktu nulis blog ini, udah tiga kali dapet mati lampu. Dan ini bukan pemadaman listrik bergilir. Belum lagi ngomongin pasien-pasien yang selalu datang ke dokter dengan penyakit yang udah dalam keadaan stadium susah ditolong. Saban kali ditanya, kenapa baru datang sekarang? Jawabnya, rumahnya jauh, jalannya rusak.

Nggak heran, praktis Cali bergantung secara psikologis kepada dokter-dokter putra daerah asli yang beretnis Dayak dan Banjar, yang sayangnya jumlahnya masih dikit. Jadi wajar juga kalo Kalimantan Tengah kepingin punya fakultas kedokteran sendiri. Supaya anak-anaknya yang kepingin jadi dokter ngga perlu jauh-jauh sekolah ke Banjarmasin, dan pada akhirnya mereka bisa dipake buat membangun daerah mereka sendiri.

Tapi balik lagi ke masalah mutu pendidikan. Mudah-mudahan aja para pembina sekolah kedokteran Unpar betul-betul perhatiin kesejahteraan dosen-dosennya, baik dosen lokal maupun dosen impornya. Nggak asik aja kalo mereka niru-niru kelakuan kampus-kampus swasta di Jawa Barat, yang ambisius doang bikin sekolah kedokteran, tapi nggak sanggup bayar dosen-dosennya dengan layak. Pantas aja banyak dosen kedokteran swasta yang minggat dan ninggalin mahasiswanya yang melongo.

Karena, tanpa persiapan dosen yang memadai, sama aja kayak bikin kampus kualitas nomer dua. Ibaratnya, ya sama aja kayak bikin arena kuliah di gang, padahal mestinya di jalan raya. Lagian, memangnya gampang ngajarin orang jadi dokter? Nanti kalo ngajarnya cuman setengah-setengah, ya mahasiswanya juga cuman dapet ilmunya ya setengah-setengah. Kalo lulus kelak ya cuman jadi dokter setengah-setengah. Nanti ngobatin pasiennya juga cuman setengah-setengah. Sembuhnya pasien juga setengah-setengah. Waduh!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

5 comments

  1. Salam kenal balik, Mas Advintro. Terima kasih atas pemollow-annya.

    Memang maksudnya baik dengan pengusahaan putra-putra daerahnya itu. Saya hanya mencemaskan proses pendidikan dokter-dokter asli Kalteng itu. Ngeri aja bayangin mahasiswa diajari jadi dokter, sementara perintisan fakultasnya sendiri masih terseok-seok. Sebelum kita berani menciptakan sarjana bermutu, kita harus memiliki dosen bermutu dulu. Mudah-mudahan para stakeholder yang ada ingat prinsip ini..

  2. ADVINTRO says:

    tinjau dari sisi positipnya, kalo masih kurang dokter, jangan ambil dari luar kalteng, tapi didik, lahirkan dokter asli kalteng, mungkìn itu maksudnya mba,hehe salam kenal

    btw, aku follow y,biar tambah satu lagi..

  3. Itulah yang gw kuatirkan. Mana yang lebih baik, rakyat dikasih dokter yang lulusan prihatin tapi bisa kerja permanen, atau dikasih dokter yang kualitas teruji tapi kerjanya cuma temporer? Memang pemerintah harus milih, dan pada akhirnya rakyat juga yang nanggung konsekuensinya..

  4. aRai says:

    kalo dokternya nanti jadi setengah² gimana dengan nasib pasien? sapa yg di rugikan? ga jauh dari rakyat kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *