Ukuran Jadi Masalah


Tahu nggak, pejabat-pejabat yang diadili di pengadilan tindak pidana korupsi itu seringkali nampak bego. Kalo ditanya, apakah mereka nandatanganin surat sesuatu tentang penerimaan duit sesuatu yang merupakan tindakan korup, pasti jawaban favorit mereka adalah “Saya tidak menandatanganinya” atau “Saya tidak tahu apa-apa tentang itu”. Bikin kita gemas, ya? Jangan keburu sewot. Bisa jadi mereka memang nggak melakukannya. Yah, beberapa kasus memang mereka yang melakukan sendiri, tapi lain-lainnya mungkin tidak. Soalnya yang nandatanganin surat terima duit itu mungkin bukan pejabat yang bersangkutan, tapi orang yang “pura-pura jadi pejabat”.Kemaren tuh, gw nulis selembar surat buat pejabat kementerian. Surat itu resmi, dibikin dengan kop kantor gw, lalu ditandatangani oleh gw. Nah, pas gw mau teken tuh, bolpen gw lagi ada di tas. Gw pinjem bolpen seorang staf, lalu gw oret-oret dulu di kertas buram, maksudnya biar gw ngga kagok gitu tanda tangan surat resmi pake bolpen orang. Ternyata bener aja, tuh bolpen macet di tangan gw, hehehe. Emang kayaknya lebih enak nulis pake bolpen sendiri, coz tuh bolpen udah dijampi-jampi pake tangan gw gitu lho (emangnya lu dukun ya, Vic?). Maka gw cabut dulu, buat ambil bolpen gw di tas.Pas gw balik lagi ke meja tanda tangan, ternyata sang staf tadi lagi berusaha niruin tanda tangan gw di kertas buram. Gw ngakak ngeliatnya. Beuh, gagal total. Nggak mirip sama sekali!

Lalu gw teken di atas surat resmi tadi. Sebagai informasi ya, tanda tangan gw cukup panjang dan sangat rumit, persis pemiliknya. Hahah!

Lalu sang staf bilang, “Dok, ini saran aja ya. Kalo mau jadi pejabat, tanda tangan sebaiknya yang mudah ditiru. Supaya kalo lagi libur (tugasnya) bisa digantikan oleh orang lain..”

Gw menyeringai. “Berarti saya memang ndak cocok jadi pejabat,” kata gw kalem.

Mungkin itu sebabnya duit rakyat gampang menguap di negeri kita. Anggaran terbuang sia-sia oleh surat-surat resmi yang ditandatangani sistematis atas nama pejabat. Pejabatnya nggak pernah baca isi surat itu coz dia memang nggak pernah liat suratnya. Dia nggak liat suratnya karena mungkin dia lagi liburan, cuti, yang intinya nggak ada di tempat kerja. Yang menggantikan tugasnya baca surat adalah anak buahnya, maka anak buahnya yang meniru tanda tangan sang pejabat. Dan duit pun mengalir, tanpa pernah diketahui pejabatnya apa hakekat persisnya tujuan duit itu. Begitulah contoh kasus korupsi.

Semua itu nggak perlu terjadi kalo nggak ada kasus pemalsuan tanda tangan. Pemalsuan itu udah akrab sama kita semenjak kita masih di bangku kuliah. Ada yang suka titip absen? Hayoo..ngaku!

Memang tanda tangan panjang itu ada manfaatnya. Susah dipalsukan, maksa semua orang buat jujur.

Tapi kalo tanda tangannya pendek, tugas kita lebih ringan coz ada orang yang bisa gantiin tanda tangan kita kalo kita lagi berhalangan.

Urusan tanda tangan asli bisa ruwet. Seorang pegawai pernah batal dapet gaji gara-gara petugas Badan Pemeriksa Keuangan mendapati tanda tangannya di suatu surat kurang satu garis.

Ada lagi seorang perempuan cerita ke gw. Dia mau ambil duit di bank, tapi ditolak gara-gara tellernya curiga, “Ibu kok tandatangannya beda?”
Sang perempuan menyahut ketus, “Sini saya minta kertas kosong. Saya mau tanda tangan sepuluh kali.”

Kalo lagi stres, tanda tangan bisa miring ke kanan. Kalo lagi hepi, tanda tangan miring ke kiri. Makanya tanda tangan bisa beda-beda biarpun orangnya sama aja. Itu sebabnya ada orang nggak mau punya tanda tangan yang panjang. Biar nggak dipersulit oleh verifikator tanda tangan.

Apa kamu setuju kalo tanda tangan kamu gampang ditiru? Bisa jadi pejabat lho..

Tapi gw sih ogah. Tanda tangan adalah representasi gw. Kalo gw memang harus jadi pejabat, gw mau tanda tangan surat-surat pake tangan gw sendiri. Biarin gw nggak bisa liburan gara-gara harus tanda tangan. Makanya jadi pejabat tuh jangan lama-lama. Cukup lima tahun aja..!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

15 comments

  1. HeLL-dA says:

    Tanda tangan saya lumayan ruwet juga kayaknya nih, Mbak..
    Setuju banget ama kata Mbak, biarin aja ndak liburan demi nanda tanganin semuanya dg tangan sendiri.
    Oya, saya juga sering gagok kalo’ mau tanda tangan, apalagi di depan orang lain. Hehehe.

  2. mastein says:

    dua kali saya mau komen di sini gagal karena gprs indosat dodol lemotnya ndak ketulungan. mau ditulis ulang ndak sama rasanya karna saya biasa nulis dalam siklus ledakan sesaat.

    ttd
    Stein

  3. Sehubungan dengan tanda tangan itu merepresentasikan orangnya, makanya saya nebak Quecucur ini orangnya ya bulet, heheh..

    Putranya Pak Teguh pinter sekali udah bisa tanda tangan. Mbok sekalian dibikinin KTP aja Pak..:p

  4. Makanya saya mau usul, daripada tanda tangan mendingan cap darah aja sekalian. Kan DNA ngga bisa dibo’ongin. Tapi itu namanya nggak manusiawi.

    Saya lebih suka pake password atau PIN untuk urusan transaksi bank. Kalo PIN atau password sampai dicuri orang lain, itu murni salah sang pemilik data, kenapa teledor. Menyimpan identitas mestinya di hati, nggak usah dikasih tau ke orang lain. Kalo kita udah minta ditandatanganin orang lain (misalnya titip absen), itu artinya kita udah ngijinin orang buat “menjadi kita”. Di mana dong letak hak kita yang punya identitas individu?

    Makanya mumpung masih muda, beresin identitas kita. Entah itu perbaikin tanda tangan atau yang lain. Karena membentuk jati diri itu penting.

    Oh ya, kok kepala dinas pemakaman jadi kepala pendidikan ya? Apa nanti murid-murid nggak jadi mayat semua? Jadi inget pemimpin dinas kesehatan kabupaten tetangga saya, latar pendidikannya bukan sarjana medis tapi sarjana pariwisata! Mau bikin Cali jadi pusat medical check-up khusus turis, kayaknya..

  5. Dyah says:

    Setuju banget, dengan pejabat yang lima tahunan, tapi cara ganti yang tranparan, jangan kepala pemakaman dijadikan kepala dinas pendidikan makanya dana sharing 20 % tidak pernah dikucurkan oleh pemda kata sudah habis dibagi-bagi,… kalau ngak percaya tanya pada mayat-mayat yang di pemakaman he he …he apa ngak takut sama KPK … jawabnya kalau 5 th kurang uang ku belum kembali … yang kusetor dan yang kudapat lum, klop …. lah wong DPRnya ya begitu maka pak SBY sampai sakit maag mikir kelakuan dewannya ….

  6. Hendriawan says:

    Aku juga pernah mengalami kyk gitu. Tanda tangan di bank, tapi petugas nampak ragu dengan hasilnya, lalu diminta ulang. tErnyata garis kecil di bagian atas tidak jelas, dan itu diartikan tidak sama dengan tanda tangan di buku.
    Di satu sisi, tanda tangan yang kita buat harus cocok dengan dokumen yang ada. Di sisi lain, tanda tangan bisa di-scan, atau ada yang bisa meniru karena ybs tidak di tempat. Bahkan memang yg punya tanda tangan sengaja nitip. Lalu ada juga tanda tangannya berubah, di ijazah SD dengan sarjana. Lalu paraf, sah gak ya?
    Dengan tanda tangan yang bisa dititipkan, atau di-scan,dsb sebenarnya ada aturannya tidak ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *