Korban Menolak Ditolong


Sebenernya gw nabung tulisan ini buat tanggal 21 April atau 1 Mei, tapi setelah gw pikir-pikir, gw nggak mau nunggu-nunggu Hari Kartini atau Hari Buruh buat ngomongin perkara tenaga kerja wanita alias TKW. Itu terlalu lama, kepala gw nggak bisa nunggu selama itu buat diekspresikan.
*Alah..lebay lu, Vic. Heeh, kamu yang anti-feminis! Jangan kabur! Hey, tetap di blog ini, jangan kabur!*

Jadi ceritanya minggu lalu gw baca kolom konsultasi di sebuah koran. Ada seorang eksekutif nulis. Sebagai kepala HRD, dia sering menerima berbagai pengaduan dari para pegawainya. Oh ya, Anda tau kan apa itu HRD? HRD itu singkatan dari Human and Resources Department.
*Oh? Iya ya? Gw kirain HRD itu singkatan dari Hanya Robot Direksi..*

Nah, si eksekutif ini sering menerima pengaduan bahwa para pegawai cewek di perusahaan tempat dia kerja tuh, sering banget nerima pelecehan seksual. Sebagai orang HRD, dan juga coz dia sendiri juga perempuan, udah kewajiban dia dong beresin masalah ini. Masa’ mau diem aja?

Ceritanya, sang eksekutif melakukan advokasi ini itu buat para korban pelecehan itu. Eeh..lalu apa yang terjadi? Para cewek korban itu malah musuhin dia. Kata mereka, gara-gara “pertolongan” sang orang HRD, mereka malah jadi terancam kehilangan kerjaan.

Ternyata, nggak selalu niat baik kita dianggap baik oleh orang lain.

Gw bukan pengacara, jadi gw nggak tau bagaimana sebuah pembelaan yang kita lakukan malah dianggap mencelakai hidup orang lain. Gw sendiri cuma mikir, bahwa di sini ada perempuan yang lagi susah, tapi ketika mau ditolong malah ngamuk.

Gimana caranya bisa terjadi pelecehan seksual? Mungkin pria-pria itu tadinya cuma becanda, tapi lama-lama becandanya nggak pantas. Korban nganggap dirinya dilecehkan. Mau ngomong “jangan lecehkan gw” tapi malu. Prianya nggak tau, jadi pelecehan jalan terus. Ya harus ada yang kasih tau si pelaku supaya berhenti. Karena ini masalah kerja, ya harus ditangani dengan profesional. Ini gunanya ada HRD.

Yang lebih menarik, kenapa korban ngeri kehilangan kerjaan gara-gara melapor pelecehan seksual yang menimpa dirinya? Memangnya kerjaan yang pantes buat dia cuman satu doang sampai dia takut kehilangan?

Gw nggak suka kalo pegawai nggak punya posisi tawar dalam kerjaan. Apa pegawai sedemikian rendahnya sampai-sampai mau aja diapa-apain, termasuk pelecehan seksual? Menurut gw pegawai harus bela diri kalo dinakalin. Dan kalo perusahaan nggak mampu bela pegawainya dari pelecehan, lebih baik pegawai itu keluar dari situ, coz perusahaan tersebut punya reputasi jelek.

Gimana caranya pegawai supaya punya posisi tawar yang bagus? Ya kualitasnya kudu oke dong, punya ilmu, keterampilan, dan loyal sama kerjaan. Menurut pelatih karir Rene Canoneo, loyal bukanlah diukur dari berapa lama pegawai bertahan di perusahaan itu. Tapi loyal diukur dari berapa banyak kontribusi yang udah dia kasih untuk perusahaan. Kalo Anda udah kerja 10-20 tahun untuk perusahaan tapi Anda nggak melakukan sesuatu buat perusahaan itu supaya berkembang lebih baik, itu namanya bukan loyal; itu namanya “cuman nungguin pensiun”.

Balik ke urusan pelecehan. Masalah seksual masih dianggap tabu, susah kalo nggak diberesin dengan komunikasi baik-baik. Tapi nyembunyiin urusan pelecehan seksual di kantor sama aja kayak nimbun racun di badan. Perempuan mesti peka terhadap pelecehan seksual yang menimpa perempuan lain, coz cuma perempuan yang bisa ngerti sesama perempuan lagi. Mudah-mudahan sang Kepala HRD nggak kapok belain para pegawai cewek itu biarpun udah dimusuhin.

Perempuan harus bersatu. Kalo perempuan udah bersatu, nggak ada yang bisa merobohkan kita. Jika perempuan memang harus roboh karena laki-laki, biarlah roboh di tempat terhormat, dengan cara yang terhormat pula..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. Rudy says:

    “Perempuan harus bersatu. Kalo perempuan udah bersatu, nggak ada yang bisa merobohkan kita. Jika perempuan memang harus roboh karena laki-laki, biarlah roboh di tempat terhormat, dengan cara yang terhormat pula…”
    Maksudnya tuh gimana yah????
    Hahaha….jadi ngakak sendiri nih???
    Pelecehan bisa disebabkan oleh banyak faktor, baik itu dari si korban ataupun si pelaku…
    Kalo si korban berkelakuan baik dan berpakaian sopan nggak mungkin ada kejadian pelecehan seksual gitu.
    Begitu pula dengan si pelaku, jika rumah tangga si pelaku memang bahagia ngapain juga neko-neko seperti itu, jika kita memang setia terhadap pasangan maka semua tidak akan mungkin terjadi, bener nggak mbak???
    Link-nya aku pasang diblogku yah, boleh kan???

  2. Barangkali pegawai itu kecanduan mengeluh, Mas Isman. Mereka nggak mau perbaikin posisi di kantor coz mungkin mereka pikir mengeluh lebih baik ketimbang cari tantangan kerja baru (nyindir mode: on).
    Nanti juga Harry ngerasain kalo udah punya kerjaan..

  3. isman says:

    Kalau diangkat ke isu yang lebih umum: banyak pegawai kantoran yang memang menempatkan diri mereka pada posisi tidak berdaya. Jadinya merasa tidak ada nilai tawar. Tidak merasa berkuasa.

    Satu-satunya cara merasa berkuasa? Dengan mengeluh. Menggerakkan emosi orang yang dengar. Konsekuensi: produktivitas jadi turun. Ditegur oleh atasan. Nerima karena emang salah. Merasa tidak ada berkuasa. Ujung-ujungnya: mengeluh lagi. Terus aja melingkar.

    Itu yang menyebabkan fenomena di banyak kantor Indonesia: pegawai yang mengeluh, tapi nggak mau pindah dan nggak mau berusaha memperbaiki posisinya supaya tidak perlu mengeluh.

  4. Serikat pekerja sebenarnya udah tanggulangi masalah ini dengan nyediain macam-macam pengacara buruh. Tapi memang dasar para pekerjanya yang nggak punya kesadaran buat melapor. Penyebabnya ya yang aku bilang tadi, takut kehilangan kerjaan.

    Eh, aku bawa payung lho setiap saat. Tadinya cuman coz takut item n ujan, tapi ternyata bisa buat ngegebuk orang ya? Wah, untuk urusan mencelakai orang aku lebih mengandalkan semprotan minyak wangi. Soalnya di dusunku nggak ada yang jual semprotan merica..

    Nggak punya kartu nama pengacara. Tapi punya kartu nama menteri. Bisa dipake nggak? :p

  5. manfaatkan dong serikat pekerja…
    kan disana ada juga perlindungan terhadap wanita dan ibu…

    dan ga perlu malu, soalnya kalo kita bisa sue orang yang melecehkan,, kita bisa tuntut gede lhoo

    dan masalahnya mbak’e banyak banget laki-laki yang patut dikasihani kayak gtu,,, kenapa kita ga pake jilbab aja? (kita? …*sebentar*……nggak deng gw cowok, iya kan?…*sebentar*……yap gw cowok!)
    nah untuk menjaring cowok2 hidung merah dan belang itu selalu:

    1. bawa kamera dan rekam saat kejadian tersebut (bukti yang menguatkan bakalan ngejeblosin itu orang ke penjara…)
    2. jaga pakaian kalo kita ngeh lingkungan disekitar kita ga memungkinkan untuk berpakaian layaknya di West Coast saat musim panas
    3. bawa payung, meski ga ujan lumayan buat gebuk orang di bus. dan kalo si cowok ngebales teriak aja “cabul…!!! kyaaa!!!”
    4. liatin bahwa sang cewek ga suka.. kita cowok-cowok (yap, gw juga cowok) ngerasa dikasih lampu hijau kalo pas godain cewek dan si cewek malah senyum-senyum malu gtu.
    5. siap sedia kartu nama lawyer di dompet. buat langsung nuntut hehe…

  6. Erik29396 says:

    Pelecehan bisa terjadi karena beberapa sebab:
    1. Cara berpakaian wanita tersebut yang memang mengundang…
    2. Lelaki tersebut pikirannya memang banyak ngeresnya
    3. Ada kesempatan.

    Yang bisa dilakukan wanita ada 2, jangan bersikap yang mengundang nafsu lelaki dan jangan ciptakan situasi yang memberi kesempatan lelaki berbuat pelecehan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *