Selamatkan Nona Ceria


Tepat, bukan cuma Mr Happy yang perlu disayang-sayang, tapi Nona Ceria juga butuh kesejahteraan. Dan sebenarnya judul ini kurang tepat, soalnya yang mau gw bahas bukanlah jalan lahirnya perempuan itu, melainkan tentang klitorisnya yang super sensitif. Hey Pria, jangan kabur, mentang-mentang ini bukan tentang barang milik Anda! Anda perlu tau ini, supaya Anda nggak cukup bego untuk menyakiti anak Anda.

Apa pasal? Ini sebabnya.
Di kota tempat gw kerja, masyarakat masih senang menyunat bayi-bayi perempuan mereka. Serius deh; saat di kota-kota lain para kyai sudah mulai mengharamkan jemaahnya untuk menyunat bayi perempuan, nyatanya masih ada yang tega-teganya nyunat anak-anak gadis mereka. Ngomong-ngomong, cewek apanya sih yang perlu disunat? Nggak ada, nggak ada, nggak ada!

Padahal kita-kita yang pinter ini kan tau bahwa nggak ada gunanya cewek disunat. Masih untung bayinya nggak mati karena berdarah-darah.

Bayangin kalo ada orang melayat dan bilang gini, “Oh, kami turut bela sungkawa, Pak, anaknya masih bayi tapi sudah meninggal. Kenapa meninggalnya, Pak? Memangnya anaknya sakit apa, Pak?”
Kata bokapnya, “Ngg..kemaren itu saya minta mantri buat nyunat anak saya, lalu anak saya keluar darah terus. Darahnya nggak mau berhenti dan akhirnya anak saya nggak selamat.”

Lebih gaswat lagi kalo bayinya hidup, tumbuh, jadi dewasa, dan akhirnya punya suami. Sepanjang pernikahan, pas lagi campur, istrinya nggak pernah orgasme.
Suaminya menggerutu kesal, “Ma, Papa sudah coba segala gaya, dari posisi misionaris sampai doggy style, kok Mama nggak pernah puas sih?”
Kata sang korban sunatan, “Ehm, Pa, soalnya..klitoris Mama tinggal setengah.”

Maka, tidak heran bahwa nyunat perempuan sama aja dengan menghalangi perempuan mendapatkan hak mereka untuk memperoleh kepuasan seksual. Ini yang kita sebut trauma psikologis jangka panjang yang efeknya jauh lebih jelek ketimbang sekedar tewas karena pendarahan. Bahkan penyiksaan terhadap perempuan sudah dimulai semenjak dirinya masih jadi orok.

Dan di Pulang Pisau, bayi perempuan yang disunat dirayain dengan makan-makan. Bonyoknya nyembeleh ayam, lalu bikin pesta dan ngundang tetangga. Jadi pendeknya, orang-orang ini makan-makan untuk merayakan seorang gadis malang yang baru saja kehilangan orgasme yang nggak akan pernah dia dapatkan.

Susah karena mendidik para orang tua supaya tidak nyunat anak perempuan mereka, jauh lebih susah ketimbang ngajarin mereka bikin bayi. Faktanya, orang tua nyunat anak-anak gadis coz mereka disaranin gitu oleh pemuka agama setempat, yang ketinggalan berita bahwa menyunat cewek itu dilarang. Itulah resiko yang harus ditanggung daerah terpencil. Selain sarana infrastruktur yang ketinggalan jaman, urusan pendidikan mental pun juga sangat “last year”.

Untunglah pestanya batal. Suatu hari ketika ayamnya mau disembeleh, mendadak ayamnya udah nggak ada. Pemiliknya nyari ayam itu ke mana-mana, tapi ayamnya nggak ketemu. Ketika mereka buka kandang ayamnya..OMG! Apa coba yang ketemu?
Seekor ular sepanjang tiga meter sebesar diameter tiang listrik sedang asyik ngunyah bangkai ayam naas itu.

Jadi, bayi yang malang itu kehilangan klitoris, ayam buat kenduri mati dimakan ular, dan tetangga sekampung batal makan-makan gratis. Rugi berapa kali tuh?

Jangan sunat anak-anak perempuan. Perempuan butuh klitoris mereka utuh. Coz mereka layak untuk orgasme supaya merasakan kepuasan seksual. Dan perempuan itu, memang harus bahagia.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

35 comments

  1. Dear Ummi, ini bukan masalah "kan masih ada G Spot dan puting susu". Kalau klitoris nggak perlu dipotong, kenapa harus dipotong? Yang perlu kita pertanyakan adalah alasan dilakukan sunat perempuan itu. Jika alasannya untuk mencapai orgasme yang lebih baik seperti contoh yang diberikan Cosmogirl, itu bisa diterima. Tapi kalau alasannya sekedar mencegah anak perempuan supaya tidak "liar" waktu dewasa, itu adalah pelecehan gender, Ummi.

  2. ummi says:

    Aduh Mbak, jangan pake istilah 'dikebiri' dunk…serembnagt jadi kayak kasim-kasim zaman dulu

    Aku sich nggak setuju kalo sampe klito cewek dipotong, tapi seandainya sampai hilang si klito mungil itu, kan cewek masih punya daerah sensitif lain seperti G-spot dan puting susu yang bisa memberi kenikmatan..tul ndak ???

    Jadi kalo kamu cewek dan kebetulan klito kamu sudah hilang, jangan kuatir, masih ada G-spot koq. Nikmati saja dengan pa yang ada, jangan memikirkan yang sudah hilang

  3. Endah says:

    Iya Mbak Vicky, sunat cewek yang dilakukan dengan benar jusrtu bermanfaat.

    Saya sendiri sunat dan sekarang sudah menikah 2 th, ndak pernah ada masalah di ranjang hehehe.

    by the way, Mbak sudah sunat? Jadi mau sunat setelah tahu manfaatnya ?

  4. Cosmogirl says:

    Vis, coba deh loe ketik di google dengan keyword 'clitoral hood reduction' atau ' clitoral hood removal' atau 'hoodectomy'

    Di situ akan muncul berbagai macam klinik di Amerika, Kanada dan Eropa yg menawarkan jasa 'sunat' tsb buat para wanita dewasa yang ingin klitorisnya lebih terbuka dan mencapai orgasme yg lebih dashyat..

  5. Linda says:

    Kalo yang membuang tudung atau kulit penutup klitoris itu namanya clitoral hoodectomy atau clitorial hood removal.

    Tujuannya supaya glans/kepala klitoris menjadi terbuka sehingga lebig menikmati rangsangan dan juga lebih mudah dibersihkan.

    Operasi ini populer di negara barat spt USA dan Eropa dan hanya boleh dilakukan pada wanita dewasa usia 18 thn ke atas, itu pun setelah mereka menanda-tangani pernyataan yg isinya bahwa operasi tsb adalah atas pilihan mereka sendiri dan bukan paksaan.

    Ada yang mau coba ???

    Kalo sunat dengan cara begini sich saya nggak keberatan, kan nanti hasilnya malah lebih nikmat hehehe

  6. Bujubune..vagina dijait?! Gimana mensnya dong, mau haidnya jadi batu? Gw mau jadi dokter kandungan aja di Afrika ah, pasti pasiennya banyak..Insidensi penyakit tertinggi: vaginalitiasis, hahahah!

    Mbak Okke kok nggak pake URL, kan orang lain jadi susah kalo mau ke dot-netnya Mbak Okke..

  7. okke! says:

    female genital mutilation setau gw emang salah satu praktik yang secara kultural mendukung stigma perempuan baik-baik (pasif dalam urusan seksual/tidak mempunya sexual desire).

    Ada tuh gw lupa di mana, afrika apa ya? yang memberlakukan penjahitan vagina sampai menikah.

  8. Wah, Pak, kalo aku jawab ya, itu namanya menggeneralisasi perempuan Indonesia. Padahal nggak semua perempuan kita seperti itu. Tapi secara teoritis, sirkumsisi memang menggagalkan fungsi saraf lokal. Kalo saraf tidak berfungsi, stimulasi nggak akan bisa optimal. Kalo kita tidak terstimulasi, gimana caranya mau horny?

  9. Rudy says:

    “Oke, oke, Bang! Aku ngaku! Ya aku disunat! Soalnya, sebenarnya waktu lahir namaku bukan Julaeha. Sebenarnya namaku..Joko..”
    Hahaha…..
    Bikin ketawa aja nih mbak Vicky?????
    Masa tega sih masih bayi gitu sudah harus disunat, kasian kan mbak????
    Harusnya si ortu tanya dulu ama si bayi kira-kira mau nggak kalo disunat, nah kalo si bayinya bilang ya baru disunat tuh????
    Heran kenapa kok bisa setega itu yah???
    Padahal denger tangis aja kita udah nggak tega nih apalagi sampek liat raut wajahnya yang masih mungil dan imut itu, duh nggak rela nih aku bayi diperlakuakn seperti itu???
    Ayo mbak sama-sama kita bentuk aliansi perlindungan bayi???
    Kalo perlindungan terhadap anak kan sudah ditangani oleh kak Seto nih???

  10. Proaktif gimana? Melarang sunat perempuan? Atau mempromosikan faedah sunat perempuan?
    Edukasi mental masih jadi problem besar, Pak. Bukan masyarakat doang yang perlu dikasih penyuluhan, tapi pemda juga layak ditatar ulang..

  11. Pacarnya mungkin akan jawab begini:
    1. “Aku nggak tau, Bang. Sebentar aku tanya abahku dulu. Abis waktu itu aku masih bayi..”
    2. “Kenapa emangnya? Kalo aku disunat, Abang masih mau kawin sama aku, nggak?”
    3. “Oke, oke, Bang! Aku ngaku! Ya aku disunat! Soalnya, sebenarnya waktu lahir namaku bukan Julaeha. Sebenarnya namaku..Joko..”

  12. rco says:

    ayam bisa beli lagi.
    Tapi yang sudah kadung dipotong itu apa bisa disambung.

    Penyesalan selalu akan datang kemudian.

    Kasihan.

    Aku mau nanya dulu ah, pacarku disunat pa gak ya?

  13. Terima kasih, Itempoeti.
    Saya bolak-balik nyari di kitab suci buat nyari penjelasan tentang sunat cewek, tapi nggak nemu. Mudah-mudahan teman-teman jemaah blog saya bisa bantuin nyari pembenaran untuk sunat cewek, atau kalo tidak, akan banyak cewek akan mengalami kelainan klitoris yang sia-sia.

    Tapi jika sunat cewek memang nggak ada gunanya, saya berharap moga-moga teman-teman jemaah yang baru punya anak perempuan atau berencana punya anak, tidak buru-buru nyunat anak perempuan mereka. Ada kalanya tradisi sebaiknya dipertahankan, tapi ada juga yang harus dibuang.

    Saya belum pernah nemu sunat cewek yang betul-betul bikin perdarahan. Bayi perempuan yang hemofili pasti akan meninggal, paling lama saat dia mendapatkan mens pertamanya. Infeksi pasca sunat biasanya merupakan malpraktek, mungkin terjadi karena pisau sunatnya nggak steril. Trauma psikogenik bukan malpraktek, coz trauma ini timbul secara psikologis pada perempuan dewasa yang gagal orgasme, jadi bukan akibat langsung dari praktek penyunatan.

  14. itempoeti says:

    Terus terang saya gak pernah tahu apakah sunat perempuan itu dilakukan karena tradisi atau karena petunjuk agama.

    Kalau karena tradisi, maka tentu itu bukan sesuatu yang wajib dilakukan. Namun kalau karena agama, perlu dicari tahu apa dasarnya dan bagaimana penjelasan rasionalnya. Tentu kita semua berkeyakinan agama tidak pernah memerintahkan sesuatu yang salah.

    Namun jika memang itu sesuatu yang wajib dilakukan menurut agama dengan segala penjelasan rasional yang ditujukan untuk kebaikan, masalahnya kemudian bagaimana teknis dan tata cara (SOP)nya itu dilakukan secara medis?, siapa yang berhak dan boleh melakukan?

    Kalau saja benar apa yang disampaikan oleh detEksi, “tudung klitorisnya diambil sedikit (bukan klitorisnya), supaya membuka dan klitorisnya muncul sehingga akhirnya malah mudah terangsang..”, jangan-jangan sunat perempuan yang selama ini mengakibatkan kematian, Resiko hemofili, infeksi, trauma psikogenik, sebenarnya hanyalah persoalan malapraktek seperti halnya juga yang sering terjadi pada kasus-kasus medis yang lain.

    Intinya, saya hanya ingin mengajak untuk melihat persoalan ini dengan lebih komprehensif tanpa terlebih dulu melakukan penghakiman untuk setuju atau tidak setuju, like or dislike.

    Sehingga kita bisa mendudukan masalah dengan tepat agar bisa ditemukan jawaban yang tepat pula.

    Maaf, ini sekedar tawaran untuk mencari akar masalah yang sesungguhnya agar bisa ditemukan solusi dan jawaban yang tepat.

    Tak ada maksud untuk setuju atau tidak setuju.

    Tabik… 🙂

  15. Maaf, saya belum pernah baca penelitian tentang orgasme perempuan yang disunat. Praktek nyunat perempuan cuman populer di negeri kita. Mau bikin penelitian tentang orgasme normal di Indonesia aja susah, (siapa yang mau jadi subyek penelitiannya? Halal nggak?) Apalagi neliti orgasme perempuan yang disunat..

    Yang pasti sunat perempuan itu lebih banyak bencananya ketimbang faedahnya. Resiko hemofili, infeksi, trauma psikogenik, kayak gitu..

  16. detEksi says:

    walah ternyata yang disunat itu klitorisnya to? bahaya banget tuw!

    kalo yang pernah aku baca malah katanya bagus buat cewek, jadi tudung klitorisnya diambil dikit (bukan klitorisnya), supaya membuka dan klitorisnya muncul, dan akhirnya malah mudah terangsang..

    jadi gimana yang benar? yang jelas kalo yang dipotong klitorisnya saya ndak setuju banget!

    btw apa sudah ada survey tentang orgasme wanita yang sudah disunat?

  17. Belum diketahui persis kenapa orang jaman dulu menyuruh anak-anak perempuan disunat. Tapi sebagian besar alasan dilandasi kepercayaan bahwa perempuan nggak boleh sampai “horny” pada saat berhubungan seks, jadi akan ada resiko banyak nuntut terhadap mitra seksnya. Ini yang termasuk pelecehan gender dan sudah masuk ranah urusan ranjang.

    Pada ujung klitoris banyak terdapat saraf yang sensitif banget terhadap stimulasi seks. Kalo ujung klitoris ini disunat, tentu sarafnya nggak berfungsi lagi dong. Akibatnya perempuan jadi susah horny. Dia akan tetap bersifat cewek, tapi kemampuannya mencapai orgasme tidak akan sebagus cewek yang nggak disunat.

    Dewasa ini para ulama sudah mengoreksi kepercayaan primitif yang mengharuskan cewek disunat. Beberapa bahkan terang-terangan bilang bahwa penyunatan alat kelamin cewek sangat membahayakan perempuan bersangkutan. Tapi tentu saja kampanye anti-sunat cewek ini masih belum menjangkau ke masyarakat yang berpendidikan terbatas.

  18. mawi wijna says:

    mbak dokter, ada indikasi ndak kalau perempuan yang dipotong klitorisnya tu tidak bisa sesesintif perempuan pada umumnya? Apa ya? Ya, nggak ada sifat cewek nya sama sekali gitu?

  19. Fanda says:

    Pernah denger kebiasaan itu, tapi br tau kalo itu dulunya yg nyuruh malah kyainya ya? Trs sebenernya manfaatnya apa coba nurut mrk dgn menyunat klitoris bayi perempuan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *