Alergi oleh si Dia?


Bayangin Anda buka kios es krim. Lalu datanglah gw mau beli es krim. Anda nawarin gw, mau es krim yang rasa cokelat, rasa stroberi, atau rasa vanila? Gw nolak, gw maunya es krim rasa pisang. Karena Anda nggak jual es krim rasa pisang, gw terpaksa ngacir.

Ternyata di dusun sebelah, ada kios yang jual es krim yang gw mau. Nggak cuma ada yang rasa pisang, tapi ada juga es krim rasa taro, rasa rumput laut, bahkan rasa kayu manis. Jelas gw mau beli es krim di situ aja ketimbang di kios Anda.

Gimana reaksi Anda?
1. Ngedumel, kenapa Vicky ngidam es krim yang rasanya aneh-aneh. Kok nggak sekalian minta es krim rasa sendal jepit?
2. Ngegencet kios es krim saingan itu, nyuruh tutup supaya nggak ngancam omzet kios Anda.
3. Bikin es krim varian rasa baru, misalnya es krim rasa barbeque. Ini es krim atau steak?
4. Banting stir, nggak buka kios es krim lagi, tapi malah buka warung playstation.

Inilah yang disebut hukum pembeli adalah raja. Kalo Anda sebagai pebisnis usaha nggak bisa melayani seperti yang dimaui konsumen, konsumen akan cari pengusaha yang lebih bagus. Resikonya, usaha Anda akan mati.

Maka kali ini gw akan cerita tentang pelayanan kesehatan yang gagal melayani konsumennya. Di sebuah kota yang nggak perlulah gw sebutin namanya (yang pasti bukan di Pulang Pisau tempat gw nongkrong), rakyatnya belum punya rumah sakit yang memadai. Rumah sakit yang ada ialah rumah sakit milik pemerintah daerah. Yang namanya biaya operasional rumah sakit itu diambil dari anggaran daerah yang terbatas, akibatnya pelayanan yang bisa dilakukan di rumah sakit itu juga terbatas. Obatnya terbatas, subsidinya terbatas, gaji pegawainya terbatas, dan senyum susternya pun juga ikut-ikut terbatas. Pantesan kepuasan masyarakat yang berobat di situ juga terbatas.

Berangkat dari keterbatasan rumah sakit pemerintah daerah itu, ada segerombolan investor lokal yang punya ide bikin rumah sakit swasta. Sejauh yang gw tau, sudah ada dua yayasan yang siap bikin rumah sakit baru. Yayasan pertama punya komunitas Katolik, cukup berduit untuk bikin rumah sakit. Yayasan kedua punya komunitas Islam, bahkan sudah punya gedung yang cukup megah untuk jadi rumah sakit, dan tinggal diresmikan aja.

Tapi, rencana tinggal proposal. Kedua rumah sakit swasta itu, sampai tulisan ini gw ketik, belum beroperasi juga. Alasannya, belum dapet ijin dari Dinas Kesehatan. Pemerintah daerah takut, kalo rumah-rumah sakit swasta ini sampai berdiri, akan mematikan potensi usaha rumah sakit satu-satunya yang sudah ada duluan, yaitu rumah sakit milik pemerintah. Ditakutkan, swasta bisa kasih fasilitas dan pelayanan yang lebih yahud, sehingga masyarakat akan berbondong-bondong berobat ke rumah sakit swasta dan ogah berobat ke rumah sakit pemerintah.

Kesiyan ya? Ini yang bikin daerah terpencil jadi ketinggalan. Bukan sekedar subsidi dari pemerintah pusat yang terbatas, tapi juga mental pemerintah daerah yang cenderung kepingin memonopoli semua sektor pelayanan dan alergi terhadap persaingan usaha. Padahal kalo kemampuan pemerintah memang terbatas, kenapa masyarakat nggak dikasih akses cari pelayanan swasta yang bisa meladeni lebih baik?

Apakah Anda juga seperti itu, ogah bersaing? Kita semua juga tau, persaingan akan memicu semua pelaku usaha untuk bekerja lebih baik dalam melayani konsumen. Kalo Anda dokter dan nggak bisa ngoperasi tumor, kasihlah pasien itu ke dokter tetangga yang bisa ngoperasi. Kalo Anda didatengin pengunjung yang mau beli stiletto padahal Anda cuman jual sendal jepit, jangan diomelin, saranin aja pengunjung itu ke toko lain yang jual stiletto. Kalo gw dateng ke tempat Anda minta es krim rasa pisang dan Anda cuman jual rasa stroberi, jangan sebal kalo gw malah pindah ke toko lain.

Persaingan nggak boleh dianggap momok yang nakutin. Masyarakat, termasuk Anda, berhak dapet servis lebih baik. Kalo Anda sebagai penyedia usaha takut dikompetisi oleh rival tetangga yang rumputnya lebih hijau, sampai kapanpun Anda nggak bakalan maju dan tetap terpuruk di garis bawah. Gw malah punya ide lebih baik. Kalo Anda pikir saingan itu bisa matiin Anda, kenapa nggak Anda rangkul dan gandeng aja dalam usaha Anda? Si dia maju, Anda juga ikutan maju. Kan semuanya jadi menang, dong?

Cukup sampai di sini, thanx buat Bu Lely Ambit dan Bu Novvy Anggraeny yang sudi jadi model tangan. Gw mau cari es krim dulu ya. Sudah lama gw nggak ngejilat yang rasa pisang..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

37 comments

  1. joe says:

    persaingan justru membuat kita semakin maju, saya teringat sebuat kata-kata mutiara. lebih baik mempunyai musuh yang pintar daripada seorang kawan yang bodoh…

  2. Fanda says:

    Ngelanjutin curhatku…PT A gak bisa membina hub baik dgn supplier, sedang yg selama itu rajin jualin produknya PT A ya rekanku yg akhirnya buka PT B. Jadi, apa yg hrs dilakuin PT B kalo tiba2 si supplier merengek2 minta PT B yg jualin produknya? Masak mau ditolak? Kasian juga para customer klo ditinggal ama suppliernya. Jadinya PT B setuju setuju jd agen si supplier. Lalu, PT A mulai kebakaran jenggot dan menuduh ini-itu. Aku yg dari dulu emang teman akrab ama rekanku jd kena getahnya dicurigain. Jadi, salahkah aku jg kalo aku pilih pindah ke PT B?
    Aku tunggu deh tulisanmu ttg cara ngadepin perusahaan gak dewasa kayak gitu. Pdhal nih..PT A itu dulu dpt suppliernya jg dgn cara yg sama. (kuman di seberang lautan memang selalu tampak, pdhal gajah di pelupuk mata pura2 ga keliatan..)

  3. Memang menjengkelkan kalo konsumen tidak punya pilihan alternatif. Mereka jadi harus tergantung sama produsen yang kualitasnya gitu-gitu aja.
    Berbahagialah diri kita yang nggak segan-segan berkompetisi untuk kasih servis terbaik.

  4. Rudy says:

    Persaingan secara sehat justru akan memacu kita untuk lebih baik lagi dan salah satu kunci agar kita bisa memenangkan persaingan tersebut adalah dengan mengutamakan PELAYANAN dan KENYAMANAN konsumen.
    Pernah dulu aku mendapatkan saingan dalam pekerjaanku, meski kalah modal, harga dan fasilitas tapi aku nggak menyerah hanya sampai disitu aja.
    Memang dia menang modal, harga dan fasilitas tapi ada 2 faktor yang nggak bisa dia lakukan yakni pelayanan dan kepercayaan.
    Konsumen akan merasa senang jika pelayanan yang kita berikan terbukti memuaskan dan konsumen akan tetap order kepada kita jika mereka sudah percaya akan barang yang kita miliki.
    Dalam hal ini terutama didunia Rumah Sakit. Percuma jika kita menang modal, fasilitas dan segala macam jika pelayanan yang diberikan tergolong masih kurang memuaskan sehingga pasien kurang merasa nyaman dan hal ini justru akan memperburuk nama dari Rumah Sakit tersebut.
    Lain halnya jika Rumah Sakit tersebut hanya satu-satunya di daerah itu, mau nggak mau si pasien harus terpaksa ke rumah sakit tersebut meski dengan berdongkol hati, ya nggak mbak???

  5. reni says:

    Persaingan dalam hidup adalah wajar, bahkan tak akan bisa dihindari.
    Persaingan yang sehat justru akan membuat kita menjadi lebih berkembang.

    Info tambahan, ada award tuh utk mbak Vicky. Tolong diambil di tempatku ya ?
    Semoga diterima dengan senang hati. Thanks..

  6. ah, sakit tuh pemerintah
    ibaratnya, masyarakat “dipaksa” hidup susah. wong ndak bisa memenuhi kebutuhan rakyat malah ngelarang orang lain yang mau mencoba memenuhi kebutuhan itu.

    aku malah tipe orang yang bekerja lebih baik kalo ada saingan *saingan bukan berarti musuh.
    kalo ternyata gue kalah dari si saingan, gue justru ga segan2 untuk minta diajarin

  7. itikkecil says:

    kasihan ya… padahal bukannya harusnya kepentingan rakyat yang diutamakan… apa salahnya kalau ada lembaga lain yang bisa memberikan pelayanan yang lebih baik

  8. Itu ya kebangetan kalo es krimnya lagi enak-enak dijilat, moro-moro jeblok, hahaha! Mungkin kukejar orang yang nyenggol itu, truz aku nuntut minta dibeliin es krim pengganti (kali ini dengan rasa tutty-frutty!).

    Ide merasa tersaingi sampai nggak mau kasih ijin itu nggak masuk akal. Mestinya daerah berterima kasih coz bebannya dibantu oleh swasta. Ya itulah jadinya kalo mental masih kolot.

  9. Iwan says:

    Intermezo dikit…pernah ngerasa nggak Vic,waktu sudah dpt es krim, dinikmati, trus tinggal sepotong kecil terakhir sbagai penghabisan, tiba2 ada org nyenggol, es krim tumpah..? Itu bayanganku tentang salah satu emosi paling gak enak di dunia.
    Sulit dipercaya kalau ijin tidak diberikan karena merasa tersaingi. Kayaknya pemasukan rumah sakit kembali ke negara. Pengeluaran ditanggung negara. Untung-rugi jd beban negara. Dan kayaknya lebih sering subsidi > pendapatan rumah sakit. Kecuali kalau milik pribadi, dan si pemilik mikir persaingan=kejatuhan. Lain lagi kalau mikirnya sama Craig Davis, dia bilang bisa maju dan bersemangat karena ada kompetisi..

  10. ikeys says:

    mmh.. pelitnya. biarlah pelanggan yg memilih, bersaing secara sehat kn bisa. atau harusnya pemerintah malah bersaing untuk memberikan pelayanan yg lebih baik. 🙂

  11. Alasan yang menarik dari Uya. Kenapa kita harus takut kehilangan konsumen kalo kita yakin bahwa konsumen menyenangi produk kita?
    Sekarang, Rya, berani nggak buka praktek di tempat yang sudah banyak dokternya?

  12. aryasantosa says:

    Jadi inget wawancara Uya Kuya pas dia buka tempat makan. Kan dia ditanya, knapa buka di tempat yang udah banyak tempat makannya? Trus dijawab, justru saya sengaja, kan wilayah ini udah terkenal sbg gudangnya tempat makan, jadi orang-orang yang cari makan otomatis ke daerah sini, kalo masalah persaingan, biarkan konsumen yang menilai…

  13. Bagus banget curhatnya, Mbak Fanda. Kesiyan ya itu perusahaan kok nggak punya mental dewasa. Apa yang bisa aku bilang selain Mbak Fanda bertindak di jalur yang benar? Memangnya Mbak Fanda merayu konsumen supaya “pilihlah perusahaan kami, jangan pilih perusahaan tetangga”?
    Mungkin lain kali aku mau nulis aja tentang cara ngehadapin provider yang mental bawah kayak gitu. Kompetitif sehat dan nyuri pelanggan adalah dua konsep yang beda jauh lho!

  14. Fanda says:

    Aku pny pengalaman nih dgn persaingan ga sehat. Aku dulu pny rekan kerja wkt di perusahaan (katakan PT A). Trs si rekan 5 thn lalu resign n buka perush sendiri (PT B) dgn business range yg sama. Eh PT A ga trm, mrk blg PT B nyuri customer, nyuri order, nyuri supplier. Pdhal salah PT A sendiri customer ga diservice dgn baik. Mana mau customer transaksi dgn perush baru kalo perush itu ga terbukti bgs? Nah, akhirnya aku thn lalu join jg dfn PT B. Eh, tiba2 kemaren dulu, bos PT A nelpon dan maki2 aku. Diblg aku ga pny etika, brengsek, dll *tutup kuping wkt dia maki2*. Why they are all so childish?!

  15. He, hari gini KB masih harus bayar? Katanya nggak mau ledakan penduduk, kok kontrasepsi masih harus bayar sih? Apa mereka mau kita main senggama terputus aja? Duuh..jahatnya..

    Kalo swasta bisa nawarin KB dengan harga diskon, kira-kira dibredel nggak?

    *gentayangan nyari es krim karamel*

  16. Pitshu says:

    subsidi ini itu dari pemerintah, kek KB yang harusnya free aja, mana?! bilangnya free rakyat bisa KB, tapi ujung2 ada biaya adm 50rb bahkan lebih! sama aja dengan enggak gratis donk! hahaha…

  17. Rejeki sudah diatur sama Tuhan.Ya gak vic?Es krim yg laku keras tidak semata ditentukan oleh rasa.Boleh jd karena pembeli hanya pengin berdekatan dg penjualnya yg cantik..hihi..

  18. bayu nugroho says:

    yah kalo takut bersaing mah mati aj, namanya idup mah, tapi bersaing yang sehat lhoo, bukan bersaing yang jelek pake santetan segala…. betewe eskrim paling enak itu duren campur coklat deh…

  19. jensen99 says:

    RSUD yang jelas2 disubsidi juga dianggap badan usaha ya? Musti profitable tanpa peduli kemampuannya menyehatkan masyarakat. Pembunuhan berencana ini namanya…

  20. MSW says:

    mampir..

    butuh temen yg menjunjung tinggi egaliter dan persamaan nih..seperti mbaknya..nice post..

    lam kenal
    MSW
    *mantu semata wayang

  21. mastein says:

    semakin banyak pemain semakin enak konsumennya tho. jangan kayak PLN, sebagai penjual listrik satu-satunya jadi enak banget nekan pelanggan, huh!
    *sambil ngliat surat dari perusahaan yang komplain gara-gara PLN*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *