“I Do”?


“XY, bersediakah Anda menerima wanita ini menjadi istri Anda, serta setia kepadanya dalam keadaan senang, sakit, sedih, dan susah?”
Biasanya penganten lakinya bakalan jawab, “Saya bersedia.”
“XX, bersediakah Anda menerima pria ini menjadi suami Anda, serta setia kepadanya dalam keadaan senang, sakit, sedih, dan susah?”
Tanpa nunggu jawaban pengantin ceweknya, biasanya dengan senang hati gw keburu jawab, “I do.”Gw benci dengan segala sesuatu yang berbau mehek-mehek, tapi ajaibnya gw paling demen nonton film tentang pernikahan. Gw mungkin selalu ketiduran nonton film drama, tapi gw nggak pernah absen nonton adegan pengucapan sumpah perkawinan. Gw bahkan hapal sekali teksnya; ada beberapa macam variasi, tapi intinya sama: setia dalam segala keadaan, senang, sakit, sedih, susah.

Maka gw belajar semenjak kecil bahwa istri harus setia kepada suaminya, suami nggak boleh ninggalin istrinya. Karena mereka sudah bersumpah kepada Tuhan bahwa mereka akan selalu setia, dan apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh dicerai-beraikan.

Memang, mereka sudah bilang “I do”. Tapi kenyataannya, apakah sepanjang perkawinan itu mereka betul-betul bilang “I do”?

Coba ditelaah satu per satu kalimat setia itu.

1. Setia dalam keadaan senang.

Ini gampang. Semua istri juga bisa. Duit cukup, perut kenyang, anak sehat, suami seksi setiap saat. Dijamin istri pasti setia.

2. Setia dalam keadaan sakit.

Ini agak sulit. Tergantung, sakit apa? Sering gw punya pasien sakit jantung atau stroke sampai koma, dan istrinya duduk setia di samping kasurnya sembari baca yasin atau hanya sekedar mengelap kening suaminya yang keringetan. Padahal gw tau sebentar lagi malaikat maut akan datang menagih janji. Betul-betul istri yang hebat, masih setia merawat suaminya padahal suaminya nggak pernah panggil namanya lagi.

Gw kadang bertanya gimana kalo suaminya koma karena penyakit kelamin? Jangan salah, sifilis juga bisa merusak jantung lho. Kalo suaminya kena sifilis jantung gara-gara pernah jajan, akankah istrinya tetap di sampingnya membaca yasin?

3. Setia dalam keadaan sedih.
John Kennedy pernah santer pacaran sama Marilyn Monroe selama dirinya jadi presiden Amerika Serikat. Padahal dia udah punya istri, Jacqueline Bouvier yang cantik banget. Jackie begitu sedihnya sampai keguguran gara-gara ulah John yang playboy itu.

Tahun ’63, di tengah pawai di Dallas, mendadak John ditembak dan langsung mati di tempat. Jackie merunduk dan memeluk John erat. Beberapa jam kemudian, dengan baju yang masih bersimbah darah John, Jackie berdiri di sebelah Wapres Lyndon Johnson, sementara Lyndon disumpah sebagai presiden pengganti. Dan sampai John dimasukin ke kuburannya, Jackie nggak nangis sama sekali. Padahal nggak ada yang bikin hati seorang istri sedih selain menyaksikan suaminya mati.

4. Setia dalam keadaan susah.
Suami dituduh selingkuh, dan semua orang ngegunjinginnya coz suaminya orang terkenal. Belum cukup, suaminya ditahan polisi coz dituduh membunuh dan sekarang terancam dihukum mati.

Gw ingin mengapresiasi tindakan Ida Laksmiwati yang tetap setia ngunjungin suaminya, pejabat KPK bernama Antasari Azhar yang sekarang ditahan di Polda Metro Jaya. Dia yang tetap bersikukuh bilang suaminya nggak membunuh, mau repot bawain suaminya kipas angin di sel, dan percaya bahwa suaminya nggak pernah nikung dengan caddy bernama Rani Juliani. Cuma istri hebat yang bisa kayak gitu. Kalau pun Azhar nantinya emang terbukti bersalah, Azhar tetap menang, setidaknya memenangkan perkawinannya karena dia nggak pernah ditinggalin Ida dalam keadaan sakit, sedih, atau susah.

Istri para pasien koma, istrinya John Kennedy, dan istrinya Azhar adalah contoh nyata bahwa mereka memang mengucapkan “I do” dengan sungguh-sungguh. Suami-suami mereka harus banyak tobat karena masih memiliki perempuan macam mereka sebagai istri.

Sanggupkah gw seperti itu? Setia kepada suami dalam keadaan senang, sakit, sedih, dan susah?

Gw nggak tau. Mendadak gw sadar bahwa gw nggak bisa janji sembarangan. Gw nggak bisa menyumpahkan “I do” kepada Tuhan untuk menginvestasikan diri gw dalam sembarang perkawinan tanpa syarat. Gw mungkin akan bilang “I do” di hari pernikahan gw. Tapi gimana kalo suami itu kena sifilis, masuk bui, atau meniduri perempuan bohay, masihkah gw tetap bilang “I do” dan rela untuk berkorban perasaan? Bukankah sumpah kepada Tuhan tidak boleh dicabut? Tuhan nggak pernah nyabut sumpah-Nya kepada kita, kenapa kita cabut sumpah kita kepada-Nya?

Katanya Nick, Drew, Justin, dan Jeff, di lagu favorit gw:
“I do, cherish you,
for the rest of my life, you don’t have to think twice,
I will love you still,
from the depth of my soul, it’s beyond my control,
I’ve waited so long, to say this to you,
if you ask me, do I love you this much?
Yes, I do..”

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

23 comments

  1. =3= says:

    Mudahnya bilang “I do”,susahnya “do it” , salut buat ibu AA , semoga bukan acting di depan kamera .

  2. mastein says:

    gimana kalo dibalik mbak? semua pernyataan dan pertanyaan yang sampeyan sebutkan kan dari sisi cewe. gimana kalo sekarang semua pernyataan dan pertanyaan itu dari sisi cowok?

  3. mawi wijna says:

    yaaah…mbak dokter bicara nikah2an, bulan ini udah yang kelima kalinya saya baca blog topiknya nikah melulu.

    Emang susah mbak buat jadi istri yang baik. Dan setau saya nggak ada sekolah buat istri. Jadi yang jadi istri menurut saya ya… sekaligus belajar jadi istri yang baik, setia, taat, gituh.

  4. Pitshu says:

    g paling ga suka orang itu gampang nge janji in ini itu, tapi pelaksanaan na enggak ada. Apa lagi kalo sampe orang na lupa, ampyunnn dah!! lebih sebel lagi hihihihi 😀
    so… Vic mau married yah!

  5. Itu lagu judulnya I Do. Yang nyanyi 98 Degrees. Jadi soundtrack-nya Notting Hill tahun ’98. Video klipnya bagus banget!
    Dan Mbak Fanda melegakanku coz buku yang disebut Mas Farid itu kedengarannya dijual di Indonesia. Eh..kok sodara-sodari ini jadi ikut-ikutan aku manggil Bu Hill sih?! Latah, latah, latah!

  6. Fanda says:

    Itu lagu judulnya apa ya, Vick? Dr tadi nginget2 nih…Kalo aku sih terus terang aja ga bisa tuk menerima seseorg apa adanya for the rest of my life. Berbagi suka sih mau aja, tp kalo berbagi dosa dan akibat2nya? Ga usah deh!

  7. reni says:

    Tak semua wanita memiliki kebesaran jiwa utk bisa menerima dan memaafkan suaminya.
    Tapi aku punya contoh nyata bagaimana seorang istri yang mampu menerima, memaafkan dan tetap mencintai suaminya yang betul-2 telah selingkuh dengan orang lain !!
    Hidup memang pernuh warna, ada yang ikhlas dan menerima tapi ada yang berani menggugat takdirnya. Halah… ngomong apa sih ini, serius amat ?!? Amat aja malah gak serius tuh… Malah asyik baca buku mati ketawa cara rusia !! (emang mau ketawa aja ada banyak cara ya ??)

  8. Farid says:

    Memaafkan orang lain itu mudah Vicky, yang susah memaafkan orang yang selama ini “dipercaya”, ternyata melakukan sesuatu yang sangat tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. And its not easy, when love and hate collide !!!.

  9. Farid says:

    Dan tentunya banyak juga istri-istri yang seperti itu, tapi tidak terekspose karena suami mereka bukan “public figure”. Mereka juga menghadapi kasus yang sama dan bersikap sama seperti Bu Jackie, Bu Hill, Bu Ida, istri pertama Aa Gym,istri Yahya Zaini,dll. Tetap membela “kehormatan” suami mereka.

    Udah baca bukunya Bu Hill, “Living History” ?. Gimana dia bisa mengatasi masalah itu dan bisa memaafkan kesalahan suaminya. Benar-benar mengharukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *