Analisa Kecebong


Masyarakat kita sering mengagung-agungkan prinsip bahwa kalo mau pilih calon buat dinikahi itu kudu diliat bibit, bebet, dan bobotnya, supaya nanti keluarga yang timbul juga bener. Tapi dalam kenyataannya prinsip itu susah banget kalo mau diaplikasikan sungguh-sungguh.

Contohnya, berapa pasangan yang Anda kenal yang melakukan konseling pre-marital sebelum menikah?

Minggu ini gw diceritain seorang teman yang habis konseling pre-marital. Ini rada telat, soalnya konselingnya justru terjadi setelah dia menikah. Dimulai dari kecurigaannya kenapa dia belum hamil juga.

Menurut bahan kuliah gw, 90% pasangan yang campur dengan teratur tanpa alat KB akan hamil dalam tempo setahun, dengan syarat mereka sehat wal afiat. Didorong rasa iri liat orang beranak, belum lagi dorongan orang-orang yang bolak-balik usil nanya, “Ayo dong, kapan punya momongan?”, sang istri pun mutusin buat tes kesuburan ke seorang dokter kandungan. Dia yakin dirinya yang “nggak beres”, coz suaminya sendiri udah dites sperma dua kali berturut-turut dan hasilnya normal.

Ternyata sang dokter minta suaminya dicek ulang, jangan cuman istrinya doang. Kan yang bikin anak itu nggak cuma istri, coz suami juga ikut andil.

Kalo istri dicek hormon, maka suami dicek spermanya. Ini sebenarnya menyenangkan, suami cukup masuk kamar kecil sendirian, lalu keluarin air maninya. Untuk membantu, klinik sudah nyediain setumpuk majalah porno. (Tuh kan, itu sebabnya gw nggak setuju Playboy dilarang masuk Indonesia!) Tapi boleh juga suami bawa partner seksnya sendiri (asalkan istrinya beneran lho ya, bukan istri sewaan!) untuk membantu mempercepat proses pengeluaran mani.

Teman gw dan suaminya ini melakukannya. Hasil pemeriksaannya cepet, cukup setengah jam doang udah dapet. Lalu analisanya tinggal didiskusikan dengan dokter.

Ternyata..ooh ooh gotcha. Kecebongnya si suami nggak ada kepalanya.

Sodara-sodara Jemaah, kalo Anda masih inget segelintir pelajaran biologi jaman SMA dulu, Anda tentu tau bahwa pria memproduksi sperma buat membuahi telur wanita. Sperma yang valid harus punya kepala, ekor, dan jalannya nggak boleh lelet. Tanpa syarat ini dipenuhi, mustahil dia bisa membuahi telur dengan baik dan benar.

Kenapa gw sebut membuahi “dengan baik dan benar”? Soalnya ada aja sperma yang nggak valid, tapi masih bisa membuahi telur. Sialnya, karena bahan bakunya nggak bagus, maka produknya juga nggak bagus. Produk alias janin yang nggak bagus itu antara lain:

1. Janin kembar. Buat orang tua ini menyenangkan, tapi buat dokter ini masalah besar. Soalnya bayi kembar biasanya bobotnya kecil-kecil. Bayi yang lahir dengan berat di bawah 2 kg biasanya perlu ekstra merawat coz lebih gampang sakit.

2. Janin nggak kuat. Yang ini nggak akan tahan lama. Paling banter sampai hamil empat bulan aja, setelah itu gugur.

3. Janin lahir selamat, tapi ada kelainan. Ada yang kupingnya cuman lobang tanpa daun, ada yang nangisnya kayak kucing. Ada yang tumbuh jadi cacat mental. Anak-anak yang autis, atau ngidap ADHD, termasuk di sini.

Pada dasarnya manusia normal diciptakan dengan 23 pasang kromosom, yang laki punya struktur XY, yang perempuan berstruktur XX. Tapi janin-janin yang nggak normal punya kromosom lain, bisa 22, 18, 16, ada yang XXY, ada yang cuma X doang. Janin-janin inilah yang disebut cacat, dan sebagian besar penyebabnya datang dari telur ibunya yang nggak beres atau sperma bapaknya yang nggak valid, seperti kasus temen gw di atas.

Maka bisa kita mengerti, bahwa Tuhan bekerja dengan mekanisme-Nya sendiri yang kadang-kadang tidak kita pahami. Itulah sebabnya ada orang yang sebaiknya jangan menikah dulu. Atau jangan hamil dulu. Karena Tuhan tau kondisi masing-masing akan kesehatan kelamin setiap manusia ciptaan-Nya, dan Dia nggak mau ada musibah timbul hanya gara-gara manusia-Nya itu hamil atau sekedar hidup berpasangan. Bahkan saat Dia membiarkan sepasang suami-istri melahirkan bayi cacat pun, Dia memaksudkannya sebagai bahan pelajaran untuk orang lain. Contoh kecilnya adalah kisah Diet yang gw ceritain dalam postingan gw “Blogger Bukan Autis” dua minggu lalu.

Janin-janin yang gw sebut nggak beres di atas, hanyalah istilah gw menuruti kuliah kedokteran bikinan manusia. Tuhan lebih tau, apakah janin tersebut akan tetap invalid atau malah berkembang jadi manusia yang bagus. Tapi mestinya kita bisa lebih bijak untuk mencegah hal-hal yang nggak diinginkan. Kalo tau kecebong kekasih kita emang lagi nggak beres, setidaknya kita bisa tunda kehamilan dulu, kan?

Pada akhirnya, konseling pre-marital umumnya tidak bermaksud membatalkan rencana pernikahan seseorang. Gw sendiri pernah nyaksiin seorang cowok tetap menikahi pacarnya padahal analisa konseling pre-marital nunjukin si cewek ngidap kanker ovarium. Si cewek meninggal. Tapi cowoknya nggak nyesal.

Kalo sudah cinta, peduli amat sama hasil konseling pre-marital. Tapi kalo hasil konseling memudarkan cinta, berarti emang nggak jodoh.

Jadi, berani nggak periksa kecebong Anda?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

21 comments

  1. Ravatar says:

    Ini perlu banget sebagi bagian dari ikhtiar kita untuk bisa mendapatkan penerus yang High Qualified..
    Salam kenal mbak..thx udah mampir di gubukku 😀

  2. detEksi says:

    sudah diperiksa 4 kali sama mahasiswa analis medis unair dan hasilnya TOP MARKOTOP!

    siap membuahi telor mana saja hekekee…

  3. Ya, memang saya cerita gini buat nerangin perlunya konseling pra-nikah pada masyarakat. Prinsipnya lebih baik tau kemungkinan terjelek yang bisa terjadi ketimbang nyesel di kemudian hari. Memang kalo mengetahui hasil yang jelek, akan berakibat “si sakit” jadi “berat jodoh”. Tapi menurut saya nggak ada itu istilah berat jodoh, yang ada hanyalah “dia bukan orang yang tepat buat kamu”.

    Dokter emang kudu nerangin dengan jelas tentang prosedur tes sperma ini, supaya nggak terjadi misprosedur. Beberapa klinik bahkan mengharuskan pasangan bawa fotokopi surat nikahnya sebelum dites. Siapa tau mau bawa istri sewaan, hehehe..

    Malah ada penelitian, setelah melakukan konseling pre-marital pada sejumlah pasangan, ternyata jumlah bayi cacat yang lahir juga ikutan turun. Tentu aja, coz pasangan yang dinyatakan beresiko melahirkan bayi cacat tadi memutuskan untuk berpisah dengan sukarela. Menunjukkan bahwa cinta memang harus dewasa.

    Konseling pre-marital di Indonesia nggak perlu membabi buta. Cukup pelan-pelan aja. Misalnya, jangan kawin sama sepupu..

  4. sibaho way says:

    untuk masy. kita sepertinya masih sungkan dan belum populer dengan konseling pre-marital itu.
    lebih suka langsung praktek berduaan di kamar. klo telat ya tinggal siap2 dibantai ortu si cewek. klo gak telat ya anda beruntung 😛

  5. ditter says:

    hehe… kyknya ga enak bgt ya kalo misalnya ada orang yg udah pacaran, trus mutusin mo nikah, trus konsultasi pre-marital, ternyata ada apa2nya, ga cocoklah, ga bagus lah, penyakitanlah… trus akhirnya batal nikah…. huhu.. kasian yg jadi si sakit..

  6. Farid says:

    Di Indonesia emang belum jamak konseling pre-marital. Yang banyak dilakukan oleh pasangan adalah kasus pre-marital sex. Test Drive. Makanya banyak yang MBA dan kasus aborsi 🙁

    Anyway, sebenarnya kalau test sebelum kehamilan bisa memberikan indikasi bahwa janin yang akan terbentuk sebagai hasil pembuahan berpotensi untuk tumbuh cacat, sangat bagus juga sehingga kita tidak harus melahirkan bayi-bayi yang cacat, yang “mereka” sendiri pun tidak minta dilahirkan dalam kondisi cacat, apalagi kalau cacatnya itu menjadikan kehisupan mereka sangat-sangat menderita nantinya.

  7. mawi wijna says:

    tambah lagi “cek kepala kecebong”, selain ngecek AIDS, Golongan Darah, Resus, Hemofilia, Lupus, Kanker, Buta Warna, dan serangkaian tes-tes lainnya…

  8. Farid says:

    Seorang kakek tua berusia 85 tahun pergi mengunjungi dokter kelamin untuk memeriksa kandungan spermanya. sang dokter mengambil Sebuah Toples kecil dan berkata , “BAWA TOPLES KECIL INI PULANG DAN BAWA KEMBALI ESOK HARI DENGAN CONTOH SPERMA ANDA DI DALAMNYA,”

    Keesokannya kakek tersebut datang kembali ke klinik. dan memberikan toples kecil itu kepada sang dokter.

    Akan tetapi toples kecil itu masih kosong seperti kemarin. ” kok kosong” tanya sang dokter .

    dan sang kakek Menjawab,”Begini dok, saya sudah coba dengan tangan kanan saya, tapi tidak bisa. saya coba dengan tangan kiri saya, Tetap tidak bisa juga.” ” Lalu saya minta bantuan istri saya.” ia gunakan tangan kanannya tidak bisa.

    Ia gunakan tangan kirinya, tetap tidak bisa. Istri saya mencoba dengan mulut, tapi masih tidak bisa juga,” ungkap sang kakek. ” Kami akhirnya memanggil Dewi gadis tetangga sebelah. Ia mencoba dengan tangan kanan, tapi tidak bisa. ia mencoba dengan tangan kiri, Tetap tidak bisa. Ia mencoba dengan kedua tangannya, masih tidak bisa juga. dicoba diapit dengan ketiak dewi masih tidak bisa juga. bahkan Dewi sudah mencoba dengan menjepit diantara kedua pahanya,Tetapi tidak bisa juga,” ungkap sang kakek tua..

    ” Bapak sampai minta bantuan gadis tetangga sebelah ????.” tanya sang dokter sambil takjub.

    ” Iya, dan sampai sekarang saya,istri saya dan Dewi tetap tidak bisa membuka tutup toples ini,” jelas kakek tua.

    Have a nice weekend untuk semua jemaah dan pengunjung setia blog ini:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *