Memoar Sesak


Besok tanggal 21 Mei 2009. Sebelas tahun yang lalu, tepat tanggal ini, gw nggak inget jam berapa, mungkin jam 9 atau jam 9.30, gw dengar volume tivi di rumah gw mendadak dikerasin. Gw lari ke ruang tivi; bokap gw, nyokap gw, adek gw, duduk kaku menatap tivi, dan di layar tivi ada orang baca pidato yang intinya ngundurin diri jadi presiden.Gw terhenyak. Nggak salah nih? Orang ini kan udah jadi presiden jauh sebelum gw lahir. Umur gw hampir 16 waktu itu, gw mengira sampai gw sendiri tua nih orang mungkin akan tetap jadi presiden.

Setelah pidato itu kelar, gw liat kedua bonyok gw tersenyum. Entah kenapa mereka tersenyum. Gw menunduk dan bilang syukurlah.

Syukurlah, sudah dua minggu terakhir kondisi dunia bikin gw mual. Tiap hari gw telat pulang dari sekolah, coz angkot gw sibuk nyari jalan yang nggak diblokir mahasiswa yang lagi demo. Tiap hari ada aja mahasiswa demo, dan makin hari demonya makin angot. Kalo gw nyalain tivi, berita isinya demo melulu. Mereka bilang, ribuan mahasiswa dari kampus-kampus di seluruh Jakarta memenuhi gedung DPR. Banyak yang bahkan naik ke atapnya gedung yang mirip kue apem terjungkir itu. Gw cemas, coz sepupu gw juga ikutan demo. Ya Tuhan, mudah-mudahan dia bawa payung. Di situ kan panas banget.

Gw nggak pernah peduli sama situasi politik di Indonesia. Gw selalu diwanti-wanti, jangan ngomong yang jelek-jelek tentang pemerintah. Liat aja pakde gw yang lulus insinyurnya sampai telat gara-gara sering demo ke profesornya. Tapi sejak gw lulus SD, gw sering heran ada yang nggak beres dengan negeri kita. Kenapa teman gw yang bloon dari kelas satu SD bisa masuk SMP favorit dengan NEM tinggi, tapi malah nggak naik kelas waktu SMP. Maka gw belajar bahwa ternyata pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang nulis NEM itu bisa disogok. Dan itu terjadi di semua instansi. Saat itulah gw belajar tentang istilah kolusi, korupsi, nepotisme. Dan gw pun mulai bertanya-tanya kenapa ada orang jadi presiden, anaknya yang satu jadi menteri, anaknya yang satu lagi jadi parlemen, dan anaknya yang satu lagi jadi penguasa jalan tol Cengkareng.

Mungkin itu sebabnya mahasiswa pada demo semua. Sepupu gw di ITB cerita bahwa teman-temannya sekarang sering kumpul massal di lapangan dan nggak kuliah. Atau tepatnya nggak bisa kuliah. Lha dosennya nggak ngajar, sibuk proyek di luar yang cuma nguntungin kantongnya sendiri. Akibatnya tugas akhir mampet, dan mahasiswa jadi susah lulus. Sialnya kampus nekat naikin SPP, padahal saat itu pemerintah baru naikin BBM gara-gara krisis ekonomi ’97. Itu yang bikin mahasiswa naik darah dan demo sampai ke gedung MPR.

Lalu suatu hari di tanggal 14 Mei ’98, gw lagi dengerin radio gaul kesayangan gw, tiba-tiba siaran berhenti. Penyiarnya ngumumin, ada mahasiswa Trisakti baru meninggal setelah ditembak waktu lagi demo di gedung MPR itu. Kenapa diumumin di radio Bandung, coz mahasiswa yang meninggal itu adalah warga Bandung bernama Hafidin.

Lalu besoknya di sekolah gw beredar kabar yang lebih buruk. Ternyata, Hafidin yang meninggal itu adalah kakaknya teman seangkatan gw di sekolah.

Saat itulah gw merasa sangat berduka. Gw selalu iri coz gw nggak pernah punya kakak laki-laki, jadi gw kesiyan liat teman gw kehilangan protektornya karena mati ditembak tentara. Dan tentara yang bunuh itu pasti disuruh komandan. Komandan disuruh pejabat di atasnya. Dan pejabat di atasnya itu adalah..?

Sekarang gw udah gede, umur gw 26. Teman gw yang adeknya Hafidin itu juga udah 26. Sepupu gw yang ikutan demo ke gedung MPR itu, sekarang udah meninggal lantaran kena mumps. Hidup semua orang berjalan biasa. Sudah empat kali ganti presiden sejak 21 Mei ’98, tapi nggak pernah pembunuh yang bertanggungjawab atas meninggalnya Hafidin sebagai korban Tragedi Senayan, dihukum.

Apakah sistem hukum kita yang salah? Apakah rakyat kita yang cenderung permisif, pemaaf, atau pelupa?

Siapa yang bunuh Hafidin? Siapa yang nembak mahasiswa-mahasiswa di Senayan dan Semanggi? Siapa yang nyulik aktivis dan bunuh mereka? Siapa yang bunuh rakyat Aceh dan Timor Timur di era ’70-’90-an itu?

Orang yang tau itu semua masih ada. Kita tau persis itu. Dan (bisa jadi) mereka sekarang masuk tivi tiap hari.

Jangan buta, Sodara-sodara. Kalo orang-orang jahat jadi pejabat lagi, mungkin kita akan kembali ke masa sebelum 21 Mei ’98 dulu. Dan kematian Hafidin, Munir, hilangnya Pius, dan aktivis-aktivis lainnya jadi sia-sia. Nggak ada lagi bebas ngritik penguasa. Blog-blog yang tukang protes akan diblokir seperti di Thailand. Mau tau seperti apa rakyat yang dibungkam keras penguasanya? Lihat aja Myanmar atau Afganistan.

Kita beruntung, jalan kita masih ada. Internet nggak diblokir. Orang bebas protes. Nggak ada kewajiban jadi PNS. Dan presiden pun boleh milih sendiri.

Jangan pernah beri jalan buat orang jahat untuk jadi penguasa. Cuma kita yang bisa melindungi diri sendiri. Berpikirlah, berdoalah, dan lebih penting lagi..bertindaklah!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

21 comments

  1. Kalo mau dicari jelek-jeleknya terus, sampai kapanpun presidennya nggak bakalan dapet.
    Sebenarnya kita lebih beruntung dari Malaysia. Malaysia emang lebih makmur ketimbang Indonesia di bawah Mahathir Mohammad, tapi persatuan di sana cuman semu. Masih banyak kebijakan yang cuman nguntungin etnis tertentu, perempuan tetap jadi warga kelas dua. Dan yang paling nyebelin, pihak-pihak oposan yang kritis terhadap kepala pemerintahannya diboikot nggak boleh jadi menteri biarpun kompeten.
    Kita belum seperti mereka. Tapi kalo kita nggak cukup cerdas untuk memutuskan pilihan, kita akan bisa jadi seperti negara tetangga kita itu. Apa mau kita hidup seperti api dalam sekam?

    Baguslah kalo memang benar Pius Lustrilanang jadi orangnya Prabowo. Mudah-mudahan belio memang kompeten untuk hal itu.
    Kita butuh pemerintah yang kompeten, bukan yang cuma sekedar bagi-bagi kursi.

  2. well dilema sih ka’
    diadepin sama pilihan yang ga pantes
    bukannya mereka ga punya kualitas sih
    well sebenernya ada sih calon capres yang bener” ga berkualitas karna kualitas memimpinnya yang jelek selama menjabat presiden dan berpasangan sama orang yang melarikan diri dari tanggung jawabnya setelah melakukan aksinya dalam penembakan di trisakti

    atau capres yang cuman mikir bagaimana caranya memperkaya dirinya sendiri dan hanya ingin cari untung dan pasangannya yang memble

    atau yang satunya lagi emg lebih baik cuman gila kekuasaan???

    entah bakal jadi apa negri ini
    kapan yah ka’ qta dapet presiden seperti mahattir yang bener” ngebangun malaysia????

    semoga siapapun yang terpilih bisa ngebuat bangsa ini lebih baik lagi 🙂

  3. Ravatar says:

    Demo lewat blog lebih enak kali ya..adem, gak kepanasan.. Lagipula katanya ujung pena (keyboard bisa gak ya) lebih tajam dari ujung pedang (bedil bisa gak ya).
    Mari rapatkan barisan kebaikan supaya yg jahat tidak punya peluang buat lewat, atau paling gak susah banget buat lewat 😀

  4. Rudy says:

    Sekilas dulu aku pernah nonton acara debat politik di SCTV yang saat itu pas dibahas masalah penculikan aktivis mahasiswa sebelum Alm. Soeharto lengser dari kursi kepresidenan yang menjadikan suasana semakin panas adalah saat mengetahui bahwa komandan dibalik semua itu adalah Mr. P yang sekarang menjadi ketua di partai berinisial “H” tentu mbak Vicky tahu kan sapa orangnya???
    Malah Mr. P tersebut masih nekat jadi calon cawapres dari Mega, nekat amat???
    Dah ketahuan belangnya masih aja berlagak pahlawan tuh??
    Say “NO” to MEGA dan antek-anteknya!!!!!!!!

  5. 3matra says:

    janagn beri orang2 jahat jalan untuk menuju gedung DPR, hanya kita pagar betisnya…siapa lagi klo bukan diri kita sendiri. Waspadalah, waspadalah!!!

  6. jensen99 says:

    Masa2 itu, saya -yang tidak tinggal di Jakarta- justru ngiri karena gak bisa ikut njarah supermarket…

    BtW pilih SBY saja, beliau AFAIK bersih dari semua intrik masa2 itu.

  7. Saya seneng demo. Soalnya setelah mereka sibuk teriak-teriak seharian, mereka pada kena radang tenggorokan dan jadi pada berobat ke dokter, hahaha..

    Menegakkan keadilan nggak bisa sendirian, harus barengan. Kita-kita yang cuma dokter dan mahasiswa ini nggak bisa menegakkan keadilan, Na. Tapi kita bisa mencegah ketidakadilan menimpa kita. Itu yang saya maksud “bertindak”.

  8. mawi wijna says:

    Saya pribadi gak suka demo dan tidak mendukung orang untuk berdemo. Wah mbak, ini udah bukan rahasia umum kalau bentuk-bentuk pelayanan sosial itu nggak lepas dari KKN, terlebih korupsinya!

    Keadilan itu semu mbak. Jujur, saya tau ada banyak yang ingin melawan yang seperti ini, tapi apa daya…minoritas tetap kalah dari mayoritas.

  9. Ih saya nggak nyuruh golput. Saya bilang jangan kasih jalan buat orang jahat.

    Blogspot memang aneh, Mas. Saya nggak tau kenapa blogrollnya belum update. Sebentar blognya saya jampi-jampi dulu pake air kembang..

  10. mastein says:

    wiranto tentara, prabowo tentara, susilo juga tentara, golput brarti mbak…? hehe

    btw blogroll sampeyan itu ngapdetnya per apa tho? yang dipasang di situ masih manusia berseragam, padahal sudah ada dua tulisan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *