Si Cantik dan Si Jelek

“Kalau mau punya suami, kau mau suami yang bagaimana?”

Pelajaran agama yang selalu membosankan mendadak menjadi menarik pada tahun terakhir gw pake seragam putih abu-abu, pas guru gw membuka bab tentang pernikahan di kelas. Gw lihat muka teman-teman perempuan gw mendadak menjadi romantis.

Satu per satu, jawaban-jawaban dari teman-teman gw mulai muncul seadanya. “Ganteng.” “Tajir.” “Pintar.” Hm, standar. Gw pengen jawab tapi mulut gw mingkem. Gw takut diusir dari kelas cuman gara-gara bilang pengen cowok sexy.

***

Alkisah di sebuah kota, ada seorang dokter perempuan cantik bekerja di rumah sakit daerah setempat. Dalam setahun terakhir beredar desas-desus kuat bahwa kolega gw itu telah kencan diam-diam dengan seorang mantri yang juga kerja di rumah sakit itu.

Banyak yang ngga suka hubungan mereka. Soalnya ceweknya dokter, sedangkan cowoknya mantri. Dilihat dari segi pendidikan, yang perempuan kan S1 plus-plus, sedangkan yang laki-laki paling banter cuman D3. Ketimpangan inilah yang digosipkan oleh masyarakat bahwa sang cewek telah dapet sial.

Kolega gw itu ngga ambil pusing. Ketika sang dokter memutuskan untuk pindah agama mengikuti pacarnya itu, masyarakat mulai mikir bahwa sang gadis telah disantet. Mereka pikir kok bisa-bisanya perempuan ini mau sama bujang yang strata pendidikannya lebih rendah, dan masih pegawai honorer pula. Mending kalo yang cowok itu ganteng, lha menurut penerawangan mata orang-orang yang cerita sama gw, cowok yang digosipin di sini tampangnya tuh ngga banget. (Gw belum liat ya.) Jadi kesimpulannya, ini adalah Beauty and the Beast versi ndeso.

Saking gemasnya rakyat liat pasangan “aneh” ini, istrinya bupati sampai turun tangan. Istri bupati itu mendatangi sang dokter supaya “kembali ke jalan yang benar”. Tentu saja kolega gw itu cuek bebek dan makin asyik mahsyuk dengan pacarnya itu.

Akhirnya bupatinya merilis surat tugas supaya dokter itu dipindahkan dari rumah sakit tempatnya bekerja, ke sebuah puskesmas terpencil yang letaknya sejauh 40 km dari ibukota kabupaten, yang miskin sinyal, jalannya masih sirtu alias cuma terdiri dari pasir dan batu. Semua orang mengira bahwa bupati sengaja melakukannya dengan dalih “pemerataan tenaga medis di pelosok”, padahal tujuan sebenarnya hanya untuk “memisahkan” kisah cinta sang dokter dan sang mantri.

Orang kadang lupa bahwa cinta itu buta. Apalagi kalo cinta itu terjadi di daerah yang gemar ketiban mati lampu. Listrik yang doyan byar-pet di desa itu akan menyebabkan suasana desa menjadi gelap-gulita. Dalam keadaan gelap tentu orang jadi buta karena ngga bisa melihat. Dan begitulah cinta makin mekar tidak karuan dalam daerah yang miskin listrik itu. Sang mantri malah makin sering ngapelin dokter itu di desa terpencil itu. Mungkin itulah akibatnya kalo PLN ngga becus mengelola listrik. Cewek jadi ngga bisa melihat cowok yang ditaksirnya dengan jelas, sehingga yang mestinya jelek pun dia bilang cakep.

Tidak, gw becanda. Gw heran kenapa orang selalu mendiskreditkan pasangan-pasangan macam begini. Kenapa perempuan harus dapet suami yang ganteng, lebih tajir, lebih pinter, dan lebih-lebih lainnya? Gimana nasib yang jelek, yang melarat, yang imbisil? Bahkan Tukul Arwana sendiri pernah mengeluh, orang cakep tuh jangan kawin sama orang cakep lagi. Mbok sekali-kali orang cakep tuh kawin sama orang jelek. Kalo semua orang cakep diambil sama yang cakep lagi, orang jelek mau jadi apa..?

Gw pikir, mungkin kolega gw telah menemukan apa yang dia cari pada laki-laki itu. Meskipun buat standar ndeso, sang mantri itu adalah bujang paling jelek sedusun, tapi setidaknya laki-laki itu cukup ganteng, setidaknya di mata ceweknya. Bahwa dia cuman seorang mantri, sebenarnya itu kan bisa diatur. Suruh sekolah S1 supaya setara. Cari penghasilan tambahan supaya bisa kasih makan. Dan berhentilah bersihin muka pake ampelas supaya tampangnya ngga kayak papan penggilesan.

Kita tuh butuh pacaran buat saling mengisi. Ada perempuan yang pemarah kecantol sama laki-laki yang sabar, karena laki-laki itu bikin hatinya lebih adem. Ada laki-laki yang kaku jatuh sayang kepada perempuan yang ceria, karena perempuan itu bikin hatinya senang. Tampang itu urusan belakangan. Kita tuh tidur dengan hatinya, bukan tidur dengan tampangnya. Begitulah seharusnya cinta itu, menambal yamg bolong, mengisi yang kurang. Seperti Anda dan suami Anda. Seperti Anda dan istri Anda. Seperti Anda dan pasangan gay Anda.

***

Jadi waktu Pak Guru Agama nanyain gw pengen suami kayak apa, akhirnya gw jawab, “Yang SEHAT”. Semua anak meledak ketawa hari itu.

Itu jawaban sopan sebenarnya dari seorang calon mahasiswa kedokteran. Padahal sebenarnya kalo Little Laurent yang ditanya, dengan tersipu-sipu dia akan jawab, “Saya mau suami yang tua..” (Dasar older-complex.) “..kaya..” (Dasar matre.) “..dan kalo bisa orangnya sakit-sakitan..” (What??!) “..dan lebih disukai, yang mau meninggal.”

Gold-digger!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

24 comments

  1. Fanda says:

    Itu kadung jadi stereotip di masyarakat kita. Pdhal walau milih yg secantik ato seganteng apapun, besok2 bakalnya jg bungkuk dan keriputan! Mending milih Benjamin Button aja deh..makin umur malah makin sexy!
    Btw, dah liat belum filmnya, Vick?

  2. Poltak says:

    Mantri itu adalah salah seorang pria beruntung. Menurut gua, saat ini cinta itu udah ngak buta. hari gini Cinta itu buta. Cinta bisa melihat kemewahan, harta dan tentu saja tampang. Biasanya kalo seorang cowok jelek dapat cewek cakep pasti karena cowok itu kaya, itu sih menurut gua dari yg slama ini gua liat

  3. Anonymous says:

    Cerita yg sangat bagus, Vick.
    Jd ingat kejadian yg baru2 ini terjadi ama gw. Gw jd pengen posting juga tuh cerita. Knp sih orang selalu liat tampang??? Sekali2 yg suka liat2 tampang itu ngaca dong!!!!! Emang situ OK?????

    -Naughty Girl-

  4. Bentar, gw mau bangunin Rangga dulu. Rangga! Gimana sih, gw cerita, kamu malah ngantuk! Menghina ya?

    Proses apa yang nggak biasa sampai jadi bahan pergunjingan? Apakah karena tadinya ketemu di tempat kerja sehingga ini dianggap melanggar etika kepegawaian? Gw rasa ini karena ini kasus yang pertama kali terjadi di tempat ini, maka rakyat rada "nggak rela" melihat suatu hubungan yang nggak lazim, jadi mereka anggap ini melanggar nilai-nilai lokal.

    Waktu itu gw bilang minta suami sehat, dan sampai sekarang gw masih minta itu. Sehat jasmani, dan yang lebih penting lagi, sehat rohani. Gw paling alergi sama suami sakit jiwa dalam penyakit jiwa jenis apapun. Mulai dari yang kelas berat macam gangguan paranoid sampai yang kelas ringan seperti kecanduan rokok. Amit-amit deh.

    Arman, kok gw jadi rada terharu ya baca cerita lu? (Tidak, bukan cerita lu ganteng yang bikin gw terharu 😛 ) Akan ada hari di mana cowok yang "cuma" lulusan S1 ditolak buat dicomblangin sama cewek lulusan S2. Bahkan lulusan lokal pun dianggap kalah gengsi dibanding lulusan luar. Kok sombong bener ya masyarakat kita ini?

  5. mawi wijna says:

    saya setuju suami mesti SEHAT, karena itu mari kita buat rincian cek kesehatan seperti:
    Bebas HIV/AIDS, Bebas Sifilis, Bebas Buta Warna, Bebas Homofilia, Bebas Lupus, dan bebas-bebas-bebas yang lainnya.

    Tapi klo ntar mati lampu krn cinta, trus jadi buta dan ndak bisa lihat daftar cek kesehatan gimana? Siap-siap senter dulu aja mbak, dari sekarang.

  6. airbening21 says:

    Yang ga biasa itu adaLah proses pertemuan dan jadinya.. kadang2 penuh lika liku dan berbagai cerita pengiring dan pembuka aLias mukadimah cerita kayak fiksi.. nah ituLah letak 'ketidakbiasaannya' yang dianggap 'ga biasa' sama manusia rata2, kaLo masaLah peLaku dan hasiL akhir itu mah ga ada yang aneh.. Menjadi aneh kaLo manusia jadinya sama Jin atau hewan.. hahahaha…
    Kata kitab suci juga, "teLah aku ciptakan pasanganmu dari jenismu sendiri, dengan bersuku2 agar kamu saLiang mencintai.."
    Gitu katanya mah, tapi entahLah heuehu… 😀

    —————————–

  7. Arman says:

    hahaha gua pernah nulis yang mirip2 begini berdasarkan pengalaman pribadi.

    gara2nya tante gua punya temen yang anaknya (cewe) S2 lulusan amerika yang lagi minta dicariin cowok. tadinya kepikirnya tante gua dan nyokap gua mau dikenalin ke cousin gua. tapi akhirnya diputuskan gak jadi karena cousin gua itu 'cuma' lulusan S1 lokal. jadi mereka beranggapan kalo gak akan cocok.

    gua yang diceritain gitu jadi tersinggung. hehehe. lha nyokap gua gimana coba… anaknya sendiri gimana… 😛 gua 'cuma' S1 lokal, sementara esther lulusan S2 dari amerika. hahahaha.

    mungkin banyak ya orang yang ngomongin kita, gak tau juga dah. dan kita gak peduli juga. gua setuju ama sikap si mantri di cerita lu… gak perlu mikirin orang ngomong apa. cinta kan gak bisa diatur. cuek aja, jalan terus… 🙂

    yah mungkin bedanya cerita gua ama si mantri tuh karena pada dasarnya gua emang ganteng ya… makanya esther mau… huahahahaha… 😛

  8. buwel says:

    jelek ketemu cakep biasaaaaa
    jelek ketemu jelek biasaaaaaaaa
    cakep ketemu cakep biasaaaaaaa
    jadi ya itu lah hidup yang penuh aneka cinta…hehehhhe

  9. Entah kenapa gw jarang denger cewek bilang, "Ceweknya cakep sih. Tapi cowoknya..yaa gitu deh." Cewek sering jelek-jelekin cewek lain, tapi mereka jarang jelek-jelekin cowok orang.
    Justru cowok yang gw lebih sering denger ngomong gini.
    Apakah ini tanda-tanda cowok bisa cemburu pada sesamanya?

    Masyarakat kita emang lebih banyak speak up and mind other's business. Itu adalah tanda-tanda bangsa yang bawel dan senang gotong-royong. Saking tingginya rasa gotong-royongnya, urusan orang lain serasa jadi urusan milik bersama.

  10. airbening21 says:

    Sebuah catatan yang 'renyah' 🙂 dan satu jempoL (satu duLu ya hehe) buat mba, sLaLu dapet inspirasi buat corat coret.. 'rahimnya' mba Vicky 'subur' euy hahaha!!

    Okeh.. kaLo mnurut aku sih itu orang sirik aja haha, kenapa ga dia aja yang dapet.. itu mungkin kira2 pertanyaan buat dirinya.. Tapi mnurut aku (lagi), ituLah letak adiLnya 'Penguasa' dan saLah satu keseimbangan isi kosmos ini.. seteLah ada kemarau maka ada hujan, maLam lalu siang, dingin jodohnya panas, ada yang kaya karna ada yang miskin sebagai perbandingan, ada yang disebut toLoL karena ada yang jenius untuk parameter.. seteLah ada Laki maka ada cewe, tapi itu beLum cukup.. diciptakan dengan berbagai rupa dan 'kemampuan' agar mereka saLing meLengkapi..
    Bayangkan aja jika semua cewe secantik dian sastro, maka apa gunanya bersoLek??
    kaLo aku ya mba, yang penting enak dihati (ga tau apanya dan sebabnya apa).. ya udah aku demen (serius dari hati), tapi kaLo ga biar cantik tetep juga aku demen.. cuman demennya napsu doang.. hahahaha… dan aku bersyukur bisa napsu, why?? berarti aku normaL.. hahahah..

    Makasih mba buat 'ceLotehnya yang renyah' 🙂

    —————

  11. depz says:

    shut up and mind our own business
    ini hal yang paling susah di indonesia
    yg biasanya sih speak up and mind other's business

  12. hryh77 says:

    wkwkwk.. terkadang suka gtu mbak.. apalagi klo lagi jln di mall gtu banyak yg pacaran.. cewenya cakep tapi cowonya……. ya gtu deh.. Tuhan memang adil he..he..

  13. Waktu aku nulis ini, mendadak aku ingat cerpen Gema Hati Amanda di blog Mbak Fanny bulan lalu, yang juga mengkritik hal yang sama. Nampaknya tingkat pengangguran di negeri kita udah demikian tingginya sampai-sampai orang sempet-sempetnya ngurusin urusan pribadi orang lain. Mbok shut up and mind our own business, napa?

    Kalo aku pengennya bilang ke kekasih begini, "Aku cinta kamu karena kamu masakin aku nasi goreng. Meskipun mukamu kayak papan penggilesan." Apa daya, aku nggak pernah kesampaian bilang begitu. Soalnya, Brad Pitt mukanya nggak mirip papan penggilesan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *