Listrik Dulu, Baru Tivi..!

Suhei, bapak dua anak yang nggak ingat berapa umurnya sendiri, kebingungan waktu Rebo lalu disuruh dateng ke lapangan kecil di Pulang Pisau buat milih presiden. Dia nggak tau kenapa dirinya kudu milih presiden, dia nggak tau bahwa dia kudu nyonteng gambar orang yang disukainya di antara tiga macam pilihan, dan dia nggak tau siapa-siapa aja orang-orang yang gambarnya di kertas itu.

Jadi Suhei nanya ke Ryhen, ketua KPPS yang nyuruh dia dateng buat nyontreng. “Pak, memang presiden kita sekarang siapa?”

“Presiden kita sekarang namanya SBY, Pak,” jawab Ryhen dengan sabar.

“Oh, yang mana gambar orangnya, Pak?” tanya Suhei.

“Gambar orangnya yang nomer dua, Pak,” jawab Ryhen sambil nunjuk gambar presiden RI saat ini di contoh kertas suara.

Lalu kata Suhei kemudian, “Oh, ya sudah. Saya pilih yang itu ja.”

Jreeengg.

***

Ryhen dan Suhei bukan nama sebenarnya. Suhei kemungkinan besar nggak tamat SD, jadi dia nggak tau apa itu politik. Dia nggak tau apa bedanya gubernur dengan bupati. Tapi dia tau berapa harga bawang kalo beli di tengkulak dan dijual lagi di pasar Tingang Menteng yang letaknya 500 meter dari apartemen gw. Suhei nggak pernah nonton tivi, jadi dia nggak tau bahwa empat minggu terakhir tivi bikin muak coz isinya cuman capres dan capres melulu. Jadi kalo disuruh milih mana yang bagus antara Mega, SBY, dan Jusuf Kalla, Suhei angkat tangan. Suhei nggak kenal. Baik Mega, SBY, maupun Jusuf, nggak pernah main ke rumah Suhei di Pulang Pisau kok.

Peta aliran politik rakyat di Kalimantan Tengah terbilang unik dan beda sendiri. Pada Pemilu parlemen lima bulan lalu, Demokrat yang menang di seluruh Indonesia, nggak laris di Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah cuma manut sama warna merah. PDI ngantongin suara paling banyak di kabupaten mana-mana. Ini nggak kaget, coz gubernurnya aja elitenya PDI, dan hampir semua posisi strategis di kursi Pemda provinsi dan DPRD provinsi didudukin orang-orang PDI. Nggak heran Mega begitu percaya diri bakalan menangin Pilpres di Kalimantan Tengah. Gedungnya DPP PDI di Palangka aja, katanya disebut-sebut sebagai kantor DPP PDI cabang provinsi yang paling megah se-Indonesia. Apanya yang nggak kurang merah coba provinsi ini.

Kurang merah, jelas. Soalnya ada satu-satunya kabupaten di Kalimantan Tengah yang suara terbanyaknya nggak dimenangin PDI. Kabupaten yang lain sendiri itu adalah.. Pulang Pisau, tempat gw berada.

Pulang Pisau lebih demen warna kuning. Di Pulang Pisau, Golkar lebih ngetop. Bupatinya orang Golkar, dan kursi DPRD kabupatennya juga kebanyakan orang Golkar. Dan itu bikin gw sempat mikir, kayaknya Jusuf Kalla bakalan paling banyak dapet pemilihnya di Pulang Pisau.

Ternyata, nasib bicara lain. KPU belum selesai ngitung suara, tapi quick count sudah memperkirakan SBY meraih sekitar 60% suara di seluruh Indonesia, sedangkan Mega dapet sekitar 25%. Kalla? Paling-paling cuman 12%.

Dan Kalimantan Tengah, ternyata membuktikan bahwa mereka nggak merah-merah amat. Sementara SBY mimpin dengan susah-payah, angkanya 49%, sementara Mega lumayan dapet 42% berkat pendukung PDI yang sangat fanatik. Pulang Pisau yang katanya kuning banget, bahkan ternyata lebih banyak milih SBY ketimbang Kalla.

Kenapa hasil pemilihan presiden di Kalimantan Tengah apalagi di Pulang Pisau bisa bertolak belakang dengan hasil pemilu parlemen? Gampang aja. Kalimantan Tengah paling miskin di peta ekonomi Cali. Rakyat yang miskin, nggak mau susah-payah mikir mana capres yang paling pantes jadi presiden. Buat mereka, yang penting perut mereka dijamin selalu terisi, beres lah. Itulah sebabnya mereka nggak tertarik buat kepingin presiden baru.

Bukannya rakyat nggak mau kritis. Masalahnya mereka nggak kenal sama capresnya. Jangankan capresnya, tim suksesnya aja nggak pernah tuh nongol di Pulang Pisau. Mana Rizal Mallarangeng, Yuddy Chrisnandi, Puan Maharani pernah nongkrong di Pulang Pisau? Nggak ada tuh. Mengharapkan rakyat tau visi-misi capres via tivi juga nggak mungkin. Boro-boro punya tivi di rumah, mau masang listrik aja susah banget.

Dengan banyaknya rakyat kecil macam Suhei yang nggak mau susah-payah mikir dan jumlahnya sampai 80% se-Indonesia, kita bisa ngerti kenapa SBY menang telak dengan hasil suara sampai 60%. Lain kali ada pemilihan presiden lagi, tim sukses capres kudu berjuang sampai level akar rumput dan nggak boleh ngandalin mesin partai politik doang. Jangan cuman kampanye di tivi. Di mana-mana kudu ada ayam dulu baru ada telor. Kudu ada listrik dulu baru ada tivi. Kalo semua orang udah punya tivi, silakan kampanye di tivi sampai eneg. Makanya betulin tuh PLN!

Gw bersyukur, untung aja gambar gw nggak ada di surat suara. Soalnya kalo gw yang jadi Ketua KPPS-nya, gw bakalan jawab pertanyaan Suhei, “Presidennya sekarang Little Laurent. Gambarnya yang cantik ini.”

Dan Suhei langsung mencontrengnya dengan sukarela. Puas…!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

12 comments

  1. Dilema demokrasi satu-orang-satu-suara sebenarnya bisa diatasi dengan pendidikan kewarganegaraan sejak kecil. Sekarang kita ngerti kenapa waktu SD dulu kita mesti belajar PMP atau PPKN. Buat yang nggak lulus SD kayak Suhei pun masih bisa diajari kewarganegaraan. Misalnya mewajibkan tiap orang punya KTP. Lalu diajak ikut milih Ketua RT, Ketua RW, Lurah, Camat, dan seterusnya. Lama-lama kan ngerti tuh pentingnya milih presiden dengan kemauan sendiri. Jadi nggak cuma milih pemimpin gara-gara disogok beras, karena tampangnya ganteng atau cantik, dan sebagainya.

    Oh ya, saya pikir tetap penting buat tim sukses mengunjungi rakyat sampai ke pelosok. Itulah sebabnya capres diajukan melalui mekanisme partai. Partai itu sendiri kan lambang aspirasi rakyat, yang syarat pendiriannya aja kudu punya DPP cabang di seluruh provinsi Indonesia. DPP-DPP inilah yang tugasnya mestinya jadi tim sukses untuk mempromosikan program-program kerja dari capres yang bersangkutan kepada rakyat di level akar rumput. Kalo tim sukses DPP partai pendukung di tingkat provinsi dan kabupaten nggak mengiklankan sampai level rakyat kecil, ya mana kenal rakyat kepada sang capres?

    Justru kalo DPP tingkat akar rumput rada kreatif, nggak perlu ngandalin listrik atau tivi buat kampanye. Bisa pake metode gambar, selebaran, dan lain-lain. Kan DPP cabang itu lebih kenal sama kondisi rakyatnya, ya mestinya bisa menyesuaikan dong. Mau nungguin PLN ganti manajemen supaya rakyat bisa nonton kampanye di tivi, kapan beresnya??

    Eh iya, siapa sih tuh yang dibanding-bandingin sama cicak dan buaya? Kok manusia disamain dengan reptil, mbok yang rada bagusan dikit napa? Hahaha!

    Ntie kalo saya ketemu Suhei, disalamin deh dari Jemaah semua..

  2. Farid says:

    Bisa saja orang-orang semacam Pak Suhei itu, yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, menganggap ada atau tidak adanya PEMILU,tidak ada bedanya.

    Itulah dilemanya demokrasi one man one vote. Satu suara dari orang semacam Pak Suhei sama nilainya dengan satu suara seorang pemilih kritis yang memilih berdasarkan hasil pengamatan track record dan kapabilitas kandidat presiden.

    Dengan sistem perwakilan, hal tersebut bisa diatasi karena yang memilih presiden adalah anggota DPR yang mewakili rakyat, dan diharapkan para anggota DPR yang "notabene" terpelajar ini bisa memilih dengan pertimbangan rasional dan objektif. Tapi ternyata dalam prakteknya, hal tersebut tidak terjadi,karena para anggota DPR ternyata lebih "rawan" sogok. Apalagi lebih mudah "menyogok" dan " dagang sapi" dengan satu anggota DPR daripada menyogok ratusan ribu rakyat yang diwakilinya.

    Saat ini,walaupun anggota DPR sudah tidak lagi memilih presiden karena adanya sistem pemilihan langsung,praktek jual beli suara di kalangan anggota DPR masih sering terjadi dalam fit and proper test pejabat negara.

    Shogun eh anggota DPR kok dilawan hehehe…jangan-jangan nanti mereka ngomong Cicak Kok Mau Melawan Buaya hahahahaha

  3. depz says:

    tapi kayaknya ga mungkin deh vik
    maksud gw, ga mgkn tim suksesnya datengin tempat2 yg agak "diujung" gitu satu persatu.
    waktu untuk kampanye pilpres kan dikit

    tapi gw setuju kalo PLN itu adalah aset terpenting untuk melancarkan upaya mencerdaskan bangsa

  4. bunga raya says:

    hmmm pagi pagi sarapan tentang pilpres nih aku…tapi memang benr juga sih katanya kalau memilih itu kita harus kenal dan harus tau visi dan misinya..memang bner juga bahwa rakyat itu yang penting perut ga keroncongan gt aja mau sapa yang jadi ok2 aja..
    nice post

  5. mawi wijna says:

    Mas Suhei itu ikut aliran politik praktis mbak. Tapi ya tetep masuk jalur politik juga. Lagipula kalau pendidikan kewarganegaraan ndak ditanamkan sejak kecil, bakal susah juga ngerti politik. Yang ada ntar malah emosi pelampiasan hidup yang serba susah. itu juga termasuk politik praktis sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *