Mal-icious

“Dok, kalo ke Bandung enaknya jalan-jalan ke mana?”

Wah, gw merasa seneng banget ditanya gitu, apalagi kalo yang nanya adalah orang Banjar atau orang Dayak yang jarang keluar kota kalo bukan demi tujuan rapat dinas. Minggu lalu gw ditanyai itu oleh Pak Ahmad yang ditugasin pergi ke Bandung buat rapat. Katanya diinepin di hotel, rapatnya kan cuman sampai siang, lha sore-malemnya kan sayang kalo nggak dipake jalan-jalan. Cuman repotnya kan dia statusnya di sini lost in translation, nggak ada guide yang bisa bantuin dia nyasar ke tempat-tempat aneh di Bandung.

Padahal sayang lho, coz Bandung tuh punya banyak sudut-sudut yang menarik. Gw kalo lagi jadi guidenya tamu, paling seneng bawa tamu ke Jembatan Pasupati. Kenapa Jembatan Pasupati? Coz gw mau bilang, “Liat nih. Jembatannya megah, tapi persis di bawahnya penduduk Balubur tinggal berdesak-desakan dengan kumuh, nggak punya sumber air bersih, dan sulit keluar dari kemiskinan..”

Hehehe..kalo mau minta bimbingan gw buat pelesir ke Bandung, ngomong yang spesifik ya. Minta wisata belanja? Gw bawa ke Factory Outlet di Riau. Minta wisata kultur? Ke saung angklung Padasuka aja. Mau makan enak a la alfresco? Ke Pascal. Mau kencan yang nakal tapi bonafid? Ke Cihideung. Mau wisata politik? Ya ke Sungai Cikapundung, hehehe..

Jadi akhirnya gw bilang ke Pak Ahmad, udah ke Bandung Supermal aja. Pikir gw, biar orang Pulang Pisau nih liat mal deh. Soalnya nggak ada mal kan di Pulang Pisau. Adanya cuman pasar pinggir sungai..

Seminggu kemudian, Pak Ahmad balik. Kemaren Pak Ahmad cerita ke gw, seneng banget akhirnya bisa jalan-jalan liat mal di Bandung. Gw tanya, mal yang mana? Jawabnya, itu mal deket Pasar Baru yang ada Matahari-nya. Gw bengong. Itu mah bukan mal, itu plaza.

Sering kita bengong dengan istilah-istilah retail jaman sekarang. Emang mal dan plaza itu beda ya? Gw inget jaman ’80-an tuh, orang masih akrab dengan istilah toserba alias toko serba ada. Tahun ’90-an, kota-kota mulai tren bikin plaza. Baru tahun 2000-an, booming mal di mana-mana. Suatu kota nampaknya belum dianggap elite kalo belum ada malnya.

Sialnya, ternyata nggak semua mal pantes disebut mal. Yang ada tuh, gedung isi lapak yang jual barang kualitas ecek-ecek dan dijagain mbak-mbak jutek dan bujang-bujang kucel, maka itu pun disebut mal. Jauh banget dari mal-mal pionir yang dulu berdiri pertama-tama di Indonesia, generasinya Mal Pondok Indah dan Lippo Supermal, di mana konsumen langsung merasa berada di nirwana belanja ketika baru masuk pintu geser. Lantai marmer yang mengilap, barang-barang yang displaynya mengundang, pramuniaga berseragam yang lebih wangi ketimbang parfum jualannya sendiri, dan jaminan one stop shopping di mana semua yang kau cari ada: lingerie, kursi goyang, tinta printer, pizza, dingdong, bioskop, sampai tempat buat creambath.

Di mal, kita liat orang kumpul dengan keluarganya, dengan pacarnya, dengan geng arisannya. Semua orang ingin melihat, dan dilihat. Bahkan biarpun kau cuma window shopping sekalipun, kau sudah puas dengan melihat display barangnya saja. Kau rela diperdaya pelayan kafe untuk merogoh duit 20 ribu cuman buat makan panekuk yang ditimpa es krim vanila ditaburin bubuk Oreo dan dikasih cherry di atasnya, tapi kau puas karena kau makan itu di mal, bukan di warung pinggir jalan!

Tak ada yang seperti itu di Palangka, apalagi di Pulang Pisau. Di Palangka ada mal, tapi gw nggak tega menamainya mal. Mal buat gw mestinya seperti Taman Anggrek atau Senayan City di Jakarta, dan gw tau standar itu udah terlalu rendah sekarang coz udah ada FX dan Mall of Indonesia. Gw terheran-heran kenapa pengusaha properti di Palangka ini menyebut gedung ini Palangka Raya Mal. Apakah tidak sebaiknya para perencana kota itu membakukan definisi tentang mal supaya orang nggak sembarangan menipu rakyat yang bermimpi punya mal dan pada akhirnya malah dibikinin mal palsu? Kenapa jaman sekarang gampang banget bikin “mal” padahal itu sebenarnya bukan mal?

Saking boomingnya embel-embel mal di tiap pusat belanja, orang mulai jenuh dengan kata mal. Maka para pengusaha properti pun mulai menciptakan kosakata baru: town square, trade center, junction, dan entah apa lagi. Di Malang ada yang namanya Malang Town Square. Di Bandung bertebaran trade center, mulai dari Bandung Trade Center sampai Metro Trade Center. Di Jakarta ada Cibubur Junction. Padahal tampangnya masih itu-itu lagi: “mal”.

Apa ini salah? Nggak, nggak ada yang salah di sini.

Gw cuman iba, orang yang jarang liat mal, seperti Pak Ahmad misalnya, cepat terkagum-kagum melihat plaza ecek-ecek di dekat Pasar Baru dan menyangka itulah mal. Gw iba lihat Palangka, yang katanya punya mal, tapi gw liat tempat itu masih kalah bagus ketimbang Pasar Baru. Dan gw tercengang liat betapa bangganya orang Palangka punya mal, sementara orang Bandung mendengus kalo liat mal. Betapa besar kesenjangan antara penduduk Cali dan penduduk Jawa. Tidak cuma kesenjangan wawasan, tapi repotnya juga kesenjangan selera.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. Toilet Roll menerjemahkan inti dari tulisan gw lebih baik. Betul, sebenarnya gw mau bilang bahwa packaging help sales. Sebenarnya apapun profesi kita, entah itu dokter, arsitek, bankir, insinyur, bahkan ibu rumah tangga sekalipun, ujung-ujungnya adalah sales. Dan dengan meniru cara orang retail mendandani toko mereka di mal untuk memancing konsumen sehingga mendatangkan laba lebih banyak buat mereka, kita bisa berbuat lebih untuk diri kita sendiri menjadi orang yang lebih baik. Dan definisi "lebih baik" itu macem-macem: pasien/klien banyak, naik pangkat, gaji besar, disayang suami/anak, dan sebagainya.

    Untungnya ndak kayak Mbak Olla, gw ke mal di Bandung bukan buat cari AC. Tujuan gw ke mal:
    1. Belanja
    2. Hang out, nge-date
    3. Melototin foto-foto di etalase toko buat ditiru gayanya
    4. Cari bahan tulisan buat blog
    5. Memastikan toko mana yang mau bangkrut jadi bisa gw coret dari daftar rekomendasi gw

    Depp, cara lu menilai department store di Mataram persis cara gw menilai Palangka Raya Mall. Gw inget hari pertama gw dan kolega-kolega gw tiba di Cali dan kami pergi ke mal itu buat "inspeksi tempat gaul". Reaksi kami begitu tiba di mal itu:
    1. "Ya ampun. Ini mal?"
    2. "Oh no. Alamat nih gw nggak akan potong rambut setahun."
    3. "Tempat macam apa yang mengaku dirinya mal tapi nggak jual Cosmopolitan??"

  2. depz says:

    hihihhi
    gw jadi inget pertama kali gw injek mataram (2001)
    gw lalulalang di depan gwdung yang ternyata sebuah mal.
    gedung perbelanjaan yang menurut gw cuma layak disebut departement store.
    maklum, perbandingan diotak gw saat itu adalah Blok M Plaza, Metropolitan Mal, Atrium, PIM, dll
    tapi sekarang dah lumayan. renovasi gede2an membuat 1 1 nya mal d mataram udah layak disebut mal
    even ga segede TOS-TOS(town square) di jawa sono

  3. Toilet Roll says:

    Kenapa mal itu laku? karena menciptakan suatu lingkungan palsu. Artificial environment.

    Contoh: Jakarta di luar panas, berdebu. Orang2 memilih ke mal untuk berteduh karena ber-ac dan nyaman. Sama halnya dengan negara2 lain. Dubai, Singapore, Amerika.

    Selain itu, mal mengakomodir kebiasaan mendasar orang Indonesia. Yaitu: berkumpul. Di tempat makan, foodcourt, bahkan di pinggir2 atrium.

    Tentang mal yang mengusung kultur lokal. Coba lihat Grand Indonesia, Jakarta. Itu adalah salah satu contoh aplikasi unsur2 lokal secara fisik di dalam bangunan modern. Menurut gw berhasil. Kalo secara perilaku, bisa dilihat dari PVJ atau CiWalk, dimana mengakomodir banyak daerah interaksi.

    Bagaimana dengan pasar tradisional? Tentu saja masih laku. Coba lihat Malioboro, atau Chatuchak market, Thailand- kalo mau bule, Camden Market di London. Daerah komersil tradisional seperti ini masih laku di mata internasional; padat dan ramai di saat hari libur.

    So, there's no need to worry. Pasar Baru yang sekarang lebih banyak dikunjungi warga Malaysia dan Singapur dari yang dulu. Seems like the traditional retailers are doing ok.

    Yg dibahas Vicky terakhir, lebih ke product packaging (ya, ga Vick?), yang tentunya akan mendukung keberhasilan mall itu. Kalo urusan packaging bisa dibandingkan ama distro2 Bandung (sebelum harganya jadi mahal ky skg). Dulu, murah, packaging menarik, laku keras kan? I agree with you, Vick. packaging helps sales.

  4. luvly7 says:

    Mall buat ogut = tempat ngadem dikala hari panas, jadi lumayan ngirit AC dirumah …

    = tempat janjian sama temen yg paling gampang …

    = tempat jalan2 keluarga dikala mentok ide mo jalan2 kemana …

    Hmm, mengingat Cali masih sepi mall, sepertinya kalo punya duit, bikin Mall adalah usaha yang paling menjanjikan yaa 😉

  5. Hehehe..saya kenal Bandung coz saya tinggal di situ semenjak umur 5 sampai 26 tahun. Nanti dua bulan lagi saya cabut dari Cali, dipastikan saya balik ke Bandung lagi..

    Waktu saya bilang kenapa kita perlu membandingkan kelas-kelas mal untuk membuat diri kita lebih baik, saya perlu menjelaskan lebih spesifik. Seseorang yang biasa ke mal ecek-ecek, dia biasa melihat orang berdagang dengan kualitas marketing apa adanya (display barang berantakan, promosi nol, dan lain-lain). Tapi ketika dia pergi ke mal kelas bonafid, dia akan lihat orang berdagang dengan kualitas marketing yang lebih bagus (display produk yang menarik, cara-cara promosi yang beragam berlomba untuk jadi yang paling atraktif).
    Kalo kita mau belajar lebih peka, kita akan ngerti, oh gini tho caranya bikin dagangan jadi laku, oh gini tho caranya supaya pembelinya banyak tapi modalnya nggak jebol. Ujung-ujungnya di sini kita akan ngerti bahwa penjual yang berhasil adalah penjual yang lebih kreatif ketimbang penjual lainnya. Kalo kita mau mengaplikasikan prinsip kreativitas itu pada diri kita, kita akan bisa jadi orang yang lebih baik.

    Contoh kecilnya aja, seorang perawat biasa kerja di rumah sakit membantu pasien opname yang minum obat. Dari hari ke hari dia kerjaannya itu-itu doang, monoton nggak berubah.
    Suatu hari perawat ini jalan-jalan ke mal bonafid dan beli crepe. Dia akan menyadari bahwa crepe ini nggak ada bedanya dengan terangbulan mini yang sering dia beli di mal ecek-ecek. Sama-sama kue dari adonan susu dan telur, cuma diisiin macem-macem keju sampai meses. Isinya sama, kan? Tapi di mal bonafid, crepenya disajikan di piring keramik, ditimpa es krim vanila, pake cherry. Bisa dimakan di tempat, full music. Lha kalo di mal ecek-ecek, terangbulan mininya dibawa take away, tampangnya polos, belum lagi penjualnya jutek. Sama-sama kue, tapi promosinya beda. Dan tebak mana penjual yang lebih laris?

    Apa pelajaran yang bisa ditarik perawat itu? Dia akan ngerti bahwa semua orang jual barang yang sama, tapi yang promosinya lebih bagus, itulah yang menarik konsumen. Perawat akan belajar kalo dia bisa "jual diri" dengan memasang dirinya lebih menarik, misalnya lebih ramah kepada pasien, menyapa pasien selamat pagi/selamat tidur, menawari membuatkan susu untuk pasien, tentu pasien akan merequest minta diladeni perawat yang ini aja ketimbang perawat-perawat yang lain. Lebih jauh lagi, kalo perawatnya mau ikut seminar lebih banyak (sama seperti penjual crepe yang ikut lebih banyak pelatihan ketimbang penjual terangbulan), tentu dia akan bisa menjual CV-nya kepada rumah-rumah sakit yang mau mempekerjakannya.

    Dikaitkan dengan Pak Ahmad, dan orang-orang awam Jawa yang disebut Rangga: Mungkin betul ini masalah pemerataan, menyebabkan nggak semua orang bisa menikmati mal di tempat tinggalnya. Saya pikir sebaiknya tiap orang memang mesti cari pengalaman dengan pergi ke mal. Alasannya ya buat belajar kreativitas itu tadi. Jadi bukan buat memanjakan niat konsumerisme. Kalo seorang tukang rujak bisa meniru cara jualan stand restoran tradisional di food court mal, saya yakin tukang rujak itu akan mengalami peningkatan omzet yang pesat..

    Mm..saya nggak ngerti apa yang dimaksud Wijna dengan mal yang mengusung kultur lokal. Mau kultur lokal gimana sih? Jualan batik? Dekorasi mal pake pohon pinang? Atau malnya muterin lagu-lagu daerah, gitu? Kalo mal kayak gitu sih, kayaknya saya sering liat deh..

  6. RanggaGoBloG says:

    hehehehe… gak usah jauh jauh deh mbak…. di tempat sayah… yang juga di jawa… masih awaaaaaaaaaam banget ama yang namanya mal… bahkan….terkadang mereka masuk mal kya masuk istana negara… untungnya ketika mereka masuk mal tu gak nglepas sendal… hehehehehe…

  7. genial says:

    sepertinya mba' vic ngerti banget Bandung nii… :p heheheh… iia namanya juga endonesa mba'.. Pak Ahmad itu hanya satu dari semilyar orang endonesa (wewww….. mikir mode o-on*) yg gag ikut 'ngerosoni' apa yg namanya pemerataan… binatang pilar konsumeris hedonis satu itu emang momok buat mrk-mrk yg ada di pelosok… trs klu uda kek gtu… kita mo gmn lg…??!!!???!? (mikir mode o-on terulang kembali…)expe

  8. David Simanjuntak says:

    Quote: "Yang pasti, kalo kita bisa membandingkan mal yang satu dengan yang lain, akan tergerak juga wawasan kita tentang bagaimana manusia seharusnya memajukan diri. Kalo kita bisa tau mana mal yang keren, maka kita akan bisa mengintrospeksi juga buat jadi manusia yang lebih baik dari hari ini."

    hmmm…kok gw tidak melihat sepenting itu ya..? Pd dasarnya, pembangunan fisik punya efek plus & minus. dari fungsinya sj kita (mestinya) bisa melihat prioritas kepentingan si bangunan itu. rumah sakit,sekolah,museum,rumah tinggal atau…mall. dr strata kebutuhan hidup, jelas: sandang, pangan & papan berada di atas hiburan aka window shopping aka nonton film apalagi dugem 😀

    point gw, membandingkan kelas2 "mall" rasanya bukan mslh yg begitu penting sehingga bisa dijadikan cara u menjadikan / membentuk manusia jadi lebih baik.

    kamu pasti bilang: maksudnya dgn membandingkan kebersihan, keharuman dll org akan terbiasa pula hidup bersih, artinya meningkatkan kualitas kita…
    Contohnya di negera2 maju, mana ada pasar yg jorok. semuanya kinclong & harum.

    Tetep tidak!!! Kualitas hidup itu tergantung sama karakter vick. Pasar tradisional di negara maju bisa kinclong bukan karena mereka LEBIH DAHULU terbiasa berbelanja di mall trs jadi contoh u buat pasar tradisional hrs bersih & harum 😀 Tapi krn karakter org2 nya yg mmg sudah terdidik & sengaja dibentuk dari kecil selama bertahun2 untuk ngerti pentingnya kebersihan,kenyamanan & keharuman buat kesehatan & kualitas hidup 😀

    Jadi hasil yg spt itu cuma bisa diperoleh kalo ada pendidikan yg bagus dari sekolah, orang tua & lingkungannya sejak si anak masih balita…

    Tapi kalo konsepmu mau dicoba juga mangga wae neng…sok aja atuh…:D
    Cuma gw kayaknya ada di barisan yg pesimis nih… 😀
    (sbnrnya gw gak pengen serius, tapi tulisanmu yg ku kutip itu, bener2 mengganggu "kamar idealis" dalam otak gw… :D)

  9. mawi wijna says:

    Jogja juga cuma ada 3 Mall; Malioboro Mal, Galeria, dan Ambarukmo Plaza. Tapi ndak seneng saya sama mall, soalnya itu bikin konsumtif dan menggusur kultur lokal. Karena setau saya belum ada mall yang 100% mengusung kultur lokal.

  10. Hehe..barangkali yang Henny maksud mal ecek-ecek itu sudah "cukup" mal buat Pak Ahmad. Mungkin kalo aku bawa Henny ke mal di Bandung, itu nggak "cukup" mal buat Henny. Yang pasti, kalo kita bisa membandingkan mal yang satu dengan yang lain, akan tergerak juga wawasan kita tentang bagaimana manusia seharusnya memajukan diri. Kalo kita bisa tau mana mal yang keren, maka kita akan bisa mengintrospeksi juga buat jadi manusia yang lebih baik dari hari ini.

  11. belum pernah ke Bandung, tapi kayaknya udah bisa mengerti yang mbak vic maksud dengan perbedaan Mall dan Plaza. Di Palembang udah ada 3 mall, satu mall yang "beneran", 2nya ecek-ecek. keliatan banget bedanya..dari pengunjungnya sampe yang punya toko juga beda. Seharusnya sekali-sekali pak Ahmad diajak ke Palembang aja.soalnya lokasi mall yang satu dengan yang lain disini nggak terlalu jauh, jadi bisa "cicip" mampir ke semua tempat dalam setengah hari ^^

  12. Saya pernah nganggap Bandung Indah Plaza sebagai rumah kedua saya, coz letaknya dari sekolah saya cuman 500 meter. Saya hafal setiap sudutnya, tau mana tenant yang baru, tau mana toko yang mau bangkrut. Buat saya itulah mal, meskipun mestinya itu dibilang plaza juga bukan. Waktu itu hampir semua orang Bandung lebih membanggakan BIP ketimbang Parahyangan Plaza apalagi Ci-Mal, coz di situ barang jualannya paling bagus.

    Orang perlu mal untuk mengatasi ketidakpuasan mereka terhadap pasar tradisional. Mal bersih, pasar kumuh. Itu yang mematikan usaha pasar tradisional.

    Saya pikir, mestinya pedagang pasar tradisional diajarin cara menjual yang menarik. Pedagangnya rapi, tempatnya bersih, tidak bau dan dirubung lalat. Dengan begitu mereka tidak akan "dimatikan" oleh mal. Salah satu pasar tradisional favorit saya adalah pasar di Bumi Serpong Damai di Jakarta. Di sana saya nyaman berbelanja tanpa saya harus kuatir wedge saya menginjak kotoran ayam.

    Bandung sempat terpikir buat bikin pasar tradisional macam begituan di kawasan selatan, kayaknya kalo bukan di Gedebage ya di Margahayu. Tapi ditolak mentah-mentah oleh pedagang lokal. Dasar picik.

    Kemaren saya tanyain Pak Ahmad, ke Bandung dapet apa. Katanya seneng beli kaos. Batin saya, pantesan seneng banget ke Pasar Baru dan Dalem Kaum. Kalo kayak gitu, nggak usah saya promoin mal deh. Pasar Baru kan masih lebih bagus ketimbang Palangka Raya Mall. Saya juga seneng ke Pasar Baru, dan area favorit saya adalah..food court! Hahaha..

    Bikin mal di Pulang Pisau? Amien.. Tapi jangan bawa-bawa saya deh. Ntie ada yang marah tanahnya digusur gara-gara buat bikin mal. Kalo di Bandung, mau boikot developer gampang, tinggal gunting aja kawat berduri. Lha di Cali, developer yang diboikot bisa disantet. Yaiks!

    Pokoke saya muak banget deh dengan kata mal. Sekarang kalo saya butuh "melihat dan dilihat", tempat favorit saya di Bandung jelas Ci-Walk dan Parisj van Java. Bukan masalah produknya lebih keren ketimbang BIP atau Bandung Supermal, tapi karena posisinya lebih dekat dari rumah saya, hahaha!

    Eh, saya baru tau Mal-icious itu virus kompie lho. Waduh, alamat nih blog nggak akan banyak kunjungannya nih..:-(

    Ayo Ajeng, kapan mau main ke Bandung?

  13. airbening21 says:

    Hehehe.. ga perLu heran, mba.. Bukankah kita di Indonesia memang senang dengan 'simboL'? dan nama itu bukannya bagian dari 'simboL' ya, simboL moderen dan 'hebat' hehe.. Terserah apapun isi dan bentuknya, yang penting mah nama kudu 'esktrim' haha kayak gorup band aja! Sama kayak banyak orang Indonesia lainnya, mba juga punya nama seluruhnya bukan nama 'Indonesia' banget.. entahLah isinya apakah benar timur atau barat atau tenggara 🙂

    —————-

  14. Toilet Roll says:

    Hey, gw menghabiskan sekitar 4 taun jadi arsitek komersil.

    Sebenernya definisi Mall dan Plaza itu udah ada, kalo di wiki:
    Plaza = single building with some semi-public street-level areas, often with a hotel or office tower above
    Mall = more often refers to multiple buildings or a street.

    Namun dengan adanya mixed use development, klasifikasi what's a mall and what's a plaza jadi lebur. In other words dalam hall penamaan: suka2 para developer!

    Mall juga dibedakan per kelas, (regional/central) juga secara operasional (lease/strata). Mangga Dua misalnya dan Plaza Senayan (they call it a plaza, see? and its upper scale!) dua2nya bisa disebut sebagai mall.

    Mustinya si bapak ditanya dulu, dia pengen ke mall jenis apa.. dalam hal, barang apa yang diincar.

    Anyway, mgkn ada yg lebih ahli dalam pengklasifikasian terms ini.. please do feel free to correct me 🙂

  15. Farid says:

    Dulu Bandung punya Mal yang sangat terkenal. Kaum jet set dari Jakarta rela dan gak malu-malu shopping ke Mal tersebut, walaupun Mal nya tidak semewah Pondok Indah Mal atau Mal Taman Anggrek.

    Yah, dulu di Bandung terkenal Cibadak-Mal alias Ci-Mal hehehehe.

    Jadi ingat tahun 90 ketika pertama kali Bandung Indah Plaza (BIP) dibuka,jadi plaza paling top di Bandung.
    Jalan Merdeka jadi seperti Jalan Melawai Jakarta, tempat ngeceng ABG hehehe. Sebelumnya hanya ada Palaguna Plaza dan Parahyangan Plaza di alun-alun Bandung.

    Sebenarnya kehadiran mal itu punya pengaruh negatif kepada pedagang pasar tradisional. Kadang untuk membangun mal, pasar tradisional harus dikorbankan, dan para pedagang tradisional akhirnya tersingkir karena tidak mampu menyewa tempat menjula di mal. Seharusnya yang dibangun itu adalah gedung-gedung pasar yang representatif dan tidak kumuh untuk para pedagang tradisional itu, dengan harga terjangkau. Jangan hanya memikirkan investor asing yang kuat modal menguasai pasar Indonesia yang terjenal sangat konsumtif, yang pada akhirnya juga menyebabkan pedagang-pedagang kecil tersingkir.

    Ada beberapa teman saya yang masih senang belanja ke pasar tradisional walau pun tempatnya kotor.Kata mereka,kalau semua orang belanja ke hypermarket, kasihan nasib pedagang-pedagang kecil.

  16. Tukang Komen says:

    Gw sempat bengong dengan judulnya Mal-icious? itu kan semacam virus di kompi yah, ternyata membahas tentang Mal yang sesungguhnya… he..he.. emang kayak virus juga sih Mall itu… bertebaran dimana-mana..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *