Facebook-mu Bukanlah Dirimu

Facebook ngambek. Sasaran ngambeknya kali ini orang-orang yang nggak suka ngurusin accountnya sendiri. Tau sendiri, di Indonesia banyak banget orang punya account Facebook tapi nggak diurus. Mungkin karena nggak ada waktu, tapi lebih banyak karena gaptek. Boro-boro inget passwordnya Facebook, nyalain kompie aja kudu teriak-teriak panggil anaknya.

Contoh kecilnya tante gw. Umurnya kira-kira 60. Punya Facebook, dibikinin anaknya. Dasar udah lansia nggak tau caranya main internet, jadi kalo mau buka ya dibukain sepupu gw. Mau bales Wall-to-Wall ya nunggu dibacain sepupu gw. Mau nge-add orang ya nunggu intervensi sepupu gw. Gw jadi bingung, ini yang punya Facebook siapa, si Tante atau si Mbak, seeh?

“Lha buat apa punya Facebook, Tante?” tanya gw.
“Ya kayaknya semua orang punya FesBuk, jadi Tante ya mau sekalian,” jawab tante gw. Mungkin dikiranya punya Facebook itu sama pentingnya dengan punya HP.

Nah, alasan ini yang menggelikan dan jadi bahan ketawaan gw hari ini. Tadi pagi gw baca Detik.com, Facebook telah memblokir account seorang politikus di Indonesia. Alasannya, si politikus itu nampaknya nggak ngurusin accountnya sendiri, tapi orang-orang lain yang mengurus itu untuknya. Terang aja Facebook marah. Facebook ini kan buat ajang pertemanan, bukan buat ajang beken-bekenan. Hahaha!

Emang kalo dipikir-pikir, gw liat semenjak musim Pemilu nih, banyak banget caleg yang rame-rame bikin Facebook buat memopulerkan diri. Add sana, add sini. Mungkin dipikirnya kalo dia bisa ngumpulin 1000 friend, berarti dia dapet 1000 suara. Olala..it’s so dutch!

Masih mending kalo yang nge-add itu emang calegnya beneran. Lha kalo yang nge-add itu bukan calegnya, tapi tim suksesnya doang, males banget dah. Apa nanti si caleg tinggal bikin pesenan buat tim suksesnya, “Tolong bikinkan saya account Facebook yang punya temen sampai 10.000!”

Sindrom niru-niru Obama ini yang kayaknya dijiplak mentah-mentah oleh para politikus. Mereka rame-rame nyuruh tim sukses mereka bikinin account Facebook atas nama si politikus. Mungkin di tim suksesnya sendiri ada sekretaris khusus Facebook. Dia yang bikinin account, dia yang nge-add friend, dia yang bales Wall, dia yang bales message, dan lain-lain. Kalo perlu, atas nama si politikus, sekretaris ini yang ngedaftarin buat ikutan Pet Society, nembak orang di Mafia Wars, nulis comment di Cause-nya Bebaskan Prita!, termasuk juga jawabin undangan kuis “Artis Mana yang Cocok Jadi Pembokat Lu?”

Lha si politikusnya sendiri? Dia nggak tau siapa-siapa aja yang udah “dia” add buat jadi friend, dia nggak tau bahwa seorang rakyat telah nulis Wall buat dia, dia nggak tau doggynya di Pet Society udah disuntik KB, dan dia nggak tau bahwa artis Dewi Peach cocok banget buat jadi pembokat dia..

Ini yang bikin gw empet banget nerima undangan request friend dari orang-orang bangkotan asing yang seumuran bonyok gw. Gw nggak percaya mereka emang nge-add gw. Gw curiga anak mereka yang nge-add gw. Firasat gw, “Facebook-mu bukanlah dirimu”.

Facebook sebal banget dengan fenomena ini. Mereka mencurigai jika anggotanya punya “terlalu banyak” teman, misalnya sampai 5000 aja, maka si pemilik accountnya bisa jadi bukan orang beneran. Maka ketika ada pengaduan bahwa account yang terlalu rame itu ditengarai palsu, Facebook buru-buru memblokir.

Dan ini bisa menimpa caleg atau politikus manapun. Untuk tujuan jahat mungkin? Cukup nulis surat ke Facebook, “Dear Facebook, nama saya Budi Nasution. Seseorang telah membikinkan account palsu atas nama saya dan account itu kini punya 67.000 friend. Para friend itu merasa berteman dengan saya padahal saya nggak tau-menau. Saya merasa jati diri saya dicuri habis-habisan. Bisakah Facebook menolong saya?”

Dan Facebook pun memblokir account “asli” yang dikira “palsu” itu. Tapi di dunia nyata, Budi Nasution yang asli sama sekali nggak tau caranya ikutan Facebook..

Jadi ini buat jemaah penonton blog gw. Apakah account Facebook atas nama kita itu emang dikelola sendiri oleh kita? Atau untuk pekerjaan itu kita nyuruh “tim sukses” kita, misalnya anak, suami, atau sekretaris kantor?

Tapi ada pertanyaan lain yang lebih penting lagi. Apakah jati diri kita itu bukan sepenuhnya milik kita lagi, sampai-sampai kita harus memberikannya kepada orang lain buat bikinin Facebook atas nama kita?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. Budhi says:

    Memang facebook lagi in banget tapi lama2 kok jadi bosen ya…hehehe…sekarang malah main gamenya aja. Ada kegunaannya juga sih bisa ketemu temen2 lama yang udah sepuluh taunan ngga ketemu…
    🙂

  2. Aku pernah baca di suatu koran bahwa Facebook udah jadi gaya hidup. Jika kau berada di lingkungan kantor yang pegawainya kiri-kanan ngomongin Facebook melulu, lama-lama kau akan merasa terasing coz kau nggak punya. Itu yang bikin orang merasa bahwa punya Facebook itu hukumnya wajib.

    Tiap orang pada dasarnya punya kepribadian yang direpresi dalam jiwa masing-masing. Entah itu sifat ingin aktual (baca: populer), ingin nampak cakep, dan sebagainya. Di dunia nyata tidak selalu gampang buat mewujudkan itu. Tapi di Facebook, orang bisa melakukannya. Coba amati, ada nggak teman Anda yang friend-nya nampak 500 orang padahal kesehariannya orang itu susah diajak omong? Ada nggak teman Anda yang di fotonya nampak cantik padahal sehari-harinya tampangnya kayak telor ceplok?

    Aku setuju bahwa membedah blog seseorang jauh lebih akurat hasilnya untuk mengenal orang itu, ketimbang memercayai profil Facebooknya. Tapi ini tidak berlaku buat blognya artis! Soalnya rata-rata artis tuh, blognya diupdate oleh tim manajemennya, bukan oleh artisnya sendiri.

    Facebook punya alasan buat jadi parno terhadap penggunanya sendiri. Kalo monitoring jumlah update status kayaknya sih enggak lah. Tapi apa iya ada orang yang punya temen berupa cowok doang atau berupa cewek doang? Kan aneh tuh.
    Tapi soal jumlah friend, aku bisa ngerti. Di negara asal Facebook, orang-orang Amrik nggak biasa punya teman sampai 200 orang, kecuali dia tokoh masyarakat (misalnya sheriff, walikota).
    Aku pernah dikomentarin seorang teman bule di Friendster yang asal Michigan. Katanya, "Wow! You have 400 friends! Do you know all of them?"
    Aku jawab, "Yes, I know where they went to school, I know how many kids they have, and I know some of their husbands sleep with others.." 😛

    Aku bingung kenapa orang mesti terintimidasi dengan kehebatan orang lain di Facebook. Nampaknya orang masih nggak tau gimana membuat dirinya sendiri nampak "hebat" sehingga dia perlu iri kepada orang lain.

    Mas Hedi, kenapa buka Facebooknya lama? Ganti browsernya, ganti provider internetnya dong..:-D

    Mas Setiawan, kemaren aku mampir Fatamorgana. Tapi aku nggak ngerti mau komentar apa.. 🙂

  3. depz says:

    ahhh
    jadi pengen nyanyi lagu jadul (lupa lagu sapa, kalo ga salah dewi yull"

    "….kau bukan dirimu lagi
    ..kau bukan yang dulu lagi"

    halahhhhh

  4. mawi wijna says:

    Sepertinya sifat "ikut-ikutan" rakyat kita ini makin lama makin parah aja. Udahlah kalau emang ndak bisa atau ndak tertarik buat FB ya jangan buat akun FB apalagi diurus sama orang lain. Saya setuju sama mas airbening klo dari Blog lebih mencerminkan si pengguna ketimbang FB. Dan tentu Blog lebih berbobot ketimbang Status Update.

  5. Imeh says:

    Memang qt ga blh terlalu percaya sama image seseorg lwt fb atau fs-nya. Kecuali kalau orgnya emang udah qt kenal sblm dia punya fb/fs. Minimal qt dah tau gmn dia sbnrnya. Tapi buat org2 yg baru qt kenal lewat fb, memang gak blh percaya gitu aja sm profil, status, foto2, etc..
    Btw, emang fb punya aturan sbrp byk qt blh add friends, trus brp byk cewe/cowonya, mau update stat sbrp sering..? Kok kesannya fb jd paranoid sendiri sama para user-nya ya..

  6. Budaya Pop says:

    Fenomena budaya pop yang jitu Mbak tangkap. Salah satu fenomena budaya pop adalah membuat suatu kebutuhan artifisial menjadi seakan-akan kebutuhan pokok. Seperti Tante yang merasa harus punya FB ini.

  7. Toilet Roll says:

    *kok gw jd aktif ngomentarin blog lu ya Vick?*

    Anyways, menurut gw, facebook -sama halnya seperti situs social networking lainnya- adalah bentuk lain escape form from real life. Meski ga se-ekstrim Second Life, tapi kita bisa tetap membentuk image yang berbeda terhadap diri kita dibandingkan dengan kehidupan nyata.

    Pernah ada yg bilang ke gw, dia males liat facebook account karena merasa terintimidasi ama orang2 lain di sana. Please……-Ga semua orang se-bahagia, se-gaul, se-sukses, se-cantik/se-cakep itu. Don't believe everything you see on facebook.

    -dan karena udah banyak banget yg ikutan facebook, kita harus hati2- karena everything we say+do will be publicized where ANYONE can see.

  8. Gimana ya Hen, bingung juga aku. Apakah salah kalo kita terlalu aktif? Aktif gimana yang dibilang ter-la-lu? Update status 5x sehari apakah termasuk terlalu aktif?
    Agak menggelikan kalo Facebook kita diblokir gara-gara temennya cewek semua (jika kita ini seorang cowok). Salahkah kalo kita "koleksi" cewek? 😀

    Yang jelas, kalo aku di-add oleh orang asing (misalnya cowok), aku liat dulu siapa friendnya. Kalo ternyata friendnya cewek semua, apalagi dengan nama-nama alias dan foto pose-pose yang nggak terpelajar, yah..nampaknya memang bukan recommended man buat di-approve.. 🙂

  9. hahaha..iya ya, facebook sekarang terlalu "in" sampe2 nenek2 pun mau punya facebook.tentang apa yang dibilang mbak vic tadi pernah dialami salah satu teman henny yang mengeluh kenapa accountnya diblokir terus sama pihak facebook, sudah 3 kali! setelah dilihat lagi alasannya memang seperti yang mbak vic bilang, terlalu banyak punya "friend" dan hampir semuanya cewek..udah gitu terlalu aktif juga. mungkin karena itu juga ya mbak ya?

  10. airbening21 says:

    Sama seperti aku yang udah gak percaya lagi dengan saLah satu fungsi besar media massa yaitu Pendidikan (kecuaLi utk propaganda semata..), maka aku juga gak pernah bener2 yakin dengan FS atau FB itu sebagai sebuah wujud manusia pemiLiknya.. fifty fifty mungkin aku masih mikir..
    Tapi utk bLog mba Vicky (mungkin saLah satu pengecuaLian.. seLamat mba!), aku cukup yakin bahwa 'ia' mewakiLi siapa mba sebenarnya.. dengan segaLa pLus minusnya, karakter rata2 anak kedokteran yg pernah 'berjaya' di Bandung.. tentunya hehe.. pisss mba, tapi aku serius.. ga pa2 kan ya..

    SaLam manis 🙂

    ———————–

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *