Jangan Matikan Tivi Buat Anak!

Sengaja gw rilis tulisan ini buat menyanggah kampanye “Matikan Tivi Buat Anak” yang digelar hari ini di Indonesia. Kampanye ini punya agenda utama yang mengimbau para bonyok buat nggak nyalain tivi, satu hari aja, dan make hari ini buat main sama anak. Dasarnya adalah karena anak Indonesia, seharinya, ngabisin waktu dua kali lipat di depan tivi ketimbang di sekolah. Ini yang bikin anak sekarang punya masalah macem-macem, mulai dari nilai pelajaran yang jeblok sampai gantung diri.

Gw nggak pernah suka istilah mengimbau coz itu nggak saklek. Artinya boleh dipatuhi, boleh enggak. Gw pikir kalo mau kampanye efektif, ya nggak usah mengimbau, tapi memerintahkan aja sekalian. Artinya suruh semua stasiun tivi hari ini nggak muterin acara anak-anak, dan sebagai gantinya pasang siaran Manchester United vs Korea Selatan, hehe.. Stasiun yang tetep mbandel, cabut ijin operasionalnya, beres kan?

*Lu pikir hidup di negara mana lu, Vic? Irak??*

Oke. Rada tidak nyambung. Dalam profesi gw, tivi (dan kompie) dituding sebagai penyebab 50% keboloran pada anak. Banyak anak (dan mungkin Anda juga, termasuk gw) terpaksa make kacamata gara-gara kedapatan bolor nggak bisa baca tulisan Bu Guru di kelas.

Kasus kecil masih gw inget waktu gw magang di klinik khusus anak rumah sakit mata di Bandung. Kliniknya penuh banget sama anak-anak, dan usianya cilik-cilik, paling banyak antara 4-7 tahun. Umur segitu rata-rata minusnya udah gede, minimal 2. Kami para dokter mewajibkan anak pake kacamata kalo minusnya udah minimal 1,5.

Seorang ibu dari pasien nampaknya nggak terima anaknya bolor. “Nggak mungkin, Dok. Anak saya ini saya minumin jus wortel sampai enam gelas setiap harinya!”

Gw berusaha keras nahan tawa dengernya. Lebay ah. Mana ada anak mau minum jus wortel enam gelas? Yang ada malah eneg kalee..

Boss gw lebih dewasa dari gw dan nggak ketawa. Katanya, “Bu, mau anaknya dikasih jus wortel sampai lima liter pun, itu nggak akan bisa memperbaiki matanya yang tidak bisa membaca dengan jelas..!”

Itu kan di Bandung. Nah, sekarang gw tinggal di Pulang Pisau dan gw hampir nggak pernah liat anak-anak kecil seumuran tadi yang udah pake kacamata di sini. Apa sebabnya?
1. Mungkin memang nggak ada yang bolor.
2. Mungkin ada anak yang bolor, tapi bonyoknya belum memperbaikinya. Soalnya di sini kan nggak ada dokter mata.

Apakah benar tivi adalah penjahat utama buat keboloran anak? Ya, bisa jadi. Gw sering liat anak tuh seneng banget nonton tivi deket-deket. Gw nggak mempersalahkan mereka. Situasi rumah di Indonesia membuat para keluarga bikin rumah dengan ruangan yang sempit-sempit. Termasuk jarak kursi ke tivi di depannya pun ikutan sempit. Akibatnya sinar biru yang memancar dari tivi langsung masuk ke mata penonton dan merusak mata.

Jadi gimana dong? Yaah, makanya ini pe-er buat para bonyok, mumpung anaknya masih balita, dibiasakan jangan nonton tivi dekat-dekat. Balita masih belum bisa baca, jadi mereka nonton tivi hanya buat liat gerakan, warna, dan dengar suara doang. Beda pada anak yang lebih gede, mereka terbiasa nonton dekat, jadi saat mereka pengen baca tulisan yang kecil-kecil di tivi, mereka cenderung beringsut mendekati tivi. Akibatnya mata mereka makin rusak. Itulah sebabnya, lebih susah mencegah rabun pada usia SD ketimbang usia balita.

Ada tips lain buat mencegah mata bolor pada anak. Memang betul orangtua yang punya bakat bolor, akan nurunin gen kebolorannya ke anaknya. Tapi gen ini tidak perlu jadi bolor beneran kalo anak nggak niru kebiasaan orangtuanya baca koran deket-deket! Ayo mulai sekarang, kalo Anda baca buku, jarak buku dan mata paling dekat hanya 30 cm, syukur-syukur lebih jauh. Bisa, nggak?

*Ya susah, Vic, kan buku hurufnya kecil-kecil kayak semut..*

Grandpa gw ngasih rahasia jitu sebelum meninggal. Grandpa gw waktu muda nggak pernah pake kacamata. Paling-paling pake baru pas udah tua, itu juga kacamata plus. Padahal Grandpa tuh kutu buku berat. Ini karena Grandpa cuma mau baca buku di tempat yang lampunya terang-benderang..

Jadi, kalo memang Anda mau ngirit kacamata buat anak Anda, mulailah semenjak dia masih balita. Kalo nonton tivi, dudukkan dia jauh-jauh. Kalo kepingin suaranya kenceng, ya pakelah remote control. Kalo perlu, di depan tivi dikasih genangan air yang buanyak, jadi anak Anda ogah duduk di situ.. 😛

Dan ini juga berlaku buat komputer.

Tivi tidak bersalah atas keboloran mata anak Anda, jadi jangan dimatikan. Temani anak Anda waktu nonton tivi, itu baru langkah yang lebih cerdas.

Yok, nonton tivi yook..!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

21 comments