Minta Cerai

“Kekasih, terbacakah tulisan hatiku, saat langkah mulai tak sejalan?”

Saya menulis ini, mungkin dengan penuh etika, tapi ada makna yang tersirat biarpun tidak tersurat.
Dulu kamu menginginkan saya. Saya juga menginginkan kamu. Tapi sekarang nampaknya kita tidak saling menyayang lagi.

“Suratku itu lukisan luka di hati.”

Bahkan di sebelah kiri atasnya, sudah tersirat di situ, saya minta cerai.

“Jangan kauhempas, meski tak ingin kausentuh.”

Saya tahu kamu akan suruh pembantu kamu saja yang baca surat saya, tapi sebaiknya kamu baca dulu sampai selesai.

“Kutahu pasti hatimu tahu walau tak baca suratku.”

Meskipun kalau kamu tidak membacanya pun, kamu sudah mengerti apa yang saya mau.

“Kekasih, masih kuingat janji di suratmu.”

Kan dulu waktu kamu minta tentara bayaran kiriman dari Menteri, kamu janji akan piara tentara-tentara bayaran itu dengan baik.

“Mengapa kini kauingkari janjimu?”

Tapi ternyata, kenapa kamu malah sia-siakan semua tentara kiriman itu dan membiarkan mereka jadi kurus, bosan, dan kesepian? Termasuk saya?

“Suratku itu lukisan luka di hati.”

Tahukah kamu, ketika saya menulis di surat itu bahwa saya hanya disuruh bersama kamu setahun, artinya setahun itu 12 bulan, dan jangan lebih karena saya kebelet sudah nggak tahan kepingin pulang?

“Jangan kauhempas, meski tak ingin kausentuh.”

Saya percaya kamu tidak ingin diingatkan tentang itu, karena tentara-tentara bayaran selalu datang dan pergi. Tapi tidak inginkah kamu tahu kenapa mereka selalu pergi?

“Kutahu pasti hatimu tahu walau tak baca suratku.”

Kamu pasti bisa menebak, mereka tak tahan karena karier di bawah “comfort zone”-mu tak akan pernah berkembang. Menjadi pegawai tetap tidak lebih menggiurkan ketimbang menolong pasien dengan kualitas pelayanan yang lebih baik.

“Tak ingin kusesali seluruh cintaku, walau kini ternyata ku melangkah tanpamu, kasih.”

Saya tidak menyesal pernah datang kemari. Saya menyerahkan seluruh kemampuan saya di sini. Tapi kini saya harus meninggalkan kamu. Meskipun kamu tempat tumpah darah saya, di tanah kamulah saya lahir, dan untuk itu, saya sangat menyayangi kamu.

“Suratku itu lukisan luka di hati.”

Saya menyesal kamu belum bisa menghargai tentara bayaran macam saya dengan baik. Karena itu saya minta pergi, dan tidak mau memperpanjang jabatan saya lagi.

“Jangan kauhempas, meski tak ingin kausentuh.”

Terimalah permohonan diri saya, jangan kamu tolak.

“Kutahu pasti hatimu tahu walau tak baca suratku.”

Dan kamu pun tahu, saya sangat berterima kasih, jika kamu mengabulkan surat pengunduran diri saya ini, sesegera mungkin.

***

Pagi ini, ajudan gw nganterin gw ke Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau. Sepanjang perjalanan, gw terus-menerus nyanyiin lagu Yovie Widianto ini. Gw baru berhenti nyanyi pas gw ketemu pegawai bagian Kepegawaian buat nyerahin surat pengunduran diri gw sebagai dokter PTT, coz kontrak gw selesai bulan depan.

Sewaktu gw keluar dari kantor itu dan nggak sengaja melirik cermin di situ, gw tercengang liat bayangan Little Laurent tersenyum ke gw.
Gw lupa, kapan terakhir kali Little Laurent sesumringah itu.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

29 comments

  1. ilhampst says:

    Biayanya sekitar 150 ribu buat setahun udah cukup, gak begitu merusak isi dompetlah. Yang repot ya ngoprek blognya itu. Script dimana2 hehehe..
    Klo soal bayaran, gak tau ya, wong blogging niatnya cuma buat sharing aja πŸ™‚

  2. Hehe..lucu bayangin selama ini saya sebagai blogger asal Pulang Pisau, dan bulan depan saya udah ganti "jati diri" sebagai blogger asal Bandung.

    Udah berulang kali sih kepikiran buat ngeblog pake host berbayar. Tapi belum tau gimana caranya balik modal, hehehe. Saya ogah cari untung dengan pasang iklan bayar per klik. Ada nggak ya yang bisa bayar saya tiap ada yang ngeklik blog ini? Hehehe..

  3. Fanda says:

    Rakyat Pulang Pisau (ga salah loh nulisnya!) bakal dapet dokter baru, tp belum tentu dokter cantik. Lagian, pribadi seseorang ga akan bisa tergantikan loh…(moga2 kamu ga ketularan mellow).
    Jadi ga sabar nunggu posting pertamamu di Bandung nih…

  4. Dews says:

    Ini pertama kalinya dateng ke blog ini. Setelah liat dan baca-baca beberapa postingan, kayanya bakalan jadi salah satu pembaca setia juga.

    Really nice blog. πŸ™‚

    Keep updating sist. I'll be waiting for next scratches.

  5. Hehe..gimana yah? Nasib diriku punya dua tanah air.

    Mungkin kayaknya saya juga bakalan nyanyi balik, tapi pake lagunya Yovie yang lain, Tak Mampu Mendua.

    Saya dulu memang kepingin mengabdi di tempat kelahiran saya sendiri.

    "Pernah ku menyimpan cinta, tertulis di lembar kisah."

    Tapi ternyata, di sini dokter tidak terlalu diperhatikan masa depan kariernya, dan cuma jadi etalase ekonomi semata.

    "Namun kau hilang tuk menjauh, pergi, dan meninggalkan cerita."

    Saya sendiri nggak pernah sungguh-sungguh ingin pergi dari Bandung dan selalu kepingin balik lagi.

    "Kusesali semua salahku yang tak pernah meninggalkan dia."

    Tapi kalau saya ingat betapa mirisnya Pulang Pisau tanpa dokter yang bermutu, rasanya saya juga prihatin dan ingin menolong.

    "Air mata kusimpan di sana, jika kuingat tentang dirimu."

    Saya tahu, kalau saja Pemerintah bisa mensejahterakan dokternya langsung begitu mereka lulus, saya tidak akan sampai terjepit di antara dua tanah air begini.

    "Andai aku dapat menata jalanku, 'kan kucari jalan yang tak bernestapa."

    Tapi saya harus memilih demi karier yang lebih baik, dan saya tidak bisa terus-menerus tinggal di Pulang Pisau.

    "Mendua aku tak mampu, mengikat cinta bersama denganmu."

    Jadi meskipun resikonya penduduk pelabuhan Pulang Pisau akan kehilangan dokternya, saya harus kembali ke Bandung..

    "Maaf, jika kau terluka saat aku mencinta dirinya, memilih dirinya."

  6. Wee..
    Bu dok mo pulang ne critanya..
    Pasti byk yg nangis tuh.. πŸ˜€
    Btw, jejak pengabdian kan selalu ada..
    Tak pernah luntur..
    Sebab terpatri dlm hati..
    Orang2 yg uda cc tolong.. πŸ˜‰

  7. Farid says:

    Petuga yang menerima surat cerai itu juga akan menyanyikan lagu Kahitna sebagai balasan hehehe,

    Kau Tak Akan Terganti

    Telah lama sendiri
    Dalam langkah sepi
    Tak pernah kukira bahwa akhirnya
    Tiada dirimu di sisiku

    Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
    Semua tak β€˜kan mampu mengubahku
    Hanyalah kau yang ada di relungku
    Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
    Kau bukan hanya sekedar indah
    Kau tak akan terganti

    Tak pernah kuduga bahwa akhirnya
    Tergugat janjimu dan janjiku

  8. Hehe..ini lagu putus cinta yang emang nggak bosen didenger.. πŸ™‚ Yang nyanyi emang Hedy Yunus, tapi yang nulis Yovie Widianto. Aku pernah dengar ini dinyanyiin Sita Nursanti, hasilnya tetap sama bagusnya..

    Aku bakal ninggalin jejak kok. Ada kertas resep, blanko rekam medis, hehehe..

  9. reni says:

    *Gubraaakkk…* Ya ampun.., ternyata selama ini aku salah baca ?!?!! Kok bisa ya ? Kirain Pulau Pisang hahaha…

    Bukannya lagus suratku yang nyanyiin Hedy Yunus ? Kirain itu single-nya Hedy Yunus… ^_^

  10. Arman says:

    one of my favorite songs too! hehe… lagu lama tapi gak pernah bikin bosen kalo ngedengerin ya…

    wah seneng ya udah tinggal sebulan ya… balik bandung dong ya… πŸ™‚

  11. Belum, belum selesai! Belum bisa dibilang selesai coz kontraknya masih sampai Agustus, hehehe. (Ah, rese. Masih sebulan lagi??)

    Pegawai kantorku sempat bilang dua hari lalu, "Kok Dokter cerah sekali? Ada apa, Dok?"
    Hohoho..nggak tau dia..

    Keluargaku udah nungguin di Bandung. Bahkan keluarga besar Kreyongan juga, hihihi. Memang sih, setelah bulan depan nggak akan ada lagi cerita dokter cantik bersemedi di pedalaman Cali, yang ada malah dokter kembali ikut hedonisme di Bandung, hahaha..

    Tapi meskipun aku mau pergi dari sini, tetap nggak bosen-bosennya aku meralat, yang bener tuh PulaNG PisaU!! Bukan Pulau Pisang.. Ya ampun, orang-orang salah melulu, padahal aku udah tulis berkali-kali. Nasib..nasib..lahir dan kerja di tempat bernama aneh..

    Sebenarnya kerjaannya baik-baik aja. Tapi aku selalu merasa, this isn't place where I belong. Hatiku nggak nyantol di sini, gitu lho.. Biarin aja deh penduduk kehilangan aku. Nanti juga akan ada dokter pengganti kok..

    Lagu "Suratku" ini emang lagu favoritku. Ngetop waktu umurku 13. Aih, jadi kangen pengen denger lagu-lagunya Yovie lagi..

  12. Reni says:

    Mbak.., akhirnya selesai sudah ya 'pengabdian' di Pulau Pisang ? Wah, gak ada lagi dong cerita tentang bu dokter cantik di suatu tempat nun jauh disana…

    Bahagia ya mbak ? Tapi ternyata warga Pulau Pisang akan menangis sedih kehilangan bu dokternya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *