Laut Pun Dikangkangi

Dulu, menyeberangi laut jadi momok.

Ketika nyokap gw memberitahu Grandma bahwa gw mau pergi ke Cali, dibilangnya cuma gini, “Vicky mau ke Kalimantan, Bu. Nyebrang laut.”

Grandma gw memeluk gw dengan penuh kuatir. Padahal gw bukan cucu pertama dalam keluarga yang pergi dari Jawa. Kakak-kakak gw sudah ke mana-mana: Houston, Jeddah, Pattaya, tapi mencemaskan satu orang cucu lagi yang mau “nyebrang laut” ternyata berat buat Grandma gw. Biarpun itu cuma ke Cali.

Sederhana aja. Nyebrang laut berarti pergi ke daratan lain. Jika Anda nyasar di daratan yang masih sama dengan rumah, itu masih oke. Misalnya rumah gw di Bandung, kalo gw main skateboard ampe nyasar ke Jogja, yaa gw tinggal jalan kaki lurus ke arah Barat dan gw akan nemu Bandung. Meskipun untuk jalan kaki itu, punggung gw mungkin putus di jalan. Tapi gw nggak kesasar. Coz, gw tetap ada di Pulau Jawa.

Tapi beda kasusnya kalo gw nyasar di Cali. Nggak bisa gw ngandalin jalan kaki lurus ke arah Selatan buat mencapai Bandung. Harus nyebrang Laut Jawa dulu. Harus naik pesawat atau kapal. Pendeknya, gw kudu mengandalkan “kaki” lain supaya bisa pulang.

Ini yang dimaksud Grandma gw, bahwa nyebrang laut itu jadi momok.

Minggu lalu, pas gw ada di Surabaya buat konferensi, paman gw ngomporin gw buat liat Jembatan Suramadu. “Kamu harus liat, mumpung kamu ada di sini!” kata paman gw. Tambahnya, “Mumpung baut jembatannya masih utuh!”

Jembatan Suramadu adalah jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura melalui Selat Kamal. Jembatan ini dibikin dengan kontroversi, coz banyak yang nggak seneng dengan ide jembatan ini, terutama beberapa kyai pemilik pesantren di Madura. Para kyai ini takut, kalo jembatan ini dibikin, makin banyak orang di dusun-dusun Madura pergi ke Jawa dan akan ketularan budaya “kota” macam mabuk, madon, dan musik rock n roll, dan sebagainya. Pemikiran picik itu bikin sekongkol buat sabotase Jembatan Suramadu, caranya dengan berenang diam-diam lalu nyuri besi, baut, dan entah apalah yang bisa dicuri. Tujuan akhirnya, supaya jembatannya roboh dan orang Madura nggak bisa nyebrang laut lagi.

Teman-teman gw di Surabaya menyangkal. Bohong tuh, bukan orang Madura yang suka nyuri besi. Emang dasar besinya aja belum dipasang. Tuh jembatan sebenarnya belum selesai, tapi Pemerintah yang buru-buru pengen meresmikan di bulan Juni lalu.

Gw bilang, ada peresmian berarti ada makan-makan. Mungkin orang-orang itu buru-buru kepingin meresmikan soalnya nggak sabar kepingin makan-makan.

Gw sendiri punya napsu pribadi ke Jembatan Suramadu. Pasalnya, di konferensi tempat gw kumpul sama dokter-dokter lainnya dari seluruh Indonesia, yang diomongin Suramadu melulu. “Sudah liat Suramadu..?”

Alasan kedua, keluarga gw pernah mempekerjakan TKW-TKW dari Sampang secara turun-temurun buat jadi asisten pribadi, dan memulangkan (dan menjemput kembali) mereka ke kampungnya selalu jadi proyek keluarga tiap tahun. Gw sendiri pernah jemput asisten pribadi nyokap gw 22 tahun lalu di kampungnya. Perjalanan yang melelahkan, naik ferry yang panas dari Tanjung Perak ke Kamal, dan Madura sendiri gersangnya bukan main. Gw ingat ferry tanpa AC itu lelet banget, dan gw merengek ke bokap gw, “Kok nggak nyampe-nyampe sih?”

Di kampungnya, asisten pribadi nyokap gw dilepas oleh keluarganya yang bejibun itu. Dengan hujan air mata mereka ngomong Madura, “Hati-hati ya kalau kau nyebrang laut nanti..”

Padahal waktu itu kan dia cuma mau kerja di rumah gw di Surabaya..

Jadi, minggu lalu, pulang dari konferensi, paman gw bawa gw nyebrang Jembatan Suramadu. Perjalanannya cepet banget, cuma 10-15 menit dari Pantai Kenjeran di Surabaya, tau-tau kita udah menginjak tanah Madura. Gw sangat-sangat tercengang. OMG, I’m back to this place, after 22 years away..

Karena waktu itu udah malem, gw kurang puas coz nggak bisa motret. Akhirnya gw ngajak sepupu gw nyetirin gw ke sana lagi tiga hari kemudian, coz gw bisa pulang dari konferensi jam tiga sore. Langit masih putih waktu gw motret sepanjang selat.

Kata sepupu gw, mestinya mereka membangun jalur motor lebih lebar di kiri-kanan jembatan itu. Soalnya orang-orang Madura lebih banyak yang pake motor kalo mondar-mandir di jembatan itu. Emang bener sih, jalur motor di jembatan itu cuman muat buat dua sepeda motor doang. Motor yang kepingin nyalip motor lainnya kudu ngeklakson dulu saking sempitnya.

Saat kita kembali ngantre tol buat nyebrang balik, gw liat motor-motor dari Madura berjubel ngantre pula. Mereka mau ke Surabaya. Pemandangan itu bikin gw nyadar sesuatu, Jembatan Suramadu telah membuat hidup penduduk Madura menjadi lebih mudah.

Madura dan Surabaya sudah bisa dikangkangi. Sekarang kita lagi nyiapin megaproyek jembatan buat menghubungkan Selat Sunda dari Merak dan Bakauheni. Kalo aja kita tinggal bikin satu lagi jembatan dari Batam menuju Singapura, maka akan tiba saatnya orang-orang Madura bisa melancong naik sepeda ke Bordeaux.

Impian itu, bukan terlalu indah buat jadi kenyataan..:-)

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

24 comments

  1. mawi wijna says:

    Hebat juga bangsa kita bisa bikin megastruktur kayak gitu. Benar mbak, harus sempat kesana sebelum tu jembatan roboh. 🙂 Saya sih berharapnya dengan dibangunnya jembatan itu, pulau Madura makin sejahtera. Dalam arti yang sehat lho ya!

  2. sebenernya kata Grandma bener juga, namanya orang yang lebih tua, suka was-was secara berlebihan. toh soal maut dan hal buruk yang lain kita nggak bakal pernah bisa tau kan mbak?
    yang penting sekarang adalah kita sudah waspada

  3. Hehe..itu emang Fenty yang ngomong. Tapi bukan cuman Fenty lho yang ngomong gitu, coz banyak juga temen yang bukan warga Surabaya bilang bahwa jembatan itu emang belum selesai total.

    Dan soal rumor penduduk pulau yang satu itu tukang tadah besi, banyak juga yang bilang. Apa aku udah cerita, sepupuku yang di Klampis itu ditawarin mancing ikan di bawah jembatan Suramadu? Berapa banyak probabilitas pencurian besi dengan berkedok pura-pura mancing ikan?

    Masih mimpi bikin jembatan dari Jawa ke Bakauheni, Sampit, Makassar, Gilimanuk, Mataram, Kupang, kalo perlu ke Merauke sekalian. Mudah-mudahan anak-anak kita yang bikin jembatan itu. Amiin!

  4. Fenty Fahmi says:

    eh itu aku yang ngomong ya, hahahaha … percaya aja :p

    itu kata beberapa orang disini sih, tapi memang lebih banyak yang ngomong karena orang di seberang sana memang penjual besi tua 😀

  5. depz says:

    ngbayangin pulau2 besar di indo terhubung sama jembatan

    khususnya jawa bali n bali lombok
    so, gw bsa plg ke jkt by motor aje

    dan seperti kata lo, mungkin punggung gw putus dijalan
    😀

    lets dream

  6. Iya, Mbak, aku juga seneng banget sama Jembatan Suramadu ini. Kalo nggak ada jembatan ini, nggak bakalan deh minggu lalu aku bolak-balik ke Madura sampai dua kali. Dulu-dulu mana bisa? Mudah-mudahan setelah adanya jembatan ini, wawasan kita tentang Madura jadi lebih luas, dan orang Madura juga bisa belajar banyak dari orang Jawa.

  7. Fanda says:

    Menurutku sih Jembatan Suramadu adalah sebuah kemajuan. Memang setiap hal (kemajuan, kemunduran, tetap di tempat) ada resikonya. Sekarang toh jembatan sdh terpasang, jadi mari kita lihat dan perbesar saja sisi positifnya. Kita manfaatin buat kepentingan kita. Kalo kita teriak2 tentang sisi negatifnya terus, malah kita yg mundur saat semuanya bergerak maju. Dobel negatif kan!!

  8. Bukan dipangkangi, Nura, tapi dikangkangi. Kangkang tuh artinya kedua kaki membuka lebar-lebar, berdiri di atas sesuatu. Dalam konteks blog ini ada jembatan yang kedua kakinya berdiri lebar-lebar di atas laut antara Surabaya dan Madura.

    Nura sudah nyoba nyebrangin Suramadu? Ayo cepetlah ke Indonesia, sebelum jembatannya roboh, hehehe..

  9. Whoaa..seneng banget ngebayanginnya, Mas! Saya diceritain bokap waktu habis nyebrang Eurotunnel itu. Komentar bokap saya waktu itu, "Manusia pinter sekali bikin terowongan. Padahal kalo tuh terowongan jebol, seisi air laut tumpah semua menimpa orang di bawah terowongan itu.."

    Bisakah terowongan yang sama dibangun dari Batam ke Sinx, atau dari Dumai ke Malaka? Teorinya sih bisa. Tapi, tanpa bermaksud pesimistik, kira-kira apakah kualitas beton yang dipake buat bikin terowongannya, nggak akan dikorupsi oleh kontraktor yang ngebangunnya..?

  10. Farid says:

    Mungkin berikutnya, selain teknologi konstruksi jembatan untuk mengangkangi laut, perlu juga dicoba teknologi terowongan untuk menggali dan membelah laut, seperti Eurotunnel, terowongan yang menghubungkan Prancis (Eropa Daratan) dan Inggris.

    Bisa dicoba untuk membangun terowongan yang menghubungkan Batam dan Singapore, atau antara Dumai (Pulau Rupat) dan Melaka di Malaysia.Biayanya patungan antara 2 negara hehehe

  11. Newsoul says:

    Hm, baca postingan mbak Vicky ini sembari ngupi, asyik juga. Yah, intinya bagi saya, laut manapun yang dikangkangi selama masih dalam wilayah NKRI, tentu miris kalau kita menemukan masalah tragis di bawah kangkangan kita tersebut. Kapan mengangkangi sungai Musi mbak…?

  12. Tanpa bermaksud mengabaikan kekuatan maritim negara kita, saya harus bilang mengandalkan transportasi laut sebagai alternatif satu-satunya bukanlah ide yang baik.
    Kadang-kadang kapal nggak boleh berlayar di laut cuma gara-gara angin yang terlalu kencang, ombak laut yang terlalu tinggi, dan faktor-faktor alam lainnya. Bayangkan kapal tidak boleh berlayar dari Surabaya ke Madura karena itu, padahal Madura nunggu-nunggu pasokan sayuran dan keju dari Surabaya. Tak ada transportasi yang memadai, berarti tak ada perdagangan, berarti memacetkan pertumbuhan ekonomi. Membuat "daratan" berupa jembatan akan menyelesaikan masalah itu. Lebih praktis!

    Bisa aja kita bikin kapal yang canggih, yang bisa menantang faktor-faktor alam tadi. Tapi teknologi kita belum sampai ke situ. Sekarang, kemampuan kita baru sebatas bikin jembatan dari Surabaya ke Madura, belum sampai tahap bikin kapal yang cihui.

    Saya sendiri juga nunggu-nunggu jembatan Selat Sunda. Alasannya sama, supaya hasil ekonomi dari Jawa bisa disebarkan ke Sumatera dengan lebih efisien. Jembatan akan meningkatkan potensi ekonomi rakyat secara signifikan lho. Contoh kecilnya, saya liat daerah Madura di area pintu keluar Jembatan Suramadu, di sana sudah mulai menggeliat pusat ekonomi berupa kompleks jajanan yang potensi profitnya tinggi. Padahal jembatannya kan baru diresmikan dua bulan?

    Perkara area di perbatasan Indonesia-Malaysia yang terabaikan, saya juga baca itu. Well, itu bukan salahnya proyek jembatan Merak-Bakauheni, hehehe. Daerah Nunukan dan Sambas itu memang susah, jalur darat ke sana jelek banget, nggak heran orang-orang Pemerintah susah jalan-jalan inspeksi ke situ. Perbatasan negara adalah tanggung jawab Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan dan Keamanan, tapi masalah pembangunannya tetap jadi tanggungjawab Pemerintah baik Pusat maupun Daerah. Saat ini Pemerintah berusaha menjangkau daerah-daerah kecil di luar Jawa, salah satunya ya dengan proyek Jembatan Merak-Bakauheni itu. Cita-citanya juga mau bikin jembatan dari Semarang ke Banjarmasin lho, tapi kan kemampuannya tahap demi tahap dululah. Mudah-mudahan kalo daerah-daerah ini bisa terjangkau, lama-lama daerah perbatasan pun bisa dirangkul. Gitu lho..

  13. cerita cinta says:

    "Laut Pun Dikangkangi", judul yang dahsyat…. emang yang namanya tehnologi ngga ada matinyeeeee…
    btw sebagai orang sunda (Jabar) aku nunggu nih… kapan mega proyek Jawa-Sumatera terealisasi ya..?

    hehe.., salam kenal

  14. ditter says:

    Wahh… wah… hebat bener ya Indonesia…
    Tapi tadi abis baca koran, katanya daerah perbatasan khususnya yg dengan Malaysia infrastrukturnya parah banget, cos pemerintah terlalu fokus ke daerah yg besar, contohnya megaproyek jembatan merak bakau, dan akhirnya mengabaikan daerah perbatasan, huhu…
    Padahal si denger2 daerah perbatasan penting banget, untuk menghindari hilangnya sebagian daerah kita yg diambil ma negara laen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *