Kebanyakan Obat


Gw menghela napas dengan prihatin waktu meriksa lemari obat di kantor kami kemaren. Obatnya terlalu banyak, tapi pasiennya terlalu dikit.Sekitar enam bulan lalu, gw dimintain nasehat, obat-obatan apa yang kudu disediain buat klinik untuk tahun ini. Proposal akan dibikin, diajuin ke Direktorat Jenderal di Jakarta, lalu mereka akan nurunin sejumlah dana buat kantor kami untuk beli obat-obatan baru. Jawaban gw, nggak usah beli obat lagi. Toh stok obat yang tahun lalu masih banyak. Malah perhitungan ramalan gw, stok obat di kantor kami masih cukup sampai dua tahun lagi.

Tapi dari Dinas, ada semacam “ngeyel” bahwa kantor kami mesti ngajuin permintaan stok obat yang baru. Alasannya, dari anggaran Negara juga udah diplot dana sekian juta buat penyediaan obat di klinik-kliniknya Pemerintah, termasuk klinik tempat gw kerja. Dana itu kudu abis buat laporan Negara. Nah, daripada dananya “diabisin” di Jakarta, kan mending dipake buat beli obat untuk klinik-klinik di pelosok.

Setahun gw kerja di klinik Negara di pelosok Cali, gw mencoba memetakan masalah kenapa rakyat kecil susah maju dalam urusan memperoleh pelayanan kesehatan. Lalu gw kenalan sama seorang mantri, sebut aja namanya Sutan. Sutan ini cerita ke gw, bahwa dia pernah kerja di Pustu di pinggiran Sungai Kapuas.

Pustu alias Puskesmas Pembantu, adalah jenis Puskesmas yang ada di pelosok-pelosok kecil dan umumnya sulit dijangkau pake mobil. Kebanyakan Pustu nggak ada dokternya, dan yang ngelola Pustu itu cuman ada 1-2 orang perawat. Sutan adalah salah satu mantri yang pernah jagain Pustu itu.

Karena posisinya yang di pelosok, rakyat yang berobat di Pustu itu dikit banget. Paling sehari yang berobat cuma 1-2 orang. Maka bisa dibayangin, beban obat yang kudu dikeluarin oleh Pustu itu nggak terlalu berat. Buat seorang perawat, paling-paling penyakit yang bisa ditanganin sendiri hanyalah penyakit khas Puskesmas, yaitu PUSing, KESeleo, dan MASuk-angin.

Masalah buat Sutan cuman satu: Stok obatnya terlalu banyak.

Sudah dikasih tau oleh Sutan ke penilik penyediaan obat di Dinas Kesehatan, bahwa pasien yang berobat ke sana setahunnya nggak nyampe 100 orang. Tapi tetap aja dari Dinas didrop ke Puskesmas mungil itu obat yang jumlahnya cukup buat 1000 orang. Mungkin dikira mereka stok obat itu seperti stok berasnya Bulog, nggak boleh sampai kurang, tapi kalo ada lebih ya syukur.

Sutan, seorang perawat yang berdedikasi, nggak suka kata mubazir. Dan stok obat yang dijatuhin ke Pustu-nya terancam mubazir. Pasien terlalu dikit, obat terlalu banyak. Mau diapain obat-obatan gratisan ini? Kalo dibiarin numpuk doang, nanti obatnya kadaluwarsa. Sayang kalo obat kudu dibuang sia-sia cuman gara-gara kadaluwarsa.

Akhirnya Sutan ambil jalan pintas. Obat-obatan yang terancam nggak kepake, olehnya dijual ke perawat-perawat lain yang kebetulan ngobyek. Di pelosok-pelosok memang sering nggak ada dokter, maka penduduk yang sakit sering berobat ke bidan, mantri, atau suster yang ada. Dengan cara itu, Sutan berhasil mengeliminasi obat-obatan gratis dari Pemerintah yang melebihi kebutuhan itu, menghindari obat yang kadaluwarsa, dan mendatangkan “bisnis”.

Gw bertanya-tanya dalam hati, korupsikah ini? Tapi gw sendiri udah pengalaman ngeliat, kalo kita bilang ke atasan pengelola anggaran bahwa kenyataannya kita cuman butuh dana Rp 1 juta, pasti dari atasan malah dikasih Rp 10 juta coz teori di atas kertasnya emang jumlah kebutuhannya segitu.

Dan ini nggak cuman terjadi di pinggiran Sungai Kapuas di Cali. Kolega gw, seorang dokter di Papua Barat, pernah cerita bahwa di Puskesmasnya ada stok obat maag yang bejibun banget. Padahal jarang ada orang dateng ke Puskesmasnya buat ngeluh sakit perut. Akhirnya, jalan keluarnya, tiap pasien yang berobat sakit apapun di Puskesmas itu, dikasih bonus obat maag dengan dalih “buat persediaan di rumah”, hehehe..

Gw sering kesiyan kalo baca berita banyak orang sakit parah lantaran nggak bisa beli obat. Tapi jarang banget ada berita bahwa kantor layanan Pemerintah sering banget kelebihan obat dan pada akhirnya obatnya jadi kadaluwarsa. Padahal obat-obatan itu kan dibeli pake pajaknya rakyat.

Masalahnya bukanlah anggaran negara itu kekurangan biaya buat melayani rakyatnya. Pemerintah nggak pernah bokek kok. Tetapi masalah besarnya, manajemen pengelolaan anggaran itu yang seringkali nggak mampu membaca kebutuhan nyata yang ada di lapangan.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

28 comments

  1. Salam kenal juga, Fajar. Mudah-mudahan setelah baca ini, Fajar jadi tahu bahwa tidak semua manajemen farmasi di daerah-daerah sama seperti yang diberitakan di media. 🙂

  2. Salam kenal, wah baru tahu saya kalau masalah manajemen persediaan obat bisa seperti itu. Selama ini yang muncul di media-media adalah betapa sulitnya sebagian daerah akan pasokan obat.

  3. Mungkin kesalahan Dinas lokal juga yang kasih permintaannya nggak jujur. Sengaja dilebih-lebihkan, supaya dari Pusat dapet dana banyak. Wah, pusing deh kalo kita udah berurusan sama hal-hal yang nggak etis gini. Mungkin fungsi pengawasan dari manajemen itu yang kudu dibenahin.

  4. Newsoul says:

    Setau saya, pemerintah menganggarkan kebutuhan setiap isntansi/badan/dinas berdasarkan permintaan. Artinya analisa kebutuhan yang dilakukan oleh dinas/instansi tersebut tidak tepat. Mungkin juga disengaja oleh dinas tsb untuk menciptakan bisnis tadi. Cuma sedih juga ya, di banyak tempat masyarakat mengeluh karena ketidak mampuan membeli obat (meski ada program berobat gratis). Solusinya jelas harus dilakukan penataan ulang. Hehe, sekedar pendapat ya mbak Vicky.

  5. waluyo says:

    saya mungkin salah satu warga negara yang sangat enggan bersentuhan dengan dunia pemerintahan secara intensif. namun, kemudian saya dapat merasa benci yang luar biasa jika ternyata saya tahu bahwa di sana ada hal-hal yang tidak selayaknya dilakukan.

  6. Upaya preventif itu termasuk mencegah obat terbuang sia-sia, kan? 🙂

    Sekarang Jemaah Penonton ngerti bahwa nggak selalu Puskesmas itu kekurangan obat. Beberapa malah kelebihan obat secara mubazir..

  7. Agaknya sedikit ironis. Di satu sisi banyak RS, klinik, Puskesmas malah kelebihan obat, yang mungkin banyak yang tdk terpakai dan terbuang. Di sisi lain di belahan bumi Indonesia, rakyatnya tersiksa karena perlu bayar mahal untuk sehat.
    Padahal mereka tahu kalau sebagian rakyatnya kebutuhan nutrisinya masih belum tercukupi. Hak rakyat untuk hidup sehat yang seharusnya mendapatkan jaminan dari negara jelas-jelas belum terpenuhi. Negara sepertinya kurang memperhatikan hal-hal yang berbau preventif.

  8. berarti manajemennya yg gak bener. seharusnya kan ada monitoring yg bener. kemana aja obat itu disalurkan, daerah mana yg kekurangan obat, mana yg kelebihan. hmm…kapan bisa terkoordinir dg baik ya?

  9. Hahah..sebenarnya pembicaraanku dengan Sutan ini udah lama, tapi kusimpan aja buat diri sendiri. Susah nulis tema birokrasi buat blog tanpa bikin tulisan terkesan berat.

    Kenapa aku nggak tahan kerja lama-lama di pelosoknya Cali? Ya, memang alasan utamanya bukan karena kesulitan konsumsi atau jauh dari hedonisme. Tapi yang paling rese adalah menyadari bahwa rakyat kecil susah ditolong karena dijerat oleh sistem birokrasi negaranya sendiri.

    Mismanajemen dalam pengadaan obat di Pustu hanyalah contoh kecil dari carut-marutnya sistem kerja negara yang belum berhasil meningkatkan kualitas hidup rakyat.

    Birokrasi yang berbelit-belit bikin korupsi tumbuh subur. Waktu aku baca berita KPK menahan eks Menteri Kesehatan dan pejabat Biro Pengadaan Alat Kesehatan, aku hanya ingat obat-obatan di Pustu-nya Sutan. Aku benci kata "seandainya", tapi bolehkah kubilang, seandainya saja orang-orang Jakarta mau baca laporan Puskesmas daerah-daerahnya terpencil dengan lebih teliti, mungkin mereka nggak akan sampai terjebak korupsi, kan?

  10. Mantri atau perawat atau bidan yang meberi terapi sendiri memang tidak benar, karena tidak sesuai kapasitas. Tapi siapa dokter yang mau bertapa seumur hidup di gunung-gunung sekitar lembah baliem? Bisa-bisa kalau turun nanti sudah jadi kungfu panda. Jadi, satu-satunya jalan adalah mendidik masyarakat lokal secara praktis untuk menangani kegawatdaruratan dan menyediakan sarana rujuk bila kasusnya tidak mungkin ditangani puskesmas. Ini sudah dirintis oleh misionaris, tinggal direfreshing dan regenerasi saja (banyak mantri yang sudah berumur). Memang tantangan alam dari pulau2 terpencil dan suku2 terasing ini besar. Aku akui aku sendiri sulit hidup bukan karena tidak cukup sandang pangan papan. Tapi perasaan terkurung dan terisolasi. Sialnya lagi pengaturan dinkes masih banyak bolongnya, semakin sulit dijangkau semakin kacau…Omong2 salut buat Vicky, ini tema yang perlu dibahas!

  11. Hahahah..apa yang mereka lakukan buat ngabisin anggaran perbaikan jembatan, Dit? Ngecat pake gambar pahlawan? Masang umbul-umbul? Atau pakein gerbang selamat datang?

    *ngejek MODE : ON*

  12. ditter says:

    waaaahhh… kok gitu ya… emang udah mental orang2 birokrasi Indonesia kali, ga rela kalo kena pemangkasan anggaran…
    Tuh di jembatan kali Krasak deket rumah juga kyk gitu. Sebenarnya ga rusak, tapi taon kemaren di otak atik sampe menghabiskan milyaran rupiah.. Isunya, untuk menghabiskan anggaran yg tersisa…

  13. Masalah klasik di tiap bidang pekerjaannya, bahwa tiap sumber daya manusia yang ngerjainnya nampaknya nggak sadar bahwa mestinya mereka belajar manajemen yang lebih baik. Dan dipraktekin, bukan cuman disimpan di laci.

    Saya nggak nyalahin Sutan yang menjual obat-obatan calon kadaluwarsa itu secara sepihak. Jelas bagian penyediaan obatnya Depkeslah yang nggak ngerti situasi yang terjadi di Pustu-nya Sutan. Mereka cuma ngerti bahwa untuk area daerah itu kudu dikasih suplai obat sebanyak jumlah X aja. Betul kata Pak Didi, mestinya mereka mainkan manajemen bottom to up aja.

    Permasalahan stok obat tidak bisa diselesaikan dengan menyediakan obat-obatan murah untuk jangka panjang, hanya karena menguatirkan kenaikan harga obat. Tidak, stok obat itu nggak sama dengan stok beras lho. Saya kasih tau aja, Pemerintah menyuplai obat-obatan buat Puskesmas tuh pake produk generik dalam negeri yang murah-murah dengan harga produksi yang relatif stabil dari tahun ke tahun, jadi sebenarnya nggak ada masalah dana buat beli obat. Yang mesti diperhatikan, beli obat tuh kudu seperlunya aja, nggak boleh ditumpuk-tumpuk di gudang obat sampai berjamur. Contoh kecilnya, kalo suatu Puskesmas punya stok amoksisilin yang cukup buat setahun, ya tahun itu jangan ngajuin proposal buat beli amoksisilin lagi dong. Pake dulu stok amoksisilin yang ada. Nanti perkara di tengah tahun ada tanda-tanda stok obat mau menipis, barulah ngajuin usul minta stok amoksisilin cadangan dari Pemerintah Pusat. Gitu aja kok susah?

  14. mawi wijna says:

    Iya, gawat, bisa-bisa kalau obatnya sisa banyak terus kadaluwarsa, duh. Tapi apa harga obat tetap stabil mbak dokter? Apa sebaiknya biar ndak boros, obat-obat yang diprediksi harganya bakal naik distok dulu banyak-banyak pas harganya masih murah. Kalau pakai cara itu anggaran bisa habis tp tidak sia-sia kan ya?

  15. Catatan buat Jemaah Penonton yang nggak ngeh, pirantel itu obat cacing, sedangkan mikonazol itu antibiotik buat panu.

    Bagian paling tidak menyenangkan adalah mantri itu cuman berpengetahuan seadanya aja, nggak lulus dengan nilai valid dari sekolah keperawatannya. Akibatnya, semua kasus gatel dipukul rata disangka panu, sedangkan setiap orang yang perutnya bunyi lantas dikira cacingan. Pantesan angka sakitnya tinggi, lha wong ngobatinnya juga asal-asalan.

    Di mana-mana pun hukumnya sama dong, kudu ada tenaga kesehatan dulu, baru sediakan obat. Kalo apotik obatnya nggak ada, minimal dokternya kan bisa jualan obat sendiri. Tapi aku tetap nggak setuju kalo mantri atau perawat apapun ngasih obat sendiri tanpa petunjuk dokter. Ilmu mereka bukan tempatnya di situ kok.

  16. Problem klasik manajemen seperti ini kelihatannnya bukan hanya disektor kesehatan.
    Hampir semua kegiatan yang mengurusi hajat hidup rakyat banyak mengalami mismanajemen….
    Sektor pertanian , kesehatan , nelayan.
    barang kali metode pengganggarannya harus dengan pendekatan dari bawah ke atas sehingga yang dianggarkan benar – benar sesuai dengan kebutuhan.

  17. Aku sangat mahfum dengan masalah kelebihan obat ini. Dulu di puskesmas Ninia, Papua, juga obat mag, calcium carbonate, ibuprofen dan norit sampai kedaluwarsa setahun (gak tanggung2). Sementara kita selalu kehabisan pyrantel, miconazol dan…jarum suntik! Pasalnya, para mantri yang bertugas di gunung-gunung yahukimo tidak tahu apa fungsi obat-obat tersebut. Setiap pasien yang datang selalu diberi antibiotik dan paracetamol. Kalau perut bunyi2 selalu diberi pyrantel, sakit gatal2 diberi miconazol dan bonus tiap kali periksa adalah: suntik biar mantap. Jadi bagaimana bisa obat yang tidak dikenali tersebut nongkrong di puskesmas? Ini karena blangko dari gudang obat. Tanpa baca tinggal di tandai silang2 saja. Kadang disilang semua soalnya "buat jaga2". Sementara waktu di klinik 24 jam ada pasien buru pabrik yang tidak mampu bayar obat, tapi dokternya ada. Jadi mana yang lebih mematikan: obat ada tidak ada tenaga kesehatannya atau tenaga kesehatan ada tidak ada obatnya? Kata orang si ini buah simalakama…

  18. It's Me Joe says:

    wajarlah kalau kebanyakan seperti ceritamu …. wong iklannya aja obat dibuat rangkaian hati seperti itu… konsisten berarti antara iklan dan dunia nyata….. hahahahahahah

  19. Yeah, saya baca berita itu kemaren dan mendadak saya langsung ingat cerita Sutan yang kemudian jadi inspirasi blog ini. Kasus yang Jensen sebutin itu pengadaan alat kesehatan, adapun yang dipermasalahin Sutan adalah pengadaan obat-obatan. Tetap aja akar masalahnya sama, perencanaan kesehatan yang nggak bener, dan ujung-ujungnya adalah korupsi. Gimana beresinnya ya?

  20. jensen99 says:

    KPK belum lama ini mengatakan bahwa proyek pengadaan barang adalah lahan korupsi terbesar di semua departemen di RI, dan baru saja KPK menangkapi Kabiro perencanaan sekjen Depkes dan mantan Menkes karena masalah2 tersebut. Coba gugling saja. Jadi, kalo itu di dep Kesehatan pusat, jangan harap di daerah tidak berlaku sama.

  21. Itik Bali says:

    Mbak..aku gak terlalu ngerti tentang kebijakan pemerintah soal obat-obatan
    tapi yang pasti yang berkompeten pasti tahu mana yang terbaik dan engga mubazir untuk dipake

  22. Kenapa sih mesti alergi sama pemangkasan anggaran? Kalo emang butuhnya cuman segitu, ya minta duitnya segitu aja, nggak usah minta lebih. Ini baru dari pos yang kecil seperti penyediaan obat, kalo ada 100 pos aja kayak gini, berapa milyar pajak rakyat yang terbuang sia-sia?

    Padahal, ketimbang beli obat banyak-banyak, mendingan dana dialihkan ke urusan lain, misalnya bawa ambulans ke bengkel, kirim dokter buat pelatihan USG, atau sekolahin bidan desa ke S1. Kan lebih efektif?

    Kalo mau mendistribusikan obat sesuai kebutuhan, caranya gampang aja. Perhatikan laporan dari tiap Pustu yang dibikin tiap tahunnya. Kalo rata-rata jumlah kunjungan pasien cuman 100, ya untuk tahun berikutnya patok aja jumlah stok obatnya buat 100 orang doang. Pasalnya, laporan-laporan dari instansi kecil itu lebih sering ngendon di lemari ketimbang dibaca stakeholder yang terkait.

    Kesiyan ah kalo di tempat terpencil stok obatnya berlebihan, sedangkan di kota yang rame stok obatnya justru kekurangan.

  23. reni says:

    Padahal di RSUD di kotaku seringkali kehabisan stok obat mbak.. Kasihan rakyat miskin yg berobat di RSUD, seringkali kehabisan stok obat…
    Berarti harusnya pemerintah selektif dalam hal distribusi obat.
    Jumlah obat yg didistribusikan harusnya seimbang dengan jumlah penduduknya.
    Tapi apakah utk bisa spt itu terlalu rumit ?

  24. PRof says:

    PRof bukan orang pemerintahan, tapi tapi dari informasi yang beredar, masing2 dinas mendapat anggaran dalam jumlah tertentu, setelah tahun anggaran nyaris berakhir, anggaran tersebut "harus" dihabiskan, karena klo ada sisa harus dikembalikan dan tahun depan anggaran dipangkas.

    Jadi metode habiskan anggaran menjadi jurus ampuh tuk menghindari pemangkasan anggaran. Benarkah cara demikian..?? Tak lebih baikkah jika kelebhan anggaran dialihkan ke sektor lain yang "lebih membutuhkan..?"

    Mbuhlah, PROf gak berkompeten dalam hal ini, sekedar pemikiran seorang rakyat yang mengharapkan segala anggaran negara yang dihimpun dari rakyat (meski gak secara langsung) dapat "dikembalikan" lagi kepada rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *