Mens = Aurat ?


Gw mau tanya sama para perempuan nih. Kalo lagi mens, kita bilang-bilang sama orang lain, nggak?

Jawabnya pasti beragam, “Lha buat apa bilang sama orang lain kalo kita lagi mens?”

Oke, jadi kesannya menstruasi itu urusan pribadi para perempuan. Sekarang gw mau nanya lagi, “Kita bersedia nggak kalo orang lain tau kita lagi mens?”

Gw kepikiran ini pas gw melintas di food court sebuah plaza di Bandung beberapa hari yang lalu. Siang bolong, gw liat dua orang perempuan berjilbab lagi ngeganyang ayam goreng dengan lahap. Jelas-jelas ini lagi bulan puasa, berarti perempuan-perempuan ini sedang ngumumin kepada dunia bahwa mereka lagi nggak puasa.

Gw nggak ambil pusing dengan sikap mereka yang nggak puasa, tapi terpikir juga di kepala gw kenapa orang nggak puasa. Seingat gw, dalam ajaran Islam hanya ada dua alasan perempuan nggak puasa:
1. Lagi mens.
2. Lagi dalam kondisi yang jika dipake puasa akan bikin dirinya sakit.

Nah, anggap aja perempuan-perempuan ini dalam keadaan sehat wal afiat, maka dengan mudah kita bisa nyimpulin bahwa mereka nggak puasa coz lagi mens. Persoalannya sekarang, boleh nggak sih, khalayak ramai tau kalo mereka ini lagi mens?

Gw nggak ngerti kenapa mens masih dianggap sebagai rahasia. Pernah suatu hari dalam sebuah hanging out, kolega-kolega gw ngajak gw berenang. Gw lagi dateng bulan, truz gw jawab gw nggak bisa ikut. Lalu salah seorang kolega cowok gw, menggoda gw dengan tatapan khas mata keranjang, “Ah, Vicky, sayang banget. Jadi nanti malem kamu nggak bisa, ya?”

Untung waktu itu kami masih sama-sama jadi mahasiswa magang kedokteran. Sekiranya dia tidak dalam konteks becanda, pasti dia udah gw gampar.

Selama bertahun-tahun para anak perempuan diajari bahwa mens itu kotor. Dalam agama-agama tertentu, mens bikin perempuan nggak bisa sembahyang. Mens juga bikin perempuan nggak layak ditiduri. Itu sebabnya kita diajarin bahwa kalo lagi mens, baiknya kita jangan bilang-bilang. Mens itu aurat.

Tapi sekarang, jaman udah berubah. Perempuan nggak perlu jadi pelacur, untuk bisa seenaknya bilang kepada orang asing bahwa dia lagi mens.
Kata pelacur, “Gw lagi nggak bisa gituan nih, gw lagi mens.”
Kata buruh pabrik pemintal benang, “Pak Mandor, hari ini saya nggak masuk ya. Saya lagi dateng bulan.”
Kata eksekutif muda, “Aduuh, Mas. Suruh yang lain aja deh buat mimpin rapat. Saya lagi dapet nih!”

Jadi, mungkin sekarang biasa aja kalo perempuan muslimah yang mestinya (nampak) berpuasa di bulan Ramadhan, dengan santainya makan siang dengan lahap di food court. Seolah-olah di jidatnya ada tulisan gede-gede, “Saya lagi mens.”

Jadi, apakah menstruasi itu masih rahasia aurat?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

40 comments

  1. Sebelum sy lupa, sy mau bicara soal darah mens kotor atau tidak. Kata "kotor" sendiri tergantung paradigmanya, karena sebetulnya darah mens sama "kotor" atau "bersih"nya dengan darah dari tempat lain. Dalam arti apa yang dikandung. Kecuali bahwa darah mens mengandung anti penggumpalan dan sisa endometrium (jaringan dalam rahim yang tumbuh selama siklus menstruasi). Apabila seseorang menderita penyakit yang ditularkan lewat darah, tentu saja darahnya "kotor", tapi bukan cuma darah mens melainkan segala darah dari tubuhnya. Darah mens, sama seperti cairan tubuh yang lain, baik itu keringat, air seni, ludah ataupun minyak pada kulit/rambut, tentu tidak steril dari bakteri dan penyakit, tapi 100% fisiologis. Jadi kalau dari sisi ini sih berhubungan sex waktu mens tidak ada bedanya dari waktu tidak mens. Dan pertukaran cairan tubuh yang ada sama saja dengan ciuman, kecuali menyangkut penyakit tertentu yang menular lewat darah. Sori ya Vic kalo risetnya blm lengkap, tapi segitu dulu infonya…

  2. Yuk, saya balikin lagi.

    Mendapat mens bukan sesuatu yang memalukan, menjadi wanita muslim jelas bukan sesuatu yang memalukan.
    Inti dari blog ini adalah bilang bahwa dengan kedua premis di atas, menjadi wanita muslim yang sedang mens alias tidak puasa, seharusnya tidak memalukan juga.
    Tidak malu = berarti wajar saja kalau makan di tempat umum, tak harus ditutupi.

    Saya sedang mengkampanyekan paradigma baru yang nampaknya masih sulit diterima banyak orang.

  3. isez says:

    oh, ini panjangannya vick…

    nah saya setuju sama airbening21, kenapa harus malu sama sesuatu yang alamiah terjadi.
    Mens itu alamiah khan, sama kaya hamil gituh.. ga harus malu khan ketauan hamil (asal ayahnya jelas), tapi juga emang ga perlu di gembor-gemborkan ke masyarakat bahwa saya lagi mens lho..
    (eh,tapi ya, secara saya baru mens kelas 1 SMU, ketika saya dapet rasanya pengen pengumuman "kawans, I'm normal" hahaha)

    Nah, kalo masalah makan tadi, ya bener menurut saya itu hubungannya sama etika.. resiko pake jilbab khan bawa-bawa nama islam kemana-mana, jadi sepatutnyalah lebih behave…
    Mungkin cari tempat makan yang lebih tertutup, begituh 🙂

  4. BIG SUGENG says:

    Mbak Viky tentang tidak dibolehkannya berhub waktu mens bisa dibaca di Fiqus Sunnah karangan Ust Sayyid Sabiq, disitu dibahas lengkap sekali tentang berbagai hal salah satunya masalah toharoh. Ada juga sih buku Fiqih Wanita, ini biasanya lebih spesifik.

    Kalau masalah etika, kalau nggak salah ada hadist: jika kamu sudah tidak punya malu, lakukan sesukamu (perlu dicek ke ahli hadis, takut saya salah). Artinya ada benteng yaitu rasa malu. Jika benteng itu sudah jebol maka yang terjadi adalah manusia itu merasa boleh bebas berbuat sesuatu (ini kan urusan gw, loe nggak perlu urusan deh..)

  5. airbening21 says:

    Aku maLah heran sama tuLisan mba .. emang sejak kapan mens itu sebuah aurat yg harus dirahasiakan .. kaLo ada yg ga mau biLang dia lagi mens, itu sih cuma masaLah enak atau ga enak aja.. Kasih tau mens itu ya sebatas perlu aja, kan ga etis juga diumumin kaLo ga ada perLu hehehe ..
    Trus rada susah juga kLo nyangkut di kitab suci, karna mungkin kita jadi berbeda menafsirkan haL itu.. termasuk hubungan seks diwaktu mens.. kaLo memang mba Vicky ngerasa itu fine2 aja ya mungkin nanti mba Vicky bisa cobain kLo udh merit hehehe..
    Cuma yg aku tau, seks ketika mens haram.. kenapa haram? karena akan berakibat penyakit..
    entahLah.. hehe ..

    ——————–

  6. reni says:

    Wah, seru juga diskusinya tentang mens disini ya.. ?
    Mens bukan aurat, tapi tak perlu juga 'diumumkan', menurutku…
    Tapi tak perlu juga ditutup-tutupi.

    Soal makan di tempat umum pada saat bulan Ramadhan sih.., menurutku gak etis saja, mbak. Kecuali kalau tempat makan itu ditutup dari pandangan umum.

    BTW, status FB mbak Vicky seharian ini tentang mens ya… ? ^_^

  7. Saya pernah nulis ini, Pak, di blog Friendster saya tahun lalu. Terus terang aja, peraturan ini saya ketawain coz nggak ada gunanya. Memangnya Bapak kerja di mana sih? Penjaga pantai? Kolam renang? Siapa yang bilang perempuan lagi mens nggak akan bisa kerja? Itu namanya cengeng, Pak. Dan peraturan itu hasil regulasi berlebihan yang tidak pada tempatnya dari otoritas yang ngurusin perburuhan di negeri kita (atau bahkan mungkin, dunia).

    Menurut saya, alih-alih kasih cuti haid yang nggak ada gunanya, mendingan cuti menyusui aja yang diperbanyak.

  8. guskar says:

    di peraturan perusahaan tempat saya bekerja, perkara libur mens ini diatur di sana. intinya, boleh nggak masuk kantor ketika mens. hanya sehari, dan ini nggak dipotong cuti.
    aneh mmg, perempuan mens berkisar lebih dari 2-3 hari… dibonusi 1 cuti haid sehari..
    mmg, klo lg haid nggak bisa bekerja?

  9. frozenmenye2 says:

    ini masalah etika aja sih, bukan masalah gender, tidak pada tempatnya aja kan kalo makan di tempat umum dan terbuka sementara kondisi lagi bulan puasa. kalo masalah mens, kalo memang harus diberitahu atau ditanya, ya sudah ngomong aja…bukan hal yang tabu kok untuk diomongin.

  10. Sebagian orang berpikir "suka-suka gw". Misalnya, mau gw puasa apa enggak, itu urusan gw. Gw mau makan di restoran atau bawa pulang, itu juga urusan gw. Orang lain mau menilai apa, emang gw pikirin?

    Mal yang saya kunjungin di atas, emang nggak masang tirai buat nutupin food court-nya. Bahkan tiap restoran di situ juga nggak repot-repot pasang tirai. Nampaknya tak ada yang mikirin apakah seseorang yang makan di tempat umum akan ganggu yang lagi puasa apa enggak.

    Jaman saya kuliah dulu, saya liat di antara teman-teman saya, kalo lagi bulan puasa, sering terbentuk dadakan "komunitas nggak puasa". Komunitas ini beranggotakan orang-orang non-muslim dan muslim yang lagi mens. Agenda utamanya adalah pas jam jeda kuliah, kami mojok bareng-bareng di kantin yang pintunya ditutup, dan di dalam situ kami ngemil sepuas-puasnya, hehehe.

  11. Fenty Fahmi says:

    mungkin, tapi itu hak masing2 orang sih.

    Saya pribadi sih belum pernah, karena faktor jarang keluar juga, apalagi kalo lagi dapet eh temen yang diajak makan biasanya lagi puasa, hahahaha

  12. zee says:

    Menurutku sih mens itu bukan aurat, tak perlu ditutup2i. Cuma memang sebaiknya bagi muslimah yg tdk mens ya hrs pada tempatnya jg bila hendak makan, hrs menjaga etika karena ini sedang bulan puasa. Yg non muslim jg kalo makan di depan umum pas bulan puasa suka ga enak hati, hrsnya yg muslim jgnlah terlalu atraktif. Tp saya setuju dgn Big Sugeng, kita berprasangka positif saja ya. Itu urusan dia dgn Tuhan ttg alasan dia ga puasa.

  13. mawi wijna says:

    Mens itu bukan alasan untuk menahan lapar kan? Apalagi aurat. Mending ayam gorengnya bungkus dan dibawa pulang. Tapi aneh, masak foodcourt di bulan Ramadhan ndak dikasih tirai sih, jadinya mbak dokter kan bsa ngintip. hihihi

  14. Newsoul says:

    Mens sih bukan aurat. Cuma kalau sedang tidak berpuasa karena mens ya tidak perlu pamer makan di tempat umum. Entahlah, Itu prilaku buruk, perempuan itu saja. Wong yang non muslim saja biasanya gak pamer makan kalau sedang bulan ramadhan.

  15. Hal yang paling nggak saya sukai dari etika adalah tidak ada yang saklek tentang segala hal.

    Kenapa muslimah yang tidak puasa sebaiknya jangan makan-makan di tempat umum? Apakah karena itu bisa bikin orang meragukan status muslimahnya? Sekarang, memangnya siapa yang rugi kalo status sang perempuan itu diragukan? Bukankah haknya untuk makan di tempat umum?

    Ini mungkin masalah perempuan, tapi laki-laki juga boleh jawab lho..

  16. iephe says:

    Menurut saya itu hanya masalah etika. Seorang muslimah yang tidak berpuasa di bulan ramadhan (dengan udzur apapun)sebaiknya ya tidak makan di tempat umum. Sedangkan untuk masalah Mens apakah sama dengan aurat ( berarti bila seorang akhwat memberi tahu orang lain bahwa dia sedang mes=membeberkan aurat) menurut saya tidak. Setau saya aurat akhwat itu ya seluruh anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan, itu saja…

  17. Ria, aku sendiri pernah dapat bukti bahwa seks memang mengurangi nyeri haid. 🙂 Tapi seks yang gimana dulu. Kalo intercourse, aku belum dapet buktinya. Tapi kalo foreplay, ya itu memang benar.

    Tolong bantu aku, Ria, apakah ada di kuliah kita dulu bahwa memang benar darah haid itu kotor? Perasaan aku nggak nemu itu pas kuliah deh. Harus dipertanyakan doktrin itu yang bilang darah haid itu kotor. Sayang aku belum nemu jawaban, kenapa kitab suci melarang suami mencoblos istrinya waktu haid.

    Perlu pandangan dari para perempuan yang udah kawin. Gimana rasanya ditusuk pas lagi mens? Apa betul sakit mensnya langsung ilang?

  18. Tapi Vicky, aku pernah baca bahwa sex bisa mengurangi rasa sakit waktu haid. Ada juga beberapa kasus yang dalam kekacauan hormon, libido justru meningkat saat menstruasi. Memang mungkin kesannya jorok (apalagi sudah didoktrin kalo darah haid itu kotor) tapi seingatku tidak ada bukti kalau berhubungan badan saat menstruasi ada keburukannya dibanding saat lain. Kecuali memang bertujuan untuk punya anak.

  19. Selama ini, aurat dianggap sebagai rahasia pribadi yang tidak patut diumbar untuk diketahui orang banyak. Alat kelamin termasuk aurat. Urusan rumah tangga antara suami dan istri juga termasuk aurat. Apa mau urusan rumah tangga kita jadi konsumsi publik? Sekarang saya sedang bertanya-tanya, mens itu rahasia aurat juga, nggak?

    Sejauh yang saya anut, memang tidak ada perlunya memberi tahu orang lain bahwa kita lagi mens, kecuali pada konteks-konteks tertentu. Tapi saya mikir juga apakah kita harus sengaja menutup-nutupinya? Para muslimah yang saya ceritakan di atas jelas tidak menutup-nutupikeadaan mereka yang lagi mens.

    Tentu saja mens itu gejala biologis. Wajar kan orang mens, lalu makan-makan di tengahnya waktu puasa? Berarti mens bukan aurat, dong?

    Oh ya, perempuan kalo lagi mens memang sebaiknya jangan ditiduri. Saya sih belum nemu bukti medisnya tentang ini, tapi kalau tidak salah saya pernah nemu anjuran agama buat nggak nyoblos istri yang lagi mens. Lagian, please dong ah, Miss Cheerful tuh sakit lho kalo lagi mens, apalagi kalo ditambah interupsi torpedo..

  20. Fanda says:

    Judulmu itu rumus yg keliru, Vic. Setahuku aurat itu sesuatu yg harus ditutupi dari pandangan orang lain. Sedang menstruasi kan gejala biologis? Tak usahlah kita ngomong2, kalo aku yg pembawaannya ceria dan kalem ini tiba2 ngamuk ga keruan karena soal sepele, tahulah semua org kalo aku lagi (mau) dapet…

  21. BIG SUGENG says:

    Kalau menurut saya harus dilihat kasus per kasus. Apa perlunya orang lain tahu? Kalau memang harus tahu yaa dikasih tahu, kalau nggak ada urusannya yaa jangan dong, misalnya pada saat konsul ke dokter, suami.
    Kasus 2 muslimah atau siapapaun orangnya di food court waktu puasa saya kira kita harus berprasangka baik, mereka nggak puasa karena ada hal2 yang membolehkan secara hukum beserta dengan konsekuensinya, tapi mestinya juga nggak perlu atraktif begitu.

  22. Kalau ngak salah mens hanya dialami oleh wanita yang masih produktif khan ?.
    Setahuku tidak ada yang menyebut mens sebagai aurat kok … Itu hanya proses alamiah pembuangan sel telur yang kebetulan tidak dibuahi ( salah ya ?.)
    Any way … barangkali salah satu lebih mulianya para kaum ibu dari kaum bapak adalah karena adanya mens ini.

    entah;a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *