Konvensi Tukang Parkir


Gw belum ke pasar semenjak pulang liburan. Kecelakaan yang nimpa kaki gw praktis bikin gw nggak bisa ke mana-mana sehingga gw nggak tau situasi harga-harga barang pasca Lebaran. Jadi gw mau cerita aja tentang bagaimana Lebaran bisa mendongkrak perekonomian dan memaksa orang bangkrut secara bersamaan.

Minggu lalu, dalam perjalanan gw dari Cirebon ke Baturaden (yang ujung-ujungnya malah kebablasan ke Semarang), gw sempat lewat Slawi, sebuah kota yang jadi bagian dari Kabupaten Tegal. Di sepanjang jalan gw lihat banyak banget orang buka warung sate kambing muda. Yang membuat gw ngiler adalah cara mereka menggantung gelondongan daging kambing itu di depan warung mereka, seolah-olah daging-daging gantung itu melambai-lambaikan otot mereka sendiri, mendambakan untuk dimakan. Suasana itu makin dramatis dengan efek visual berupa asap yang mengepul-ngepul dari depan warung, pertanda si empunya warung sedang membakar sate. Gw menatap daging-daging itu dengan sayu dan berkata dalam hati, “Aku juga ingin memakan kalian, Guys. Tapi ini baru jam 10.30 dan aku baru sarapan jam delapan tadi di Cirebon!”

Membuat gw sadar tentang makna perjalanan ini, jangan pernah berada di Slawi sebelum jam makan siang coz satenya masih belum mateng..

Pada jam makan siang akhirnya kami tiba di Pekalongan dan mutusin buat berhenti di restoran lokal. Ya ampun, ternyata yang namanya nyari restoran pada H+2 Lebaran itu susah banget coz banyak banget restoran yang tutup. Ada juga sih beberapa yang buka, tapi parkirnya penuh.

Tapi akhirnya kami nemu warung yang buka dan mutusin buat berhenti. Ada dua warung berjejer, kami pilih warung sebelah kanan. Yang membuat kami tertarik adalah coz pemiliknya sendiri yang menyambut kami dan nanya kami mau makan apa. Salah, sebenarnya bokap gw nggak mau sama warung sebelah kiri coz di depannya ada orang lagi nyuci mobil.

Pelajaran penting, jika Anda buka warung, jangan sekali-kali nyuci mobil Anda di depan warung. Bikin calon pembeli jadi minggir.

Di warung itu, kita pesen bebek dan soto ayam. Sewaktu kita lagi enak-enak makan, tau-tau kita liat ternyata orang yang nyuci mobil di warung sebelah tau-tau pindah jadi nyuci mobil gw dan mobil paman gw. Padahal kita kan nggak minta mobil kita dicuciin..?

Selesai makan, nyokap gw bayar. Lalu bon yang cuman ditulis tangan itu bikin kita kaget. Dooh..cuman warung aja, harganya mahal beut seeh..

Sewaktu kita masuk mobil bersiap pergi, beberapa pemuda sudah berdiri pasang tampang mupeng. Oh, ini pasti yang nyuci mobil tadi. Bokap gw pasang tampang cuek, lalu mundurin mobil dan buka jendela buat bayar parkirnya doang. Si tukang parkir jadi-jadian berteriak coz katanya bayarnya kurang seribu perak. “Lebaran, Pak!” serunya.

Selama gw di Semarang, kadang-kadang kita berhenti di beberapa tempat dan harus bayar parkir juga. Anehnya, tiap kali bayar parkir, lantas tiap tukang parkir juga berteriak, “Lebaran, Pak!”

Ketika kami pulang dari Semarang ke Bandung, kami lewat Pekalongan lagi. Tak ada gunanya cari-cari referensi tempat makan mana yang enak di Pekalongan coz pada Lebaran H+3 masih juga banyak restoran yang tutup. Gw sendiri nggak punya kuliner incaran, gw cuma pengen makan di tempat yang banyak pengunjungnya supaya gw bisa motret buat bahan blog gw. Tapi tiap tempat makan yang rame selalu nampak dikelilingi preman lokal, dan yang bokap gw nggak mufakat, preman-preman itu senang nyuci mobil tanpa diminta.

Pelajaran berikutnya, kalo mau makan di rumah makan, selalu pasang spanduk di mobil Anda, “Yang berani nyuci mobil ini tanpa ijin pemiliknya, dikutuk jadi rawon!”

Kita makan di warung soto Pekalongan yang rame dan kebetulan nggak ada tukang cucinya. Kata pelayannya, soto khas daerah itu pake tauto. Entah apa tauto itu, yang jelas pas gw makan produknya, gw ngangguk, ya bolehlah.

Yang aneh waktu nyokap gw mau bayar, pelayannya malah noleh ke juragannya, “Berapa?”
Seolah-olah harga soto bisa berubah-ubah, jadi bergantung pada penampilan pembelinya.

Dan preman parkir warung soto tauto itu, kalo dibayar parkirnya juga seneng teriak, “Lebaran, Pak!”

Gw jadi terheran-heran, sebenarnya tarif parkir itu berapa sih? Kalo Lebaran emangnya naik juga ya?

Sampai-sampai gw mikir, kalo Natal, tarif parkirnya naik juga, nggak? Kalo Waisak? Kalo Galungan?

Apa pernah denger Anda bayar parkir dengan harga standar dan tukang parkirnya merasa kepingin lebih dan teriak, “Hanukkah, Paak..!”

Mungkin asosiasi tukang parkir dan rumah makan se-Pantura Jawa Tengah kudu bikin konvensi harga parkir dan harga menu makanan. Supaya pembeli nggak dibingungin dengan harga yang naik-naik nggak karuan ini. Dokter aja nggak pernah naikin tarif kalo Lebaran kok, kenapa para tukang parkir kudu ikutan morot-morotin pengunjung rumah makan segala..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

25 comments

  1. ngomong-ngomong soal tegal, baru hari senin lalu merasakan indahnya kambing muda…dan mendoan jawa dalam satu meja.

    jadi jatuh cinta dengan kota tegal …. dan gps yang selalu setia menemani setiap belokan, dan ban serep yang ternyata udah dibenerin.

    "ambil belokan kiri 200 meter lagi", ahh gps ku, mengapa kamu hang sekarang…

    ini malah jadi ngomongin gps

  2. Bukan ada yang salah dengan posting sebelah, Pak Didi. Memang sengaja saya setel supaya postingannya nggak bisa dikomentari.

    Ngomong-ngomong, puisinya bagus. Saya sulit nemu kata-kata berrima 'at'..

  3. Ini komen ntuk " Kehilangan Besar ". Disana tak bisa komentar ( ada sesuatu yang salah agaknya ).
    Postingan " sesuatu yang besar " agaknya rada-rada nyambung dengan yang ini ….

    Siapa Kalian ?????

    Entah karena benar-benar ingin melepas kalian, entah karena sebab lainnya, sepertinya hanya dia yang tahu alasan yang sesungguhnya tetapi yang jelas dalam sebuah lenguhan panjang dia buka gerbangnya dan membiarkan kalian berhamburan keluar dari tempat semula kalian berehat.

    Dalam bilangan waktu yang amat singkat maka tidak kurang dari tiga ratus juta kalian muncrat, melesat cepat, bersaing hebat, saling sikat dan terkadang tersesat menuju suatu tempat yang secara kodrat akan menjadi habitat diantara kalian yang paling hebat untuk beberapa saat.

    Entah karena memang menginginkan kalian, entah karena sebab lainnya sepertinya hanya dia yang tahu alasan yang sesungguhnya tetapi yang jelas dalam sebuah geliat singkat dia bukakan gerbang bagi kalian agar dapat merapat di dermaga kodrat meskipun tanpa upacara penyambutan apalagi sebuah helat.

    Sesaat setelah melesat, melalui perjuangan yang amat berat salah satu atau beberapa diantara kalian yang paling hebat dapat mendarat di dermaga kodrat, merapat, berjabat untuk meninggalkan ciri dan tanda sebagai kandidat penghuni jagat.

    Sesaat setelah mendarat di dermaga kodrat terjadilah sesuatu yang super dahsyat lebih tepat disebut mukjizat, dari hanya sebuah noktat perlahan berubah menjadi bongkahan cokelat sampai akhirnya berbentuk jasat dengan sedikit geliat.

    Sembilan bulan sepuluh hari kadangkala bisa lebih cepat, berada di lorong kodrat, lorong yang menjadikan dia yang memilikinya menjadi machluk paling terhormat ternyata membuat kalian yang terhebat merasa terjerat dan dengan meronta menggeliat minta segera diluncurkan ke jagat.

    Maka meluncurlah yang terhebat menjadi salah seorang penghuni baru di jagat, dari tak tahu apa-apa yang mau dibuat, perlahan tumbuh dan merambat dalam sebuah habitat ( yang bisa baik dan bisa jahat ) menghadapi kejamnya jagat.

    Meskinya semua terjadi tidak hanya dalam naungan anugerah “ syahwat ” dengan bonus nikmat sesaat tetapi juga ; anugerah “ rawat “ dengan bonus hidup selamat, anugerah “ hormat “ dengan bonus hidup bermartabat, anugerah “ taat “ dengan bonus nikmat hakikat sehingga sang machluk super dahsyat selamat dunia akhirat.

    Begitu janji dari Dzat Yang Maha Rahmat.

    Disambung2in saja ya bu Dokter…

  4. Berbekal pengalaman di Pekalongan itu, ketika kami tiba di Tegal dan kepingin makan sate, kami memutuskan buat survey dulu.

    Kami berhenti di depan sebuah warung, tanpa keluar dari mobil kami teriak, "Berapa sepuluh?"

    Yang punya warung berteriak, "17 ribu!"

    Kami meloyor pergi.

    Ke warung berikutnya, kami teriak lagi dari jendela, "Berapa sepuluh?"

    Kali ini yang punya warung berteriak, "22 ribu!"

    Kami melalui beberapa kilo, dan akhirnya parkir mobil di pinggir jalan yang pinggirnya betul-betul pedagang sate semua. Saya ke warung yang satu, adek saya ke warung yang satunya.

    Saya menghampiri seorang pedagang yang lagi ngipas-ngipas dan bertanya, "Pinten, Pak?"

    Si pedagang sate melihat penampilan saya dan berujar, "Seket!"

    Saya mendengus dan kembali ke mobil sambil mengamuk-amuk, "Bagaimana caranya dia bisa melihat aku dan langsung menyebut angka 50 ribu?!"

    Adek saya masuk juga ke mobil dan bilang, "Yang di sebelah sana mintanya 47 ribu."

    Kami akhirnya pergi dari Tegal tanpa makan apa-apa. Dongkol.

  5. jrink says:

    lain waktu kalo mau gini aja mbak:
    1) sebelum pesen makanan sebaiknya nanya dulu harga per porsinya berapa, sekalian nanya harga minumannya. seandainya ada yg berani kayak gitu sebetulnya bisa menimbulkan efek kejut bagi penjualnya, ha3…
    2) ketika bayar uang parkir kok si 'jagoan lokal' masih tereak "lebaran pak…!! " Bapak kamu langsung aja jawab dg tegas: "lebarannya udah kemaren mas".

  6. Orang tuh males kasih melebihi yang sestandarnya kepada tukang parkir. Coz, dipikirnya, tukang parkir sebagai staf pendukung dari suatu warung makan semestinya sudah dikasih THR oleh pemilik warung makan. Makanya kalo mau kejam sih, tukang parkir tuh dianggapnya nyari-nyari kesempatan..

    Mbak Fanda kayaknya mesti nyobain jadi tetangga Tukang Komen. Tukang sampahnya Tukang Komen nampak lebih oke ketimbang tukang sampahnya Mbak Fanda..

  7. Tukang komen says:

    Iya nih.. tak ada gunanya lagi lebaran dapat THR, lha semua biaya jadi dua kali lipat… parkir yang tadinya seribu jadi duaribu, soto yang tadinya 5000 jadi 10000, kalo tukang sampah ditempatku rajin kok mbak fanda…. tiap hari dikuras abis tuh sampah dan disapuin juga depan rumahku, jadi aku ngasih reward lebaran ke dia gak sayang… he..he..he..

  8. It's Me Joe says:

    yahhhh nggak apalah Vick.. itung2x amal… siapa tahu Tuhan memberi lebih buat dirimu….

    dari pada gara2x uang 1000 perak disumpahin celaka.. khan malah acara journey-mu terganggu… ingetlah doa2x orang teraniaya itu makbul…

    ** Sok Wise mode on **

  9. Astri says:

    sama kayak pas musim haji di saudi… harga pada naik semua. dari makanan, laundry, taksi, apa aja yang bisa dijual harganya mahal. mungkin ya niru itu 🙁

  10. Aku bukannya pelit ya. *tapi medit, hehehe..*
    Tapi menurut aku, kalo orang tuh jangan maksa minta rejeki. Di mana-mana juga kalo standarnya 1000, ya jangan maksa minta 2000. Daripada minta reward extra bernilai 1000, kenapa nggak bekerja lebih baik misalnya dengan jagain mobil parkir lebih ketat (bukannya dicuciin), kasih senyum lebih lebar, atau ambilin sampah lebih bersih. *itu kalo mau ideal ya. Tapi apakah kita tetap mesti berada di jalur pesimis, hehe..*

    Menurutku Mbak Fanda mending kirim surat aja ke asosiasi tukang sampah Surabaya, minta supaya tukang sampahnya kerja yang bener. Lha di tempatku, kalo dokternya jutek dikit aja, orang langsung tulis surat macam-macam ke IDI. Kenapa kita nggak bisa nulis surat pula ke asosiasi tukang sampah? 😛

    Hehe..link aku boleh dicatet. Pokoke nggak boleh nyuci mobil aku yaa..

  11. TRIMATRA says:

    itulah makanya, budaya ga bener kalo kita biarain lama2 jadi merembet emana-mana. yg tadinya cuman beras ma sembako naik di hari lebaran jadi ke parkir dan soto, sate ikutan naik.

    yo wes ben!!

  12. zee says:

    Wekekeke…. emang begitu, Vic. Klo judulnya lebaran, mulai deh pada heboh naikin tarif dgn alasan lebaran. Gw kmrn wkt mudik ke Medan, setiap parkir gw lgsg kasih aja 2rb, ga usah tanya2 lagi, pdhl biasanya sih 1000. Gw pikir justru ini lebaran, bagi2 rejeki gpplah, toh gw mudik setahun sekali ekekekee…..

  13. Fanda says:

    Sama juga dong ama tukang sampah di tempatku. Kalo dah mau Lebaran selalu ketok-ketok di pintu pagerku dengan tangannya yg kotor bekas sampah (nyebelin gak?), yah..pastinya minta duit. Padahal hari biasanya kalo sampah rumahku ada 2 kresek, yg diambil cuma 1 doang. Memang ada batasan kuota buat pengambilan sampah ya??

  14. depz says:

    horee
    udah ga ngomongin bandeng lagi

    tapi skrg ngmngn daging
    hahahaa

    untung aja tk parkirnya bikin tarif khusus pas lbaran doang vik
    kalo pas natal, waisak, galungan, nyepi dll juga bkin tarif khusus bisa berabe kan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *