Deadline dan Absen


Adakah yang bisa kasih tau gw kapan deadline buat bilang “mohon maaf lahir batin”? Coz seorang teman membalas e-mail gw dengan bilang, “Thanks ya, Vic. Selamat Lebaran juga. Tapi..tidakkah ini agak sedikit telat?”
Gw nyengir, lalu gw timpalin begini, “Sebenarnya gw nungguin selamat dari lu sepanjang minggu lalu. Tapi lu tidak kunjung ngirimin gw juga, jadi akhirnya gw putusin buat ngirim ke lu duluan. Hahahah..”

Gw emang keterlaluan, coz gw baru bilang selamat Lebaran ke dia itu kemaren, H+10. Sebenarnya bukan gw menunda-nunda. Masalahnya, kan gw ngga suka bilang selamat Lebaran pake robot send-to-all itu, coz itu ngga ada kesannya, jadi gw kirimin orang-orang itu satu-satu. Dan gw bukan basa-basi, tapi gw betul-betul nanyain kabar mereka. Anaknya sudah bisa jalan atau masih merangkak? Jadinya sekarang kamu ambil S2 atau udah pindah kerja yang lebih keren? Sekarang udah punya rumah sendiri atau masih tinggal di pondok mertua indah? ;-p

Memang kerjaannya jadi lama, makan waktu sampai 10 hari, coz gw mastiin setiap orang yang ada di buku alamat gw udah gw sapa. Jadi jangan heran kalo ada temen yang baru gw kasih selamat Lebaran setelah 10 hari Lebaran berlalu 

Oke, sadarkah kita bahwa sebenarnya keberadaan kita ini selalu diabsen? Ngga cuman di bangku kuliah atau masuk kantor aja yang diabsen, tapi juga di lingkungan lain. Di arisan rumah sekomplek, di acara hala(h) bi hala(h) sama boss, di acara kondangan, bahkan di acara pemakaman?

Sepupu gw jadi buah bibir keluarga besar lantaran dia ngga pernah nongol di acara-acara keluarga. Nongolnya cuman setahun sekali, beberapa jam doing pas Lebaran di rumah Grandma. Itu sih namanya setor muka, kata sesepuh keluarga gw. Sebenarnya gw agak kesiyan dia diomongin sombong begitu, coz menurut gw itu bukan salah dia. Itu salah Jakarta yang selalu macet. Itu salah telepon yang memudahkan orang bilang “Sorry, saya lagi sibuk..” Itu salah alat KB yang terlalu mahal sehingga sepupu gw itu jadi sibuk ngurusin anaknya yang banyak itu. Halah..

“Kowe jangan kayak dia, Ky,” kata bonyok gw menyoal kelakuan sok sibuk sepupu gw itu. “Bukan gara-gara sudah punya suami, punya anak, karier bagus, lantaran dia jadi lupa sama sodara-sodara orangtuanya. Nanti kalo orangtuanya meninggal, siapa mau merangkul dia?”

Gw senyum-senyum doang. Pasti ini urusan yang kemaren lagi, kau-jangan-lupa-sama-paman-dan-tantemu-supaya-nanti-kalo-bonyok-meninggal-ada-yang-tetap-memelukmu.

Lalu gw nyodorin teori gw, ketika anak burung sudah bisa terbang, maka dia kepingin terbang yang jauh sekali meninggalkan sarang yang sudah lama membesarkannya. Paling-paling dia cuman pulang setahun sekali ke rumah induknya hanya untuk ber-Lebaran. Tapi mendadak gw ragu sendiri soal teori itu. Burung kan tidak merayakan Lebaran..?

“Dia kan bisa ng-SMS tante-tantenya hanya untuk sekedar nanya apa kabar?” kata bonyok gw. “Sodara-sodara orangtuanya itu bukan orang lain, ngapain dia mengasingkan dirinya sendiri?”

Gw ketawa. Oh please hari gini, gw bahkan ngga pernah ng-SMS paman-paman dan tante-tante gw. Kalo mau tau kabar, liat Facebook ajalah. Emang dasar angkatan bonyok gw aja yang masih kolot menganggap tiap orang harus sering bicara dengan paman dan bibinya untuk berhubungan intim. (Maksudnya membangun keintiman, kali..)

Nah, balik ke tema awal. Jadi gw mengurut satu per satu di buku alamat gw, siapa-siapa yang belum gw sapa Lebaran ini. Akhirnya tibalah gw di nama sepupu gw yang jadi oknum sombong di atas itu. Gw SMS dia, “Dear Mbak Manohara (nama aselinya gw rahasiain yah..), selamat Lebaran ya. Mudah-mudahan Mbak dan anak-anak sehat-sehat..” sambil gw tambahin di belakangnya, sungkem gw buat orangtuanya.

Tau-tau dia bales begini, “Dear Vicky, terima kasih sudah ng-SMS. Maafin aku juga ya..” lalu Manohara bilang bahwa selama ini HP-nya error dan dia kehilangan nomer HP banyak orang, termasuk nomer bonyok gw..

Singkat cerita, beberapa jam kemudian nyokap gw dapet SMS di HP-nya. Ngga tau SMS dari siapa, tapi setelah baca itu, nyokap gw nanya ke gw, “Apa kowe sudah kirim SMS ke Mbak-Mbakmu?” maksudnya ke kakak-kakak sepupu gw yang jumlahnya bejibun itu.

“Sudah ada Facebook,” jawab gw.

“Kalo ke BuDe-BuDe?”

“Belum,” jawab gw. Sebelum nyokap gw bilang ‘ini-sudah-hari-keberapa-kok-belum-kaukirimi-juga?’, gw ngeles, “Nama mereka kan di huruf S..?”

Lalu gw bilang lagi, bahwa Manohara, keponakan bonyok gw yang sombong itu membalas SMS gw dan minta maaf karena nomer nyokap gw ilang.

Banyak alasan kenapa orang jadi terasing dari keluarga besar mereka. Nomer telepon yang ilang. Tiket pesawat yang mahal. Ngga tau caranya bikin e-mail. Sampai kesulitan manajemen waktu antara mengurus diri sendiri dan menjadi makhluk gaul.

Biarlah yang kuper menjadi kuper. Asal jangan kita yang ngga mau merangkul orang. Mana yang lebih keren, kita udah nyapa orang lain duluan, atau masih mau nunggu disapa aja?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. yah..makanya harus menyesuaikan dengan teknologi, biar jadi terbantu.

    kalo soal siapa yang mau negor duluan, henny rasa nggak ada keharusan atas itu. siapa yang ingat duluan aja. sama kayak kalo ketemu orang dijalan, yang lihat duluan seharusnya negor duluan. tapi terkadang suka ada yang gengsi sih, jadi pura-pura nggak tau.

  2. Maaf..bukan saya ngumbar emosi di sini, hehehe..:-)

    Sekarang saya mengerti kenapa sedikit orang yang ngirim SMS Lebaran ke saya tahun ini. Rata-rata dari mereka ternyata sudah minta maaf dengan mengumumkan status mereka di Facebook! (padahal saya kan nggak baca status orang satu per satu) Dan itu membuat mereka merasa tidak perlu lagi ngirim SMS Lebaran ke nomer tiap orang.

  3. Nuansa Pena says:

    Kemajuan tehnologi dengan adanya tatap muka secara langsung melalui ponsel atau laptop atau warnet, membuat kita mengabaikan silaturahmi sebenarnya. Bolehlah kalau kita tidak punya uang, untuk penghematan cukup melalui sms, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak punya hp atau tak pernah browsing… apakah putus begitu saja! Alangkah baiknya bila kita yang punya dana untuk meluangkan silaturahmi secara langsung! Saya sendiri termasuk yang menunggu datangnya sms baru jawab, maklum uang pas-pasan, Maaf buat semuanya ! Artikelnya mengena sekali!

  4. Paman dan tante selalu kepingin disapa keponakan mereka. Padahal keponakan mereka suka lari kalau mau tanda-tanda didekati paman atau tante mereka.

    Kenapa mereka tidak sadar-sadar soal itu?

    Dan penyebab kenapa aku juga sering lari dari mereka, coz mereka seolah tidak punya pekerjaan lain selain pura-pura jadi wartawan infotainment, "Kapan nih undangannya..?"

    Khas orang nggak punya kerjaan..

  5. ortu memang suka begitu. aku sendiri gak gitu suka ngumpul dg tante dan paman kecuali tante dan paman dari pihak mama. krn ada tante dan paman yg sifatnya gak begitu kusuka. jadi,lebih baik jangan sering2 ketemu daripada nanti makan hati.

    belum lagi masalah teman hidup yg terus ditanyain. lha, masih mau sorangan wae kok, ditanyain mulu kapan married? seakan kalo gak married, dunia bakal runtuh seketika. he he he…

    dan, gak semua tante dan paman bisa merangkul kita setelah ortu tiada.

    tapi, itulah yang namanya beda generasi. mungkin generasi kita lebih individualistis. gak begitu suka kumpul2 dg keluarga besar.

  6. Na, banyak kondisi kita yang mungkin menyulitkan pulang kampung. Tapi sesulit apapun kondisi kita, tidak kasih kita hak istimewa buat melupain sodara-sodara. Cuma mungkin, ukuran mengasihi sodara versi generasi angkatan kita, dengan yang versi generasi angkatan bonyok kita, berbeda.

    Saya nggak mengasumsikan telat bilang selamat itu lupa. Kalo kita punya sodara sampai 100 orang dan mau diselamatin satu per satu, sodara yang nomer 100 harus ngantre dong, makanya mungkin kesannya "telat".

    Waduh, saya nggak bisa bayangin status di FB aja bisa dikomentarin sampai 100 orang. Saya nggak pernah dikomentarin di FB sampai 100 begitu. Lha saya ganti status paling lama 24 jam sekali..

  7. mawi wijna says:

    Saya tertohok membaca artikel mbak dokter ini, karena saya ndak pulang kampung. Tapi mbak, mohon maklum juga kalau di FB saja friend yg ikut ngomen status kita bisa ratusan. Belum ditambah sanak keluarga. Ada kalanya memang ada beberapa orang yang telat diberi selamat, tapi telat bukan berarti lupa toh?

  8. Begitu ya ….

    Barangkali tulisan ini bisa sedikit agak membuat hati plong…
    Barangkali saja.

    Hampir setiap hari, di kantor, di rumah, di jalanan, di mana saja, perlakuan tidak menyenangkan akan selalu kita alami … entah dalam bentuk apa perlakuannya dan tentu saja hal tersebut membuat hati tidak nyaman.
    Seringkali kita membiarkan perasaan itu menggelayuti layar hati dan tidak jarang kita menumpuk-numpuknya menjadi gunungan kekesalan. Dapat dipastikan ia menggerogoti pikiran dan menekan perasaan. Kita sadar bahwa perasaan itu sangat membebani kita, membawa kepedihan berlanjut namun entah mengapa kita betah berlama-lama memendamnya. Bukankah itu berarti sepenuhnya kita menyerahkan kehidupan emosional kita kepada keadaan yang di luar kontrol dan kendali kita.

    Barangkali sudah saatnya kita belajar menggunakan kata memaafkan.Ya. Memaafkan sebuah kata yang secara verbal gampang kita ucapkan namun seringkali dalam kenyataannya kata tersebut tidak cukup mujarab untuk menghapus perasaan tidak nyaman yang menggelayut di hati.

    Lalu, apa yang salah dengan kata maaf ?. sepertinya sudah tidak mujarab lagi untuk menentramkan hati. Barangkali saatnya kita merubah pandangan kita tentang kata ini. Memaafkan bukanlah sesuatu yang kita berikan kepada orang lain, memaafkan bukan pula sebagai tanda kelemahan kita apalagi mengait-ngaitkannya dengan harga diri segala.

    Memaafkan adalah sesuatu yang kita berikan untuk diri sendiri. Ia adalah suatu hadiah yang layak diterima oleh diri kita ,ia akan mendatangkan rasa nyaman, ia akan menjadikan diri kita sebagai tuan yang akan menentukan keadaan / cuaca emosional kita sehingga tidak lagi terombang ambing dengan apa yang diucapkan atau dilakukan orang terhadap kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *