Ditolak Itu Berkah


Semua orang ingin kerja di pedalaman Papua. Alamnya bagus. Tantangannya besar. Teman-teman gw kepingin praktek di sana. Teman-teman gw yang insinyur kepingin bikin proyek di sana. Teman gw yang perwira kepingin masuk batalyon di sana. Dan rakyat pedalaman Papua sendiri, yang rata-rata masih ketinggalan dari peradaban maju, ingin didatangi sarjana yang kompeten supaya bisa membantu mereka membangun daerah mereka.

Seorang kolega gw, sebut aja namanya Gwyneth, sudah kerja di pedalaman Papua Barat selama enam bulan bersama suaminya yang juga kolega gw, sebut aja namanya Chris. Sebenarnya mereka berdua betah tinggal di sana dan berencana kepingin memperpanjang kontrak kerja lebih lama lagi. Tapi mendadak, baru-baru ini mereka diberi tahu bahwa niat mereka untuk memperpanjang kontrak itu, ditolak.

Kita semua juga tau bahwa tiap orang butuh dokter, termasuk juga masyarakat tempat mereka kerja. Jadi kalo ada dokter dari daerah lain yang mau kerja di tempat kita, mestinya disambut dengan suka cita. Maka gw nggak ngerti kenapa birokrat lokal menolak niat baik mereka buat kerja di sana lebih lama lagi. Gwyneth sendiri mendengar isu bahwa mereka itu ditolak karena alasan yang maha cemen: Ada perawat setempat yang nggak suka sama kehadiran mereka.

Kita mungkin sering nemu kasus ini dalam kehidupan kerja sehari-hari. Orang-orang di kantor kita itu nggak semuanya baik, pasti ada aja satu-dua orang yang nggak suka sama kita. Tapi seyogyanya itu nggak boleh sampai mengorbankan siapapun buat keluar dari lingkungan kerja itu. Mbok kalau ada masalah itu diselesaikan baik-baik, apa gunanya kita orang timur menganut prinsip musyawarah? Sampai sekarang Gwyneth dan Chris belum ngerti kenapa birokrat lokal nggak nerima mereka buat kerja lebih lama di situ.

Yang lebih gw pertanyakan adalah kadar kebijaksanaan birokrat itu. Gw kasih tau aja ya, nyari dokter buat suatu daerah terpencil itu susah. Kalo cuman sekedar ngirim dokter ke pedalaman Papua sih beres, lha daftar tunggu dokter PTT buat daerah peminatan Papua selalu membludak tiap tahun. Tapi susah nyari dokter yang mau bertahan di sana lebih dari enam bulan, coz tantangannya terlalu berat: Medan yang susah ditembus jalan darat, ancaman malaria yang resisten antibiotik, belum lagi masyarakatnya yang kadang-kadang suka tawuran (Minta maaf buat jemaah blog gw yang di Papua, bagaimana pun ini hanya penilaian kasar gw pribadi berdasarkan yang gw baca dari pemberitaan di media massa tentang pedalaman Papua). Jadi kalo ada dokter yang mau sukarela kerja di sana untuk waktu bertahun-tahun, macam Gwyneth dan Chris yang sudah betah menyesuaikan diri di situ selama enam bulan, mestinya ya jangan ditolak. Apalagi cuman gara-gara perawat sentimen.

Gw mencoba memetakan masalahnya di sini. Tempat Gwyneth dan Chris bekerja, adalah penyedia lapangan kerja alias atasan. Gwyneth dan Chris adalah pegawainya. Atasan butuh sumber daya manusia untuk dijadikan karyawan. Pegawai butuh penghasilan. Sederhana toh?

Memang dalam urusan pekerjaan itu prinsipnya kudu suka sama suka. Kalo pegawai nggak seneng sama kerjaannya, sebaiknya dia nggak usah kerja di situ. Kalo atasannya nggak suka sama hasil atau proses kerja pegawainya, ya pegawainya nggak usah dipekerjakan lagi. Tapi kasus Gwyneth dan Chris kan nggak demikian. Dua-duanya nggak pernah mangkir tugas, dan mereka toh puas dengan situasi kerja mereka di Papua Barat, jadi kalo mereka bisa memenuhi kebutuhan si atasan untuk dijadikan pegawai lebih lama lagi, kenapa kudu ditolak?

Sh*t happens sometimes, kadang-kadang kita nggak bisa ngelak itu dalam kehidupan karier kita. Tak ada yang senang ditolak. Mungkin sebenarnya mereka nggak kerja di sana (medan jelek + malaria + masyarakat tawuran), jadi sebaiknya penolakan perpanjangan kontrak kerja itu harus dianggap sebagai berkah. Chris dan Gwyneth bukan yang pertama kali mengalami ini. Banyak kolega gw yang telah disingkirkan dengan menyakitkan dari tempat kerja mereka yang lama, ternyata mereka lebih sukses di tempat kerja yang baru. Lebih sukses itu nggak melulu harus diukur pake gaji, tapi lebih sukses itu punya tempat kerja yang nyaman, keselamatan kerja yang aman, dan atasan yang kredibilitasnya bisa dipercaya.

Kata gw, nggak bijaksana kalo kamu maksa bekerja untuk orang yang nggak menghargai kerja kerasmu, karena dalam saat yang bersamaan kamu nggak akan bisa mempercayai dia sebagai atasanmu.

Ini adalah sedikit gambaran buat khalayak ramai, yang selama ini punya kesan bahwa upaya pemerataan dokter di daerah-daerah terpencil tidak digarap dengan serius. Pemerintah sudah cukup baik hati mengirim dokter-dokter ke daerah-daerah terpencil, tapi memang ada satu-dua daerah yang menampik pertolongan itu dengan sikap tidak tahu terima kasih. Pegawai nggak boleh jadi pihak yang selalu dimarjinalkan, coz bisa jadi, justru pegawai adalah asset paling penting yang bisa dimiliki tempat kerja mereka. Dan kabupaten yang baru menolak dr Gwyneth dan dr Chris, baru saja melepaskan asset berharga yang pernah mereka miliki.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. Anonymous says:

    yah biasalah bu.. kyknya ga di papua aja yng bisa begitu… gw siy betah2 aja, tapi gw harus memilih antara papua, atau pulau besar yang ada di bawahnya ckckckck:D

    -mitatea-

    gw ga pd niy nyantumin blog gw disini, kagak pernah di update soalnye hehehe:P

  2. zenteguh says:

    Nggak tahu harus komeng apa. Saya juga baru tahu ternyta masih bnyak yang pola pikirnya sempit. Udah tahu aset berharga, kenapa malah didepak..?

  3. yg menolak si Chris dan Gwyneth itu keterlaluan banget ya. kayaknya lebih mikir kepentingan pribadinya (atas dasar apa gak suka?) dibandingkan kepentingan rakyat kecil di sana. sudah tahu, gak semua dokter mampu bertahan cukup lama di sana.

  4. Dit, saat ini banyak kabupaten yang nawarin penghasilan tinggi buat dokter-dokter yang sudi kerja di Papua. Oleh karenanya banyak banget dokter yang sudi kerja di sana asalkan untuk waktu yang sebentar aja. Tapi kalo untuk waktu yang lama, entahlah.

  5. ditter says:

    woh.. apakah mereka siap dengan kondisi yg akan terjadi kalo Gwyneth dan Chris pergi? Kalo kondisinya akan parah, pasti si perawat yg sentimen itu bakal nyesel setengah idup…

  6. Hehehe..kalo alasannya adalah memberi kesempatan buat orang-orang yang sudah jadi waiting list, saya rasa itu bukan alasan yang bijak. Dalam urusan penyediaan kerja mana pun, sebaik-baiknya pegawai yang dipekerjakan adalah pegawai yang udah lama kerja di situ dan loyal (sudah terbukti memberikan peningkatan pada hasil kerja di tempat tersebut). Bukan malah berjudi dengan cari-cari dokter baru. Mendapatkan seorang pegawai itu gampang. Entah itu dokter atau hanya sekedar buruh cangkul. Tapi mendapatkan pegawai yang setia, itu susah.

    Kecuali,kalo memang birokratnya lebih senang punya dokter alternatif alias dukun, daripada dokter sungguhan.. 🙂

    Saya bilang ke Gwyneth, mungkin memang lebih baik mereka pulang ketimbang tetap di sana. Dengan beberapa poin-poin kelemahan yang ada pada tanah Papua, barangkali lebih baik Gwyneth dan Chris jangan ada di situ. Apa yang nampaknya baik bagi seseorang belum tentu baik buat orang lain lho.

    Mudah-mudahan cerita kolega-kolega saya ini bisa diambil hikmahnya oleh profesi-profesi yang lain. Gimana pun juga, sh*t can happen pada institusi kerja mana pun. Betul sih, that's life.

    Pak Itempoeti, kabar saya baik. Lama betul Pak Itempoeti nggak main ke sini..:-)

  7. Jokostt says:

    "Jika anda mendapatkan sebuah cerita, jagalah sebaik-baiknya. Belajarlah untuk menyampaikannya kepada orang yang membutuhkannya. Untuk dapat bertahan hidup kadangkala seseorang lebih membutuhkan cerita daripada makanan"
    Barry Lopez, pengarang Arctic Dreams

    Maaf, saya memberikan komentar berupa kutipan kata-kata ini. Karena anda sudah memberikan makanan buat jiwa saya, yang selalu haus pencerahan seperti ini sebagai penyeimbang di kehidupan saya. Saya tunggu cerita2nya yang lain

  8. zam says:

    negara kita ini aneh bener. lebih seneng menempakan orang yg bukan ahli di bidangnya.. orang yg bener sering berada di tempat yg salah, dan orang yang salah kok ya malah berada di tempat bener..

    prihatin!

  9. Arman says:

    wah iya aneh juga ya… orang udah sukarela mau kerja disana kok ditolak… apa seperti yang lu bilang kalo papua daerah favorit orang2 yang mau kerja jadi udah waiting list yang mau gantiin gwyneth disana? jadi kudu ngasih kesempatan buat yang lain gitu? hehe.

  10. mawi wijna says:

    Lha, jangan-jangan di Papua sana ada dokter alternatif semacam dukun gitu mbak dokter. Kalau semua dokter yang ditugaskan kesana terpaksa dipulangkan karena tak berkenan di hati warga, apa disana malah ndak kekurangan dokter? Ada-ada aja maunya.

  11. Iya, Jul. Gw juga nggak tau mana yang lebih layak dikasihani di sini: Chris dan Gwyneth yang disuruh keluar, atau birokrat setempat yang cuma bisa mikir pendek? Dokter sih gampang dicari, Jul. Tapi yang mau lama kerja di situ? Susah..!

  12. julie says:

    ternyata masih ada aja yang berpikir ke belakang ya sist

    darimana lagi mereka mencari pengganti orang seperti Gwyneth dan Chris yang tulus? Aneh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *