Suatu Hari “Sok Nyeni”

Menjadi perempuan ternyata cukup pusing. Harus bisa dandan cantik, harus bisa isi perut. Dan harus selalu nampak bersih. Siyalnya nggak semua perempuan bisa kayak gitu. Setidaknya itu yang gw tangkap dari pameran lukisan ini.

Sebenarnya gw nggak tau persis alasan gw ke pameran seni rupa kemaren. Gw lagi kepingin belajar memahami profesi orang lain, dan waktu gw baca bahwa ada pameran tunggal seorang seniman bernama Hanafi, gw mutusin untuk datang biarpun gw nggak pernah kenal namanya. Soalnya:
1. Masuknya gratis, nggak bayar.
2. Tempatnya nggak jauh dari rumah. Pamerannya digelar di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung.
3. Digelar di Gedung Indonesia Menggugat. Katanya itu gedung bersejarah di Indonesia. Gw penduduk Bandung, tapi gw nggak pernah dateng ke situ. Sungguh memalukan. Meskipun menurut gw, bukan salah gw juga. Di sana nggak ada yang jual makanan.
4. Pada waktu gw bisa ke sana kemaren, nggak ada jadwal syuting, nggak ada janjian wawancara dengan pers, nggak ada pemotretan..:-P

Jadi gw dateng ke sana, agak sedikit pangling coz gw sempat mengira gw kesasar. Tempat itu nyaris kosong, nggak ada apa-apanya. Satu-satunya yang menyambut gw adalah meja buku tamu, menandakan bahwa di situ sedang digelar “sesuatu”. Gw nyaris ketawa coz di meja itu nggak ada yang jaga. Batin gw, ini yang bikin acara, niat nggak, seeh? Kalo gw maling yang niat nyolong lampu, gimana dong?

Jadi gw melangkah masuk, lalu celingukan di ruangan dalam. Yang pertama kali menarik perhatian gw adalah barisan baju ini. Dan gw sempat mengira gw sudah kesasar masuk butik setengah jadi.

Untunglah daya nalar gw masih bekerja. Butik mana pun nggak akan gantung baju di tempat gantungan yang bentuknya mirip cewek yang gesturnya berkata, “Cape deeh..!”

Oke, gw salah. Ini bukan baju. Ini adalah kain-kain yang dibentuk dengan dua dimensi sehingga membentuk baju. Tiap figur dipasangin celana dalam putih (itu CD beneran!) seolah menegaskan seksualitas perempuan. Hm, sayang. Mestinya senimannya cari celana dalam cewek yang bentuknya lebih modis, jangan yang model konvensional gitu.

Selanjutnya gw disambut lukisan-lukisan yang digantung berjejer di tembok. Eh, bukan tembok ding, seseorang nampaknya telah menggantung kain belacu putih di sepanjang dinding, menyulap gedung yang tadinya rumah biasa itu menjadi sebuah galeri yang cukup ciamik (atau dalam kesan awam gw: polos).

Lukisannya rata-rata suram. Gw sengaja nggak riset duluan tentang pelukisnya, coz gw kepingin mengapresiasi karya-karyanya dengan jujur dari pandangan orang awam yang nggak tau apa-apa tentang seni rupa. Lukisannya menggambarkan perempuan telanjang yang mukanya ketutupan rambutnya yang panjang, dan semuanya digambar dalam posisi putus asa. Semuanya nampak sedih dan perempuan di sini nampak menderita.

Karena gw nggak suka gambar yang suram-suram, maka gw nggak motret banyak-banyak. Jujur aja, ini bukan jenis lukisan yang mau gw pasang di ruang tamu gw. Satu-satunya lukisan yang jadi favorit gw justru lukisan ini.

Perempuan ini telanjang dalam keadaan posisi nelangsa. Pelukisnya membelah lukisannya menjadi dua bagian, lalu menancapkan gergajinya persis di gambar selangkangan. Adakah ini bercerita tentang perempuan yang sudah ngalamin pelecehan seksual habis-habisan dan pada akhirnya daya kewanitaannya telah dikebiri?

Setelah puas ngecengin lukisan-lukisan perempuan sedih itu sendirian (nggak ada pengunjung lain saat itu), akhirnya seorang satpam menyambut gw di pintu dan ngasih gw souvenir berupa buku, dan gw baca pas gw udah pulang ke rumah.

Hahahah..ternyata memberikan buku pengantar acara, ngasih pengaruh beda ke gw. Ternyata, pameran lukisan itu diilhami dari puisi Rendra yang berjudul Nyanyian Angsa. Puisi ini berkisah tentang Maria Zaitun, perempuan yang terpaksa jadi pelacur lantaran kepepet jadi melarat. Sampai kemudian Maria Zaitun kena sifilis sehingga dia nggak laku lagi jadi perek. Sudah telat stadium sifilisnya buat diobatin waktu Maria Zaitun minta bantuan dokter, dan ketika ia minta bantuan religius kepada pastor, dia nggak mendapatkan ketenangan yang dia impikan.

Barulah gw ngerti kenapa lukisan-lukisan itu tadi nampak suram sekali. Bahkan keseluruhan pamerannya mencerminkan sedih. Dinding dan lantai ruangan yang dibungkus kain yang putih bersih, kontras dengan lukisan-lukisannya yang hampir semuanya bercerita tentang perempuan “kotor”. Seolah-olah mau bilang, di dunia ini nggak ada yang seluruhnya baik-baik aja. Pasti ada yang nggak beres, dan siyalnya, yang nggak beres itu hampir selalu diumpetin, tapi sebenarnya keliatan kalo kita mau perhatikan dengan jeli.

Gw bukan peminat seni rupa. Gw adalah dokter, dan satu-satunya kerjaan seni rupa yang gw sukai hanyalah menjahit luka orang. Tapi datang ke pameran seni rupa dalam keadaan tidak tahu apa-apa dan belajar sesuatu, adalah pengalaman yang sangat mengesankan buat gw.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

26 comments

  1. Berarti ada persyaratan berupa pesan moral yang terkandung di dalam karya seni itu ya, Pak. Maka gambar yang saya muat ini bukan sekedar lukisan, tapi ada makna yang mesti dipelajari dari situ kan, Pak?

    Penyeimbang jiwa Pak Joko adalah bacaan sastra. Kalo buat saya, bacaan penyeimbang jiwa saya adalah majalah lifestyle, hehehe..

  2. Jokostt says:

    Kalau berbicara tentang karya sastra, atau seni pada umumnya adalah sebenarnya sebuah tawaran tentang sebuah nilai yang disodorkan oleh seniman pembuatnya.

    Dan salah satu ciri-ciri sebuah karya seni adalah bisa menimbulkan banyak interpretasi berbeda-beda buat para penikmat karyanya. Kedua, gaungnya cukup membuat orang tercenung lama berpikir tentang pesan moral yang telah disampaikan oleh seniman pembuatya. Maaf, ini saya sedikit mengutip dari Bukunya Mas Wendo. Salah satunya pernah saya tulis dan kutip disini .

    Kalau saya sendiri, selain buku-buku lainnya, bacaan sastra adalah penyeimbang buat nutrisi jiwa saya. Sama pentingnya seperti keharusan untuk makan makanan yang bergizi dan minum vitamin buat tubuh kita agar sehat. Nah, kalau yang ini Mbak Vicky lebih bisa menjelaskan daripada saya. He..He…

  3. Yup, sekarang kita tau gunanya dikasih buku pengantar acara, hahaha.

    Seandainya lukisan gergaji itu ditaruh di pintu masuk, Mbak, maka kesan pertama yang timbul atas pameran ini adalah, "Ini ekshibisi kekejaman!"

    Maka kita belajar bahwa memahami suatu lukisan akan dipengaruhi berbagai faktor, nggak cuman faktor gambarnya, tapi juga faktor cahaya yang menimpanya, faktor di mana lukisan itu diletakkan, dan juga dipengaruhi lukisan-lukisan yang diletakkan sebelumnya.

  4. REYGHA's mum says:

    Aku ngga ngerti seni, karena aku paling ngga bisa menterjemahkan sebuah karya, suka salah tangkap maksudnya orang lain. aku lebih suka yang terus terang ngomong aja langsung maunya apa gitu….apalsgi lukisan yang kaya foto terakhir tuh..ngilu ngeliatnya padahal kalo baca bahasannya Vicky ngga begitu ya?…ah dimana darah seni ku?

  5. Jadi penasaran, apakah seniman bikin sesuatu buat dimengerti oleh dirinya sendiri? Maksudnya kalo ada orang lain yang bisa ngerti artinya itu ya syukur, kalo nggak ngerti ya nggak pa-pa? Wah, itu sikap yang egois..

    Sekarang kalo karyanya itu bagus tapi nggak aneh, apakah itu masih bisa dibilang seni?

    Jadi haruskah seni itu "aneh"??

  6. banyak yang bilang aku aneh…soalnya aku suka seni. Dan banyak yang bilang…jika sesuatu yang seni itu aneh…..Lah bingung kan?…..berarti tulisan di atas seni dong….(maksa mode on)
    Aku suka banget mbak nonton pameran seni!!! cuma sayangnya, kadang-kadang orang awam kurang bisa memahami karya seni. Entahlah apa alasannya….
    Tapi yang terpenting aku salut ada dokter yang datang ke pameran seni…siapa tahu ada ide ntar kalo njahit luka nggak pake cara konvensional….. Jadi bekas luka jahitannya bisa berbentuk daun, atau bunga…kan keren. Bekas luka yang nyeni…..
    Hidup dokter nyeni…..Huwwhahahahahaa….! Semangat mbak!!!!

  7. Freya says:

    keren ya pameran seninya. aye juga mau dong ke sana, tapi aye ada di jakarta hehehe. sering2 deh mbakyu datang ke pameran, biar aye nikmatin lukisan2 kerennya.

  8. Hehe..mungkin buat senimannya, menerjemahkan puisi Rendra ke dalam bentuk lukisan itu indah. Meskipun yang diceritain itu, tentang perempuan yang sedang menderita sekalipun. Kalo saya sih dateng ke sana niatnya nggak cuman sekedar nonton ya, tapi saya dateng ke situ buat belajar. Dan seandainya ada kesempatan kayak gitu lagi, saya mau dateng. Kira-kira berlebihan nggak ya kalo saya menjadikan galeri seni sebagai tempat nongkrong mingguan sama seperti saya nongkrongin kafe es krim?

    Saya juga tadinya nggak tau apa yang mau saya pelajarin waktu berangkat ke sana. Dan memang saya sengaja nggak mau tau apa-apa dulu. Soal buku pengantar itu, mungkin memang sebaiknya jangan dibagikan di awal kunjungan. Supaya tidak mengurangi rasa penasaran, hehehe.

    Truz, saya nggak tau model siapa yang dipake pelukisnya buat menggambar Maria Zaitun itu ya, hahahah.. Tapi mungkin memang ada aliran-aliran lukis tertentu di mana bentuk yang digambar nggak akan sesuai bentuk aslinya. Saya sih lebih seneng gitu, jadi biar yang penting makna fungsionalnya aja tersampaikan. Perkara detil realitas sih, itu belakangan.. ๐Ÿ˜›

  9. Puput says:

    gambarannya terlalu sadis….

    kepikiran kalo seniman yg buat itu terobsesi sama kemalangan wanita, mungkin menurut dia kemalangan itu indah… kemalangan itu kepuasan… kemalangan itu tontonan…

  10. Newsoul says:

    Kalau masuknya gak bayar, lokasi gak jauh dari rumah, dan…..lagi banyak waktu luang (hari libur misalnya), datang kesana sangat logis. Asyik kan vick, gak rugilah, dapat pengalaman baru. Lain kali kalau masuk ke pameran lukisan seperti tadi, masuk dari pintu depan. Jadi begitu masuk langsung dapat buku pengantar, lumayan gak buang energi memahami makna sebuah lukisan, hehe.

  11. depz says:

    pertanyaan gw, kalo pameran seperti itu dilakukan setiap minggu dan selalu gratis, apa elo slalu dateng vik?

    dan plus lagi di lokasinya ada yang jual makanan ๐Ÿ˜€

  12. henny nggak begitu ngerti tentang seni lukis, tapi ngeliat lukisan itu henny jadi ragu apa benar itu lukisan cewek? lekuk tubuhnya ga mirip cewek sama sekali.
    *ah..tapi namanya seniman, dia melukis apa yang dia lihat, entah itu dia lihat dari mana*

  13. mawi wijna says:

    lha piye? Rasa seninya seniman itu seringnya ndak bisa ditangkap sama orang awam. Jadi saya juga suka bingung datang ke pameran seni kayak gitu. Tapi kemarin ada pameran ilustrasi di Jogja bagus juga kok.

  14. sibaho way says:

    lukisan pertama di atas, buat saya menggambarkan bahwa fisik (baca: casing) perempuan boleh beda2, langsing, setengah langsing (gemuk), gembrot, tapi celana dalam itu menggambarkan, dalamnya sama aja xixixixixi…. :))

    btw, saya gak vulgar kan komennya ๐Ÿ˜›

  15. Salah satu hal kenapa aku lebih suka seni instalasi ketimbang seni lukis, karena ada lebih banyak sudut pandang buat difoto ketimbang seni lukis yang cuman dua dimensi doang.

    Sayang baru sekarang aku punya indera buat menikmati pameran. Kalo dulu-dulu nggak bisa ngerti blas, apa sih yang dilakonin artis-artis ini.

  16. fahmi! says:

    Di balai pemuda, dan galeri house of sampoerna, suka ada pameran lukisan dan seni instalasi gitu. Dan aku suka iseng kesana cuman buat moto. Disini rutin selalu ada pameran. Artis2 itu sampek antre untuk show off. Aku suka ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *