Bikinan Manusia, Jangan Dipercaya


Pasien itu dingin, badannya dingin sekali. Mahasiswa kedokteran di sebelahnya bolak-balik mompa tensimeter air raksa yang kabelnya melilit lengan pasien itu, dan bulir-bulir keringat mulai menggulir di jidatnya.

Gw pura-pura meriksa pasien lain, tapi mata gw melirik koass yang lagi meriksa pasien dingin itu. Gw perhatiin sudah empat atau lima kali dia memompa tensimeter itu, dan gw mulai curiga lengan si pasien bentar lagi bonyok lantaran kebanyakan ditensi dalam lima menit saja.

“Berapa, Dek?” tanya gw mulai nggak sabar.
Koass itu mendongak, menatap gw dengan panik. “90/60, Dok,” jawabnya.

Tekanan darahnya normal. Kenapa koass itu ragu-ragu?

Sekarang waktunya dokter sungguhan ambil alih kendali.
“Boleh saya pinjam?” kata gw, lalu mengambil alih tensimeter itu. Gw tensi pula tuh pasien. Betul, tensinya 90/60. Tapi kenapa muka pasien itu pucat sekali?

Gw raih pergelangan tangannya, gw itung nadinya. Bujubune! Kenceng banget! Macam lari maraton aja!

Gw panggil nama pasien itu. Dia masih bangun, tapi nggak mau ngeliat ke gw. Perasaan gw nggak enak. Yakin nih dia baik-baik aja?

Gw noleh ke koass tadi. “Kamu bawa tensi sendiri, Dek?”

Dengan sigap koass itu membuka tas pinggangnya dan ngeluarin tensimeter yang masih dibungkus rapi.

Gw ambil tensimeter milik koass itu, lalu gw lingkarin di pasien itu. Kata gw, “Kamu yang kiri, saya yang kanan!”

Lalu si koass itu ngecek lengan kirinya si pasien pake tensimeternya rumah sakit, sementara gw ngecek lengan satunya pake tensimeter pribadi si koass.

Hasilnya? Menurut tensimeter rumah sakit, tekanan darah 90/60. Sementara menurut tensimeter pribadi milik koass, tekanannya sudah 70/50.

Dagelan yang nggak lucu!

Sontak tuh pasien gw infus yang kenceng dan gw pasangin slang buat pipis. Sebodo amat tensimeternya dodol. Pasien itu nggak nyahut, nadinya super kenceng, dan keluarganya bilang bahwa tuh pasien sempat mimisan pula. Jangan ada pasien syok Dengue di UGD, tidak kalo gw yang lagi tanggung jawab di situ!

***

Untunglah itu nggak lama. Beberapa saat kemudian tuh pasien mulai menghangat lagi, dan dia mulai merespons kalo gw tepuk bahunya. Nadinya nggak kenceng lagi, dan tekanan darahnya mulai masuk rentang yang masuk akal. Keluarganya setuju waktu gw tawarin opname. Gw bilang, kalo demam berdarah yang beginian, jangan dibawa pulang dulu.

Tapi gw nggak bisa melupakan perkara tensimeter dodol itu. Gw nggak abis pikir kenapa tensimeter yang pertama nggak bisa mendeteksi bahwa tekanan darah si pasien sudah jatuh. Apakah tensimeter itu udah nggak sensitif lagi?

Pagi sebelum gw menyudahi tugas jaga malam itu, gw menghampiri mantri yang jaga bareng gw. Dia sudah kerja di rumah sakit itu duluan sebelum gw, jadi pasti dia lebih kenal kondisi ketimbang gw.

“Pak,” kata gw sambil pura-pura menyeduh kopi. “Tensimeter di sini sering dikalibrasi, nggak?”

“Sering, Dok,” jawabnya. “Kenapa, gituh?”
“Nggak, saya cuman nanya,” kata gw sambil lalu. “Kapan terakhir kali dikalibrasinya? Saya pengen liat cara orangnya merawat alat rumah sakit, kapan-kapan.”
“Kapan ya terakhir kali dikalibrasi, teh?” Mantri itu mikir-mikir lagi. “Mungkin sekitar tiga-empat tahun lalu, Dok..”
Gw ketawa.

***

Seorang praktisi farmasi pernah kasih tau gw bahwa tiap alat pengukur apapun akan kehilangan kesensitifannya setelah digunakan beberapa lama. Itu sebabnya alat pengukur mesti dikalibrasi secara periodik. Pada bidang medis yang gw gelutin, isu kalibrasi ini penting kalo menyangkut tensimeter, coz tekanan darah adalah besaran yang vital buat menentukan apakah nyawa seseorang dalam keadaan bahaya atau tidak. Gw dinasehatin bahwa tensimeter baiknya dikalibrasi setahun sekali pada tempat servis alat kesehatan terdekat di kota.

Alat pengukur manapun adalah teknologi buatan manusia. Dan yang namanya bikinan manusia pun bisa aja salah. Jadi kita nggak boleh serta-merta percaya begitu aja pada alat-alat canggih apapun yang ada di rumah atau kantor kita.

Direktorat Metrologi berwenang untuk mengurus kalibrasi ini. Nggak cuman alat medis doang yang mestinya dikalibrasi, tapi juga pengukur lain, misalnya timbangan berat, termometer suhu, dan.. alat deteksi kebohongan yang biasa dipake polisi buat memeriksa saksi kasus korupsi.

Jadi, jika suatu alat deteksi sampai gagal memastikan seseorang berbohong, apakah mungkin aja alat itu belum pernah dikalibrasi ulang selama bertahun-tahun?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

28 comments

  1. Aku diajarin waktu kuliah, Mbak. Bahwa penguasa tubuh kita itu Tuhan. Kalo (manusia) ciptaan Tuhan itu nampak tidak baik-baik aja, sementara (tensimeter) ciptaan manusia itu nampak baik-baik aja, maka pasti ada yang tidak beres pada ciptaan manusia itu. Ajaran itu yang kucamkan, Mbak. Naluri kita sebagai manusia, nggak akan bisa bohong. Itu sebabnya aku curiga bahwa ada yang nggak beres dengan alat tensimeter itu.

    Ah, Mbak, aku tau bikinan Indonesia sering diekspor, tapi aku nggak ngira yang diekspor itu alat canggih juga bernama komponen katup udara untuk tensimeter..

  2. REYGHA's mum says:

    Wah salut buat bu dokter … beruntung tuh pasien ditanganin ma dokter Vicky ..koq iya bisa lgs curiga sama alat tansi terus cari alat lain (tensimeter pribadi si koass). Hebat. Kalibrasi memang penting banget alat timbangan pasar aja mesti dikalibrasi berkala, walaupun cuma buat nimbang cabe atau bawang. Apalagi alkes… Lho Vick, bekasi-cikarang kan tempat produksi berbagai macam yang bisa dieksport..hehehehe…

  3. Oo..kalibrasi itu maksudnya pencocokan ulang dengan ukuran standar, Mbak. Misalnya gini, tensimeter punyaku ngukur tekanan darah Mbak menunjukkan angka 140, tetapi tensimeter Mbak menunjukkan 130, padahal orang yang diukurnya sama. Maka alat tensimeternya mesti dicocokin dulu dengan alat yang standar supaya ukurannya akurat seperti yang semestinya. Nah, pencocokan ulang ini disebutnya kalibrasi..

  4. reni says:

    Mbak, aku jadi ingat dg petugas tensi keliling yang sering mampir ke kantorku. Teman-2ku banyak tuh yg ikutan tensi, dan cuma bayar seribu rupiah…
    Aku yakin deh kalau tensimeternya gak pernah dikalibrasi. BTW, arti kalibrasi apaan sih mbak..? ^_^

  5. Yupz, Mbak Fanny, saya nggak tau apakah kebijakan perawatan alat ini udah jadi hukum atau belum. Kalo udah jadi hukum, kan mestinya ada sangsi buat rumah sakit yang nggak merawat alatnya kan?
    Maka peran pasien, hanyalah bisa berdoa..

  6. wah, ngeri banget ya. yg bener aja tuh RS, masa kayak gitu sih? kalo semua peralatan gak dirawat dgn semestinya gimana pasiennya dong. untung kamu sigap ambil tindakan. ck…ck.ck…

    saya suka postinganmu, Vick. selalu memberikan pengetahuan baru buat orang awam nih. mantap.

  7. Aldo says:

    Maaf mba' dokter, saya ngasih username twitter dan facebook ke teman-teman yang sudah kenal pribadi saja.

    Salam,
    Aldo

  8. Aldo says:

    Yah, sebenarnya dia sih mungkin masih mau baik2an saja, tapi saya yang tiba2 "marah" akibat kelakuannya itu.

    Saya yang memutuskan hubungan dengan dia dan marah2, bahkan cerita ke sana kesini bahwa dia itu brengsek.

    Saya yakin dia tidak pernah membenci saya. Dia masih bisa menerima saya sebagai teman, tapi saya yang selama ini menginkan "lebih" dan saya anggap dia yang memulai dan dia yang mengakhiri, padadal selama ini dia tidak pernah memberikan statement bahwa dia suka sama saya dan mengajak untuk jadian. Saya saja yang terlalu GR.Bahkan dia pernah mengatakan langsung bahwa sebaiknya saya mencari cewek lain, bahkan sempat merekomendasikan beberapa orang temannya untuk saya, tapi saya tetap aja keukeuh pengen sama dia hehehehe….

    Sekarang saya malah selalu yang menjelek2an dia, dan setahu saya sampai saat ini, dia tidak pernah menjelek2an saya. Saya selalu menyindirnya dengan status saya di twitter, tapi dia tidak pernah membalas sindiran saya di twitternya.

    Saya akui, memang dia orang yang sangat baik, justru karena kebaikannya itu saya jatuh hati kepadanya, dan ketika tidak kesampaian, saya jadi membencinya.

    Saya tidak menyalahkann dirinya bertindak "brengsek", karena kalau dia tidak berbuat seperti itu, saya masih akan tetap mengagumi dan menharapkannya, sebagai sosok yang sempurna.Justru dengan dia berbuat seperti itu, saya jadi sadar bahwa dia juga manusia. Dia juga tidak brengsek seperti yg dia tunjukkan kepada saya.

    Saya tahu dia berbuat begitu, karena selama ini, dengan cara yang baik2 dia tidak mempan menyadarkan saya bahwa jangan terlalu berharap lebih kepadanya.Bahkan dia juga sudah terus terang bahwa dia tidak akan pernah suka dan mau jadian dengan laki-laki perokok. Kok saya tetap maksa yah.

    Dia tidak memutuskan silaturahmi, saya yang marah dan akhirnya memutuskan silaturahmi dengannya, dan saya anggap dia tidak pantas dijadikan teman.Dari awalnya saya sangat kagum, terus berubah menjadi benci. Dia orang yang baik. Coba saya tidak memaksa untuk menjadi kekasihnya, tentu sekarang saya masih bisa menerima segala kebaikannya sebagai teman. Dia masih tetap baik, tapi saya yang memutuskan silaturahmi.

    Salam,
    Aldo

  9. Wow, curcolnya bisa jadi posting-an sendiri, Aldo.

    Saya harus bilang tindakan "pura-pura brengsek" tidaklah bijaksana, karena manfaatnya hanya merusak silaturahmi saja.

    Kisah Aldo mengingatkan saya pada sesuatu, tapi saya lupa apa itu.

    Mudah-mudahan hubungan Aldo dan cewek itu bisa direnovasi lagi. Saya rasa memutuskan pertemanan sama aja dengan mencabut investasi jangka panjang. Padahal bukan berarti investasi itu tidak memberikan keuntungan jangka panjang, hanya saja keuntungannya tidak dengan cara yang kita sukai.

    *maaf, inilah akibatnya kalo terlalu sering baca indeks harga saham*

  10. Aldo says:

    Emang bikinan manusia jangan dipercaya 100 %. Saya salut dengan naluri Bu Dokter yang curiga dengan adanya ketidakberesan alat tensi itu. Kadang kita harus juga menggunakan perasaan dan hati, tapi kadang kita suka membohongi kata hati kita.

    Saya mau curcol nih mengenai kebenaran yang sering kita coba lawan dengan logika yang kita paksakan.

    Saya pernah kenal dengan seorang cewek, asyik diajak ngobrol, nyambung dan dia sangat terbuka. Lama-lama karena sering ngobrol macam-macam dan selalu nyambung, saya mulai ada perasaan suka kepadanya dan saya sudah mengirim tanda-tanda itu kepadanya.

    Lalu dia sudah dengan terang2an dan juga dengan isyarat mengatakan bahwa dia hanya ingin berteman saja, karena dia gak lagi nyari cowok.Lagian ada satu kebiasaan saya yang belum bisa dia terima, yaitu suka merokok.

    Tapi hubungan kami tetap baik-baik saja setelah saya mengatakan keinginan saya dan dia menjawab secara tegas bahwa dia hanya pengen berteman.

    Karena dia tetap baik tidak berubah, saya pikir dia sebenarnya suka sama saya hanya alasan saja menjawab bahwa dia hanya pengen berteman dan ada kekurangan saya yang gak bisa dia terima (merokok).

    Akhirnya saya selalu menghibur diri, bahwa suatu saat dia pasti akan menerima saya. Dan saya paksakan terus untuk menjadi cowoknya, lalu dia masih konsisten dengan jawabannya dan tetap dia berlaku baik kepada saya.

    Lalu karena saya masih terus "menuntut" yang lebih dari sekedar teman, saya tidak sangka akhirnya dia langsung memutuskan hubungan dengan saya. Katanya, kalau dia terus berlaku baik kepada saya, membuat saya akan berharap lebih,padahal sudah sejak awal dia bersikeras bahwa dia hanya pengen jadi teman saja. Dan banyak cowok yang lain dia perlakukan sama dengan saya, sebagai teman saja.Jadi saya gak boleh GR dengan kebaikannya, karena itu bukan hal yang spesial, ke semua teman2nya yg lain juga dia berlaku baik seperti kepada saya.

    Akhirnya sekarang saya gak pernah lagi berhubungan dengan dia. Dia sengaja membuat saya menjadi berubah rasa kepadanya, dari suka menjadi benci. Katanya kalau dia tetap berlaku baik kepada saya, saya akan terus mengharap. Mending sekalian diakhiri saja, diamputasi saja.

    Setelah kejadian itu saya sadar bahwa saya telah mencoba melawan fakta yang ada selama ini bahwa dia benar2 mengatakan apa yang sebenarnya, bahwa dia hanya ingin menjadi teman saja. Namun saya terlalu GR menganggap kebaikannya adalah isyarat bahwa dia juga suka kepada saya. Padahal memang pribadinya seperti itu, baik kepada semua cowok, baik, ramah, mempesona dan tidak murahan.

    Lalu saya mengibur diri, setelah kejadian dia sengaja membuat saya jadi benci kepadanya, bahwa dia memang brengsek hehehehe. Padahal dia berbuat begitu karena saya yang brengsek, gak sadar diri, sudah "ditolak", masih saja berharap hahahahaha…..

    Saat ini saya masih menganggap dia yang brengsek, padahal saya tahu dia tidak seperti itu. Dia berbuat sesuatu yang kelihatannya "brengsek" supaya kekaguman saya kepadanya hilang, dan saya gak lagi jatuh hati kepadanya dan terus mengharapkannya.

    Saya merasa kehilangan teman. Coba kalau saya tidak memaksa, sampai saat ini tentunya saya masih bisa berhubungan dengan dia, sebagai teman tentunya. Saya akui dia adalah pribadi yang baik untuk diajak berteman, itu makanya sangat banyak yang suka berteman dengannya.

    I hate her, but I miss her.

    Curcol nya kepanjangan yah.

    Intinya, janganlah kita mencoba mengangkagi fakta yang ada, membohongi diri dengan menafsirkan apa yang kita dengar dan lihat itu dengan tafsir sebaliknya. Seharusnya kita pakai WYSIWYG, What You See Is What You Get.

    Mungkin hal seperti yang saya alami (sebagai lelaki) ini bisa juga terjadi pada wanita seperti mba' dokter 🙂

    Salam,
    Aldo

  11. Ira, kalo tensimeter diganti pake feeling, itu namanya bukan rumah sakit, tapi namanya ganti jadi pengobat kebatinan, hahaha..

    Sebenarnya itu ada ilmunya. Kalau seorang pasien datang ke dokter dalam keadaan badan dingin, dan dipanggil-panggil nggak mau nyahut, kita boleh curiga pasien itu sudah kehilangan banyak cairan. Karena, cairan yang tidak cukup, berarti darah nggak mengalir dengan mantap, artinya oksigennya juga nggak cukup, jadi nggak ada panas tubuh, akibatnya badan jadi terasa dingin.
    Kalo oksigen nggak cukup sampai ke otak, maka respon pertamanya adalah kehilangan kesadaran, yang ditandai orangnya nggak nyahut kalo dipanggil. Dan bahaya dari kehilangan banyak cairan, adalah kematian.

    Tensimeter di sini hanya untuk alat konfirmasi saja.

  12. Waduh ternyata feeling mbak Vicky lebih peka daripada tensi meter!!! Gimanambak kalo usul aja!!!! tensi meter di hapus terus diganti pek feeling aja!!! la kenyataan kan? gimana RS bisa mmeberikan pelayan terbaik kalo alatnya aja kayak gitu….Untung dokternya Dokter Vicky coba dokter yang lain…..Bisa telat nafas tuh paien!!!! Semangat ya mbak….

  13. Tepat!
    Alat kedokteran yang saya sebut di sini cuman contoh. Pasti banyak sekali alat dari bidang-bidang profesi yang lain yang juga butuh dikalibrasi. Sebenarnya itulah intinya kenapa saya nulis ini.

    Satu hal yang mau saya tandain di sini, bahwa kita tuh jangan cuman mau memiliki barang doang, tapi nggak tau cara merawatnya. Apa gunanya negara kita punya alat canggih, tapi hasilnya bohong lantaran alatnya rusak karena nggak pernah dirawat?

    Sebenarnya, saya yakin semua merk tensimeter itu bagus. Coz menurut pandangan naif saya, semua alat tensimeter yang diimpor ke Indonesia udah melalui regulasi standar kualitasnya Departemen Perindustrian. Yang nggak bener, cara merawatnya itu, makanya jadi rusak..

  14. EEL'S says:

    Jadi ingat tensimeterku yang rusak, critanya aku khan termsuk kel hiper, so biar ayem aku tuh sedia tensimeter di rumah buat sewaktu2 kontrol, yg pertama dah rusak truss beli lagi rusak lagi, gerak jarumnya dah gak sinkron, bingung aku.., kali itu perlu kalibrasi juga yaaa? atau perlu ganti merk kali yaa..?

  15. mawi wijna says:

    Bukan hanya alat kedokteran aja mbak dokter. Alat transportasi di negara ini juga pasti jarang yang dikalibrasi. Buktinya masih ada aja kecelakaan transportasi yang rata-rata disebabkan kondisi kendaraan yang ndak fit.

    Memang susah sih merawat itu. Biaya yang dikeluarkan lebih mahal ketimbang beli baru.

  16. Hahaha..jadi inget.
    Dulu aku kerja di rumah sakit. Ada seorang pasien yang dijadwalkan menemui dua dokter di rumah sakit itu, salah satunya aku. Si pasien menemui kolegaku dulu, baru sesudahnya dia masuk ke ruanganku.

    Waktu diperiksa perawat di ruanganku, ternyata tensinya tinggi. Pasien itu menjerit, "Nggak mungkin! Tadi di dokter sebelah, tensi saya nggak setinggi itu!"

    Perawatnya bingung. Aku juga bingung. Akhirnya kusuruh pasiennya di-skip gilirannya dulu di ruang tunggu, padahal diam-diam kuganti tensimeternya dengan tensimeter yang lain. Ternyata pas ditensi lagi, tensinya pasien itu normal lagi..

    Untuk menenangkan pasien, kubilang ke pasien itu, "Ibu capek ya habis ngantre di depan tadi?"

    Sang pasien ngaku capek. Kubilang kalo capek mondar-mandir lama memang bisa bikin tensi yang tadinya normal mendadak naik.

    Tapi diam-diam kutandain tensimeter yang umurnya lebih tua dari umur kerjaku itu. Batinku, lain kali kalo aku punya rumah sakit sendiri nanti, aku mau pastikan semua alat dikalibrasi dengan akurat!

    Nanti deh aku buzz Mbak Fanda kapan-kapan. Bukan urgen kok. Makasih ya..

  17. Fanda says:

    Ternyata kalibrasinya harus setahun sekali ya? Jadi mikir…apa tensimeter di tempat dokter2 itu juga sering2 dikalibrasi ya? Soalnya mamaku kalo pergi ke dokter A selalu tekanan darahnya cenderung rendah. Kalo ke dokter B selalu cenderung tinggi. Yg bener yg mana ya…?

    Vick, kamu mo konsul apaan sih? Aku lg OL nih

  18. Ya, namanya juga bikinan manusia, pasti bisa aja ada kekurangannya. Kebetulan kekurangan itu bernama "tidak selalu akurat". Jadi ya mesti dicek secara berkala. Menurut kita, alatnya sudah akurat. Menurut orang lain? Belum tentu. Yang Mahaakurat itu kan cuman Tuhan. Manusia? Itu sih maharelatif.

    Kalo kita punya alat pengukur tekanan darah sendiri di rumah, baiknya dikalibrasi secara periodik di Direktorat Metrologi. Saya sih ada alamat cabang direktoratnya yang di Bandung, tapi nggak tahu kalo yang di kota lain ya. Tapi kalo alatnya punya rumah sakit/klinik sih, itu tanggung jawab manajemen perusahaannya.

    Saya pribadi nggak pernah ngecek ke Direktorat. Paling saya ngeceknya ke toko tempat saya beli alat tersebut. Ada biayanya, tapi nggak mahallah. Masih lebih mahal naik taksi dari Kebayoran ke Cengkareng. 🙂

    Link saya boleh dipasang lho..

  19. Newsoul says:

    Vicky, he, saya gak kuat nahan nafas, antara geli campur jengkel. Bukan jengkel pada anda, tentu sama sikon perlatan RS kita. Dan itu banyak terjadi Vick. Untungnya ada dokter yang mikirnya streotif seperti Vicky. Mudah-mudahan dokter lain juga banyak yang seperti ini. Bikinan manusia, opini manusia memang harus diwaspadai. Karenanya kita perlu berpikir streotif, perlu second opinion kata orang-orang itu. Nice post. Saya pasang linknya di blogroll saya, mohon izin ya.

  20. Saya nggak tau persis merk tensimeter yang dipake tiap rumah sakit atau yang dimiliki pribadi tiap orang, dan saya belum pernah meneliti secara spesifik kualitas dari tiap merk. Kita nggak tau persis apakah quality control dari tiap merk itu baik atau nggak. Kan itu tanggung jawab pabriknya yang mengurus quality control tiap produknya?

    Saya sendiri pernah dinasehatin oleh dosen, "Jangan percaya alat laboratorium. Percayalah nalurimu, hasil pemeriksaan mata dan tanganmu." Saya nggak bisa bayangin andai malam itu saya tetap percaya tensinya si pasien 90/60. Bisa-bisa tuh pasien tewas lantaran gagal ginjal mendadak dan saya nggak tau..

    Tiap rumah sakit atau penyedia layanan kesehatan bertanggungjawab mengkalibrasi alat-alatnya. Itu termasuk dalam manajemen perawatan alat rumah sakit. Saya nggak tau apakah ini sudah diregulasi dalam konstitusi atau belum.

    Termasuk pasien-pasien yang punya alat pengukur tekanan darah sendiri di rumah. Mereka mesti cek kalibrasi sendiri alat mereka di bengkel alat kesehatan secara rutin. Lha siapa yang berani mastiin alat mereka masih valid atau nggak, kalo bukan yang punyanya sendiri?

    Hey, saya nggak punya alat deteksi kebingungan yang dicolok listrik itu. Alat yang saya punya bernama naluri wanita, hahaha..

    Bang Bill, bonusnya berupa senyum manis Vicky Laurentina.. 🙂
    Tunggu dulu! Katup udara bikinan Bekasi diekspor ke Jerman? Wow, hebat..

  21. Pitshu says:

    kek temen na Bokap g, males banget ke dokster nge-cek darah mungkin karena biaya na mahal juga dan urusan tetek bengek na banyak, jadi dia beli alat test darah sendiri 😀

  22. sibaho way says:

    ini yang pernah saya sampaikan kepada teman2 di pabrik. kebetulan kami kebagian order mengerjakan beberapa komponen tensimeter itu (air valve dan end valve). ketika dapet claim (jauh banget lagi claim-nya, dari jerman) saya menanyakan satu per satu kepada karyawan; apa pekerjaan mereka?
    mereka semua menjawab: membuat komponen tensimeter. dengan jawaban seperti itu, siapa bisa menjamin bahwa dia sangat peduli dengan kualitas produk yang dia buat??
    ketika saya paparkan (dan mereka rata2 terperangah): kalian itu membuat alat yang dapat menyelamatkan nyawa dan karir orang lain. coba bayangkan jika produk yang kita buat NG (not good) dan digunakan ketika orang tes kesehatan masuk tentara, bisa gagal tuh orang. coba dipakai ketika memeriksa tekanan darah pasien yang akan dioperasi, bisa meninggal tuh orang….

    nice post dok, kadang orang menganggap remeh sendiri pekerjaannya, termasuk rumah sakit yang menyepelekan jadwal kalibrasi itu… 🙂

    * ini komentar saya paling panjang di blog ini, kasih bonus ya dok :)) *

  23. Freya says:

    wow…sumpah euy. This is a very good posting. Gw selama ini kagak tau kalo alat-alat medis, apalagi cuma alat tensi aja mesti ada maintenance-nya segala. Ajegile tuh rumah sakit nekad amat seh kaga mau ngerawat alat medisnya?! Bisa bahaya kan' walau cuma tensi doang?

    Kehren euy mbakyu ini. Bisa juga menggali info dari si mantri perihal perawatan dengan bilang, 'sekali2 saya lihat…." hihihihi….

    nice posting, mbakyu. I love it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *