Stigmata Lengket

Sudah hampir tengah malam waktu itu dan gw menguap kuat-kuat di ruang unit gawat darurat yang lagi gw jagain. Sudah nggak ada lagi pasien malam itu, dan gw lagi siap-siap mau tidur ketika pasien ini dateng.

Dia pemuda tanggung, dianter kakak perempuannya dengan keluhan yang sangat tidak spesifik, “Merasa berdebar-debar.”

Mantri gw ngukur tekanan darahnya dan gagal nemu angkanya, sehingga dia buru-buru masang kabel monitor buat ngitung denyut jantungnya. Rasanya seperti mimpi buruk. Gw baru aja ketiban pasien syok kardiogenik yang denyut jantungnya lebih cepat daripada pelari marathon dikejar herder. Seumur-umur baru kali ini gw denger denyut pasien yang nadinya 300 lebih per menit.

Penyakit jantung macam apa ini? Pasien ini baru berumur 22 tahun!

Lalu kata si madam yang nganter itu, adeknya itu memang biasa ke dokter, tapi adeknya nggak pernah bilang bahwa adeknya sakit jantung. Adeknya biasa cerita bahwa katanya dia “sakit paru-paru”.

Bosen denger cerita si madam yang cuman serba “katanya” itu, gw akhirnya nanya adeknya itu ke dokter siapa, truz obatnya seperti apa. Barulah si madam bilang bahwa adeknya itu ke klinik bernama Klinik Teratai di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, dan semestinya besok pagi itu jadwal adeknya kontrol ke sana, tapi entah kenapa malam ini adeknya itu malah mengeluh berdebar-debar.

Untung pengantar kontrolnya dia bawa. Gw baca kode-kode rahasia yang ditulis kolega gw di situ, dan gw langsung sadar bahwa adeknya ini menderita HIV. Gw melihat muka si madam dan menyadari, nampaknya keluarganya ini tidak tahu apa-apa masalah per-HIV-an adeknya.
Gw minta keluarganya keluar sebentar.
Lalu diam-diam gw hampirin si pasien, pura-pura notol-notol stetoskop di dada kanannya dan bertanya dengan lembut, “Kerja di mana?”
Jawabnya, “Nggak kerja.”
Gw pindah ke dada kirinya. “Suka ngerokok?”
“Jarang.”
Gw turun ke dada bawah. “Suka nyuntik?”
“Iya.”
I got it. Langsung gw berhenti notol-notol stetoskop dan minggat.
“Dok!” serunya tiba-tiba.
Gw berbalik badan. “Ya?”
Katanya ragu-ragu, “Saya nggak pake suntik.”

Gw tersenyum datar. Berbohonglah semaumu, Nak.

Gw tau gw harus bertindak cepat, coz pasien ini bisa meninggal setiap saat dengan jantung lari-lari macam begitu. Mungkin beberapa jam lagi. Mungkin beberapa menit lagi. Dan gw satu-satunya dokter yang ada di rumah sakit itu. Ya Tuhan.

Malam itu gw telfon ke boss gw yang spesialis penyakit dalam dan melapor ada pasien HIV masuk dalam keadaan syok kardiogenik. Obat HIV nggak ada di rumah sakit kita. Lalu kata boss gw, beresin dulu itu syok kardiogeniknya, nanti urusan HIV-nya belakangan. Yang penting tuh pasien malam ini harus hidup.

Jadi gw oper telfonnya ke boss gw yang spesialis jantung. Dia merestui gw buat melakukan terapi kejut.

Si pasien pun dipasangin infus.

Berikutnya gw DC shock dia. Nadinya turun ke level 200-an.
Gw shock-in lagi. Nadinya sekarang 100-an. Oh syukurlah. Gw benci banget sama bunyi monitor itu, mengingatkan gw ke stasiun NASA yang baru diinvasi alien Mars.

Gw telfon lagi ke boss gw. “Udah nggak syok lagi, Dok. Pasiennya merasa lebih nyaman, tapi nadinya masih di atas 100.”
Boss gw bilang, “Oke, kalo belum stabil gini, masukkan ke ICU. Besok pagi saya liat.”

Gw bilang ke keluarganya, minta maaf coz adeknya harus gw tahan di ICU sampai jantungnya stabil. Setelah si keluarga ngerti, gw minta keluarganya ngurus administrasi dulu.

Setelah mereka pergi, gw bilang ke si pasiennya,”Kamu harus dirawat. Mau?”

Pasien itu nampak ragu, lalu berujar, “Dokter, saya punya HIV, tapi keluarga saya nggak tahu..”

Mantri UGD gw blingsatan lantaran berantem sama suster di ICU. Bilang ke suster ICU, jangan bilang-bilang sama keluarga pasiennya kalo pasiennya punya HIV. Suster ICU panik dan bilang nggak mau ruangannya dimasukin, alasannya pasiennya penuh. Mantri UGD marah coz tau si suster ICU cuman pura-pura kepenuhan, padahal pasiennya di sana stabil semua dan udah bisa dipindahin ke kamar biasa. Ini ada pasien yang butuh ICU, ya harus jadi prioritas tinggi.

Malam itu juga, pasien syok jantung itu masuk ICU. Gw denger di sana dia tidur dengan nyenyak.

Besoknya, dan sepanjang sisa minggu itu, perawat-perawat geger semua coz ICU dimasukin OHIDA. Termasuk boss gw ngamuk ke gw coz dia nggak sadar bahwa kode yang gw laporkan semalam adalah kode untuk penderita HIV. Menurut kemarahannya yang nggak karuan itu, orang kalo punya HIV tuh jangan dirawat di tempat kita, tapi harus langsung dirujuk ke rumah sakit pusat malam itu juga.

Gw marah sekali, coz menurut gw, malam itu pasien itu nggak boleh dilempar ke rumah sakit lain. Dia syok jantung, demi Tuhan! Jadi harus dimonitor ketat! Apa gunanya dirujuk ke tempat lain kalo di perjalanan ambulans tau-tau dia tewas gara-gara syoknya belum stabil? Kalo kita punya ICU yang bisa merawat pasien syok kardiogenik sampai stabil, kenapa harus kita tolak merawat pasien itu cuman gara-gara dia punya HIV?

Lalu gw menyadari bahwa kemarahan orang-orang itu lebih karena factor sosial: Mereka panik karena nggak siap ICU tempat kerjanya dimasukin penderita HIV.

Sudah hampir dua tahun peristiwa itu berlalu, dan gw sudah keluar dari tempat itu, tapi gw masih mengingatnya dengan jelas. Masalah besar seorang penderita HIV ternyata adalah stigma yang mengusir mereka dari kehidupan normal sebagai manusia. Pasien yang gw urus malam itu ternyata bekas pecandu narkoba, dan bisa jadi lewat situlah dia ketularan HIV. HIV itu nampaknya bikin badan dia jadi nggak beres, sehingga dia jadi lebih gampang sakit paru-paru. Makanya dia berobat ke Klinik Teratai, sebuah klinik khusus penderita HIV, supaya bisa dapet obat antiretroviral buat ngilangin HIV-nya itu. Dia sengaja nggak bilang ke keluarganya bahwa dia ngidap AIDS, mungkin coz dia takut dijauhi keluarganya.
Perjuangan untuk melepaskan stigma jelek yang nempel dengan lengket di dada penderita HIV, ternyata masih dapet tantangan dari kaum medis sendiri. Banyak dokter dan perawat yang paranoid kepada HIV, sehingga mereka bahkan tidak mau merawat penderita yang cuman butuh infus sekalipun. Padahal penderita HIV juga sama seperti pasien-pasien lain yang butuh pengobatan.

HIV hanyalah virus. Kalo kita tau cara menghindari penularannya, kita nggak akan pernah ketularan. Sekarang yang jadi problem, kalo rumah sakit aja masih pilih kasih kepada penderita HIV, lantas orang mana lagi yang bisa dipercaya buat merawat mereka?

Ditulis untuk Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2009.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

42 comments

  1. Sebenarnya, pekerjaan gw akan jauh lebih gampang kalo aja semua pendukung medis saat itu mau bersikap biasa-biasa aja kepada penderita HIV. Tapi ya itulah, kadang-kadang suka takv keluarganya parno, dan rumah sakitnya ikutan parno juga. Nggak asyik banget.

  2. ~ jessie ~ says:

    I love this posting!!!
    Memang nggak banyak orang yang mau nerima pengidap HIV yah.. kasian mereka, mengidap penyakit itu sendiri sudah jadi suatu beban, apalagi jika ditambah dengan orang2 yg menghindari dia.. very understandable kalo dia ga cerita ke keluarganya 🙁

  3. Hahaha! Setau saya sih, kurikulum SMP memang belum mencakup tentang virus. Jadi nggak pa-pa sih anak SMP masih ngira begitu. Tapi kalo yang ngomong gitu anak SMA kelas 1 aja, pasti saya nanya, "Guru biologimu namanya siapa, Dek?" Hahaha..

  4. almahira says:

    kemarin ngisi materi tentang kespro buat anak2 kelas 3 SMP. ada yang nanya: teh, katanya kalau HIV bisa nular lewat keringat. waduh!

    banyak yang belum tau emang, dan itu buat miris…

  5. dilla says:

    susah juga ya kalo orang-orang medis aja masih belum bisa nerima orang-orang yang menderita HIV 🙁 mereka aja belum mengerti sepenuhnya, apalagi masyarakat luas…
    postingannya bagus ")
    salam kenal ya! 🙂

  6. Hm, saya bengong. Kalau begitu, Indonesia dan Malaysia punya masalah yang sama, yaitu diskriminasi kepada penderita AIDS. Padahal kurang apa pendidikan masyarakat atas AIDS ini sampai ketidakpahaman mereka berakibat tindakan kejam kepada orang lain?

  7. Tompinai says:

    Ya..Vick, kalau malaysia..memang istilahnya dadah..istilah nakotik juga sering digunakan tapi tak begitu kerap.

    Nampaknya rehat blog itu akan berakhir tidak lama lagi..hihi..

    Apa yg berlaku disana sama juga disini…sering meminggirkan pesakit2 ini. Namun itulah manusia..harap suatu masa nnti manusia akan sedar…

  8. Waduuuuh…
    kalau suatu saat nanti saya bangun rumah sakit, mohon mbak vicky jangan sungkan untuk langsung mengajukan diri jadi dokter disana… saya akan menerima dengan riang gembira, wuakakaka…

  9. Hai, Pak. Saya baru sadar bahwa istilah Malaysia untuk narkotika itu "dadah" ya?

    Tiap orang punya masa lalu, dan kadang-kadang mereka melakukan hal buruk di masa lalunya. Tetapi itu tidak memberi kita hak istimewa untuk menghukumnya dengan tidak memberikan pertolongan yang menjadi haknya.

    Terima kasih sudah datang lagi, Pak Tompinai. Rehat blognya sudah selesai, bukan?

  10. Tompinai says:

    Hi Vick,
    Nice story…inilah kehidupan..bila yg memerlukan sering diabaikan..Hanya kerana takut…nyawa jadi taruhan. Mungkin kita bole salahkan si pengidapnya kerana tidak berfikir panjang seblum melibatkan diri dengan penyalahgunaan Dadah.. namun itu bukan hak kita sebagai manusia..selayaknya kita..mengasihi mereka semua semampu yang mungkin…

  11. Desi Eria R. says:

    eh iya hari ini hari AIDS sedunia ya.
    padahal tahun2 kemarin aku masih suka pake tanda di gambar itu tiap hari ini.
    *gara-gara udah ga himpunan heuheu.

    aku pernah dapet kuliah HIV dari pak primal yg di RSHS mba, kenal ga? hehe. aku ikut prihatin kalo ternyata orang medisnya sendiri masih ada yg berpikiran begitu. mudah2an kita ga masuk yg kaya gitu mba 😀

  12. depz says:

    kalo d RS aja kayak gtu
    wajar kalo org2 yg di luar yg ga ngerti HIV n AIDS semakin memarjinalkan OHIDA
    menyedihkan vik

  13. RanggaGoBloG says:

    lima jempol buat mbak vic.. semoga mbak vic kelak jadi dokter yang bisa mengayomi pasien siapa saja dan dimana saja…

    salut mbak…

    berbicara HIV, menurut saya harus lebih getol lagi dikampanyekan… karena masih banyak orang yang gak tau tentang HIV,,, maka dari itulah mungkin pengucilan terhadap OHIDA masih banyak terjadi dimana mana…

  14. REYGHA's mum says:

    Ikut berdebar debar bacanya membayangkan dirimu dalam situasi itu…tapi untung dirimu punya mental baja ga panik dan ga ilang ilmunya…Selamat berjuang terus di dunia kesehatan ya. Koq bisa ya ahli medis itu nggak hapal cara penularan HIV …

  15. *ketawa denger temen Ayu nggak mau diajak ke Sanur*

    AIDS itu ada di mana-mana. Di pantai, di gunung, di perempatan jalan, di supermarket, di kantor, bahkan di mesjid.

    Mudah-mudahan peringatan Hari AIDS ini memberi pelajaran buat semua orang bahwa cara terbaik mencegah penularan AIDS adalah dengan menjauhi virusnya, bukan menjauhi penderitanya.

  16. Itik Bali says:

    Stigma tentang jijik terhadap pasien HIV itu telah berkembang di masyrakat awam mbak..
    ini temen saya sendiri, dia sudah mahasiswa. Diajak maen ke pantai sanur, dia bilang..Ga ah, disana banyak AIDS..nanti tertular!!
    GIlaa!!

    Tapi baca postingan mbak Vicky,
    tentang tenaga medis yang masih punya stigma seperti itu rasanya prihatin juga

  17. Dokternya ada tiga:
    1. Dokter UGD (saya)
    2. Dokter spesialis penyakit dalam (boss saya, bertanggung jawab untuk kasus HIV)
    3. Dokter jantung (boss saya yang lain, bertanggungjawab untuk syok kardiogenik)

    Yang ngamuk adalah dokter jantung, coz beliau nggak paham atas kode diagnosa HIV.

    Yang berkuasa atas ICU adalah dokter anestesi, tapi yang berhak memerintahkan pemasukan pasien ke ICU adalah boss-boss saya itu.

    Itulah repotnya kalo pasien ditanganin dua spesialis sekaligus, bisa terjadi friksi di rumah sakit.

  18. mawi wijna says:

    Kok kontradiksi dengan pernyataan boss dokter;

    "Malam itu gw telfon ke boss gw yang spesialis penyakit dalam dan melapor ada pasien HIV masuk dalam keadaan syok kardiogenik. Obat HIV nggak ada di rumah sakit kita. Lalu kata boss gw, beresin dulu itu syok kardiogeniknya, nanti urusan HIV-nya belakangan. Yang penting tuh pasien malam ini harus hidup."

    Jadi sebenernya ada berapa dokter dan dokter mana yang ngamuk? Dokter mana pula yang punya kuasa ICU?

  19. Pasien itu cuma menginap semalam di rumah sakit, Mas. Besoknya, dia sudah bisa jalan sendiri dan boleh pulang. Aku nggak tahu kabarnya lagi sampai sekarang.

    Kalo dipikir-pikir, malam itu aku sudah takut bahwa dia akan meninggal di UGD-ku. 🙂

  20. Iya, Mbak. Hatiku hancur waktu sadar bahwa ternyata tempat kerjaku itu menganut diskriminasi kepada penderita AIDS. Mudah-mudahan ini tidak ditiru oleh rumah-rumah sakit lain. Kepandaian ilmu ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan rasa kemanusiaan.

  21. Newsoul says:

    Menjadi dokter atau profesi apapun memang butuh juga melepaskan diri dari stigma. Setidaknya demi sesuatu yang disebut rasa kemanusiaan, menyelamatkan nyawa seorang anak manusia. Nice post.

  22. Fanda says:

    Ternyata para tenaga medis yg notabene mengerti seluk beluk HIV pun masih punya stigma negatif pd penderitanya ya, gimana lg dgn awam yg ga ngerti apa2?

    Semoga tulisanmu menyadarkan kita semua, bahwa HIV adalah penyakit yg bisa menimpa siapa saja tanpa kecuali. Dan bahwa pasien HIV tetap punya martabat sebagai manusia seperti pasien penyakit lainnya.

  23. Ya itulah akibatnya kalau susternya bolos waktu kuliah HIV, jadinya nggak ngerti bahwa nggak perlu takut sampai berlebihan. Bolos kuliah -> bodoh -> takut -> kejam kepada pasien.

  24. TRIMATRA says:

    HIV memang cuman pirus penyebab sakit tapi yang ini pirusnya menjijikkan , jadi mungkin pada menghindar. takut ketularan kali yah,,

  25. Arman says:

    yah dilema emang ya… sebenernya suster2nya juga pasti tau gimana cara penularan hiv, dan gak akan menular begitu saja. tapi ya namanya orang, tetep aja takut kali ya….

    di lain pihak, kasian penderita nya… gak fair buat mereka…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *