Sok Eksklusif

Orang-orang ini harus berterima kasih kepada wartawan karena mau menuliskan pameran mereka di koran mereka. Kalo enggak, bisa dijamin gw nggak akan dateng ke sini, kemaren.

Gw nggak bisa gambar. Gambar yang bisa gw bikin adalah pemandangan gunung a la anak TK, tau sendirilah, dua gunung di tengah, lalu di bawah gunungnya itu ada sawah yang pake sengkedan, truz di antara kedua gunung itu ada mataharinya, dan mataharinya pake mata segala. Sewaktu SD, gambar gw lebih kreatif, coz di masing-masing pucuk gunung itu ada saljunya pake gletser. Lalu gambar sawah di bawahnya itu nggak melulu gambar rumput berhuruf V, tapi karena gw sudah mengenal beberapa macam pohon, jadi gw gambar pohon kelapa dan pohon cemara. Bayangin, cuman di gambar gw, bisa terjadi sebuah lembah di mana di sana ada gunung bersalju dan pohon kelapa sekaligus.

Oh ya, gw juga bisa gambar peta yang nunjukin jalan dari rumah gw ke stasiun kereta api Kebon Kawung. Ini karena gw sering jadi guide buat orang-orang dari luar kota yang suka kesasar kalo jalan-jalan ke Bandung.

Cukup sampai di situ aja kemampuan gw akan seni lukis. Maka gw susah banget ngerti kenapa sebuah lukisan bisa dijual mahal dan digantung di ruang tamu, padahal tamunya sama sekali nggak ngerti ini gambar apa. Jadi gw kepingin belajar, karena itu gw mulai rajin nyambangin pameran-pameran lukisan. Modal gw cuman modal dengkul dan kamera di tangan. Gw berharap, di pameran itu, gw bisa belajar sesuatu.

Lalu gw mendarat di tempat ini. Di konsulat Perancis di Bandung, kemaren lagi digelar pameran lukisan bertajuk Influence. Pas gw dateng, pengunjungnya cuman gw doang. Nggak ada yang nyambut gw, bahkan meja buku tamu nggak ada penunggunya. Ada sekitar 20-an lukisan yang dipamerin.

Lalu gw menyatroninya satu per satu. Gw deketin lukisannya, lalu gw pelongin. Uh, nggak ngerti. Truz gw mundur, melongin tuh lukisan dari jauh. Masih nggak ngerti juga. Gw pindah ke lukisan berikutnya. Masih juga nggak ngerti. Gw malah kayak orang lagi nyoba kacamata baru di optik. Ngeliat tiga meter, nggak keliatan. Ngeliat dua meter, masih nggak keliatan. Ngeliat satu meter, jauh lebih nggak keliatan lagi. Mana yang bener sih?

Satu-satunya lukisan yang bisa gw apresiasi dengan baik, hanya lukisan ini. Dua orang pacaran, yang satu megang laptop, yang satunya lagi megang HP. Judulnya Do You See Intimacy?, karya Sahrul Ananto, dibikin tahun 2009. Lukisan ini bikin gw ketawa, coz gw merasa kesindir. Bagaimana dua orang bisa disebut cinta kalo masing-masing cuman mikirin isi Twitter-an masing-masing?

β€œSalah kau sendiri, Vic,” ujar suara Little Laurent dalam hati gw. β€œIni pameran buat komunitas pelukis, bukan buat orang awam macam kau. Satu-satunya lukisan yang bisa kau mengerti cuma gambar perjalanan sirkulasi darah di vena cava inferior, karena itu memang pekerjaanmu.”

Mungkin akan lebih baik, kalo pengunjung awam macam gw dikasih petunjuk tentang lukisan itu. Minimal ada buku petunjuknya lah. Atau ada semacam pemandu wisata yang ngasih informasi ke pengunjung tentang apa maksudnya mereka melukis ini. Jadi sebuah pameran nggak mesti menjadi milik sok eksklusif buat komunitas pelukisnya doang, tapi juga bisa kasih bahan pengetahuan baru buat orang-orang yang bukan pelukis.

Dan semestinya, gw bisa dapet kesan yang cukup bagus sesudah liat pameran lukisan, bukan cuman sekedar motretin diri gw doang.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

30 comments

  1. Hai Bung Matalebam, terima kasih udah baca tulisan saya.

    Buletinnya Harumanis itu ada di tangan saya waktu saya nulis blog ini. Dan meskipun Pak Siregar sudah memberikan editorial yang bagus dalam 200 One Dollar Bills-nya itu, tetap saja itu tidak menjawab ketidakmengertian saya akan lukisan-lukisan sablon itu. Orang awam macam saya perlu dibantu, Bung Matalebam, supaya kami bisa mengerti apa yang diekspresikan oleh keenam pelukis yang berpameran di CCF itu. Karena ada orang-orang yang bukan pelukis, tapi juga ingin belajar memahami karya pelukis. Dan memahami tidak cukup dari membaca buletin yang dibagikan, apalagi kalau buletinnya bukan spesifik mengenai pameran yang bersangkutan.

    Hikmah dari sini adalah, maukah para seniman membagi interpretasinya kepada orang lain supaya orang lain bisa memahami apa yang dia ekspresikan?

  2. Anonymous says:

    matalebam : hi Vicky, saya udah baca tulisan km,hmmm…saya pikir sudah hal yng umum bagi pameran-pameran senirupa dimana tema masing-masing karya tidak termaktub secara detail, sebab setau saya kalo itu dirinci secara detail maka kebebasan berapresiasi akan hilang, dalam artia seniman malah cenderung egois karena tidak mau menerima dan terbuka dengan heterogenitas interpretasi setiap orang.sebab bagi saya kotak berpikir seniman itu adalah kotak hitam, bukan kotak bening sepeerti para ilmuan dan ahli sains.

    terkait dengan pemeran ini, saya tau ttg pameran ini, secara umum mereka cukup memberikan guideline dalam prolog pemeran mereka di bulletin CCF, jika kamu leboh jeli km bisa baca juga bulletin harumanis yg mereka sebarkan secara cuma-cuma pas pameran berlangsung, disana ada catatan pengantar dari Aminudin TH siregar ttg pameran ini, saya pikir tak usah saya umbar lagi disini, hmmm baiknya coba deh km telisik lagi….

  3. Elsa says:

    samaa…. aku juga gak ngerti sama sekali sama lukisan yang model begituan. lukisan pemandangan aja deh, kaya yang di bali gitu. baru bisa menikmati. soalnya kayak foto biasa. hehehehee
    otak nih tumpul kalo masalah beginian!

  4. REYGHA's mum says:

    Komposisi warnanya bagus gambarnya bagus…**Pak Tino Sidin mode on** selebihnya ngga ngerti. Tapi jangan kapok liat pameran lukisan mudah2an makin lama makin ngerti dan pinter nerjemahin karya lukis

  5. Jujur aja, ketimbang pameran lukisan, saya masih lebih seneng pameran fotografi. Foto dan lukisan hampir sama anehnya, tapi setidaknya dalam foto saya masih ngerti obyeknya itu apa.

    Dalam salah satu lukisan yang saya potret di atas, ada gambar muka orang dengan satu mulut dan dua mata. Tapi setelah diteliti seksama, ternyata matanya itu gambar mulut juga. Entah apa maksudnya, hahaha..

  6. morishige says:

    pameran lukisan yang pernah saya datangi baru pagelaran lukisan angkatan waktu SMA. untung yang bikin lukisan orang-orang awam semua. jadi kalau nggak lukisan buah2an, pemandangan yang jadi objek. gak berat2 amat buat dinikmati. :mrgreen:

    nah, beberapa bulan yang lalu saya iseng pergi ke pameran fotografi anak2 ISI Yogyakarta. Asli, aneh-aneh fotonya. πŸ˜€

  7. henry29 says:

    haha…stuju2 mba, kalo pengen dimengerti gambar pemandangan gunung aja yah…trus pamerannya biar ga disebut "sok ekslusif" di pasar aja biar rame pengunjungnya….

  8. latree says:

    bahasa seni kadang yang ngerti memang penyampainya sendiri. kadang penikmat merasa bisa menerjemahkannya, tapi belum tentu tepat juga seperti yang dimaksud si empunya.
    santai saja…

  9. sampai sekarang saya masih ga ngerti koq lukisan bisa di hargai sampai ratusan juta memang apa sih yang menimbulkan daya tarik lukisan sehingga orang berani membeli sampai ratusan juta

  10. Arman says:

    Sama vic, gw juga gak ngerti lukisan, apalagi kalo abstrak. Aneh deh lukisan begitu kok bs mahal.

    Btw melongin itu apa ya? Maksudnya melototin gt ya?

  11. Mbak, aku ke pameran ini coz koran-koran memberitakannya seolah-olah pamerannya rame sekali. Koran dan tivi suka gitu, atau kita aja yang terlalu terkesan sama berita di media ya?

  12. reni says:

    Aku belum pernah sih melihat pameran lukisan..
    Tapi kalo yg di TV kok pas pameran lukisan ramai ya ? Bahkan pelukisnya pun ada di situ dan bisa menjelaskan tentang lukisannya.

  13. Jiahahaha! "Eksistensi tersembunyi"? Istilah yang aneh..

    Mendadak jadi punya ide nih. Kayaknya saya mau ngelukis gambar meja dan gelas juga. Truz kepada tamu-tamu saya mau bilang, "Ini harganya 40 juta lhoo.."

  14. insanitis37 says:

    Ya biasa sih teh karya2 kaya gitu. istilah temen sy sih yg kadang suka perform di sana disebutnya eksistensi tersembunyi! ada2 aja ya, hehehe (gak eksis dong kalo tersembunyi mah)

    Salam kenal, makasih atas apresiasinya ya.
    Saya juga mengakhiri masa "gila" di bandung, hehe

  15. hmmm… setuju terkadang suka bingung juga sama lukisan yang aneh-aneh tapi harganya sampe 40 juta segala… busyeeet… padahal gambarnya cuma meja ama gelas.

  16. Hahaha! Lukisan-lukisannya memang rada bikin bingung. Mereka nampaknya menghamburkan terlalu banyak cat dengan satu warna untuk gambar yang berbeda dalam satu kanvas. Nggak heran kita-kita yang bukan pelukis juga pada nggak ngerti..

  17. Hehe.. kunjungan pertama ^^
    Setuju: lukisan yg biru itu menohok banget :p Saya juga ga gitu paham seni lukis, cuma seneng kalo gambarnya bagus/paduan warnanya menarik, enak deh diliat mata πŸ˜€

  18. Pelukisnya maupun kuratornya nggak ada di situ. Pamerannya digelar sekitar tiga minggu, apa mereka mau ngeronda di TKP sepanjang hari sampai malem?

    Justru di situlah tantangannya. Membuat komunikasi dengan pengunjung awam tanpa harus mengandalkan SDM-nya di tempat. Sudah cukup susah bikin lukisan yang nggak komunikatif, mosok mau diperparah dengan pameran yang nggak komunikatif pula?

  19. fahmi! says:

    mungkin kamu dateng nggak di saat yg tepat. kalo ada pameran lukisan, biasanya pelukisnya juga ada di (sekitar) situ. kadang njawab pertanyaan pengunjung, kadang nyelinap seliweran diantara pengunjung, sambil nguping komentar mereka secara rahasia.

    ato kalo bukan pameran solo, rame2 beberapa seniman, ada kuratornya. paling enggak bisa ditanya2 maksudnya apa tuh karya seni yg dipamerkan.

    eh tapi aku punya teman pelukis juga di sby sini. namanya agus koecink. karyanya malah lebih abstrak daripada yg kamu jepret itu. kalo aku tanya tentang lukisannya, dia ga bisa njawan, dia cuman bisa cengar cengir cengengesan aja. tau2 besok henfonnya baru. siyal!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *