Pelindung Jarum Tumpul

Sekarang banyak orang jadi be-te dengan kebijakan Departemen Kesehatan mengenai sosialisasi kondom buat mencegah penyebaran HIV. Minggu lalu sebuah sekolah di Maluku bikin geger gara-gara murid-muridnya demo menentang pengadaan kondom di kota itu. Menurut dalil mereka (yang cuman dipahami setengah-setengah itu), kondom tidak bisa mencegah penyebaran HIV, tetapi hanya akan membuat hobi seks bebas di antar para pria dan wanita beridung belang makin menggila.

Kemaren gw dateng ke seminar peringatan Hari AIDS dan mendapat berita baik dan buruk. Berita baiknya, jumlah presentase kasus HIV yang ditularkan melalui penggunaan jarum tajam (sebutan kami buat narkotika atau suntikan yang nggak steril) ternyata sudah menurun. Jumlah presentasenya yang menurun lho ya, bukan jumlah kasusnya. (Kalo jumlah kasusnya sih, syukurlah sudah naik!). Artinya, penjahat paling banyak dalam penularan HIV kali ini sudah bukan penggunaan jarum suntik tajam lagi.

Lha emangnya ada penularan melalui jarum yang nggak tajam? Ada dong. Justru itu berita buruknya, bahwa penjahat paling banyak dalam penularan HIV kali ini adalah penularan melalui jarum tumpul alias torpedonya para pria. Artinya jumlah presentase kasus HIV yang paling banyak tahun ini adalah penularan yang ditularkan melalui hubungan seks yang tidak aman alias tanpa menggunakan pelindung.

Oleh sebab itu, supaya nggak lebih banyak lagi orang-orang yang ketularan virus nista ini, maka Departemen Kesehatan mengkampanyekan kondomisasi di seluruh Indonesia. Dan kampanye ini banyak ditolak mentah-mentah, terutama dari kalangan yang (mengaku) religius. Apa sebab? Menurut mereka, jika orang-orang disuruh pake kondom, itu malah seolah mengijinkan mereka berhubungan seks dengan illegal bersama pasangan-pasangan yang tidak resmi. Plus, mereka berpegang pada dalil lama bahwa diameter virus HIV itu masih kalah kecil ketimbang diameter pori-pori kondom, jadi virus HIV masih bisa bocor dalam suatu hubungan seks biarpun hubungan tersebut sudah memakai kondom sebagai pelindungnya.

Kami para dokter sebenarnya sudah mulai jenuh dengan dalil nyebelin ini, apalagi kalo ini ditanyain para pasien yang meragukan kemampuan kondom buat menalangi penyebaran HIV. Lha mosok orang yang sudah punya HIV nggak boleh berhubungan seks? Hubungan seks itu adalah hak asasi manusia lho. Nanti kalo kami melarang orang ber-HIV berhubungan seks, bisa-bisa kami dilaporin ke Komnas HAM.

Kolega gw ngasih tips ini, dan langsung gw praktekin kemaren. Jadi gw beli kondom di apotek, lalu pulang-pulangnya gw isi tuh kondom pake air. Gw isi air yang banyak, lalu gw liatin sekujur kondom itu, dan ternyata, nggak ada air yang bocor via pori-pori kondom. Tentu saja ada air yang tumpah dari mulut kondom, tapi intinya nggak ada air yang bocor via pori-pori kondom.

Bandingkan dengan air mani, coz air mani itu kan lebih kental ketimbang air. Jika kondom disarungin ke seluruh torpedo, lalu dari torpedo itu keluar air mani, dan kebetulan air mani itu mengandung HIV, maka bisa dipastikan sampai kapan pun tuh HIV nggak akan keluar-keluar dari dalam kondom sehingga sampai menular ke alat kelamin pasangannya. Air biasa aja nggak akan keluar dari kondom, apalagi air mani yang lebih kental ketimbang air biasa? Jadi, kondom itu aman.

Bagaimana dengan dalil yang bilang bahwa sosialisasi kondom hanya akan memicu perilaku seks bebas? Hm, ini yang repot. Sejauh ini, kampanye pencegahan penularan HIV melalui hubungan seks ini hanya dipahami setengah-setengah oleh orang awam ekstremis. Kampanye ini sebenarnya berbunyi A-B-C yang selengkapnya begini:

A: Abstinence. Absen dari hubungan seks, jika merasa tidak bisa berhubungan seks dengan aman. Artinya, kalo memang merasa punya HIV, SEBAIKNYA jangan berhubungan seks.

B: Be Faithful. Setia kepada SATU pasangan yang SAH. Artinya janganlah punya pasangan seks lebih dari satu. Dan kalo sudah punya, pastikan bahwa dia legal jadi pasangan Anda.

C: Condom. Baru pake kondom, kalo memang kepepet banget. Artinya, kondomisasi ini adalah langkah terakhir kalo langkah A dan B di atas sudah nggak bisa lagi diandalkan.

Akhir kata, gw akan bilang, kondomisasi nggak akan bisa memicu seks bebas. Coz, seks bebas terjadi bukan karena kondom gampang diakses, tetapi seks bebas terjadi karena memang pelakunya aja udah dari sononya punya mental untuk melakukan itu. Artinya, ada atau nggak ada kondom, selama ada keinginan, pasti dia akan melakukan. Jadi kalo mau memberantas perilaku hubungan seks, mentalnya dulu yang kudu digodok, bukan kondomnya. Kondom hanya mencegah penularan HIV saja, bukan mencegah seks bebasnya.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

27 comments

  1. Hehehe..iya, kampanye Be Faithful ini yang mestinya disebarkan ke banyak orang. Sayang ya, belum ada produk hukum yang tersedia buat menjerat suami-suami yang tidak setia. 🙂

  2. bidun says:

    B- Be Faithful, tapi pastikan bukan cuma anda yg be faithfull. Kalo gak ya sama aja bo'ong. Spt kasus ibu rumahtangga yg sudah be faithfull tp tnyata suaminya tidak, dan baru tau kalo terkena HIV setelah balita mereka HIV positif, -kisah nyata spt yg diceritakan pediatrician di bogor-, hiks sedih
    regards,
    bidun

  3. Ikut prihatin dengan kondisi di Malaysia sana, Pak.

    Sejak awal, sudah jadi budaya di banyak bangsa bahwa seks diartikan sebagai sesuatu yang kotor, padahal Tuhan menganjurkannya untuk kepentingan menciptakan anak dan menyalurkan kasih sayang dengan tuntunan lengkap sesuai sunnah Nabi. Jika ini dilakukan dengan benar, tidak akan ada pemikiran seks sebagai tindakan kotor, yang kemudian mengakibatkan alat-alat seks yang terkait (seperti kondom, misalnya) diartikan kotor juga.

    Fungsi kondom pada dasarnya ialah mencegah air mani membuahi telur. Tapi kini juga bisa digunakan untuk mencegah penyakit kelamin yang ditularkan melalui air mani.

  4. Tompinai says:

    memangnya sudah menjadi sikap manusia ini, yg memikirkan perkataan 'kondom' sebagai sesuatu yang jelek.

    biar sebanyak mana usaha utk menyedarkan kepentingan dan kebaikannya,pasti akan terarah ke pemikiran tentang seks yg tidak terkawal.sedangkan tujuannya adalah untuk pencegahan bukan saja dari Adis,juga dari penyakit kelamin yg lain.

    Vic, keadaan yg sama juga dialami di sini.

  5. Hihihi! Harganya Rp 2.500,- dapet tiga.

    Pengobatan AIDS sekarang:

    1. Terapi infeksi oportunisnya dulu. Kalo ada kandidosis, beresin jamurnya dulu. Kalo ada TBC, kasih RHEZ dulu.

    2. Setelah dua minggu, baru mulai terapi antiretroviral sampai seumur hidup.

    Angka kesembuhannya masih dalam penelitian. Kalo infeksi oportunistik udah hilang, penderita akan sehat seperti sedia kala.
    Terapi anti retroviral akan menghambat pertumbuhan virus yang ada, sehingga sel-sel imun yang tugasnya melawan virus bisa berkembang terus (medis: CD4 > 500), dan jika ini dipertahankan, virus HIV tidak akan terdeteksi lagi dalam tubuh. 🙂

  6. Bengong aku liat fotomu. Itu kondom kok kecil banget ya? Ukurannya S ya? Hihihih..BTW, harganya berapa skr? 😀

    Yah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Mmm, AIDS udah bisa diobatin gak sih skr?

  7. I like Fertob. Hebat! 🙂

    Saat ini, ditargetkan program kondomisasi ini mencapai hasil 100%. Maksudnya 100% itu bukan seluruh penduduk Indonesia pake kondom, tapi ditargetkan 100% dari kalangan yang beresiko tinggi tertular HIV. Kalangan beresiko ini meliputi pengguna narkoba, pekerja pelacuran, dan kaum homoseksual. Jadi penyebaran kondom tidak meliputi orang-orang di luar kalangan itu.

    Bener banget yang dibilang Fertob bahwa pilar untuk mencegah penularan HIV adalah perbaikan moral dan kondom. Perbaikan moral itu idealnya, kondom itu realitasnya. Dua hal itu mestinya nggak boleh jalan terpisah.

    Kita nggak memungkiri paranoia bahwa kondom akan disalahgunakan buat memperparah fenomena seks bebas. Tapi kalo kita mau berbaiksangka kepada para pemangku kepentingan terkait yang udah susah-payah mengkampanyekan kondomisasi ini, kita akan paham bahwa kondomisasi ini akan efektif buat menurunkan penyebaran HIV di kalangan orang beresiko tinggi.

    Akhirnya, kita akan ngerti, bahwa yang mesti diberesin di sini adalah mental untuk melakukan hal-hal ilegal dulu. Coz tanpa perbaikan mental itu, sosialisasi kondom akan sia-sia juga.

  8. Iya….kita harus menumpas tuntas segala bentuk seks yang terlarang atau ilegal…keberadaan kondom atau alat kontrasepsi sebenarnya hanya upaya antisipasi secara fisik…selebihnya kita harus memerangi gejolak dalam diri kita agar selamat dari bahaya HIV aids…. salam knal mbak…

  9. jensen99 says:

    Wah, saya terlambat baca. Dua tahun lalu pernah ada perdebatan soal kondom dan moralitas ini di blogsfer. Linknya disini dan disini. Jangan lupa baca komen2nya, terutama post pertama. 😉
    Recomended lho vic! 😀

  10. Saya nggak tau apakah pelaku seks bebas pake kondom atau nggak. Orang-orang itu nggak ngajak saya temenan sama mereka, hahahah..

    Mari kita tanyakan kepada pelaku seks bebas yang bergoyang..

  11. RanggaGoBloG says:

    kalo boleh nambahin… setau saya mah para pelaku sek bebas malah gak suka pakai kondom…. benerkah…?? its reality…

    kecuali para PSK, mereka "terpaksa" pake kondom untuk menyelamatkan properti mereka satu satunya…. hehehehe….

  12. Saat ini kampanye kondomisasi yang digembar-gemborin Departemen Kesehatan udah menggandeng banyak pemuka agama. Jadi Depkes seksi kampanye kondomnya, sedangkan kaum rohaniawan yang seksi kampanye anti seks bebasnya. Memang kalo mau membasmi penularan HIV, akan jauh lebih afdol kalo membasmi seks bebas dulu. Sekarang yang jadi problem, gimana mau membasmi seks bebas, kalo mental ketidaksetiaan-pada-monogami masih ada di mana-mana..

  13. de asmara says:

    mungkin kampanye atau iklan2 yg menggembar-gemborkan pemakaian kondom harus berbanding lurus dg kampanye anti seks bebas… tentunya dg cara yg tidak menggurui & tidak basi.
    sbnrnya kl pada mau mikir dikit aja, bukankah lbh baik memberantas akar masalah drpd repot nyopot2in ranting2nya? sayang memberantas akarnya ini seringkali dianggap 'picik' dan 'sok suci' :'(

  14. sibaho way says:

    bicara HIV vic, jadi inget percakapan sama istri. saya nanya, klo saya mati muda, kamu nikah lagi nggak? dia jawab: ya jelaslah ! sambil ngakak… merasa menang. saya bilang lagi: mana ada yang mau, orang pas mau mati aku nyebarin gosip klo aku menderita HIV :))

  15. Semua ikhtiar ntuk menekan jatuhnya korban layak dilakukan …
    Mulai dari yang namanya penggunaan kondom sampai dengan penanaman nilai-nilai moral.
    Pilihannya ada pada sang individu.

    Postingannya sip deh bu dokter

  16. Ada dua macam penularan HIV, yaitu melalui darah dan melalui hubungan seks. Pada hubungan seks, HIV ditularkan jika air mani seseorang yang mengandung HIV masuk ke dalam tubuh orang lain. Tidak selalu harus berupa peristiwa gesekan yang kemudian menimbulkan iritasi. Jadi kalau penis memasukkan sperma masuk ke vagina, dan kebetulan spermanya itu mengandung HIV, maka HIV akan meloncat masuk ke vagina dan hidup dalam tubuh perempuan bersangkutan. Tidak masalah apakah spermanya kental atau encer, asal itu namanya sperma (mani), HIV bisa hidup dalam situ.

  17. ontohod says:

    eh emang air mani menularkan HIV ya? bukan kah HIV itu tertular melalui kontak darah? jadi gesekan antara kelamin itu yang bisa menimbulkan iritasi dan kemungkinan kontak darah sehingga menularkan virus HIV.

    jikapun iya yang saya liat air mani pun kekentalannya berbeda-beda, ketika 'prima' dan tidak

    mohon pencerahannya

  18. DJ, lu menjelaskan eksperimen air dalam kondom itu lebih baik dari gw. 🙂 Orang nampaknya cuman paham masalah perdiameteran HIV dan pori kondom itu, tapi nggak paham konsep "virus hanya bisa hidup dalam sel"-nya.

    Elsa, gw ketawa ngakak kalo inget kondom gratisan Jupe itu. Kenapa bonusnya mesti kondom ya? Gimana dengan yang abstinensia seks kayak gw, kan jadi nggak bisa make? Jupe betul-betul pilih kasih! Akan jauh lebih berguna kalo bonusnya bisa dipake tiap macam orang. Misalnya, bonus tiket masuk ke Dufan..

  19. Elsa says:

    yah yang penting sih… jangan melakukan seks bebas. jangan gonta ganti pasangan…

    jadi inget si Jupe yang ngasih kondom gratis di kemasan albumnya! gileeee…kurang kerjaan banget!
    hehehehehee

  20. dian says:

    Vic, kayaknya jadi ingat kuliah mikrobiologinya dr. Titi:

    Virus adalah organisme intraseluler. Virus cuma bisa hidup dalam sel. Termasuk HIV juga kan Vic?

    Jadi selama cairan tubuh ODHA yang kemungkinan ada sel-sel yang mengandung HIV, tidak kontak dengan sel tubuh yang sehat (karena pakai kondom–pada saat hubungan seksual), tidak akan terjadi penularan.

    Begitu kan logikanya?

    Virus HIV memang ukurannya lebih kecil dari pori-pori latex (bahan kondom). Tapi untuk ngelewatin pori2 itu, virus harus pakai sel-sel yang–untungnya–ukuran terkecilnya, masih lebih besar dari pori-pori latex.

    Ini mungkin penjelasan mengenai "experimen" kondom dan air itu.

    Tolong diralat ya Vic, kalo gw salah.

    –dj–

  21. mawi wijna says:

    Kondom itu hanya alat, sedangkan seks bebas itu moralitas. Mungkin ada baiknya diciptakan suatu alat ampuh yang bisa dipergunakan sebagai "kondom moral".

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *