Pengobatan Gratis yang Omong Kosong

Sekarang lagi ngetrend gerakan sejuta-sejutaan. Mulai dari gerakan sejuta Facebookers dukung Bibit-Chandra. Lalu gerakan semilyar dukung Polri (eh, itu masih ada nggak sih? Atau sekarang udah nggak laris lagi?). Ada juga gerakan sejuta dukung jihad Palestina. Gw sendiri bingung dengan gerakan sejuta-sejutaan ini. Gimana cara orang-orang ini ngumpulin dukungan massa online sampai sebanyak itu? Gw sendiri juga udah ikut-ikutan bikin gerakan sejutaan, namanya “Gerakan 1 Juta Facebookers Dukung Vicky Laurentina Jadi Mrs. Brad Pitt”, tapi entah kenapa sampai hari ini belum ada yang mau ikutan ngedukung.. :-p

Semalam, gw baru gabung dukung “Gerakan 1 Juta Dokter Menolak Kepala Dinas Kesehatan Bukan Tenaga Kesehatan!!” di Facebook. (Tadi malem gw dapet notification alert bahwa adminnya gerakan itu baru aja ngeganti namanya menjadi Dukungan Facebookers Menolak Kepala Dinas Kesehatan Bukan Tenaga Kesehatan. Sama aja sih, cuman ganti bungkus.)
Jadi begini, gerakan ini diinpsirasi dari rasa empati kepada dokter-dokter PTT yang dijelek-jelekin sebuah koran di Buton minggu lalu. Diceritain bahwa di Wakatobi, dokter-dokternya sering mangkir tugas, sering nggak ada di tempat, lalu ada yang minta bayaran pengobatan ke pasiennya, hal-hal seperti itulah. Tindakan ini dianggap jelek coz bertentangan dengan program birokrasi daerah setempat, karena menurut mereka, sedang digalakkan program pengobatan gratis.

Sebenarnya, dokter PTT mangkir dari tugas bukan hal yang aneh. Nggak usahlah bicara dokter. Misalnya Anda seorang tukang sapu aja, kalo gajinya nggak dibayar, apa Anda mau terus-menerus kerja nyapu di tempat itu? Tentu tidak. Dokter juga begitu, kalau gajinya telat nggak dibayar oleh Dinas, pasti ujung-ujungnya mangkir. Lha kalau nggak dapet gaji, mau makan apa?

Kenapa dokter sering nggak tinggal di Puskesmas? Sederhana aja. Sering keliatan di daerah-daerah terpencil bahwa Puskesmas itu letaknya di ujung dunia, jauh dari mana-mana. Nggak ada orang jual makanan, nggak ada air bersih, nggak ada kantor pos. Makanya dokter milih tinggal di rumah yang deket pasar, yang air sumurnya nggak cokelat, dan ada sinyal buat SMS-an. Kan kita semua udah diajarin waktu kelas 1 SMP dulu, bahwa ciri makhluk hidup adalah butuh makanan, butuh air, butuh komunikasi. Kalau Puskesmas jauh dari ketiga ciri di atas, lama-lama dokternya bisa tewas di situ.

Kenapa dokter minta bayaran pengobatan ke pasiennya? Oke, ini yang mesti diluruskan. Harus diketahui bahwa kadang-kadang sarana yang bisa diperoleh penduduk untuk berobat hanyalah Puskesmas itu. Siyalnya, obat-obatan gratis yang disediakan di Puskesmas sering banget nggak memadai. Misalnya penduduknya banyak yang sakit jantung, tapi di Puskesmas nggak ada obat darurat jantung. Terus, masih inget kan, dulu gw pernah nulis obat Puskesmas yang kadaluwarsa. Nah, karena dokter harus menolong pasien, maka dokter bertindak sendiri buat ngobatinnya. Cara yang paling sering ditempuh, dokternya jualan obat sendiri, nanti penduduknya tinggal bayar. Harga obat yang dijual dokternya bisa aja terhitung mahal, coz untuk mendapatkan obat itu di kota, dokternya mesti naik sampan tiga kali, terus naik elf dua kali, lalu nginep di losmen satu malem. Lha mau minta dukungan obat gratis dari Pemerintah? Lama. Bisa-bisa anggarannya baru keluar tahun depan, dan pasiennya sudah keburu tewas.

Kata kakak ipar gw, PTT itu Pegawai Tidak Tentu. Gajinya telat, manuvernya sulit, sekolah lagi juga susah. Lha istilah gw, PTT itu singkatan dari Penderitaan Tiada Tara.

Semua itu nggak perlu terjadi kalau pengobatan gratis yang dijanjiin pemerintah daerah ini dikelola dengan baik. Ya mengelola obat-obatannya, mengelola sistem pengobatannya, sampai mengelola manusia-manusia yang disuruh melaksanakan pengobatan gratisnya. Dan itu susah, apalagi kalau pengobatan gratis itu dicanangkan oleh dinas-dinas kesehatan yang kepalanya sama sekali bukan sarjana dari ilmu kesehatan.

Menurut gw, daripada birokrat-birokrat yang minim wawasan pengobatan itu bikin program pengobatan gratis, mendingan bikin program kesehatan gratis. Program kesehatan nggak melulu ngurusin pengobatan, tapi bisa menyentuh sisi pencegahan penyakit. Misalnya mencegah infeksi dengan nyuruh penduduk cuci tangan. Mencegah kematian ibu melahirkan dengan kampanye keluarga berencana. Mencegah kencing manis dengan demo masak menu makanan sehat. Mencegah kecelakaan dengan membagi-bagi helm gratis. Kalau penduduk sudah tau caranya mencegah penyakit, akan makin sedikit penduduk yang berobat, dan biaya pengobatan yang mesti ditanggung Pemerintah juga nggak akan besar.

Jadi, jangan cepat percaya dengan janji-janji calon birokrat manapun yang merayu soal pengobatan gratis. Pengobatan gratis itu omong kosong selama sistem pengobatannya sendiri masih amburadul. Jangankan pengobatan gratis, sama seperti sekolah juga nggak ada yang gratis. Bahkan, di dunia ini nggak ada yang gratis. Boro-boro, kita mau bernafas aja juga nggak gratis. Buat bernafas, kita butuh makan. Buat dapet makan, kita butuh uang. Buat dapet uang, itu harus ada usaha. Jadi, bernafas itu harus usaha, bukan gratis. Lha kalau bernafas yang cuman skala cemen aja nggak gratis, apalagi yang urusan gede macam pengobatan, gimana mau gratis?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

29 comments

  1. CCtoloh says:

    Ditempat saya banyak dokter yang mengundurkan diri dari jabatan struktural karena terlalu banyak hal mengenai upgrading dan downgrading yang tak mampu ditangani karena nurani menolak keras (era otot'nomi)

  2. Makanya saya nulis ini buat edukasi dikit-dikit bahwa pada dasarnya pengobatan gratis itu nggak ada, minimal ada uang administrasinya, jadi jangan langsung percaya. Rp 15 ribu buat admin itu kegedean, cuman buat bayar tukang ketik dan space buat nyimpen kartu medis di rak yang pengap.

    Wah, nggak bener tuh kalau orang udah gawat aja disuruh bayar down payment dulu sebelum diurus. Yang bener adalah tolongin dulu sampai stabil, sambil keluarga bayar administrasi. Admin lho ya, bukan bayar tindakan pertolongannya. Perkara bayar tindakan, itu belakangan.

  3. Pitshu says:

    dulu yg katanya KB gratis aja, ujung2 na ada duit adm segala… duit adm 15rb-35rb juga berasa buat orang yang kurang mampu 🙂
    emang susah di sini yang bener2 gratis itu langka banget 🙂
    orang udah gawat aja, di suruh DP dulu, baru di urus ^^
    *curcol*

  4. papadanmama says:

    setuju vicky…

    jaman skrg mah mana ada yg gratis
    klo sampe ada janji2 gratis, psti itu BOHONG BESAAAARRR

    sayangnya msh byk masyarakat kita yg mempercayai janji2 kosong tsb, menyedihkan yah

    salam kenal ya vick 'n thx atas kunjungannya 😀

  5. Bang Aswi says:

    Setuju! Percuma juga kalau dokter ngasih advice tapi nggak ngasih obatnya hehehe … Duh sulitnya jadi profesi apapun yang dibuang-buang kayak gitu. Welcome to the journey of hell ….

  6. Pitekkk..ngapain kau?? Kukira kau di Jambi!
    Gimana kau mau tolong orang kalau obatnya aja ndak ada? Ndak usah kau rombak itu Puskesmas jadi losmen gratis kalau ndak ada dananya, Pit, mereka kira cuci sprei yang ditiduri pasien itu ndak beli deterjen, apa? Pikir logis, Tek, selamatkan diri kau sendiri, kalau kau dipaksa kasih pengobatan gratis tapi ndak ada obat-obatnya, gimana kau mau pertanggungjawabkan pasien-pasien itu di akhirat ntar?

  7. pitek says:

    Vickyyyyyyy, apo kabar kau ni?
    Emang nianlah Vick, kita PTT disuruh kasih obat gratis tapi stoknya dak ada, mau ngasih apa??? Parahnya lagi ada daerah di tempat aku, dalam rangka pengobatan gratis, puskesmas disuruh gratis rawat inap tapi dak dapat dana dari pemda, walhasil orang demam baru 2 hari udah dirujuk ke RS.

  8. Itik Bali says:

    Ya kadang salahnya iklan layanan masyarakat juga mbak
    sekolah gratis, pengobatan gratis, buku gratis
    padahal untuk menjadi gratis tak harus gratis
    lho?? iyalah pada kenyataannya SPP digratiskan tapi sepatu, seragam dan lain2 beli
    obat gratis (mungkin) tapi menuju puskesmas kan juga pake ongkos
    itu gratis mbak?

    Oh ya, saya deh yang dukung mbak Vicky jadi Ms Brad Pitt 😀

  9. sibaho way says:

    yang namanya gratisan pasti banyak gak enaknya. contohnya antivirus kompie saya: avira antivir personal yang bakal koit di awal 2010 ini. dulu gratis, update gratis. ujung2nya tetep bayar.
    eh, antivirus juga bagian dari pengobatan kan 😀

  10. Sebenarnya kesehatan itu murah. Asalkan diambil dari pendekatan pencegahan penyakit.
    Yang mahal itu berobat penyakitnya.
    Karena itu lebih baik mencegah ketimbang mengobati.

    Oh ya, saya saksinya bahwa kuliah kedokteran itu tidak selalu biayanya selangit. Tahun '06, saya lulus dari perguruan tinggi negeri setelah enam tahun kuliah, dan biaya kuliah saya sama saja dengan biaya kuliah di fakultas-fakultas lain. Totalnya tidak lebih dari Rp 9 juta. Kalian juga begitu, kan?

    Dengan begitu, sebenarnya gampang saja buat dokter-dokter seangkatan saya dan yang di atas saya untuk memberi gratis. Gratis itu antara lain kepada pasien-pasien yang tidak mampu.

    Oh ya, dilihat dari tinjauan logika, kalau memang dokter tidak mau memberi gratis, dia tidak akan mau dipekerjakan di tempat-tempat terpencil. Soalnya daya bayar masyarakat di tempat terpencil umumnya rendah. Jadi dokter yang cuman kejar setoran pasti nggak akan mau kerja di sana. Dan kebetulan, kasus dokter di Wakatobi yang saya tulis di atas, tidak relevan dengan sangkaan "kejar setoran". Wakatobi itu jauh dari mana-mana, dari Kendari masih harus naik kapal lama-lama lagi.

  11. mawi wijna says:

    kalau melihat biaya kuliah kedokteran yang mahalnya selangit, apa setelah lulus bukan malah "ngejar setoran untuk balik modal"? Susah toh memberi gratis? 🙁

  12. Banyak cara buat dapet pengobatan gratis. Misalnya, dengan menjadikan anaknya dokter, atau dengan temenan sama dokter, hehehe. Aku biasanya ngegratisin keluarga kok. Paling-paling aku minta diijinin nginep kalau main ke rumahnya, atau minta ditemenin jalan-jalan juga, hehehe.

    Kalau cuman ngasih resep sih gampang. Yang susah itu, ngoperasi. Nah, itu nggak bisa gratis, coz mesin sterilisasi alatnya mbayar, hahaha.

    Di daerah luar Jawa, banyak kabupaten yang dinas kesehatannya bukan dikepalai oleh tenaga kesehatan. Dulu kepala dinas kesehatan kabupaten tempatku kerja, orang sarjana hukum. Kolegaku di kabupaten lain, kepala dinas kesehatannya orang sarjana pariwisata. Makanya sistem kesehatannya jadi amburadul.
    Padahal bawahannya dokter, perawat, sarjana kesehatan masyarakat. Kenapa nggak mereka aja yang diangkat jadi kepala dinas kesehatan? Alasannya, golongan pegawai negerinya belum cukup buat jadi kepala. Sungguh absurd!

    Sebenarnya enak lho kalau dokter masuk jajaran pemerintahan. Asalkan jadi direktur jenderal, atau menteri sekalian, hahaha. Kalau di tingkat bawah sih masih belum enak. Coz mesti kompromi dengan kebijakan gubernurnya atau bupatinya. Kadang-kadang kebijakan pemda itu belum tentu bisa dilaksanakan dengan gampang tanpa berkorban. Contohnya ya kebijakan pengobatan gratis tadi.

    Sejauh ini, aku belum pernah lihat ada dokter sukses di dinas kesehatan dan sukses di prakteknya sekaligus. Ada dokter yang mesti jadi kepala dinas kesehatan, dan sebagai akibatnya prakteknya jadi nggak total. Kalau masih dokter umum sih mendingan ya, tapi kalau udah spesialis, sayang sih. Yah, memang hidup ini harus milih.

  13. fahmi! says:

    aku agak2 gratisan kalo urusan pengobatan. secara di sekitar sini banyak dokter, aku nggak pernah bayar jasa mereka. paling keluar duitnya buat beli obat. dokternya sih paling ditraktir makan ato dianter jalan2 dan foto2an sudah seneng, hehehe 😀

  14. wah, cek dulu grupnya ah…
    😀

    tapi emang, harusnya yang jabatan penting di dinas kesehatan ya orang kesehatan. sayangnya, sedikit dokter yang berminat dipemerintahan. alma minat sih dipemerintahan, tapi kalau inget banyak kotornya ga tau masih pengen atau engga.

    satu lagi kak, mungkin juga dokter susah pegang jabatan penting karena tidak "dekat" secara politis ke "orang2" tertentu. belum lagi stigma kalau dokter ga praktek dianggap payah. (katanya kalau di dinkes total, ga mungkin ada waktu praktek).

    ya kira2 begitu yang alma tangkep dari kuliah ttg public health di kampus. hehehe

  15. Salam kenal balik, Om Nunu.

    Mbak Elly, sebenarnya saya nggak pernah percaya kampanye politikus manapun yang berkoar soal pengobatan gratis. Itu adalah kebijakan yang amat populis, sangat disukai orang banyak, tapi susah buat dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Rakyat mestinya nggak gampang dikibulin dengan janji instan macam gituan.

  16. Newsoul says:

    Begitulah salah satu gesah menyangkut program gratis. Saya sebetulnya agak miris kalau program gratis ini sekedar dijadikan kepentingan para politikus saat kampanye, ketika ada benturan di lapangan mereka tidak mau tau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *