Kenapa Perlu Bioskop


“New Moon, Neng? New Moon?”

Mang-mang itu melambaikan bungkusan plastik dengan gambar Robert Pattinson yang gesturnya seolah nggak mufakat melihat Kristen Stewart dipeluk bocah-yang-dadanya-bikin-histeris-tapi-malah-gw-pikir-norak itu. Gw agak heran coz waktu itu New Moon belum diputer di bioskop Indonesia, tapi DVD bajakannya udah beredar di emper-emperan. Dari mana ya pembajaknya bikin versi bajakan itu? Pasti pembajaknya tipe profesional yang langganan film-film dari luar negeri, bukan tipe amatiran yang nyuri-nyuri shooting di bangku belakang bioskop.

Indonesia dikenal sebagai surganya DVD bajakan. Carilah film apa aja, maka Anda gampang nemuinnya dengan banderolan murah-meriah. Yang beginian nggak cuman nyari-nyari di pasar-pasar gelap yang sumpek, tapi bahkan gampang ditemuin di mal-mal yang mewah. Gw bahkan tahu sebuah ruko di Bandung yang bela-belain disewa mahal cuman buat jualan DVD bajakan. Mereka menjual segala film dengan kualitas bagus, cukup Rp 6.000,-/keping. Bahkan beli 10 disc, gratis satu.

Lupakan dulu masalah legalitas DVD bajakan ini. Pertanyaannya, jika DVD bajakan segitu murahnya, di mana pasar untuk bioskop?

Gw terpikir ini waktu tadi pagi baca koran yang menulis bahwa gedung bioskop terakhir di Tasik, Jawa Barat, yaitu Parahyangan Theatre, baru aja ditutup. Artinya sudah nggak ada lagi bioskop di Tasik. Gw bertanya-tanya, apakah penduduk Tasik udah nggak suka nonton film lagi.

Gw pernah ditugasin kerja sebagai dokter di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, selama setahun. Di sana nggak ada bioskop. Jangankan bioskop, layar tancep aja nggak ada. Itu bikin gw menderita coz saat teman-teman gw ngumumin di Facebook mereka bahwa mereka rame-rame nonton Twilight, gw merasa jadi satu-satunya anak gaul yang nggak tahu betapa seksinya jadi vampir. Untung waktu Natal gw sempat pulang ke Bandung di mana adek gw sudah nyediain Twilight versi bajakan supaya gw tahu bahwa masih cakepan Carlisle Cullen ketimbang Edward Cullen.

Selama setahun itu, gw nggak pernah nyentuh bioskop sama sekali. Palangka sebagai ibukota provinsi, hanya dua jam perjalanan dari Pulang Pisau, tapi di sana juga nggak ada bioskop. Bioskop terdekat ada di Banjar, yang jaraknya sama, tapi menurut gw, tidak logis kalau gw bela-belain naik travel cuman buat nonton bioskop.

Semenjak itu, gw bisa merasakan alangkah pedihnya kalau kau tidak bisa nonton bioskop hanya karena nggak ada gedung bioskop di kotamu.

Tahun ’07, kakak gw yang di Malang pernah bikin manyun suaminya gara-gara dia melarang suaminya bawa anak-anak mereka nonton Spiderman di bioskop. Waktu itu ada gosip beredar jarum-jarum suntik bekas narkoba di bangku-bangku bioskop Malang, dan kakak gw jadi penakut. Gw bilang ke suaminya, “Sudah, tunggu DVD bajakannya aja. Paling-paling sebulan lagi udah beredar.”

Kata suaminya sebel, “Ah, bulan depan filmnya udah basi. Masak orang-orang sekarang udah pada nonton, sementara gw belum?”

Saat itulah gw belajar bahwa orang-orang masih nonton bioskop coz mereka kepingin aktualisasi diri. Ketika mereka nonton film yang lagi “in” di bioskop, mereka merasa ngikut sama trend, sehingga mereka bisa ikutan nyap-nyap ngomongin film itu. Perasaan aktualisasi diri itu nggak bisa diganti dengan nonton DVD bajakan, sekalipun harga DVD itu empat kali jauh lebih murah. Coz, DVD bajakan yang berkualitas bagus, baru beredar paling cepat sebulan sesudah film aslinya diputar di bioskop. Kalau filmnya belum habis di bioskop tapi DVD bajakannya udah keburu beredar, maka tuh DVD pasti ada aja cacatnya: editan filmnya jelek, suaranya mendam, atau subtitle-nya asal-asalan.

DVD bajakan ada coz orang butuh nonton film. Kalau Pemerintah memang serius mau melarang peredaran film bajakan, ya mesti disediakan jalan yang gampang buat distribusi film yang legal. Misalnya, nggak usah ada biaya pungutan nggak penting buat mengedarkan film, sehingga biaya yang mesti dikeluarin pemilik bioskop buat memutar sebuah film pun bisa dikurangi. Dengan begitu pengusaha bioskop nggak usah masang tarif tiket yang terlalu tinggi hanya buat ngejar balik modal, sehingga orang pun jadi tidak segan buat dateng ke bioskop. Perawatan bioskop juga perlu, mulai dari perbaikan mesin pemutaran film sampai bersih-bersih toilet yang dipakai pengunjung. Kalau bioskop bisa tampil cantik, bioskop nggak perlu tutup segala cuman lantaran takut bersaing dengan DVD-DVD bajakan.

Kota yang bagus adalah kota di mana penduduk bisa menyalurkan kebutuhannya akan aktualisasi diri. Dan salah satu sarana buat mengaktualisasi diri adalah dengan cara nonton bioskop. Oleh karena itu, kalau kepingin disebut mutakhir, sudah selayaknya kota itu memiliki gedung bioskop yang cukup keren di areanya.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. Aldo says:

    Sejak punya home theatre di kamar, saya gak pernah lagi nonton di bioskop hehehe.

    Rasanya lebih nyaman, bebas nonton sambil merokok, minum kopi, makan bakso, dan kalau nerima telepon, atau ke kamar kecil,filmnya bisa di pause,apalagi bisa ngulang2 kalau ada adegan yang sangat menarik atau hot hehehehe.

    Juga gak merasa ketinggalan ama film2 di bioskop kok, karena banyak film2 baru dalam bentuk DVD bahkan blueray. Malah ada film yang belum main di bioskop, sudah ada DVD nya hehehe.

    Salam,
    Aldo

  2. Kesimpulannya: Pasar untuk bioskop adalah penggemar film yang kepingin mengapresiasi filmnya seakurat dan seaktual mungkin. Pasar terbaik untuk DVD bajakan adalah para penggemar film langka dan terlarang.

    Perlu dibikin penelitian lebih lanjut, bagaimana animo masyarakat Madura terhadap DVD bajakan sampai-sampai mereka nggak bikin bioskop. Atau jangan-jangan mereka nggak suka nonton film, tapi mereka lebih hobi main voli dan melayat?

  3. fahmi! says:

    bioskop dan dvd punya urusan berbeda.

    nonton di bioskop itu penting kalo perlu segera tahu film terbaru. buat bahan tulisan di blog misalnya. bioskop juga jauh lebih ok buat nonton film dg efek spesial yg betulan spesial. nggak seru lah nonton avatar pake dvd bajakan di laptop yg nggak 3d dan suara cempreng dari spiker kecil, di dalem kamar kos yg panas tak ber-AC, dan kadang berisik kena noise dari kamar2 sebelah.

    sebaliknya dvd adalah solusi andalan buat nonton film2 yg nggak lolos sensor. perfume dan battle royale misalnya, nggak beredar di 21. atau film2 prancis yg amat artistik tapi nggak pasaran (karena nggak hollywood). atau film2 indie yg cuman beredar dari festival ke festival dan antar kampus saja.

    jadi bioskop tetep perlu eksis, seperti halnya lapak2 penjual dvd itu. mereka punya pasar sendiri.

    btw ada fakta menarik: di madura nggak ada gedung bioskop. kalo lapangan voli banyak. makam juga. aku sudah keliling dari ujung barat sampek ujung timur. menyisir pesisir selatan dan pantai utara, sama saja.

  4. Soalnya Bang Bill merasa kebutuhan aktualisasi diri Bang Bill sudah tercapai dengan main sama Baho-Baho kecil. Jadi Bang Bill merasa nggak butuh bioskop lagi. 🙂

  5. hmmm…kapan ya terakhir ke bioskop, kayaknya puasaan kemarin.

    yah, kejarangan ini emang lebih banyak dikarenakan banyaknya dvd bajakan yang berseliweran…dengan perhitungan ekonomis, bioskop sering jadi pilihan terakhir…hanya dikunjungi untuk film-film terpilih sajo 😛

  6. de asmara says:

    DVD bajakan (atau yg original sekalipun) tidak akan bisa menggantikan kemewahan yg ditawarkan bioskop:
    gambar raksasa & audio yg menggelegar, mana bisa dibandingkan dg nonton di TV sekian inchi? (ga semua orang puya home theater kan?)

  7. Satu hal yang saya suka dari DVD itu special feature-nya. Wawancaranya, behind the scene-nya, dan lain-lain. Apakah Rapidshare bisa kasih subtitle dalam bahasa Portugis? 🙂

  8. mawi wijna says:

    Saya jarang banget nonton film, apalagi nonton bioskop. Namun kalau ngobrolin DVD Bajakan, jelas saya ndak bakal beli yang Rp 6.000 itu. Wong, Rapidshare, Megaupload, dan Mediafire menyediakan itu semua kok 😀

  9. Wah, seneng denger di Tasik mau ada XXI. Kok si koran nggak bilang sih?

    Untungnya di Bandung sekarang udah ada taman, gedung kesenian, dan tempat olahraga buat ekspresi masyarakat. Paling-paling tantangannya tinggal promosi event aja..

  10. almahira says:

    aku orang tasik, kak.hehe…

    bioskop parahyangan emang tutup sekarang.. tapi bentar lagi mau dibuka bioskop 21. ilang satu tumbuh seribu deh. hehehe

  11. Bukan hanya bioskop bu dokter …
    Taman ,gedung kesenian dan lapangan olah raga adalah tempat-tempat yang sangat dibutuhkan ntuk ekspresi diri.

    As usual … Renyah dan menggelitik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *