Berkah Tanpa Batas

Seorang teman konsul ke gw kemaren, dia warga negara Jepang yang lagi pertukaran mahasiswa di Bandung, dan dia baru aja beli obat antimalaria coz takut kena. Tadinya gw bilang bahwa malaria udah nggak eksis lagi di Bandung, jadi dia nggak usah minum obat itu. Tapi ternyata dia mau pergi ke Kalimantan dalam waktu dekat, jadi dia pikir sebaiknya dia minum obat itu dan sekarang dia mengkuatirkan efek sampingnya. Gw kasih dia beberapa nasehat medis dan bilang dia nggak perlu kuatir.

Ngomong-ngomong soal malaria, gw jadi inget waktu gw masih kerja di Kalimantan tahun lalu. Gw mungkin sudah beberapa kali nulis bahwa sepanjang setahun lalu gw kerja jadi dokter pegawai tidak tetap di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Keputusan yang cukup berani yang pernah gw bikin coz selama gw tinggal di sana, gw nggak pernah minum obat antimalaria sama sekali. Dan syukurlah gw nggak pernah kena. Padahal hampir semua teman gw yang kerja PTT di Cali sana pada bawa oleh-oleh malaria di badannya waktu pulang.

Untuk perlindungan gw sendiri, gw menginvestasikan duit gw dengan belanja obat nyamuk buat di rumah dan melumuri bodi gw dengan lotion anti nyamuk sehari-hari. Gw pernah dianjurin buat masang kelambu juga, tapi gw tolak. Soalnya, gw bingung cara nyucinya gimana. Gw malah pikir kelambu itu lebih potensial bikin alergi debu ketimbang melindungi dari nyamuk.

Minggu lalu, gw ketemu seorang kolega gw waktu gw masih di Cali dulu. Dia ini dokter yang sama angkatan PTT-nya sama gw, berangkat dari upacara pelepasan yang sama, kerja di provinsi yang sama. Cuman bedanya, gw kerja di Pulang Pisau, dia kerja di Pegatan, jadi selama setahun itu kita berdua nggak pernah ketemu.

Kolega gw itu ngasih tahu gw bahwa ketika kontrak kerja kami di sana sama-sama berakhir akhir Agustus lalu, dia sendiri baru pulang ke Jakarta pada minggu kedua bulan September. Padahal gw waktu itu kan sudah pulang ke Bandung pada minggu terakhir Agustus. Ternyata, kolega gw itu sudah berencana pulang pas minggu pertama Septembernya, tetapi dia nggak bisa berangkat, coz bandara Cilik Riwut di Palangka ketutupan asap pekat akibat pembakaran hutan. Menunggu dua minggu itu sangat bikin BT, coz uang transport kita sesudah masa tugas berakhir itu kan nggak ditanggung oleh Dinas. Siapa juga sih yang mau nginep di hotel sampai dua minggu cuman gara-gara nungguin kabut asap reda?

Gw jadi inget, pada minggu-minggu sebelum gw pulang itu, gw geregetan coz takut nggak bisa pulang. Pembakaran hutan sudah terjadi sejak bulan Juli 2009, melingkupi sebagian wilayah Kalimantan Tengah. Kalau gw keluar dari apartemen gw subuh-subuh, gw nggak bisa lihat jauh coz ada kabut asap, cuman waktu itu belum parah-parah amat, coz kalau udah lewat jam delapan pagi kabutnya ilang. Tapi menginjak minggu pertama Agustus, staf kantor gw yang kerja di Bandara Cilik Riwut melapor bahwa kabut asap mulai menghalangi pesawat yang mau mendarat ataupun yang mau terbang. Perasaan gw waktu itu, this is not good.

Ketika surat pengakhiran kontrak gw keluar pada minggu terakhir Agustus, gw langsung berkemas dan terbang dengan pesawat pertama dari Palangka ke Jakarta. Ternyata, sehari sesudah gw terbang itu, kabut asap di Palangka makin pekat dan sudah sampai ke taraf mengganggu kegiatan kota. Anak-anak sekolah berangkat lebih siang, coz jalanan sudah nggak kelihatan di pagi hari, sehingga sekolah terpaksa memundurkan jam belajarnya. Bahkan mereka yang berangkat pagi pun terpaksa pakai masker coz sudah mulai banyak yang batuk-batuk. Beberapa hari sesudah gw terbang dari Palangka itu, bandara ditutup coz pesawat-pesawat nggak berani mendarat. Orang-orang yang mau terbang, terpaksa berjuang buat nggandol travel ke Banjar supaya mereka bisa terbang dari sana. Padahal jalan Trans Kalimantan dari Palangka ke Banjar sudah kena kabut juga. Termasuk kolega gw, akhirnya baru bisa pulang ke Jakarta pada minggu kedua September, coz baru pada saat itu pesawat berani beraktivitas di Palangka.

Gw baru nyadar bahwa selama gw kerja di Cali itu gw betul-betul dilindungi Tuhan. Semua kolega gw pulang dari tugas PTT sambil bawa malaria di badannya, tapi gw satu-satunya yang nggak kena, padahal gw nggak minum obat. Kalau sehari aja gw telat beli tiket terbang dari Palangka waktu gw pulang, barangkali gw bisa terkatung-katung lebih lama di sana tanpa kepastian. Hanya Tuhan yang tahu kapan kabut asap itu akan berakhir.

Nggak ada batasnya, berkah yang diturunkan Tuhan itu buat gw. Dan gw sangat bersyukur untuk itu.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

27 comments

  1. mbak vicky…
    gimana caranya mbak…ni nyamuk udah ada genjatan senjata ama gue…
    tapi malah datang lagi yg lain…di kasih lotion gue takut kalo kulit gue nantinya alergi…
    kasih ide donk mbak…

  2. Aldo says:

    Ikut senang, karena selama PTT di Pulau Pisang, mba' dokter aman-aman dan selalu dalam lindungan dan berkat Tuhan.

    Semoga di tahun 2010, Tuhan masih selalu memberkati kita semua.
    GBU. Ameen.

    Salam,
    Aldo

  3. Reni says:

    Yups…, terus bersyukur atas semua nikmat yg telah dilimpahkanNYA kpdmu, mbak… Semoga terus-menerus mendapatkan berkah deh… Amin

  4. Untungnya waktu aku ada di sana, kabutnya belum parah-parah amat sehingga aku nggak perlu pakai masker. Bisa dibayangkan kalau udara yang kita hirup sehari-hari malah bikin sesak nafas, itu jauh lebih nyiksa ketimbang hidup dengan pemadaman listrik bergilir.

    Sebenarnya ada kemungkinan orang yang pergi ke daerah endemik malaria ujung-ujungnya ketularan malaria pula. Tapi biasanya kalau sampai enam bulan sesudah meninggalkan daerah itu belum timbul gejala malaria juga, maka memang orang itu nggak kena malaria sama sekali.

    Wah, pokoknya aku bersyukur banget pulang dari sana dalam keadaan sehat dan selamat. Betul-betul berkah Tuhan yang luar biasa.

  5. ditter says:

    Waaah.. syukur alhamdulillah… Dulu aku juga pernah tinggal di daerah yang warganya sebagian besar pernah kena malaria, pas KKN di lampung selatan, selama 2 bulan. Tapi Alhamdulillah ga kena malaria juga, hehe… Semoga deng, karena aku juga lom pernah periksa…

  6. Pucca says:

    wuih.. serem banget ya kabut asep gitu.. sering liat di tv sih orang pake masker tapi ga pernah ngalamin, orang bakar sampah aja gua batuk2 apalagi bakar hutan ya ckckckck..

  7. Berarti masih berkah buat yang lainnya …
    Bahkan andaikata harus meninggal dunia sekalipun bukankah itu juga berkah bagi ; penggali kubur, penjual kembang ect.
    Intinya :
    1).Ikhtiar memelihara kesehatan adalah bagian dari aktualisasi rasa syukur kita.
    2). Andaikata masih saja penyakit datang menimpa maka tetap syukuri itu karena mungkin saja ada tujuan lain yang Tuhan berikan buat kita.
    Bukankah IA tahu apa yang terbaik bagi umatNYA.

    begitu khan bu Dokter ?.
    Denga

  8. Idiih, Pak.. Sakit malaria itu bukan berkah untuk ajang silaturahmi dengan apotek.. Kalau malarianya bikin gagal ginjal, apoteknya udah nggak ada gunanya lagi..

  9. Hm …
    Berkah ya ?.

    Haruskah …

    Sendiri di ruang baca, antara ada dan tiada seekor nyamuk menancapkan belalainya di lenganku. Aku marah, kutepuk luput. Terbang ia meledekku.

    Lihat ada aku dalam nyamuk.

    Sabar menanti di dinding beku, seekor cicak merayap pelan. Hup. Nyamuk diterkam. tersenyum nyamuk dalam puncak pengorbanannya menjadi makan malam sang cicak.

    Lihat ada aku dalam nyamuk, dalam cicak.

    Bertengger di cemara taman, seekor burung menatap tajam celah ranting. Hup. Cicak dipatuk, separuh tubuhnya menjadi santap pagi sang burung, separuh lainnya jatuh diurai tanah, dihisap rerumput. Tersenyum ia dalam puncak pengorbanan mulianya.

    Lihat ada aku dalam nyamuk, dalam cicak, dalam burung, dalam rerumput.

    Lalu ….

    Haruskah marah hanya kerana setetes darah ?.

    Sebenarnya masih bisa dilanjut tu bu Dokter ….
    Setelah digigit nyamuk trus dakunya demam dan karena demam maka terbuka kesempatan ntuk silaturahmi dengan dokter dan setelah dari dokter maka terbuka lagi kesempatan ntuk silaturahmi dengan apotik ….
    Bla-bla-bla …

    Bukankah semuanya adalah berkah ?.
    Berkah buat siapa saja.

    nice sharing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *