Penonton Spongebob Tidak Melayat

Kalau boleh, gw kepingin bikin survey aneh tapi nyata, judulnya sederhana aja, “Ada di mana Anda waktu Gus Dur meninggal?”

Beberapa saat setelah gw dikabarin teman via internet bahwa Gus Dur meninggal Rabu lalu jam 18.45, keluarga gw di rumah nyalain tivi supaya kita bisa “bergabung” dengan para pelayat di Rumah Sakit Ciptom Mangunkusumo, Jakarta. Gw menguap kuat-kuat nonton reportase yang membosankan itu, coz gw tahu, jenazah Gus Dur tidak akan nampak sampai dua jam kemudian. (Soalnya sudah protokol di rumah sakit mana-mana, seorang pasien yang dinyatakan meninggal di situ harus tinggal dulu sampai dua jam pasca jam kematian, setelah itu baru boleh dibawa pulang oleh keluarganya.)

Tapi tetap aja gw nonton acara reportase itu, coz gw tertarik menganalisa kelakuan orang-orang yang kena syuting kamera. Luar biasa, kameramennya cuman nyuting dari satu sudut doang, tapi begitu banyak kelakuan manusia yang diekspos dan semuanya lucu-lucu. Ada keluarga pasien yang nampaknya lagi nunggu di ruang tunggu, mereka sadar disyuting kamera, dan mereka malah sibuk HP-an. (Mungkin ng-SMS keluarganya bilang bahwa mereka lagi masuk siaran langsung tivi!) Ada dokter yang keluar dari bangunan rumah sakit sambil senyum-senyum, kalau dilihat dari cara jalannya ini kayaknya murid sekolah spesialisasi yang baru selesai shift kerja. (Ngapain coba residen keluar via pintu yang banyak kamera tivinya, padahal mereka biasa keluar via pintu lain yang lebih privat?) Ada petugas cleaning service yang tiap lima menit bolak-balik lewat sambil ngepel. (Makin sering disyuting, nggosok pelnya makin kenceng. Nampak rajin!)

Lalu, di tengahnya gw lagi nonton reportase di ruang tengah rumah itu, tiba-tiba gw denger suara setan menjerit! Hah?? Gw bangun dan ke ruang makan di mana asisten pribadi keluarga gw lagi nonton tivi, dan terkejut. Sang asisten lagi nonton sinetron dedemit.

OMG! Mantan presiden Negara ini meninggal dan sebuah stasiun tivi malah nyalain sinetron dedemit??

Lalu gw ambil remote control dan menginspeksi setiap saluran. Ternyata, pas hampir jam 8 malam itu, hanya ada tiga saluran tivi yang bikin siaran langsung pelayatan Gus Dur dari RSCM, yaitu TV One, Metro TV, maaf satunya lagi gw lupa. Sisanya? Ada yang nyiarin Spiderman. Ada yang nyiarin sinetron dedemit. Ada yang nyiarin sinetron mewek. Lainnya iklan, iklan, iklan, dan iklan.
Kemaren, jam 7 pagi, gw nyalain tivi lagi, nonton siaran langsung dari rumah Gus Dur di Ciganjur, waktu Gus Dur mau diangkat ke dalam mobil jenazah yang mau bawa almarhum ke Bandara Halim. Sekali lagi, gw ngecek tiap tivi, dan ngitung berapa banyak saluran tivi yang nyiarin pemberangkatan Gus Dur. Ternyata cuman dikit juga yang nyiarin, sisanya malah sibuk bekutetan memutar Spongebob, Doraemon, dan acara anak-anak yang lainnya, dan bahkan infotainment. Ck ck ck.
Sori dori mori, tapi nampaknya buat sebagian orang, mungkin berita artis masih lebih penting ketimbang nonton pelayatan seorang mantan presiden. Mungkin acara kartun buat anak-anak balita masih jauh lebih penting buat diputer jam 7 pagi, karena anak-anak balita masih terlalu kecil buat dikasih tahu bahwa di Indonesia ini pernah punya pemimpin bernama Gus Dur. Dan mungkin para pecinta sinetron lebih mementingkan nonton sinetron dedemit dan sinetron mewek ketimbang nonton siaran langsung dari rumah sakit. Atau orang-orang ini tetap bekutetan muterin program regular lantaran sudah janjian sama para pemasang iklan.
Atau mungkin, cuman gw yang menganggap penting nonton pelayatan Gus Dur, sedangkan orang lain beranggapan bahwa pelayatan itu nggak penting-penting amat?
Memang sekarang udah nggak seperti jaman dulu lagi, di mana setiap saluran tivi diperintahkan buat mengutamakan siaran langsung acara presiden di atas acara apapun. Tapi ini bukan masalah prioritas tayangan tivi disetir oleh penguasa atau tidak. Ini masalah tanggung jawab media televisi buat mendidik kepada masyarakat, mana informasi yang penting untuk diketahui saat itu juga, dan mana informasi yang bisa diprioritaskan belakangan.
Gw nulis ini bukan berarti gw penggemar Gus Dur. Tetapi kepedulian terhadap seorang pemimpin bangsa akan menuntun sikap menuju kepedulian terhadap bangsa itu juga. Dan kalau kita nggak peduli-peduli amat sama bangsa kita sendiri, barangkali kita juga nggak peduli-peduli amat terhadap identitas diri kita sendiri.
Kecuali, kalau identitas kita itu bernama Spiderman, Spongebob, dedemit, dan infotainment.
Foto di atas karya Widodo Jusuf.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

23 comments

  1. REYGHA's mum says:

    Mau jawab survei nya…saat itu aku lagi baru mau pulang kerja nonton tv di ruang tamu pabrik….lgs rame deh penghuni ruang tamu yang kebetulan operator2 yang emang lagi siap siap mo pulang….untungnya libur jadi besoknya bisa liat prosesi pemakamannya di TV…

  2. ikhgoen says:

    lagi karaoke-an.. trus ada sms masuk ngasih tau kalo gusdur meninggal .. n aq pikir itu iseng.. karena kmrn dokter bilang operasinya lancar… n di tmpt karaoke ga ada tv yg nyiarain berita.. malah muter film… pas pulang liat berita.. owh beneran??!!!!

  3. zarod says:

    Alhamdulillah masih diberi kesempatan ngeliat ditivi, klo menurut saya Kita liat orang mati supaya kita jadi inget mati dan mempersiapkan diri untuk menunggu giliran mati, karena menurut saya ( Alm )Gus Dur gak minta dihormati apalgi diliat ketika wafat.

  4. _bee_ says:

    klo pas meninggal ibu tien trs pak harto dl keknya semua tipi meliput ya? itulah bedanya… gus dur bukan mereka, bukan gaya beliau mengendalikan media untuk meliput ini itu, mgkn klo beliau masih idup akan berpendapat "diliput gpp, ndak diliput jg ndak masalah, gitu aja kok repot"

  5. Reni says:

    Saya gak sempat nonton acara pemakaman beliau mbak… 'coz di kantor sedang ada acara penting.
    Jadi tak ada kesempatan untuk melihat televisi…
    Padahal sebenarnya pengen curi-2 waktu utk bisa nonton TV lho…

  6. Sewaktu dua jam pasca kematian itu, mungkin stasiun tivinya gagal mengirim reporter ke RSCM. Akibatnya mereka nggak mungkin melakukan siaran kematian dadakan dan terpaksa menjalankan program reguler mereka.

    Alasan yang sama berlaku juga kenapa mereka malah memutar infotainment selama upacara pemakaman di Jombang.

    Tapi menurutku, alasan-alasan itu terlalu mengada-ada. Stasiun-stasiun yang "absen" ini umurnya jauh lebih tua ketimbang TV One dan Metro, mestinya mereka lebih berpengalaman dalam urusan gerak cepat mengirim reporter ke TKP. Itu kalau mereka peka menyadari bahwa rakyat lebih ingin mengetahui prosesnya pendukaan Gus Dur ketimbang infotainment. Makanya aku terpikir, jangan-jangan memang rakyatnya nggak mau nonton pemakaman? Berapa rating dan audience share acara pemakaman Gus Dur kalau dibanding acara infotainment?

  7. bener tuh mbak, pagi itu sewaktu jenazah alm dibawa ke Jombang, ada stasiun swasta yang malah menyiarkan infotainment. keterlaluan!
    henny juga bukan fansnya alm. tapi beliau kan mantan orang nomor 1 di Indonesia, seharusnya ada penghormatan dari pers untuk beliau. tapi ini kesannya kok kayak ga peduli

  8. Hendriawanz says:

    Memang dikembalikan tv yang bersangkutan. Apa sih susahnya menayangkan suatu acara "break"? Iklan saja bisa memotong acara, masa berita penting nggak bisa?
    Pasti bisa, tapi mereka punya pertimbangan lain.

  9. Ya, saya ingat lagu yang paling banyak diputar selama Bu Tien meninggal itu. 🙂
    Masih mendingan ada yang trauma sama lagunya. Lha saya trauma sama ibu-ibu paduan suara Dharma Wanita yang rambutnya disasak..

    Saya nggak problem kalau stasiun tivi lebih memprioritaskan informasi lain yang dianggap lebih penting ketimbang siaran pemakaman. Tapi apakah sidang Pasha atau siaran dedemit juga dianggap informasi yang lebih penting ketimbang meninggalnya mantan presiden?

    Kenapa kita mesti perhatian sama event duka ini? Karena itu bentuk penghormatan kepada orang meninggal.

    Saya nggak bikin survey siaran pemakaman mana yang paling bagus. Soalnya angle syutingnya jelek semua. Dan menghadirkan artis-artis sebagai komentator pemakaman bikin acara makin jelek aja, hahaha..

    Selamat tahun baru juga, blogger-blogger!

  10. jensen99 says:

    Saya malah baru tau Gus Dur wafat dari temen ceting, dan waktu ceting kelar sekian jam kemudian, jenazah Gus Dur dah ada di rumah duka, jadi saya gak ngikuti kejadian apapun di RSCM.
    Esok paginya, saya nonton reportase sampai penyerahan jenazah yg ada Taufik Kiemas. Selama jenazah dalam perjalanan ke Jombang, saya juga kerja. Pulang kerja sorenya pas Presiden memasuki komplex pesantren dan langsung lanjut nonton upacara penguburan.

    Gak buat survei vic, waktu pemakaman stasiun mana yang siarannya paling bagus? 😀

  11. @cicin says:

    Ya, gitu dech non… ga bs d salahin jg sech, soalnya setiap org punya pandangan yg berbeda dalam menilai sesuatu hal. Sy sech sm kyk Fanda, lbh enak membaca dari koran ato dari dunia maya ketimbang nonton dr tv. Btw, salam kenal ya. Tq dah berkunjung en komen. Salam blogger. En met taon baru 2010.

  12. mawi wijna says:

    Jawab surveinya mbak Dokter. Waktu itu saya lagi di rumah, siap-siap berangkat ke rumah temen buat rapat.

    Soal Stasiun Televisi yang semestinya berkabung. Mbak Dokter masih ingat kan pas Bu Tien meninggal? Saban hari layar kaca kita disuguhi oleh lagu Gugur Bunga (Trims buat (alm) Dep. Penerangan yang sukses bikin saya trauma sama itu lagu). Mbak dokter mau yang seperti itu?

    Ada baiknya kalau berkabung itu ndak semua stasiun menayangkan hal yang sama. Yang ada penonton malah bosan. Cukup cuplikan kilasan perkembangan beritanya saja. Bukankah televisi juga digunakan untuk menyampaikan informasi lain?

  13. Qori says:

    "Mungkin acara kartun buat anak-anak balita masih jauh lebih penting buat diputer jam 7 pagi, karena anak-anak balita masih terlalu kecil buat dikasih tahu bahwa di Indonesia ini pernah punya pemimpin bernama Gus Dur. Dan mungkin para pecinta sinetron lebih mementingkan nonton sinetron dedemit dan sinetron mewek ketimbang nonton siaran langsung dari rumah sakit. Atau orang-orang ini tetap bekutetan muterin program regular lantaran sudah janjian sama para pemasang iklan."

    Kutipan favorit saya nih,, iya juga pendabat Mbak Vicky. Tv sekarang terlalu komersil dan mengalahkan rasa hormat kepada event penting kenegaraan.

    Met tahun baru.

  14. aan says:

    masih lebih penting nyiarin persidanganya pasha ungu,or perceraian anang+KD,mungkin juga brita soal luna maya,,hikz (tragis )

  15. Fanda says:

    Kalo aku sih waktu ada reportase itu, aku pilih nonton DVD Curious George. Aku lebih suka baca beritanya aja di koran, semua udah diringkas dan makan waktu cuma beberapa menit buat menyerap ketimbang nonton reportase yg berjam2 dan yg ditunjukin cuma segerombolan org menangis2 aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *