Denda buat SMS-an

Denda Rp 750.000,- menanti buat orang-orang yang berani nyetir sambil megang HP, entah itu lagi nelfon atau cuman sekedar SMS-an. Peraturannya akan disosialisasikan polisi-polisi Indonesia sedianya selama tiga bulan ini. Artinya, lewat dari tiga bulan lagi, siapa-siapa yang berani HP-an sambil nyetir, harap siapkan Rp 750.000,- di tempat koin mobilnya.

Gw cuman iseng nanya, “Kenapa baru sekarang?”

Sewaktu peraturan ini baru disosialisasikan juga, sebuah stasiun tivi meliput para pengguna jalan dan nanyain pendapat mereka. Rata-rata orang berpendapat positif coz mereka tahu bahwa nyetir sambil SMS-an bisa beresiko kecelakaan. Mulai dari nabrak truk gandeng, sampai nabrak babi hutan lewat.

Tapi gw tertarik dengan pendapat seorang cewek yang bilang begini, “Menurut saya sebenarnya menyetir sambil SMS-an itu nggak akan bikin celaka ya, asalkan orangnya itu udah biasa.”

Gw mengerutkan kening. Udah biasa? Coba definisikan “udah biasa”. Nyetir sambil SMS dan menjadikannya kebiasaan rutin, apakah lantas membuat orang tersebut mahir nyetir mobil sembari SMS-an tanpa beresiko mengakibatkan kecelakaan?

Beberapa orang memang cukup beruntung ditakdirkan memiliki kemampuan “multitasking”. Misalnya, makan sambel sembari ngegosip. Chatting sambil nyusuin bayi. Bikin kopi sambil nggoreng tempe. Termasuk juga nyetir sambil SMS-an. Tapi dari contoh-contoh di atas, berapa banyak yang kita tahu tidak akan membuyarkan konsentrasi terhadap pekerjaan lantaran pikirannya bercabang ke mana-mana?

Yang jadi masalah adalah, kalau gara-gara pengendaranya harus bagi-bagi konsentrasi antara melihat jalan dan melihat layar HP, maka dia tidak akan tahu bahwa ada babi hutan lewat. Dan babi itu bisa celaka cuman gara-gara pengendara mobilnya lagi ngelihat layar HP waktu dia ketabrak.

*Ngomong-ngomong, Vic, kenapa sih contohnya harus babi hutan?*

(Soalnya kalau contohnya manusia ketabrak kan serem..)
Bagaimana dengan faktor kebiasaan? Nah, ini yang harus diluruskan. Orang terbiasa karena dia terlatih. Orang mampu nyetir sambil SMS-an karena dia biasa melakukannya. Yang jadi problem, kemampuan orang itu ada batasnya. Semakin berumur, otaknya semakin uzur, maka kemampuannya untuk membagi konsentrasi akan semakin berkurang. Siyalnya sifat egoisme karena merasa “sudah terbiasa” itu tidak akan berkurang seiring dengan berjalannya umur. Pendek kata, makin tua, makin tidak sadarlah dia bahwa dia udah nggak sebagus dulu dalam urusan nyetir sambil SMS-an, gitu lho.
Yang repot, kalau sudah “merasa terbiasa”, lama-lama dia jadi takabur, dan nggak mau sadar bahwa lama-lama kemampuannya berkurang.
Jadi, selagi masih muda dan kita masih sadar bahwa suatu hari nanti kemampuan kita berkonsentrasi akan semakin berkurang, lebih baik berhenti nyetir sembari SMS-an, sebelum kita mulai menabrak orang atau babi hutan. Apalagi polisi sekarang makin nggak mau tahu aja, ada orang ketabrak mobil, tetap aja pengendara mobilnya yang dipenjara biarpun orangnya yang bego nyebrang jalan sembarangan. Padahal kalau kita dipenjara, siapa yang mau ngitik-ngitik suami di rumah, siapa yang mau mijitin nyokap di rumah?
Foto gw jepret empat hari lalu. Supir angkotnya SMS-an pas angkot lagi berhenti di Jalan Cihampelas.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

25 comments

  1. Reni says:

    Jadi pengen ngebuktiin bagaimana sih yg 'sudah biasa' itu melakukannya di jalanan yang semrawut.. Kalau dia benar-2 bisa melakukannya dg baik kenapa gak kita usulkan utk dicatat di MURI aja ya..? 😀

  2. Memang ada orang yang udah sedemikian lihainya sampai-sampai kalau ngetik di HP pun nggak usah sambil lihat layar. Tapi blogging sambil nyetir? Waduh!

    Mungkin kalau pas lagi di lampu merah nggak pa-pa lah. Kan mobilnya lagi berhenti..

  3. Fenty Fahmi says:

    mau gak mau mesti ngelirik Sharon dengan kebiasaannya dan BBnya. Itu bukan sekedar sms, tapi bertwitter, bahkan ada yang blogging pas nyetir, wik serem …
    Anyway, kalo pas lampu merah boleh gak ya ? *aku seringnya begitu* xD

  4. Mendingan berbaik sangka dulu bahwa peraturan ini akan benar-benar diberlakukan. Mosok kita mau kalah dari S'pore?

    Oh ya, ada lho orang yang bener-bener seneng nyetir sambil garuk-garuk punggung ceweknya..

  5. elia|bintang says:

    saya juga setuju kalo peraturan ini diberlakukan. kl di luar negeri sih udh dari dulu. ga usah jauh2, di singapore juga gitu kok..

    sbnrnya yg paling bahaya itu sms sambil nyetir karena pandangan mata kan teralihkan. kl nelfon kan masih liat depan. tapi saya tetep setuju peraturan baru ini kok 😀

  6. ah, cewek itu jg bakal nabrak kalo ada babi hutan yang tiba-tiba lari ke jalan. yakin deh. karena udah dari sononya cowok itu lebih jago nyetir daripada cewek. lha..apalagi kalo sambil sms-an.

    bagus lah kalo udah ada peraturan kayak gitu. tapi liat aja nanti, peraturannya bener-bener jalan apa nggak. jangan-jangan masih bisa disogok jg :p

  7. Waduh, jatuh di lobang tengah jalan sama sekali di luar pikiran saya. Ikut berduka cita ya..

    Menurut saya sih, ada peraturan ini berarti ada itikad baik dari Pemerintah Pusat buat menegakkan ketertiban. Jadi ya baiknya dihargain positif. Perkara polisi penegak hukumnya abal-abal, itu belakangan.

    Mungkin, harus celaka dulu untuk menyadari bahwa nyetir sambil HP-an itu berbahaya. Atau bahwa nyetir sambil garuk-garuk punggung itu berbahaya. Apalagi kalau yang digaruk itu bukan punggungnya sendiri, tapi punggungnya orang lain..:-D

  8. membaca postingan ini mengingatkan saya pada kejadian hape saya terjatuh ketika berkendara, itu karena saya lengah dan tak melihat lobang yang besar didepan..

  9. DESFIRAWITA says:

    bukannya merendahkan sih, tapi kenyataan banyak masyarakat kita yang nggak peduli sama hal-hal yang begituan. kalo udah kebiasaan, nggak bakal kapok tu nyetir sambil sms-an atau telpan.

    ya, nggak boleh pesimis juga sih, asal aparat bener2 mau menegakkan peraturan itu, mudah2an masyarakat kita mau menerima dan mematuhinya

  10. depz says:

    Padahal kalau kita dipenjara, siapa yang mau ngitik-ngitik suami di rumah, siapa yang mau mijitin nyokap di rumah? <—–wakakakakka….

    peraturan yg bagus walo gw agak pesimis.. contoh peraturan nyalain lampu buat pngendara motor aja ga berjalan kan
    tapi ttp gw dukung lah aturan ini

  11. Setahuku, denda itu berlaku buat semua orang yang nyetir mobil/motor sambil pegang HP. Entah itu SMS-an, lagi nerima telepon, atau cuman ngeliatin wallpaper doang.

    Polisi lalu lintas kayaknya mesti sungguh-sungguh mendenda kalau terjadi pelanggaran. Bisa aja kan ada "mystery shopper" yang langsung nelfon bagian pengaduan polisi sekiranya ada polisi yang mau disuap. Eh, nomer pengaduan itu masih efektif nggak, sih?

    To Wahyu, coba postingan Kontemplasi-nya disetel di Blogspot-nya, waktu pengetikan pada draft post disetel tahun '09. Pasti Blogspot-nya masih merekamnya tahun '10 tuh.

  12. Hendriawanz says:

    Setuju Vic,bahwa nyetir ya nyetir, sms ya sms, jangan "multitasking".
    Nah sekarang, efektifkah dengan denda itu? HP sekarang murah, penjual sayur, tukang ngamen, supir angkot nenteng HP tu sudah biasa. Dengan denda itu, di antara profesi tadi, supir angkotlah yang mungkin akan paling sial (penjual sayur, tukang ngamen, kayaknya gak lah kalau nyetir sambil kerja). Dan dengan Rp 750.000,- benerkah supir angkot akan membayar? Susah, sangat mungkin akan tawar-menawar. Punishment akan menimbulkan jera kalau proporsional.

  13. It's Me Joe says:

    iyah nih udah gw restart terus gw longok lagi kok tetep aja fotonya nggak muncul.. mungkin komputer ini maunya lihat foto cewek dari pada foto sopir (yang laki-laki).. but emang komputer gw ngaco, tulisanku tentang resolusi dan kontemplasi juga masuk kategori bulan desember arrrgggghhh… **lho kok jadi curhat komputer siy**

    btw, heheheh jadi setelah dihitung pendapatannya tertarik untuk mencoba jadi penegak hukum dijalanan yah ? :p

  14. Coba pakai kompie yang lain, Yu. Di sini fotonya baik-baik aja tuh.

    *sedang bertanya-tanya berapa jumlah yang bisa dikumpulin jika pengendara Indonesia beneran didenda*

  15. It's Me Joe says:

    Kok Fotonya nggak muncul yah…
    Btw, sesuai informasi katanya di LN denda tilang sebetulnya murah mulai sekitar US$ 7 atau sekitar Rp 70.000,- tapi tetep tuh masyarakatnya jauh lebih baik dalam berkendaraan.

    Apa Sebabnya ? karena hukum ditegakan, nggak ada itu yang namanya damai atau cincai dan malah jadi sumber pendapatan yang tak halal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *