Hati-hati Dong Sama Lagunya

Masih inget nggak sama lagu ini?

“If you love me like you tell me, please be careful with my heart, You can take it, just don’t break it, or my world will fall apart..”

Lagu ini ngetop udah lama sekali, mungkin sekitar wangsa ’90-an gitu deh, dinyanyiin sama Bing Loyzaga dan Jose Mari Chan dari Filipina. (Tapi gw terpesona sama lagunya justru waktu dinyanyiin oleh Chan dan Titiek Puspa, hahaha!) Anda yang sama-sama generasi X kayak gw atau mungkin generasi baby-boomers pasti masih inget lagu ini, dan beberapa masih bisa menyanyikannya dengan fasih, ya kan?
Nah, lagu itu kayaknya bakalan ngetop lagi tahun ini. Cuman bukan dinyanyiin oleh Chan dan Bing, melainkan oleh Christian Bautista dan Bunga Citra Lestari. Jangan keburu hepi dulu! Soalnya, menurut yang gw dengar barusan, lagu itu bakalan dirilis di Indonesia, dan dinyanyiin dalam bahasa Indonesia. Wadaww!
Jadi nanti kalau dinyanyiin dua orang itu, hasil reffrainnya kayak gini lho, “Kau cinta pertama..” (itu bagian yang semestinya adalah “You were my first romance..”) Seterusnya gw lupa, tapi ujung-ujungnya lirik “please be careful with my heart”-nya diganti jadi “tetaplah di hatiku..” Kacau beliau!

Hm..gimana yah? Kok gw nggak sreg gitu, lagu yang aselinya ditulis dalam bahasa linggis, tahu-tahu diterjemahin ke dalam bahasa Indonesia. Ini sebenarnya bukan peristiwa baru kan? Masih inget dulu lagunya Julio Iglesias yang judulnya To All the Girls I’ve Loved Before dirilis di Indonesia dalam kemasan duet bareng Andre Hehanussa, di mana setengah liriknya diganti ke dalam bahasa kita sendiri. Yang paling fenomenal tentu saja lagunya Maribeth judulnya Denpasar Moon, di Indonesia sampai diterjemahin ke dalam banyak bahasa, selain ke bahasa Indonesia sendiri, juga ke bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa entah apa lagi.
Maksud gw, kalau memang tuh lagu Please Be Careful with My Heart mau ngetop lagi ya nggak usah diterjemahin ke bahasa Indonesia deh, merusak karya aja (meskipun mungkin pencipta lagunya sudah ikhlas). Lirik aselinya udah bagus, nggak usah digonta-ganti lagi. Kalau boleh gw pengen nyebutnya sih please be careful with the song, alias..hati-hati dong sama lagunya. Apa sekedar mau mamer-mamerin, “Ini lho..Christian Bautista bisa nyanyi lagu bahasa Indonesia?”
Buat Anda yang pengen tahu lirik aseli lagunya kayak apa, nih gw tulis di sini. Sori dori mori ya versi Unge-Xtian nggak gw tampilin di sini, soalnya gw nggak mufakat sama liriknya..
If you love me like you tell me, please be careful with my heart, You can take it, just don’t break it, or my world will fall apart.
You were my first romance and I’m willing to take a chance, That the life is true, I’d still be loving you, I will be true to you, just a promise from you will do, From the very start, please be careful with my heart.
I love you when you know I do, there’ll be no one else for me, Promise I’ll be always true for the world that all to see, Love has hurts and lies have been spoken, And I have had my heart that broken, I’ve been burnt and I’ve been hurt before.
So I know just how you feel, trust my love is real for you, I’ll be gentle with your heart, I’ll caress it like the morning dew, I’ll be right beside you forever, I won’t let our world fall apart, From the very start, I’ll be careful with your heart.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

37 comments

  1. Hai! Sayangnya saya belum dapet komentar dari pencipta lagunya, sebenarnya Please Be Careful with My Heart itu apa. Mungkin aja memang maksudnya menyuruh "tetap tinggal di hati", meskipun kalbu saya yang ngaco berkata bahwa maksudnya adalah "waspadalah dengan liverku". (Iseng MODE : ON)

    Justru di sinilah saya mau bilang bahwa tiap lirik lagu itu ada maknanya, persepsinya buat tiap pendengar bisa berbeda-beda, oleh sebab itu sebaiknya orisinalitas itu mbok ya dihargai. Tentu saja saya tidak menggugat produsernya Unge dan X-tian dengan tuduhan tidak menghargai orisinalitas komposisi aslinya. Sah-sah saja mengganti lirik dengan terjemahan bahasa yang berbeda, tapi di tulisan ini saya menitikberatkan pada penghargaan terhadap orisinalitas lirik. Ini hanya murni pendapat saya pribadi.

    Terima kasih atas koreksinya. Sekarang saya mengerti kenapa saya merasa ada yang tidak beres waktu saya dengar bait itu, nampaknya saya salah mendengarkan "are" menjadi "were". Termasuk salah mendengar "and" menjadi "when" itu.

  2. PS. nambah lagi, kayaknya lirik "Please Be Careful With My Heart"-nya ada sedikit koreksi, menurut saya yang bener:
    "You are my first romance and I’m willing to take a chance", kayaknya ga bisa past tense deh karena logik-nya jadi ga masuk (masak dulu pernah jadi pacar pertama, tapi terus mau coba-coba lagi)
    Terus : "I love you and you know I do", jadi "kamu sungguh tahu bahwa aku mencintaimu", bukan "Kamu tahu manakala aku mencintaimu".

    Gimana, jeung?

  3. Halo Jeung Vicky,
    (maaf ya kalo panggilannya salah)

    Tadi baru denger lagu BCL "Tetaplah di Hatiku" karena dilisting sebagai top 40 di salah satu radio. Ga berapa lama dengerin ini lagu, kok mirip banget sama lagunya si Jose Mari Chan seperti yg Jeung Vicky tulis di atas. Iseng2 googling "Apakah lagu Bunga C. Lestari Feat. Christian Bautista – Tetaplah Di hatiku adaptasi Jose Mari Chan Please Be Careful with My Heart" dan sampailah saya ke blog ini. Salam kenal ya, Jeung:)

    Yang saya mau komentari, menurut saya sih sah-sah aja, sebuah lagu diadaptasi menjadi bahasa lain, dan jika dalam proses adaptasi itu ternyata maknanya jadi berubah, memang agak disayangkan. Tapi kalo mau diterjemahkan saklek kan lucu juga, masa "Mohon hati-hati dengan hatiku". "Tetaplah di Hatiku" seharusnya bisa dilihat dalam makna yang lebih jauh, di mana seseorang untuk tetap bisa berada di hati orang yang dikasihinya tentunya harus mempunyai sikap menjaga dan berhati-hati.

    Barusan saya dengar lagi lagu versi BCL itu, dan menurut saya esensi terjemahannya sudah pas. Tidak seperti kebanyakan orang "jauh di mata jauh di hati" maka dalam lagu ini sepasang kekasih ini menjanjikan untuk selalu saling hadir di hati masing-masing, suatu esensi makna "I'll be careful with your heart".

    Nah, begitu saja 🙂

  4. luvly7 says:

    waaah, one of my duet fave song … Ogut hafal sampe ke intro & interludenya!!

    kalo tiba2 di translate, haiizzz, moga2 gag jadi ilfiel dengernya!!

  5. jc says:

    oh itu Christian Bautista?? makanya.. kupikir itu bojone BCL.. sejak kapan jadi seganteng itu… hehehehe…
    aduhh..jgn ngomongin translate deh.. udh susahhhh…
    kayak gini nih
    kalo orang mo pigi keluar kota biasanya org bule ngomongnya: have a nice trip.. di-indonesia-in jadi: jgn lupa oleh2nya!
    nah lho!

  6. Lagu itu juga favorit gw. Kalau gw denger lagu itu diputar, gw langsung menghentikan aktivitas gw dan mendengarkannya dengan khidmat. Gw juga nggak rela kalau lagu itu dinyanyiin dalam bahasa Indonesia..

  7. Ya itulah, biarpun liriknya setelah di-indonesia-in nanti jadi amburadul, mudah-mudahan lagunya tetep laris coz BCL yang nyanyinya tetep cantik. Mungkin produsernya bermaksud supaya penggemarnya nanti waktu menyanyikan ini, berkhayal jadi cantik seperti BCL..

  8. Arman says:

    wah lagu itu salah satu favorit gua tuh…

    tapi kalo diindonesiakan kok rasanya jadi males ya mau ngedengerinnya.. hehe.

  9. sibaho way says:

    hehehe.. welcome to the club, vic ! inilah potret industri musik kita. btw, denpasar moon-nya maribeth pernah denger dalam versi sunda, kurang lebih gini: oh kang sarmun.. wkwkwwkkw… :))

  10. It's Me Joe says:

    syusaaahhhh emang kalau kasih komentar sama MD… selalu asosiasinya anatomi tubuh.. termasuk urusan lagu.. yah liver lah, yah cardio, yah kidney …. xixixixix

  11. Mas, itu bukan "Denpasar Moon". Itu "O Kang Sarmun"..

    Sebenarnya mengganti lirik memang berarti mengganti sebagian jiwa lagu, Mas. Misalnya aja, di lagu versi Jose Mari Chan itu, sebenarnya intinya "Hati-hati ya, soalnya liver saya ini rapuh". Tapi begitu dinyanyiin sama Unge, inti lagunya berubah menjadi "sampeyan tetaplah ada di liver saya". Itu dua konsep yang sama sekali berbeda!

  12. mas stein says:

    jadi inget lagu yang sering dinyanyiin di kampung saya, "denpasar moon, penekno blimbing kuwi…"

    sebenernya urusan mengotak-atik lagu ndak sepenuhnya salah, misalnya easy-nya si commodore banyak yang suka, tapi ndak menutup kemungkinan ada yang lebih suka versinya faith no more.

    tapi kalo sampeyan spesifik bahwa ini tentang liriknya, saya sepakat, biarkan lirik aslinya, karena separuh jiwa sebuah lagu ada di situ.

  13. Perasaan ada aturannya deh. Misalnya lagu "Mother"-nya John Lennon atau "The Way We Were"-nya Barbra Streisand itu kan juga sama nadanya, tapi liriknya beda. Kalau dua lagu itu sama notasinya minimal satu baris birama, maka salah satu lagunya mesti bikin permintaan ijin kalau nggak mau dibilang plagiat.

    Mestinya lagu-lagu itu nggak usah diterjemahin, biarin aja pakai bahasa aselinya. Sekalian ngajarin pendengar musik belajar bahasa lain. Mbok dilihat unsur pendidikannya, bukan cuman urusan komersial doang.

  14. mawi wijna says:

    Lagu-lagu Jepang di komputer saya juga ada yg bagus mbak, baik lirik maupun iramanya. Cuma ya kalau diterjemahkan jadinya ndak pas. Tapi kalau lagunya dijadikan inspirasi untuk lagu baru nanti dituduh plagiat. Gimana ya enaknya?

  15. Pitshu says:

    banyak lagu luar yang di indonesiakan, mungkin di rubah biar enggak usah bayar ama penciptana kali yah, makanya di bedain, sinetron niru aja, di bedain kok 🙂 asal kan ada beda dikit, namanya udah BEDA = mBE jeung kuDA hahahaha…

  16. DESFIRAWITA says:

    iya ya, kadang kalo dengar lagu yang udah diterjemahin itu jadinya rada2 aneh and nggak sreg lagi.
    yach…gak th sama yg satu ini, mudah2an nggak begitu parah
    hehehe

  17. Hendriawanz says:

    Terus terang, kalau mendengar lagu yang di-“begitu”-kan, rasanya panca indera juga ikut kacau deh. Semua jadi ikut terbalik-balik. Kepala mual-muntah, perut pusing. Telinga berkunang-kunang, mata berdenging. Jangan dipaksakan dong. Karya seni tu sangat spesifik. Bagi penciptanya, 1 kata, 1 not pun dia pilih dengan sepenuh hati. Tapi sering kali itu dikalahkan oleh hasrat komersial. Melanggar undang-undang hak cipta nggak sih, khususnya pasal 55 UU No 19 Tahun 2002 ?

  18. Ini hobi yang jadi kebiasaan buruk. Mungkin maksudnya menjangkau pembeli rekaman yang nggak bisa nyanyi bahasa linggis/mandarin supaya mereka bisa ikutan nyanyi?

  19. Pucca says:

    haha.. gua pengen denger lagunya jadi kaya apa kalo didubbing ke indo, lagu mandarin juga banyak lo yang dialih bahasakan vick, emang hobi keknya ;P

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *