Hak untuk Cantik

Sewaktu gw kerja di Cali tahun lalu, gw sering lihat perempuan-perempuan Dayak jalan berkilo-kilo ngangkut kayu bakar di punggungnya. Pemandangan yang unik, soalnya mukanya pakai bedak gitu, semacam bedak dari beras, yang ditaburinnya tuebel banget. Tampangnya jadi nggak jelas, seperti pakai masker tapi nggak rata, seperti pakai bedak tabur tapi kayaknya nggak juga. Sayangnya gw nggak pernah bisa motret mereka dengan jelas, coz nampaknya mereka selalu bisa menghindar tiap kali gw pasang kamera (waktu itu gw belum jagoan candid). Gw nanya ke perawat gw, kenapa sih emak-emak Dayak kalau pakai bedak nggak rata, padahal kayaknya mereka cukup duitlah buat beli cermin biarpun cuman seupil doang. Kata perawat gw, “Memang cara mereka dandan begitu, Dok. Katanya pakai bedak itu biar cantik, dan juga untuk kesehatan kulit wajah..”

Di Pangalengan, sebelah selatan Bandung, kadang-kadang gw juga lihat emak-emak petani yang kerja di kebun teh, panas-panas di bawah terik matahari. Lagi sibuk-sibuknya ngurusin daun teh itu, kadang-kadang sempat-sempatnya mereka nyuri-nyuri kesempatan buat ngaca di cermin kecil dan ngolesin lipstik. Bayangin, di kebon teh, masih nekat pasang make up! Gw aja nolak mentah-mentah ide pasang make up di muka umum, tapi ibu-ibu ini dengan merdekanya pakai lipstik di kebon teh. Emang siapa yang mau lihat sih?

Tapi kedua cerita di atas, memberi tahu gw fenomena penting tentang kesamaan perempuan di belahan negeri manapun: Perempuan nggak bisa berhenti dandan, dalam keadaan seprihatin apapun. Beberapa perempuan tidak seperti gw yang cukup beruntung bisa hidup nyaman tanpa takut keringetan, coz mereka mesti kerja keras bagai kuda, dicambuk dan didera, kurasa berat beban hidupku (halah..niru-niru Koes Plus!). Namun mereka tetap berusaha tampil cantik dan nggak mau muka mereka seperti jeruk purut, biarpun mereka mesti kerja keras berjalan jauh manggul kayu bakar dan bergerilya panas-panas memanen daun teh di kebon.

Apalagi perempuan-perempuan yang nyambi jadi narapidana di penjara. Mereka juga kepingin cantik. Oleh sebab itu, gw bisa mengerti kenapa Artalyta Suryani bisa sampai nekat mendatangkan dokter kulit supaya bisa tetap cantik biarpun dos-q kudu mendekam di penjara Pondok Bambu Jakarta. Tanpa menyingkirkan rasa tidak adil karena dos-q menempati sel penjara yang tampangnya lebih mewah ketimbang kamar tidur gw sendiri, gw harus mengakui bahwa usaha Artalyta untuk tetap rajin facial di penjara adalah sangat manusiawi, coz dia seorang perempuan. Cewek nggak selayaknya punya tampang asem seperti acar. Bahkan meskipun dia dipenjara seumur hidup, mereka juga berhak dandan lengkap, apakah itu cuman sekedar mandi luluran di kamar mandi penjara, atau yang versi kakap seperti pakai bulu mata palsu yang ada glitter-nya. Memangnya siapa yang mau lihat perempuan dandan? Wah, itu pemahaman yang salah. Perempuan berdandan bukan buat dilihat laki-laki, bukan buat ajang pamer kepada sesama perempuan lainnya, tapi itu adalah perilaku perempuan yang manusiawi untuk menghargai dirinya sendiri.

Jangankan perempuan, laki-laki juga boleh dandan kok. Mungkin dalam bentuk lain, misalnya nyukur jenggot atau pakai parfum sehabis mandi. Boleh dong laki-laki yang lagi jadi narapidana tetap kelihatan ganteng seperti Brad Pitt?

Gw dengar, hasil inspeksi dadakan di Rumah Tahanan Pondok Bambu telah menyebabkan Artalyta Suryani mesti rela dipindahin ke rumah tahanan lain. Tanpa melupakan perbuatan suapnya kepada jaksa tahun lalu, gw turut simpati lantaran perbuatannya sedang facial di kamar tahanannya dipolitisir berlebihan. Perempuan berhak untuk cantik, karena itu perempuan berhak merawat dirinya semampunya, coz begitulah caranya menghargai anugrah atas wajah yang dikaruniakan Tuhan kepadanya.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

20 comments

  1. Kayaknya buat Ayin, tebel make-up-nya udah standar begitu. Jelas banget isi tas kosmetiknya Ayin nggak setipis tasnya Etha. Aku juga cuman bawa barang-barang itu doang lho, Tha, plus minyak wangi..

  2. fahmi! says:

    eh, aku sepakat dg hendriawanz, make up terlalu tebel itu nggak oke. jadi kayak badut. justru yg tipis2 aja yg cantik alami. dan imho, make up-nya ayin itu terlalu tebel.

  3. Aldo says:

    Percuma fisiknya cantik kalau kelakuannya jelek. Kan yang terpenting bukan kecantikan fisik,tapi cantik moralnya.Yang perlu dia percantik selama di LP yah itu, moralnya hehehe…

    Puji Tuhan, kalau ada wanita yang cantik moral dan sekaligus juga cantik fisiknya.

    Salam,
    Aldo

  4. Hendriawanz says:

    Kalau seseorang cantik di mataku, itu membuatku senang, dan pastinya membuatku bersemangat. Apalagi jika memang seseorang itu berusaha cantik utk aku. Walaupun aku lebih suka jika perempuan make up biasa saja, tipis-tipis saja supaya tidak menghilangkan kecantikan alami. Jika seseorang make up tebal dengan maksud menghargai dirinya, mungkin aku bisa mengerti dan menghormati itu. Itu menurutku, dan pastinya orang lain punya pendapat lain juga.

  5. Wijna, itu solusi yang sangat hebat! Itu akan memberi banyak sekali manfaat:
    1. Memberi pelatihan keterampilan buat para narapidana tentang ilmu kecantikan
    2. Memenuhi kebutuhan SEMUA wanita di penjara untuk facial
    3. Menjadi wadah potensial untuk memperkenalkan cara berdandan yang tradisional sebagai kekayaan budaya Nusantara, yaitu pakai bedak beras untuk mendinginkan wajah

  6. mawi wijna says:

    Kalau mau Facial ya hendaknya di salon. Kalau bisa di rumah tahanan diberdayakan itu para tahanannya untuk buka salon disana. Jadi, biar ndak undang dokter ke dalam sana. Kesannya kan jadi privat.

  7. iya aku juga pernah tanya kenapa wanita2 asli di Kalimantan bedaknya tebel banget, seperti pake masker bengkoang.. jawab org situ, katanya supaya wajah jadi adem dan nggak kebakar terik matahari.

  8. Gw tadinya mau bilang "ganteng kayak Tukul Arwana", Pits. Tapi suara hati gw berkata lain.. 🙂

    Gimana ya, Pits? Cowok pakai krim malem itu pertanda metroseksual atau kepingin sehat? Kalau gw sih cenderung yang nomer dua ya. Tapi kalau gw ngebayangin punya suami yang pakai krim malem, kok rasanya gw ngeri juga, hehehe..

  9. Pitshu says:

    dari kemarin bawa2 bradpitt melolo haha.
    yah waktu itu pernah baca artikel, klo cowo di taiwan dan di china, rata2 merawat banget kulit wajahnya, ga usah jauh2 paman g dari taiwan umur na udah 65 lebih keriput cuma dikit, ternyata doi rajin banget pakai krim malam dan krim sehari2 hahaha :), dan menurut tante g cowo di taiwan rata begitu, g kalah mulus ama Om g udah umur 65th huhuhuhu

  10. Iya, gw dokter umum, Mbak. Dan gw dokter yang sangat ngerti kebutuhan perempuan buat nyalon. Makanya untuk keperluan yang satu ini gw berdiri di pihak Artalyta, hahaha..

  11. de asmara says:

    kalo si Artalyta ini, ampun deh, kayanya bener2 kekeuh banget pengen tetep nyalon ya. gue sampe nyerah utk kegokilannya yg satu itu saat liat dia ketangkep petugas sidak dan dia mukanya gak keru2an karena lagi pake masker. gue membatin "okelah bok, utk soal nyalon lo gue 'ampunin' 😛 " tapi cuma buat soal yg satu itu doang lhooo
    Vicky dokter ya? dokter apa Vick?

  12. Harus digarisbawahin bahwa setelah dos-q ketahuan nyuap jaksa, ini dos-q ketahuan lagi nyuap sipir penjara. Kayaknya nggak belajar dari kesalahan yang lalu deh. Hahaha..

  13. Arman says:

    perempuan emang berhak untuk cantik vic… tapi ya buat pelajaran, makanya jangan sampe ketauan kalo nyuap jaksa… biar gak masuk penjara… biar acara facial nya bisa terus berlanjut tanpa masalah… gitu kali ya.. hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *