Syiar Pasangan Anyar


“Nikah kok nggak bilang-bilang?”

SMS itu jatuh ke inbox gw minggu lalu, dari seorang kolega di Jakarta. Bikin gw terpingkal-pingkal sampai sakit perut.

Jadi, pangkal permasalahannya gini. (ceilee..serasa ngurus sengketa tanah)
Isi SMS itu resminya berbunyi gini, “Vic, td wkt gw lg nunggu giliran periksa d SpOG, gw ngeliat ibu hamil mukanya mirip lo. Sumpah mirip bgt, smpe gw brkta dlm ht, ‘vicky nkh ga ngasihtau..'”

Sebenarnya batin gw rada tersinggung, soalnya kok bisa-bisanya ada orang yang nyama-nyamain muka sama gw sih. Memangnya beli muka di mana sih, kok bisa sama? Heyy..muka gw ini cuman satu-satunya, nggak ada lho Tuhan nyiptain muka orang lain sama persis dengan muka gw..
*mengerutkan kening, berpikir jangan-jangan pada siang bolong di Pulang Pisau itu nyokap gw memang bukan melahirkan satu anak, tapi dua*

Oke, kenapa gw terpingkal-pingkal? Yah, kolega gw itu cukup kenal gw dengan baik, dia tahu kelakuan gw yang memang selalu bikin kejutan. Termasuk ide nikah nggak bilang-bilang itu mungkin saja jadi ide gw, jadi wajar aja kolega gw langsung mencurigai gw, hahaha.

Setiap anak gadis pasti pernah mengimpikan pernikahan, dan gw juga pernah dong. Cuman, ide khayal gw itu nggak pernah melibatkan “resepsi yang ngundang sampai 2000 undangan”. Busso..bejibun amat seh, mosok gw mesti berdiri nyalamin tamu sebanyak itu, bisa pegel punggung gw nanti.
(Tapi mungkin begitu konsekuensinya kalau gw bersedia jadi menantunya presiden, jadi gw harus siap-siap)
*dipelototin my hunk*

Itu masalah teknis. Di lain pihak, sebagai perempuan generasi X yang dibesarkan dengan tontonan film Hollywood, gw pernah terkesan sekali sama beberapa film di mana tokohnya nikah nggak pakai pesta-pestaan.
Di Lois and Clark-nya Teri Hatcher, Lois Lane dan Clark Kent nikah cuman dihadirin bonyok dan adeknya Lois, sementara pendetanya adalah Perry sendiri. (Tahu Perry, kan? Iya, boss-nya Daily Planet itu ternyata pernah ditahbiskan jadi pendeta.)
Di Sex and the City, Carrie Bradshaw akhirnya nikah berdua aja sama Big di Balai Kota New York. Nggak pakai resepsi, tapi mereka traktir-traktir Charlotte dan keluarganya, Miranda dan keluarganya, Samantha, dan Stanford bareng pacar gay-nya, di kedai kopi tempat mereka biasa sarapan.
Ide lebih asyik lagi di film What A Girl Wants. Perdana menteri Inggris-nya yang diperanin oleh Colin Firth akhirnya kawin sama mantan pacarnya secara diam-diam di Maroko, dan mereka naik onta yang buntutnya dipasangin panel bertuliskan “Just Married”.

Sebenarnya di dunia nyata kita juga lihat beberapa orang yang kita kenal menikah diam-diam. Cindy Fatika terpaksa nggak bilang-bilang kalau dia sudah menikahi Tengku Firmansyah, coz takut dipecat dari Mustika Ratu yang mengontrak dia sebagai model iklan kosmetik remaja. Pernikahan Armand Maulana dan Dewi Gita baru ketahuan bertahun-tahun kemudian, entah kenapa. Anda pasti bisa nyebutin contoh-contoh lainnya.

Di agama gw, nikah itu yang penting sah kalau ada penghulu, ada saksi minimal dua orang, ada persetujuan dari bokapnya penganten perempuan. Juga ada kepercayaan di suku gw bahwa anak perempuan harus minta restu dulu dari nyokapnya kalau menikah. Lain-lainnya, nggak wajib.

Paling-paling yang ngambek adalah temen-temennya bonyoknya penganten yang merasa nggak diundang. Soalnya merasa nggak diajakin makan-makan, hahaha..

Dewasa ini, kebiasaan ngundang-ngundang pas hajatan nikah itu meluas ke “tahap-tahap lain”. Jangankan orang yang nikah, baru tunangan aja udah bikin hajatan meriah. Di kalangan kelas ingusan, anak a-be-geh yang baru “jadian” aja ditodong teman sesekolahannya buat ditraktir makan bakso.

Intinya sama aja, kita menikah, atau tunangan, atau baru pacaran, nampaknya “dituntut” kudu bilang-bilang. Gw pikir, haruskah?

Mungkin ada benarnya. Ada semacam konsensus nggak tertulis di kalangan pemuka agama gw, bahwa nikah itu sebaiknya diumumin ke orang banyak. Alasannya, biar nggak jadi fitnah. Misalnya, laki-laki dan perempuan digosipin kumpul kebo coz mendadak mereka tinggal serumah, padahal mereka memang udah legal sebagai suami-istri.

Termasuk berdiri berjam-jam nyalamin 2000 tamu undangan?

Salaman = ucapan selamat. Dalam ucapan selamat berarti ada doa. Ada restu. Artinya ada semacam pengakuan kedaulatan dari orang lain atas hubungan baru mereka sebagai suami-istri.

Dan tidak ada yang lebih membanggakan, selain dari kenyataan bahwa kedaulatan kita sebagai “new couple” dapet pengakuan dari orang lain, kan? Kedaulatan itu tidak akan bisa diberikan secara resmi, kalau pasangan baru itu hanya menikah diam-diam saja di atas onta.

Pengen difoto sama Jim Liaw, seperti karyanya di atas.. Gaunnya bisa buat nyapu lantai.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

22 comments

  1. Elsa says:

    gaunnya bisa nyapu lantai? heheheheehe
    gak jadi bride dong, jadi cleaning service, hehehehee

    emang keren ya fotonya

  2. Kl jadian ngomong2 ngga? tergantung kali ya.. kalau jadian ama Brad Pitt bukan cuma temen2 dikasih tahu tapi orang se RT-RW diumumin pake TOA ha..ha.. so mungkin semakin bahagia dan bangga bahwa ia sudah punya 'seseorang' pastinya pengen banyak yang tau dan 'nyelamatin'

    Prinsipnya gua gak pengen pesta apalagi 2000 tamu ( angpaonya minimal 1000 biji kah??) tapi akhirnya nyerah pada tuntutan ibu2 yang gak mau si anu dan si ani tersinggung coz namanya tidak didaftar dlm tamu undangan. Pas resepsi cuma bisa pasang tampang nyengir2 kuda karena mayoritas bapak2-ibu2 yang kita gak kenal.

  3. furqoni says:

    Beberapa kawan yang niatnya tidak ingin diadakan pesta ternyata dari keluarga menginginkan diadakan pesta, termasuk diri saya pribadi rasa-rasanya tidak terlalu perlu dilakukan pesta. Terlebih pesta yang supermeriah.
    Ada orang tua ingin membuat pesta untuk anaknya terlebih orangtua perempuan. Sedangkan pengantinnya merasa tidak perlu atau pasangan pengantinnya merasa ingin meriah sedangkan orang tuanya merasa tidak perlu. Intinya penyampaian ke masyarakat, sehingga tidak muncul fitnah diantara mereka (pasangan baru) disaat menjalani keluarga baru mereka.
    Pernah ada kejadian yang luar biasa dan semua diawali dari sebuah pertemanan, cerita sebuah pernikahan, kebetulan kedua pasangan ini jauh dari keluarga karena mereka merantau hingga keluar pulau. Disaat mereka menikah mereka tidak tahu bahwa kawan-kawanya menyiapkan pesta untuk mereka berdua. Setelah mereka dan keluarga selesai mengucapkan ijab kabul dengan persyaratan lengkap menurut agama islam, diantarlah mereka kelokasi yang kawan-kawan mereka siapkan. Awesome….. ha haha panjang juga ya ๐Ÿ™‚

  4. *nikah diatas onta? whehwhwhewhhehwhehwhehehe….

    *jadi kapan Vick? Untuk yg ini gak diam-diam kan? ๐Ÿ˜€

    Klo adat batak malah rumit sekali Vick, masih ada pra nikah dan acara adat nikah itu sendiri sampe seharian… heheh…
    *bisa-bisa mempengaruhi malam pertama.. akwkawkakwakak

  5. Sebenarnya kemaren aku bukan mau ngomongin pernikahan. Inti tulisan ini cuman mau bilang "kalo udah 'jadi', emangnya mesti rame-rame ya?" tapi seperti biasa, pembicaraanku malah melebar ke mana-mana..hahaha.

    Menurutku foto di atas itu bukan berarti penganten cowoknya nggak tahu remote shutter-nya di mana. Justru itu pose spesial dari penganten ceweknya berdasarkan request pribadi cowoknya. Aku belum ngubek-ngubek website Jim Liaw lagi, pasti aku nemu banyak yang lebih bagus dari ini..

    Baiklah, kalau bonyok memang mau pesta, ya sudah pesta saja. Tapi aku mesti siap-siap tukang pijat karena berdiri nyalamin orang berjam-jam..

    Sekarang aku sedang berdoa supaya bokap segar-bugar, jadi nggak perlu nyuruh aku pre-wed buru-buru. Jangan, Dad, my hunk masih perlu belajar banyak sebelum jadi suami. Belajar betulin genteng, belajar nanem di ladang, belajar menggembala kambing.. ๐Ÿ˜›

    Lagian kalo aku pre-wed, mungkin nggak semua fotonya bisa diunggah buat dilihat banyak orang. Soalnya kayaknya fotonya layak disensor sama Depkominfo, hahaha..

  6. Arman says:

    gua dulunya juga pengennya gak pesta pas nikah. cuma di gereja aja. tapi esther mau pesta. dan akhirnya kita pesta. dan gua gak nyesel sama sekali lho!

    emang nyiapinnya rada ribet, emang pas hari H nya itu cape banget, tapi seneeeeeennnggg banget juga lho! that was one of the happiest days of my life!

    jadi buat yang emang nikah dan ama ortu nya disuruh pesta, gpp, pesta aja. nikah itu kan once in a lifetime. you won't regret it. ngeliat foto2nya ntar, plus video nya.. bener2 menyenangkan! ๐Ÿ™‚

  7. fahmi! says:

    ngamati foto di atas, aku duga yg cowok itu fotografer. dia nggak ikutan nongol di foto karena dia yg moto. dan dia nggak ikutan nongol di foto karena dia nggak percaya kameranya dipegang orang lain, takut hasil jepretannya nggak seperti yg dia harapkan, jadi mau nggak mau mesti dia sendiri yg njepret. tapi mungkin si cowok itu tipe fotografer amatiran yg belum ngerti cara nyetel timer di kameranya, ato nggak punya remote shutter.

  8. Esel says:

    Buset dah mbak, kebetulan aku juga posting tentang wedding, hahaha, kompak ye ๐Ÿ™‚ Tapi teman saya yang diceritain di postinganku itu nikah cepet soalnya bapanya sakit keras, jadi dia pengen jadi wali anak cewek satu-satunya secepatnya, hiks…kasihan…

  9. Menggarisbawahi kalimat Desi, bahwa nikahan itu hajatan orang tua: kadang-kadang kurasa pernikahan itu lebih menjadi hajatan orang tua ketimbang hajatan pengantennya, Des.

    Oh ya, jangankan manusia sampai tujuh orang yang berwajah sama. Daniel Keyes malah nulis tentang Billy yang wajahnya sampai 24..

  10. Desi Eria R. says:

    Aku pernah denger kalo kita ini diciptain ada 7 yg mukanya mirip hehe, ga tau sih bener/ga.

    Kalo aku setuju sama harus diumuminnya, cuman kalo ngundang sampe ribuan orang yg mungkin kita pun ga terlalu kenal dekat ga setuju. Cuma ya nikah kan hajatan orang tua juga, apa daya kalo orang tua banyak kenalan hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *