Nak, Jangan Lihat Burung Papa

Bagaimana caranya mencegah anak-anak dari pelecehan seksual seperti yang dilakukan Babeh yang akhir-akhir ini beritanya wara-wiri di media? Kita nggak bisa bilang itu semata-mata karena nasib buruk, tapi orang tua dari masing-masing korban layak ditanyai kenapa anak-anak mereka bisa berakhir seperti itu. Kalau dipikir-pikir, anak-anak yang menjadi korban Babeh tidak kenal pria itu begitu saja, kan? Tapi ada tahap-tahap tertentu di mana mereka dimanipulasi sedemikian rupa sampai mereka sulit membedakan kapan hubungan mereka dengan Babeh adalah semata-mata hanya sebagai “paman dan keponakan” dan kapan hubungan nista itu sudah berkembang menjadi “sepasang pacar”.* * *

Beberapa bulan yang lalu, gw sempat nginap selama beberapa hari di rumah seorang sepupu. Sepupu gw adalah seorang nyokap dari tiga orang anak perempuan yang usianya merentang antara sembilan bulan sampai lima tahun. Suaminya sibuk kerja, pergi pagi pulang sore.

Suatu pagi gw melihat Dinara (bukan nama sungguhan lho!), ponakan gw yang umurnya lima tahun itu masuk kamar mandi. Gelagatnya kayaknya mau mandi, mengingat dia masuk kamar mandi sambil telanjang. Nah, beberapa saat kemudian, suami sepupu gw masuk juga ke kamar mandi itu, terus nutup pintu. Lalu gw dengar suara jebyar-jebyur disertai suara berisik Dinara yang seneng main air.

Agak lama Dinara di dalam sana bareng bokapnya. Batin gw, “Halah, mandiin anak sak precil aja kok lambreta bambang seh?”

Lalu gw dengar suara jebyar-jebyur lagi. Dan terakhir itu gw dengar suara kakak ipar gw itu nyanyi-nyanyi sumbang. Lagunya, “Are you lonesome tonight? Do you miss me tonight?” (Oke, yang ini gw karang-karang sendiri.. *siap-siap dipentung kakak ipar*)

Tapi ada sesuatu yang menghenyakkan gw. Lalu gw nanya ke sepupu gw, “Si Mas lagi mandi?”

Jawab sepupu gw, “Yeah.”

Gw tertegun. “Mandi bareng Dinara?”

Sepupu gw ketawa. “Iya.” Dikiranya itu lucu.

* * *

Banyak orang sulit membayangkan seperti apa memberikan pendidikan seks pada anak-anak usia kecil seperti Dinara dan adek-adeknya, padahal sebenarnya gampang. Ketika anak mencapai usia 4-5 tahun, dia mulai belajar membedakan apakah dirinya laki-laki atau perempuan. Ini saat yang tepat buat ngajarin tentang alat kelamin, dan juga ngajarin anak bahwa sebaiknya dia nggak boleh nunjukin alat kelaminnya kepada orang lain.

Termasuk ngasih tahu anak perempuan bahwa sebaiknya bokapnya juga jangan lihat, coz bokapnya kan cowok. Kecuali kalau anak itu lagi sakit ya.

Namun kan susah, soalnya kadang-kadang anak-anak umur balita begitu belum bisa mandi sendiri, jadi mesti dimandiin orangtuanya, termasuk juga dimandiin bokapnya. Oke, namanya juga masih belajar, nggak pa-pa sih. Kalau begitu bokapnya jangan ikutan mandi juga, coz pada saat mandi bareng itu, anak perempuan akan lihat bahwa bokapnya punya penis dan dia akan merasa bahwa melihat penis laki-laki itu “halal”.

Anak-anak yang diperkosa oleh Babeh, rata-rata berumur 10-12 tahun (meskipun ada juga yang baru berumur tujuh tahun), usia yang sebenarnya sudah semestinya ngerti bahwa alat kelamin milik pribadi nggak boleh dibagi-bagi ke orang lain. Dalam usia gini mereka mestinya sudah diajari waspada tentang sentuhan-sentuhan seksual, dan sebaiknya mereka juga sudah bisa membedakan, mana sentuhan kebapakan dari bokapnya sendiri, dengan dan mana sentuhan erotis dari “orang yang dianggapnya sebagai ayah”.

Modus pelecehan yang dilakukan Babeh sebenarnya bisa diraba-raba. Pertama-tama Babeh memanjakan anak-anak dengan makanan, uang, hiburan, dan sebagainya. Berikutnya Babeh akan memacarin anak-anak itu, dan anak-anak itu nggak sadar bahwa mereka sedang dipacarin coz buat mereka perlakuan Babeh sehari-hari itu sudah biasa. Kalau sudah begini, tinggal selangkah aja buat Babeh untuk melakukan aksi pelecehan seksualnya.

Tulisan ini nggak pas buat mengatakan bahwa anak-anak korban Babeh mungkin anak-anak yang nggak dapet kasih sayang cukup dari orang tua kandung mereka. Tetapi bermaksud menginformasikan tentang contoh kecil dari pendidikan seks kepada anak-anak usia dini, dan ini bisa dilakukan oleh orang tua dari strata pendidikan dan kondisi ekonomis manapun.

Sebaik-baiknya pendidikan seks adalah berpulang kepada ajaran agama masing-masing.

Foto di atas jepretan Jonas Bendiksen, National Geographic Indonesia, Mei ’07. Lokasi di Dharavi, Bombay, India.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

20 comments

  1. baru baca postingan ini 4 tahun setelah ditulis.. keren mbak ^_^
    pendidikan seks memang harus di mulai sejak kecil, dari hal simple. mungkin mandi bareng ayah untuk anak cewe atau bareng ibu untuk anak cowo terlihat sepele. tp justru efeknya yah besar bgt..

  2. Memang banyak orang nggak tahu bahwa pada umur-umur tertentu sebaiknya anak mesti diajari jaga kemaluannya sendiri, termasuk dari pandangan orangtuanya. Orang tua memang muhrim yang dihalalkan untuk melihat anaknya dalam keadaan telanjang, tetapi harus dilihat juga dari konteks kejiwaan anak itu.

    Pelecehan seksual ini sebenarnya bisa dicegah jika setiap orang bersedia menjaga kemaluannya masing-masing.

    Ngomong-ngomong, razia dubur itu memang nggak ada dasar ilmiahnya, jadi wajar kalau ditolak mentah-mentah.

  3. Sempat terpikir oleh saya, mengapa tindakan yg diambil oleh yg berwenang adalah razia dubur anak jalanan, ya? Tidakkah ada cara lain yg lebih baik? Untungnya kabar terakhir yg saya dengar razia aneh ini dibatalkan.

    Dan terpikir juga oleh saya, mengapa sedikit sekali yg membahas ini dalam wacana pencegahan? Tidak hanya anak jalanan, semua anak-anak juga perlu diberi pengertian tentang pentingnya menjaga kemaluan.

    Jadi, two thumbs up untuk postingan Mbak 😉 Saya setuju, anak-anak tidak boleh dibiarkan melihat atau memperlihatkan kemaluannya, termasuk orang tuanya.

  4. nanaharmanto says:

    hmm…dulu waktu kecil, aku dan kakak adik, dimandikan papa atau mama. tapi nggak pernah mandi bareng mereka. mereka juga "tertutup" terus… 🙂
    dan, aku heran, temen-temenku mandi bareng orang tuanya! glek! bagiku, dulu, idiiihhh…saru…masak bokap atau nyokapnya nggak malu sih?

  5. dinoe says:

    Setuju mbak…anak kecil harus memulai diarahkan , dan pelan-pelan di beri tau mana yg boleh dan mana yg tidak terutama tentang hal2 sensitif..

  6. Hihihi, pendidikan seks… agak gimana gitu ngomongin kaya beginian. Mau dianggap tabu tapi pada kenyataannya seks bebas udah marak, mau dianggap wajar, emmm gimana ya, kadang malu juga sih ngomongin beginian ditempat umum, hahaha…

  7. Yaiks, Pitshu! Kesiyan bener tuh anak! Kalo gw jadi nyokapnya, udah gw tekuk tuh tukang becak. Tapi anaknya sendiri telanjang, kayaknya dia sendiri juga nggak malu-malu amat yak?

  8. Pitshu says:

    yah g pernah liat anak di komplek sebelah, anak na ce na ga pakai kolor, berkeliaran keluar rumah, trus ada tukang becak sambil bilang " ih… ga pakai celana malu ininya keliatan nich " sambil di pegang2 anunya, nyokap na yang liat cuma senyam senyum doank bukannya diambil itu anak, anak na juga senyam senyum aja hmmm~

  9. Memang, kunci dari pengajaran seks buat anak-anak ada pada orang tua. Nggak usahlah jauh-jauh mikir tentang cara jawab pertanyaan anak mengenai mens dan mimpi basah. Minimal anak diajarin dulu bahwa buka baju di depan orang lain itu malu-maluin.

  10. ireng_ajah says:

    Jadi inget temenku yang ditanya anak didiknya di tempat les :

    "Bu, mens itu apa?? Mimpi basah itu apa??"

    Pertanyaan sepele tp menurutku itu adalah pertanyaan yang cerdas.

  11. attayaya says:

    sulit-sulit mudah
    (bukan lupa-lupa ingat-nya kuburan)
    orang tualah yang sangat berpengaruh atas pengajaran seks anak-anaknya.
    Memperingatkan agar malu ketika lagi buka baju bagi anak-anak, merupakan hal kecil yang kadang terlewatkan. misalnya "malu dong dilihat ma si andi" atau kalimat sejenis begitulah.
    Kasih sayang terhadap anak dan pengajaran yang kurang bisa berakibat seperti kasus babeh.

  12. Agak lebih sulit menghentikan anak laki-laki mandi dengan nyokapnya, ketimbang menyetop anak perempuan mandi sama bokapnya. Mudah-mudahan bisa ya. Kalian para laki-laki kan tidak mandi dengan nyokap lagi kan? Artinya proses ketergantungan akan keinginan buat mandi dengan nyokap akhirnya berhenti suatu saat.

    Apakah kejahatan itu bisa dihentikan? Saya ragu. Coz selama manusia masih nggak mau berada di jalan Tuhan, sifat jahat itu akan tetap ada dalam dirinya.
    Tapi kejahatan bisa dicegah. Dan itu jauh lebih gampang ketimbang menghentikannya.

  13. Arman says:

    iya bener tuh tapi ya emang ribet… kalo mandi ya sekalian jatohnya. tapi emang kita sekarang juga udah mengurangi frekuensi si andrew mandi bareng esther. kalo weekend sih pasti andrew mandi bareng gua. tapi kalo weekdays ya paling si andrew kudu mandi sendiri, disabunin paling trus showeran sendiri. tapi kadang ya masih lah mandi bareng mamanya. hahaha.

    tapi ngasih tau untuk jangan memperlihatkan kelamin dan jangan boleh orang lain megang kelamin itu harus kudu ditanamkan tuh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *