Dua Kali Pencet

Sudah seberapa besar Anda mempercayai e-banking?

Seorang kolega gw di Surabaya pernah cerita ke gw, bokapnya yang berusia sekitar 50-an ngantre di depan teller Bank Capek Antrinya cuman buat transfer uang ke rekening kakaknya di Solo. Bokapnya nggak pakai ATM, coz dos-q nggak tahu caranya pakai ATM, dan nggak berniat buat belajar pakai ATM. Alasannya, dos-q takut duitnya ilang ditelen mesin.

Batin gw, itu baru pakai ATM, belum ngeh kalau sekarang orang sudah ramai-ramai pakai e-banking.

Eh, ATM itu e-banking juga kan ya?
Di bank tempat gw nabung, e-banking itu lebih sering dirujuk untuk mobile banking dan internet banking.

Semalam, di rumah bokap gw mengaduh bahwa bokap gw baru aja mentransfer duit ke rekening gw dua kali. Tentu saja gw jingkrak-jingkrak, hahaha.. Lha niat bokap gw kan cuman mentransfer sejumlah sekian perak aja via internet banking, tapi gara-gara bokap gw nggak sengaja mencet icon transfer itu dua kali, akibatnya jumlah yang tertransfer jadi dua kali lipat. Kalau gw pikir-pikir, ini mungkin gara-gara waktu mencet icon itu, data terkirim, tapi koneksi internetnya mendadak putus. Lalu robot browser-nya kompie itu men-submit ulang sehingga data jadi terkirim dua kali. Entahlah, gw nggak ngerti perkara proses pengiriman data internet ini. Pokoknya gara-gara koneksi internet putus, jumlah transferan yang terjadi pun berubah dari jumlah yang dikehendaki semula.

Batin gw, untung jumlah yang terdebet nggak banyak-banyak amat, jadi duit yang “ilang” pun nggak terlalu bejibun. Dan masih untung juga duit yang “ilang” itu jatuhnya ke rekening gw. Coba kalau jumlah transaksinya mencapai trilyunan dan jatuhnya ke rekening orang yang nggak kita kenal, kan repot?

Jadi, sebenarnya bank-bank di Indonesia sudah cukup maju karena sudah mulai memakai e-banking pada pelayanannya. Cuman koneksi internet di negeri kita ini yang kadang-kadang masih senang mogok di tengah jalan sehingga mengacaukan transaksi.

Jangankan buat urusan perbankan. Gw ngasih komentar di blog orang aja sering tersubmit dua kali gara-gara koneksinya kacau. Sampai malu gw sama yang punya blog. Orang kalau ngirim komentar yang sama pada blog yang sama kan berarti sama aja nyepam, weitjee..

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

22 comments

  1. Pucca says:

    kalo gua emang lebih demen pak atm daripada ebanking karna atm banyak di kantor cuma modal turun lift doank hehe.. kalo ebanking males mencet2 tombol applinya 😛

  2. Perasaan saya pernah baca deh tulisan Mbak Zizy yang "habis makan ditalangin langsung transfer" itu. Itu menarik, layak jadi bahan referensi buat internet banking.

    Ayahku kan dua hari yang lalu transfer uang pakai internet. Nah, kayaknya setelah transfer pertama itu nggak ada halaman konfirmasi Yes/No-nya. Yang ada cuman laporan akhir "Anda telah melakukan transfer ke rekening Vicky sebanyak X dan ke rekening Vicky sebanyak X." Gitu.

    Uangnya saya balikin ke ayah. Tapi saya balikin setangan aja, nggak usah pakai internet-internetan.

    Kalau error yang disebut Aron itu kayaknya nggak akan terjadi deh pada ATM. Itu menjelaskan kenapa ATM nggak pernah dibangun di daerah yang listriknya minimal, hehehe.

    Yah, mudah-mudahan segala error akibat kesalahan koneksi ini bisa diperbaiki oleh para provider internet di Indonesia.

  3. zee says:

    Orang-orang tua biasa begitu, ga mau repot2. Melihat atm dikerjain orang, doi pasti membatin,"Tuh kann… yang bener tuh emang ke teller."
    Kalo saya selalu pakai internet banking, lebih gampang, aman dan cepat. History bisa di-save pula. Sms-banking repotnya klo tiba2 hape hilang atau kartu rusak.
    Kita ama teman2, utang makan 17rb juga main transfer pk internet banking lho hehee…

  4. Fanda says:

    Padahal kalo di ATM kan ada konfirmasinya ya Vick? Maksudnya setelah kita ketik jumlah uang, nomor rekening, akan ada konfirmasi: transfer ke si A, norek sekian, jumlah sekian. Lalu kita tekan "Benar". Kalo di e-banking ga gitu ya? Maklum punya e-banking cuman buat ngecek saldo doang…

  5. rio2000 says:

    kalo saya ga terlalu ngerti pakai internet banking – ga tahu cara transfer uang via ibank (di minta pakai idr, tapi sudah di set idr bukan usd tetap di tolak prosesnya) ya sudah via atm akhirnya

  6. Hahaha! Kebayang lagi internet banking pakai PC tahu-tahu mati lampu. Nggak jelas duitnya sudah ditransfer apa belum..

    Mbak, komentar ini bukan lagi kesel mati lampu di Madiun, kan? 😀

  7. fahmi! says:

    aku suka pake e-banking, baik yg versi internet banking maupun yg versi mobile banking. buat aku lebih aman dan nyaman. nggak perlu keluar nyari ATM di gelapnya malam, apalagi kalo pas berada di lokasi yg aku belum banyak ngerti, bandung misalnya. lebih aman aku banking pake henfon. eh tapi ini pendapat personal, buat aku sendiri sih.

  8. Makanya saya bisa ngerti kenapa bokapnya kolega saya lebih suka ngantre di depan teller. Mungkin buatnya bayar 5000 perak bisa membeli rasa aman ketimbang duit transferan melayang nggak jelas.

  9. adi says:

    yahh.. mau transfer kok pake te*****et instant. Putus deh ditengah jalan 🙂

    Paling aman memang langsung berhubungan dengan teller. tapi mesti bayar 5 ribu setiap konsultasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *