Urgensi untuk Menggombal

Suatu hari, ketika gw masih bekerja di rumah sakit dulu, satu lagi pasien gw yang ngaco-ngaco datang. (Gw nggak ngerti kenapa gw selalu dapet pasien yang aneh-aneh. Sebenarnya kasusnya biasa-biasa aja, tapi sudut pandang gw yang selalu nemu yang aneh-aneh dari kasus itu.)

Jadi ke UGD yang waktu itu lagi gw jagain, masuklah seorang emak-emak paruh baya gitu dipapah sama seorang laki-laki yang juga tidak kalah paruh bayanya. “Toluoong..istri saya maagnya kumat..” kata laki-laki yang memapahnya itu.

Maka sementara perawat menidurkan si emak di atas tempat tidur, gw pun menanyai suaminya prosedur standar. “Baiklah, Pak, nama ibunya siapa?” tanya gw.

Si bapak nampak bengong. “Uh, sebentar, Dok,” katanya. Lalu dia ninggalin meja gw, dan menghampiri si pasien. “Bu..Bu..” katanya. “Dupi Ibu teh ngaranna saha?” (Kalau bahasa Sunda diterjemahin ke bahasa linggis, kira-kira artinya, “What’s your name?”)

Gw mengerutkan kening. Oo..bukan keluarganya tho? Waduh, nanti siapa yang bisa dimintai pertanggungjawaban?

Lalu si bapak kembali lagi, “Namanya..Rohayati.” (Ini nama samaran. Gw lupa nama aslinya si pasien itu.)

Gw menulis nama itu di catatan gw. “Bapak ini siapanya Bu Rohayati?”

“Saya suaminya.”

Gw terhenyak. Lhoo? Kok suami lupa nama istrinya sendiri?

Hampir saja mulut gw mau bertanya dengan pedas, “Sampeyan ini suaminya beneran apa bukan?” tapi gw tahan-tahan aja. Orang sudah tua, bisa aja lupa segalanya kan? Termasuk lupa nama bininya sendiri? Lha kalau sehari-hari suaminya biasa manggil istrinya dengan “Ibu”, wajar kalau lama-lama dia lupa nama istrinya toh?

***

Gw jadi geli sendiri, coz inget sebuah blog bikinan seorang warga Singapura tahun lalu. Seorang istri mengadukan suaminya ke polisi, gara-gara suaminya itu memukulnya waktu mereka lagi indehoy. Lha gimana suaminya nggak ngamuk, orang pas lagi di tengah-tengahnya klimaks, tahu-tahu si istri berteriak, “Oh, oh, oh..Paul! Paul! Like that, Paul!”

Apanya yang salah? Ya jelas salah, soalnya nama suaminya itu Jim, bukan Paul. Paul itu nama mantan pacar istrinya! Wkwkwkwk..

Mungkin kecelakaan ini bisa menimpa pasangan mana saja. Masing-masing dari kita semua punya mantan, sebelum sama pasangan yang sekarang, ya kan? Salah panggil nama itu bisa saja terjadi. Bukan maksudnya si istri menduakan cinta suaminya si Jim, tapi ya mungkin-mungkin aja dia belum lupa sama pacarnya yang bernama Paul itu. Makanya dia kamisosolen pas orgasme, maksudnya mau manggil Jim tapi malah jadi manggil Paul.

Sebenarnya jalan pencegahannya kan gampang aja. Kalau sama pasangan, nggak usah panggil namanya, panggil aja dengan segala gombalan yang ada di kepala, mulai dari “Sayang”, “Honey”, atau “Madu”, atau entah apalah. Termasuk buat pasien maag gw tadi. Barangkali memang sehari-hari suaminya manggil nggombal ke istrinya itu ya “Ibu”, bukan Yati atau Eroh. Dengan demikian itu meminimalisir posibilitas salah manggil nama ke pasangan, huehehehe..

Beberapa don’t-s dalam menggombal, supaya gombalan tidak berujung malapetaka:

1. Jangan menggombal pasangan dengan nama binatang. Kolega gw manggil pacarnya “Babi”. Memang tadinya itu pelesetan dari Baby. Tapi berhubung kolega gw itu temperamen berat, jadi manggil pacarnya lama-lama nggak mesra lagi, dan mereka pun putus deh.

2. Supaya rasanya lebih intim, kalau mau nggombal sama pasangan, jangan dilakukan di depan umum. Seorang teman gw waktu masih SMA dulu pernah nekat mutusin pacarnya cuman gara-gara pacarnya nggombal pada tempat yang tidak tepat. Lha si cowok lagi asik-asiknya main basket, tahu-tahu si cewek muncul di lapangan sambil manggil-manggil, “Honey bunny sweetie..! Sini doong!”

3. Jangan menggombalin pasangan di depan orangtuanya juga. Malu ah. Bayangin kalau kita tahu-tahu ngomong gini sama pasangan, “Aduh, pundakku pegel, pijitin dong, Pruebear..” dan tiba-tiba bonyoknya langsung bersin-bersin.. Pruebear, Pruebear apaan? Orang emak-bapaknya biasanya juga manggil anaknya Tole.. :-p

Foto oleh Laily Rachev.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

25 comments

  1. Sebisa mungkin, saya sama yayang saya nggak ber-"hani"-"hani"-an di depan masing-masing orang tua kami. Soalnya kalau saya ketangkap basah ber-"hani" ke yayang saya di hadapan ayah saya, ayah saya pasti langsung buang gas.. 😀

  2. Rianto says:

    hehe saya sama yayang biasa "hani2an" satu sama lain sampe putri saya juga ikutan manggil saya "hani". Tapi yang lucu waktu kami masih di kota lain n bapak saya sempat singgah n nginap dianya komen "prasaan nama kamu anto' koq udah diganti??! wakakak

  3. Kadang-kadang aku pikir aku perlu panggil hunk-ku dengan nama aslinya juga. Biar ada alarm buat diri sendiri supaya nggak lirik-lirik orang lain gitu. Tapi ngomong-ngomong, kalau udah lengket banget, kayaknya nggak butuh selingkuh deh, hahaha..!

  4. Cowok memang ditakdirkan menggombal. Tapi yang tidak banyak orang ketahui, kita para wanita juga senang menggombal 😀
    Diucapkan ke banyak orang? Yaah..saya kira nggak masalah. Asal tidak diucapkan dalam musim yang sama aja, huehehe.. Itulah nasehat menggombal yang baik dan benar, dari mahasiswa master ilmu gombal.. 😀

  5. deegidagidu says:

    allow vicky…
    ini dian…
    sebenernya udah sering nih, mampir n baca di sini, cuma belum pernah komen… hihihi…

    salah satu cara supaya pasangan nggak lupa, kita musti ngetes,
    periodically… =P

    Btw, nice blog… =D

  6. Itik Bali says:

    Bukannya cowo emang ditakdirkan untuk menggombal mba?
    lebay dan semacamnya..
    saya sering melihat (atau mengalami) ber"babi" ria sama saya. atau sekedar Have a nice dream..mimpiin aku ya..
    tapi di ucapkan bukan buat satu orang..
    ke tiap orang..
    mungkin dia "siluman mimpi" kali ya??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *