Para Bonyok di Jejaring Sosial


“Mati gw. Bokap gw baru ikutan Twitter dan sekarang nanya username gw apa. Should I add him??”

Jeritan panik teman gw di status Twitter itu bikin gw ngakak, beberapa minggu yang lalu. Gw tahu maksud dia, Selena (bukan nama sungguhan, seumuran sama gw), takut bokapnya denger setiap twit-annya yang nggak berwibawa itu.

Semenjak marak kasus cewek a-be-geh yang kabur dari rumah lantaran mau kopi darat sama temen yang baru dikenal di Facebook, kebanyakan orang malah bersuara sumbang, “Salah sendiri, kenapa orangtuanya nggak fesbukan?” Para ahli sibuk mengkampanyekan bahwa orang tua itu mestinya menjadi warga jaringan sosial bukan cuman sekedar jadi “internet migrant”, tapi harus sekalian jadi “internet inhabitant”. Artinya menjadi warga asli dari dunia maya, beraktivitas normal di dunia maya, dan juga yang penting, berpikir a la dunia maya.

Yang terjadi sekarang, para orang tua umumnya ikut jejaring sosial karena latah, lantaran sungkan dibilang gaptek. Padahal, bonyok yang melek teknologi nggak selalu asyik. Dan harus disyukuri bahwa kadang-kadang bonyok yang gaptek justru lebih aman.

Selena senang curhat di Twitter. Segala hal yang ada di kepalanya dia curhatin: urusan kantor, urusan cem-ceman, sampai urusan pilkada(l). Teman-teman ngerumpinya sesama tweepsies adalah makhluk-makhluk yang isi kepalanya hampir sama, interpretasinya sama, dan sama-sama doyan ngerumpi dengan nyelekit. Dan sekarang, bokapnya mau follow dia, dan apapun yang Selena twit-kan bisa gampang dipantau oleh bokapnya sendiri.

Banyak cerita unik yang bisa kita kupingin kalau mbaca rumpian orang di status-status mereka. Bininya si boss yang semlohay, teman tenis yang curang melulu, sampai Pak RT yang suka ngabisin kue sendirian kalau lagi ngeronda bareng.

Tentu saja ada resiko curhatan-curhatan yang nggak enak itu dibaca oleh orang-orang yang nggak berkenan. Memang langkah antisipasinya, jangan biarkan orang-orang itu nge-add kita di jejaring sosial. Atau tetap di-add, tapi kita nggak usah curhat.

Masalahnya, Sodara-sodara, curhat itu perlu buat melepas stres. Dan nggak afdol kalau curhat di status update itu nggak sampai lampias. Sekarang gimana mau curhat sampai puas, kalau ada orang yang tidak berkenan dengan curhatan kita di status?

Maka gw bisa ngerti kenapa Selena begitu panik di-follow bokapnya sendiri di Twitter. Selama ini Selena begitu puas curhat di status Twitter tentang stresnya dan ada kemungkinan bokapnya juga ikut berkontribusi memperparah timbulnya stres itu. Tapi mosok dia mau nolak bokapnya dan memblokir bokapnya dari daftar follower?

Persoalan gap yang cukup besar tentang cara berpikir antara orang tua dan anak akan semakin pelik kalau sudah merambah ke dunia maya. Coba tengok bedanya perilaku kedua kelompok itu di jejaring sosial. Ada perbedaan ekspresi, cara bicara, cara berpikir, cara bersikap, dan sialnya juga ada perbedaan kadar selera humor. Semua perbedaan itu, bisa bikin problem hubungan antara anak dan orang tua di dunia maya.

Lalu gw pikir, berkaitan dengan Selena, supaya anak dan orang tua nggak sampai stres gara-gara salah satu pihak tidak bisa curhat di status dengan puas, mungkin solusinya si anak kudu bikin dua account sekaligus. Satu account buat di-add bonyoknya, di mana dia bisa mengisi statusnya dengan citra yang jaim seperti anak baik-baik. Lalu satu account lagi buat di-add teman-teman ngerumpi untuk dipakai enak-enak curhat. Betul-betul solusi yang ribet.

Kecuali kalau kita mau mikir solusi yang lebih cerdas: Jangan pernah cepat bereaksi terhadap status update orang lain. Karena setiap status di jejaring sosial hanyalah ledakan perasaan sesaat. Persoalannya, apakah kadar kecerdasan emosional kita cukup untuk itu?

Untung bokap gw belum nge-twit kayak bokapnya Selena. Bokap gw baru fesbukan doang. Dan gw nggak niat ngajarin bokap gw nge-twit.

Menjadi melek teknologi bukan cuman sekedar berupa latah mengikuti jejaring sosial, tapi juga harus bijaksana menyikapi setiap aspirasi yang disampaikan di dunia maya.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

19 comments

  1. Ya nggak dilarang buat orang tua ikutan jejaring sosial. Yang repot tuh kalau udah nguntit anaknya dan anaknya jadi nggak bebas ngomong enak di jejaring sosial lantaran sungkan kedengeran bonyoknya..

  2. Elsa says:

    huuahahahaaa…. lucu juga ya kalo bokap nyokap ikutan jejaring sosial gitu. makin gak bebas mengekspresikan diri, anak anaknya. hehehehehe

    tapi kalo dipikir pikir, ada baiknya juga para orangtua ikutan jejaring sosial. biar gaul dikit…
    masak yang ikutan facebook sama twitter cuman anak muda doang??
    gak ada larangan buat orang tua kan??

  3. jc says:

    Iya Vick, di FB ada fitur yg bisa ngatur siapa2 aja yg bisa baca status kita. Tapi kayak gitu juga ada salahnya lagi entar, yg merasa difilter jadi kasak kusuk sendiri terus berpikiran jelek kenapa sih orang ini nggak ngebolehin dia baca statusnya? Cape dee.. Jadi bener katamu itu, jgn terlalu diambil hati dah status2 di fb dan twitter itu. Orang itu status2nya dia sendiri. Kecuali kalo udh nyebut2 nama kita dan ngejelek2in kita di status, baru kopi darat. Fight! *maap baru keseringan nonton 24 soalnya*

  4. Iya, Man, tujuannya bagus itu kalau memang untuk mempererat komunikasi.

    Cuman patut dicatat, Man, nggak semua orang tua menguasai komunikasi dengan baik. Kadang-kadang, mereka malah nganggap anak yang mengeluhkan orang tua mereka itu berarti melawan dan durhaka lho. Termasuk yang mengeluhnya di internet, dianggapnya anaknya itu nikam dari belakang.

  5. Arman says:

    kalo bokap nyokap gua sih gak ngerti gitu2an. tapi malah kita yang nyuruh mereka belajar buka komputer dan internetan. walaupun gak sampe bikin account fb (apalagi twitter), gua malah suka nyuruh mereka baca blog gua, biar tau update kita disini gimana… 🙂

    sebenernya ortu2 pada melek teknologi itu bagus lho karena internet ini kan salah satu cara komunikasi. dan komunikasi dalam keluarga itu penting banget kan… 😀

  6. Wijna, saya pernah mbaca privacy setting itu, tapi saya nggak pernah mencernanya baik-baik. Ada ya setting status supaya nggak dibaca para friend yang tidak kita kehendaki?

    Mas Fahmi, memang justru itu, kadang-kadang isi status itu bisa menimbulkan tafsir negatif meskipun yang dimaksud adalah hal positif. Misalnya ada status "Aku ingin melumatnya sampai habis." Kalau yang nulis kebetulan seorang pegawai yang baru berantem sama bosnya, bisa-bisa bosnya sensi merasa mau dizalimin. Padahal maksudnya kan si pegawai mau "melumatin" pacarnya, sama sekali nggak ada perasaan sama boss. Repot kan?

    Ngomong-ngomong Mas kalau mau nongkrong di kedai pizza, ajakin yang punya blog ini dong..:p

    Jazz, terus terang aja, saya nggak suka ide bikin account dua biji itu. Rasanya kok munafik banget punya dua-tiga muka hanya untuk menyembunyikan sifat asli demi memuaskan ekspetasi orang lain. Kalau di dunia maya saja kita nggak bisa jadi diri sendiri, lantas di mana lagi keasyikannya menampilkan diri sendiri di dunia maya? Memang betul kata Mas Hedi bahwa curhat itu bisa di mana aja, nggak mesti di timeline public. Tapi kalau di timeline public aja kita nggak bisa curhat untuk mengekspresikan diri, menurut saya ya percuma aja ikutan jejaring sosial.

    Jeng Fi, sebenarnya nggak masalah kalau fesbukan atau nge-twit bareng bokap. Yang jadi problem kalau bokap bereaksi tidak "fun" terhadap status-status kita yang niat sebenarnya "fun", sehingga malah merusak suasana. Kalau kayak gini malah enakan seperti bokapnya Mbak Fanny Cerpenis, mendingan bokapnya nggak usah ngerti internet sekalian. Jadi bokapnya nggak akan senewen, hahahah..

    Lha bokapnya Pitshu ngapain punya Facebook kalau kayak gitu caranya? Gw malah pikir itu Facebook anaknya, bukan Facebook bokapnya..

    Mbak Fanda, nge-twit yang berwibawa tuh ya, misalnya kayak twit-an Boediono atau Tifatul Sembiring, isinya tema-tema serius mengandung program-program pemerintah. Yang pasti bukan kayak twit-anku yang isinya sesat melulu, hehehe..

    Mbak Latree, mungkin solusinya ya jangan pernah nge-add mertua. Tapi kalau kita memblokir mertua dari daftar friend, apa nggak lantas kita diberhentikan dari jabatan sebagai menantu? 😉

  7. latree says:

    ortuku emang ngga ikutan jejaring sosial. tapi seandainya mereka ikut dan nge add aku pun, sama sekali ga masalah buatku. mereka ngerti banget bagaimana aku, sekalipun seandainya melihat jungkir balikku di fesbuk.

    kecuali mertuaku… mungkin mereka bisa pingsan berkali-kali 😀

    huh… tapi sepertinya ga perlu kuatir, kayanya mereka ga akan deh gabung fesbuk — ngetik sms aja males 😀

  8. Pitshu says:

    bokap g sih ada fb, cuma dia jarang update juga, yang updatein anak – anak na, klo dia mo ganti photo ahhahaha…
    sama kita di tag-in nulis di wall juga dia ga tau… capekkk deh! padahal klo dia aktif juga kita bakalan support tuh wakakakaka 🙂

  9. Fanda says:

    Vick, kau itu mahir bikin istilah2 baru. Gimana lagi ngetweet yang berwibawa itu?? hehehe…

    Untung deh papaku (satu2nya manusia lain di rumahku yg melek komputer) ga suka ngenet, apalagi ber-social media. Bahkan kalo mau ngirim e-mail aja pasti minta tolong aku. hehehe…

  10. jadi agak bermuka dua gt teh…? punya dua akun….

    "Jangan pernah cepat bereaksi terhadap status update orang lain. Karena setiap status di jejaring sosial hanyalah ledakan perasaan sesaat. Persoalannya, apakah kadar kecerdasan emosional kita cukup untuk itu?"

    like this……….
    jangan reaktif!!!

  11. fahmi! says:

    nggak perlu lah bikin 2 account twitter, nanti bingung ngurusnya. solusi alternatifnya bisa ngetwit pesan bersandi. bertafsir ganda gitu maksudnya.

    misalnya: "pingin nongkrong di kedai pizza". ortu dan publik mungkin berpikir tentang makan enak, tapi pacar mungkin nangkep pesan yg lain, bukan pizza-nya yg penting.

    hehe 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *