Mengejar Pesona, Taruhan Nyawa


Pagi itu, gw mutusin buat mengalah kepada kandung kemih gw yang udah gw empet semalaman lantaran gw nggak mau pipis di toiletnya kereta. Sadar bahwa gw nggak mau menginvestasikan hidup gw dengan percuma hanya untuk sakit batu saluran kemih, akhirnya gw ambil tas gw dan gw berjalan terhuyung-huyung ke toilet di belakang gerbong. Itu hampir jam enam dan gw mengasumsi kereta lagi jalan antara Tasikmalaya dan Bandung.

Gang belakang gerbong adalah tempat yang strategis untuk melakukan apa aja. Pada perjalanan dengan kereta yang lalu, gw lihat gang itu adalah tempat paling strategis buat dipakai klepas-klepus untuk penumpang kereta eksekutif yang dilarang ngebul di dalam gerbong. Tapi pagi itu, gw lihat laki-laki ini berdiri di pinggir pintu sambil keasyikan motret sawah-sawah. Pintunya terbuka lebar-lebar.

Gw nggak tahu apakah kondektur tahu bahwa ada pintu kereta yang nggak dikunci. Jika kereta ini berhenti di manaa gitu, siapapun bisa masuk: pedagang kacang tanah, penumpang liar, atau bahkan kambing. Tapi gw kuatir kalau ada orang celaka lantaran jatuh dari pintu kereta itu, dia bisa aja jatuh di tengah-tengah sengkedan sawah dan saat dia bisa berteriak minta tolong, kereta sudah lari sejauh dua kilo.

Namun yang gw lihat di gang ini, laki-laki ini nampak sama sekali tidak takut jatuh.

Beberapa bulan terakhir ini gw melakukan riset kecil-kecilan terhadap hobi fotografi. Gw iseng meniru para pelakunya, berpikir seperti mereka, macam begitulah. Gw melihat bagaimana hobi ini bisa bikin orang kecanduan pada pelakunya; mereka bela-belain jungkir balik demi mendapatkan foto yang bagus, kadang-kadang sampai taruhannya adalah keselamatan diri mereka sendiri. Dan di gang ini, gw melihat contohnya yang nyata.

Apa yang kau cari dari gambar sawah-sawah itu, Bung? Apa kau memang terobsesi dengan pemandangan itu, atau kau hanya menikmati sensasinya memotret dari pintu kereta yang terbuka lebar-lebar? Kalau kau jatuh, apa yang mau kau potret?

Gw harus bilang fotografi itu hobi yang seksi. Pelakunya bisa membingkai sebuah kejadian biasa menjadi hal yang sama sekali nggak biasa. Itu perlu naluri yang tajam, mata yang teliti, kesabaran yang tinggi, dan selera yang bagus. Gw nggak heran sekarang sekolah-sekolah fotografi menjamur di Jawa. Mungkin cuman satu mata kuliah aja yang perlu ditambah di sekolah itu: pelajaran keselamatan jiwa.

Dan melihat fotografer ini, mendadak gw jadi kangen sama my hunk. Dia mencintai kamera, melebihi apapun di dunia ini. Kadang-kadang gw cemburu coz tangannya nyantol ke kameranya lebih lama ketimbang nyantol ke gw.

Siyalan, gw sampai lupa bahwa gw mau pipis.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

29 comments

  1. ndutyke says:

    mending ini orang, nekad motret dr tepi KA yg sedang berjalan. lha kapan hari saya liat film dokumenter ttg fotografer kelas dunia yg nekad memotret LAVA gunung berapi dr jarak sekian meter sahaja.

  2. Aldo says:

    Kalau si fotografer di foto itu hanya sekali-kali berdiri di pintu sambungan antar gerbong untuk memotret. Kalau saya dan teman-teman yang lagi dalam perjalanan untuk mendaki gunung, hampir sepanjang perjalanan duduk atau berdiri di sambungan gerbong, karena kami hanya "nembak" ke kondektur kereta.

    Dan kami senang-senang saja,karena selain bisa membayar kerte dengan harga yang lebih murah, kami pun bebas merokok karena asapnya bisa langsung tertiup angin keluar dari gerbong.

    Tapi memang sering kali kami merasa tidak enak ke penumpang lain yang pengen ke toilet, karena kami duduk dan "ngariung" di sekitar pintu toilet.

    Salam,
    Aldo

  3. Aduhaduhaduh, kok pintu kereta api kita jadi nggak aman gini yah? Untung ke mana-mana aku selalu bawa tas. Jadi kalau jatuh di ladang antah-berantah, aku bisa ambil HP dan nelfon pengacara..^^

  4. Astri says:

    Mengenai pintu terbuka di KA, kan pernah ada pramugarinya yg jatuh terlempar dr KA yg berjalan di malam sepi. Rute Bandung-Cirebon-SMG kalo gak salah. Trus teman seangkatanku juga ada yg pernah dibungkus krn terlempar dr KA menjelang panggilan PTT. Akhirnya dibungkus dengan sukses 🙁

  5. Karumbu says:

    jadi ingat, sy pernah liat wartawan foto naik ke pncak menara seluler hanya utk ambil gambar yg lbh lengkap ttg suasana sktr tempat itu. naik tanpa alat pengaman.

    sama seperti si fotografer dlm artkel inikawan sy yg nekad itu selamat, ndak kurang-ndak lebih. selamat lagi setelah–entahlah–ratusan kali dia berbuat hal yg sama…

    (bahasanya formal ya, hehehe)

  6. depz says:

    Gw harus bilang fotografi itu hobi yang seksi. <—- kalo ini status di fb pasti gw klik "suka"
    hahaha

    jungkir baliknya para penjepret itu demi kepuasan vik
    kepuasan mendapatkan gambar yg "beda" dan spesial

    tapi kalo ampe taruhan nyawa (karna kecelakaan) sih gw pikir too much dehhh

  7. Mbak.., jadi gak pipisnya ? hehehe…

    Keasyikan lihat orang yg sedang bertaruh nyawa utk mendapatkan objek gambar yang bagus membuat lupa dg tujuan ya..? 😀

  8. mawi wijna says:

    eh? jangan2 itu sayah? yg naik eksekutip Lodaya jurusan Jogja-Bandung? 😀

    1. Dia motret dari sana sebab kaca di gerbong penumpang kotor.

    2. Apapun hasil jepretannya, foto sawahnya bakal blur. Hasilnya ndak sebagus ketika kereta berhenti. Contohnya bisa dilihat di
    http://imgur.com/gMH2m

    3. Kita fotografer punya semboyan 3T.
    Ndak tau malu.
    Ndak taat aturan.
    Ndak takut mati.

  9. Lha, paparazzi motret siapa coba di sawah-sawah gitu? :-p

    Hehehe..kayaknya kebangetan juga ya kalau ngejar-ngejar foto sampai hampir jatuh gitu. Salam kenal juga. Eh, Viol tuh Stephanie Violina ya?

  10. thesalem says:

    Hai salam kenal yah, mampir dair blognya Viol.

    Pengen komen karena abis baca jadi inget dulu pas gw kuliah ada mata kuliah fotografi, sering kan dapet tugas misal foto kemacetan, foto still life, dll. Nah waktu itu foto kemacetan, ada temen sampe manjat jembatan penyebrangan trus nyaris jatuh gitu ..emang serem banget kalo liat orang terlalu niat membidik objek 🙂

  11. Sebenarnya gw pikir itu masalah fanatisme selera. Fotografer profesional ada untuk melayani pesanan tertentu, misalnya buat media massa atau sewaan untuk hajatan. Contohnya buat pernikahan aja orang tetap minta fotografer khusus, meskipun keluarganya sendiri udah banyak yang bawa kamera, kan?

    Yeah, seperti biasa, gw lupa matiin flash-nya, hehehe.. 😀
    Gw nggak tahu apakah dia nyadar gw candid-in apa nggak. Gw langsung masuk gerbong setelah motret dia.. 😀

  12. Arman says:

    iya terutama belakangan ini ya, bener2 lagi booming fotografi. semua orang jadi hobi fotografi. semua orang beli kamera yang canggih2. jadi pengen tau dampaknya ke bisnis fotografi. jangan2 para fotografer sekarang udah berkurang banyak client nya ya karena semua orang sekarang udah pada jago2 moto sendiri. hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *