Toilet Tidak Jujur

Akhirnya gw mutusin buat pipis juga. (Ck ck ck..gw terheran-heran bagaimana dari yang namanya kebelet pipis bisa jadi ide buat tulisan sampai dua biji! Kenapa ide menulis selalu datang tiap kali lagi kebelet?)

Lalu gw lihat tulisan ini dan tercengang.


Baiklah, mereka salah menerjemahkan. “Pergunakanlah saat kereta berjalan”, seharusnya hasil terjemahannya adalah “Please use when the train is going.” Karena, “Please use only the train is running” artinya hanya dipakai kalau keretanya lari.

Gw bayangin, kalau penumpangnya kaum kulit putih alias bangsa Kaukasus, mereka harus nunggu keretanya lari dulu, baru mereka bisa pipis. Tapi bangsa Indonesia nggak bisa disalahkan kalau pakai toiletnya waktu kereta lagi jalan pelan di stasiun, misalnya waktu mau nyambung gerbong. Bukankah tulisannya “pergunakanlah saat kereta berjalan”?

Lalu gw masuk ke kamar toilet itu, dan nyari-nyari lobang toiletnya. Wijna, minggu lalu bilang di blog ini bahwa hasil buang hajat di toilet kereta itu langsung jatuh ke rel, bukan “ditabung” dulu di container atau entah apa. Ternyata dia benar. Lobang toilet yang lagi gw potret ini, jelas-jelas jatuhnya ke tanah.

Pantesan bangsa ini susah banget dibikin jujur kalau berbuat salah. Orang-orang kita senang lempar batu sembunyi tangan, kalau bikin salah suka nggak mau ngaku. Dan toilet ini sudah mencerminkan itu. Orang tinggal lempar produk hajatannya di atas rel, lalu meninggalkannya lari bersama kereta. Lempar tokai, sembunyi bokong.

Ini masih mendingan kalau keretanya lewat di kawasan persawahan. Hasil tokai atau pipis bisa dijadiin zat hara yang bikin subur tanah. Tapi gimana kalau keretanya lewat di kawasan perkotaan? Apalagi kalau relnya melintas di tengah jalan raya. Gimana perasaan kita kalau mobil kita mesti ngantre di depan pintu lintasan kereta api, nungguin keretanya lewat, lalu ternyata di dalam kereta itu ada orang lagi boker, dan hasil bokerannya jatuh ke rel, dan setelah keretanya selesai sehingga mobil kita bisa lewat, ternyata di depan kita ada tokai bekas bokeran penumpang kereta? ^^

Atau mungkin harus dibikin pengumuman dulu, “Perhatian, perhatian! Sebentar lagi kita akan memasuki jalan raya di kota. Penumpang jangan boker dulu..!”

Gini nih akibatnya kalau pembangunan transportasi kita nggak banyak melibatkan faham religius. Katanya ajaran agama gw, mbok ya habis buang hajat itu dibersihkan supaya produk hajat itu tidak merugikan orang lain. Ya termasuk hasil buang hajat di toilet itu dibuang di container yang benar, jangan sampai dibuang di rel. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Pertanyaannya sekarang, apakah negara kita punya cukup anggaran buat membangun container toilet, supaya penumpang kereta tidak buang hajat sembarangan?

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

32 comments

  1. fahmi! says:

    hahahaaa nggak mungkin lah toilet pesawat dibikin bolong gitu. mesti ada penampungnya. karena kabin penumpang itu harus kedap udara, untuk menjaga tekanan udara. kalo bolong gitu bisa terjadi dekompresi, barang2 bisa kesedot keluar semua, kan gawat kalo anunya penumpang yg pipis jadi kesedot keluar. aw! 😛

  2. Dewa Bantal says:

    Lucu, waktu SMA aku juga sering melihat bus malam yang seperti ini.

    Dan lucunya lagi, aku tidak merasa ada yang aneh dengan hal ini, huahahaha! Asal pipis aja 🙂

  3. Anonymous says:

    kalau bandung jakarta melewati rel diatas sawah kan ya?
    kasihan banget pak tani yang lewat dibawah rel itu, bisa dapat "hadiah" kalau lagi kurang beruntung

    ibudosen

  4. Sebenarnya kisah berkat itu cuman karang-karanganku, tapi kalau sampai terjadi sungguhan di Malioboro, ya kebangetan, hahahaha..! Gimana coba caranya melarang penumpang kereta buang sampah sembarangan, sampah apapun? 😉

    Tadi aku mampir ke blog Bu Dyah. Ayo Bu, nulis lagi yang menarik.. 😀

  5. Hendriawanz says:

    "..dan hasil bokerannya jatuh ke rel, dan setelah keretanya selesai sehingga mobil kita bisa lewat, ternyata di depan kita ada tokai bekas bokeran penumpang kereta?.."

    Itu contoh yang di tanah..lihat tuh di Malioboro. Rel-nya di atas jalan raya..tembus pandang lagi, Vic..:)

  6. Dyah says:

    Wao baru tahu sekarang ….. dah lama tidak naik kereta …. tapi rumahku dekat rel kereta, ngak pernah ni mananya dapat berkat dari penumpang, paling berkatnya tas kreset yang isinya sampah …. itulah Indonesia. Bu dokter mampir keblogku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *