Alkohol Haram, Sebelah Mana?


Sudah hampir seminggu gw menenggak minuman beralkohol. Dan gw merasa jauh lebih baik.

Jadi, Bandung mau bikin peraturan daerah tentang minuman beralkohol. Seperti biasa, tiap kali suatu peraturan mau dilegitimasi, pasti ada aja yang pro dan kontra. Sebenarnya kita tahu bahwa tiap kali pemerintah mau bikin perundangan, pasti tujuannya baik, cuman memang kadang-kadang implementasinya bisa bikin gerah kalau pemahaman esensinya cuman separuh-separuh.

Alasan pro, jelas coz minuman beralkohol itu potensial bisa bikin mabuk, sedangkan minuman yang bikin flying high macam gitu pasti dilarang oleh mayoritas agama. Apa lagi sedang diagendakan supaya Bandung itu menjadi kota yang agamis. Poin terakhir ini yang rada gw skeptis, coz gw nggak ngerti agamis itu apa sih? Kalau dalam suatu kota itu penduduk dari suatu agama masih sering bersyakwasangka terhadap penduduk penganut agama lain, apakah itu juga disebut agamis?

Pendapat yang kontra bilang bahwa peraturan itu bisa menghambat tujuan kota yang bermaksud menjadikan Bandung sebagai kota industri hiburan. Coba dipikir, kalau mau serius menjadikan Bandung sebagai kota hiburan, ya mesti ditingkatkan kualitas hotel-hotel yang ada. Salah satu paramater dari pencitraan tinggi suatu hotel adalah dijualnya minuman beralkohol di hotel tersebut. Coba Anda tengok aja ke hotel-hotel bonafid, mereka pasti jual minuman beralkohol.

Nah, dikuatirkan kalau sampai peraturan ini disahkan, maka akan dilaranglah minuman beralkohol beredar di Bandung, akibatnya itu akan mengurangi kunjungan turis-turis (yang kebetulan gemar minuman beralkohol) untuk menginap di Bandung.

Memang, wisatawan berkunjung ke Bandung itu tujuannya bukan buat nyari minuman beralkohol. Tapi adanya minuman beralkohol itu akan meningkatkan prestise dari hotel yang menyediakannya. Sampai di sini, kita nggak bisa sok-sok idealis, “Memangnya kalau mau dapet devisa gede kita mesti bikin orang mabok ya?”

Nah, kalimat terakhir inilah yang mesti kita garisbawahin. Kenyataannya, minuman yang beralkohol belum tentu selalu bikin mabuk. Mabuk, atau dalam pengertian medisnya adalah kehilangan kesadaran sehingga tidak bisa beraktivitas dengan normal, hanya bisa disebabkan alkohol pada kadar tertentu yang cukup tinggi. Artinya, kalau mengonsumsi alkoholnya cuman seupil (upil sungguhan lho ya, bukan kiasan!), ya nggak bikin mabuk dong.

Lalu, asosiasi ulama di Bandung ternyata juga belum mengharamkan minuman beralkohol. Gw belum kros-cek ke ulama soal ini, tapi ternyata setelah gw baca 6666 ayat itu sampai tamat, nggak ada tuh tulisannya “dilarang minum apapun yang mengandung alkohol”. Yang ada ya dilarang minum apapun yang memabukkan. Makanya wajar banyak suara-suara yang minta supaya peraturan daerah itu jangan dinamai perda minuman beralkohol, tetapi dinamain aja perda minuman keras.

Sebab alkohol nggak cuman ada di minuman keras. Alkohol yang lebih bermanfaat ada di bahan-bahan konsumsi lain. Sudah hampir seminggu ini gw minum obat batuk dan obat ini mengandung etanol 6,93% v/v. Etanol adalah bentuk sederhana dari alkohol, dengan rantai kimia C2H5OH. (Maaf, gw nulis ini nggak bisa pakai subscript.) Alkohol sendiri adalah segala macam senyawa organik yang punya rantai kimia C(n)H(2n+1)OH.

Jadi, sebenarnya pelarangan terhadap minuman beralkohol adalah salah kaprah. Karena efeknya, segala macam obat-obatan minum produk farmasi yang mengandung alkohol bisa dibredel.

Yang lebih tepat sebenarnya adalah pelarangan minuman keras. Misalnya, minuman keras cuman boleh dijual di tempat yang sudah berijin. Lalu, yang mbelinya mesti nunjukin KTP. Kemudian, pajak minuman keras dinaikkan setinggi-tingginya. Dengan demikian, minuman keras tidak akan bisa disalahgunakan oleh orang-orang yang nggak bertanggung jawab.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

39 comments

  1. Terima kasih, Mas Ihsan. Pemikiran Mas itu memang benar adanya.
    Saya bahkan baru ngeh kalau duren itu mengandung alkohol. Kenapa duren nggak diharamkan sekalian ya? Biar adil gitu.. Aah, mungkin orang-orang yang bolak-balik bilang halal-haram itu, diam-diam punya bisnis duren, jadi takut durennya nggak laku kalau difatwakan haram karena mengandung alkohol..

  2. Kang Joyo says:

    Alkohol itu memang gak haram kok..
    Yang haram itu makanan/minuman yang menghilangkan akal..

    Alkohol ada di buah2an… duren misalnya. tapi gak haram.

    Ganja itu gak ada alkoholnya, tapi tetap haram karena menghilangkan akal (mabuk).

  3. mas stein says:

    mohon maaf saya ndak setuju dengan pernyataan sampeyan bahwa yang diharamkan adalah mabuknya, bukan alkoholnya.

    dulu di jaman nabi yang diharamkan adalah khomr, bukan "mabuk karena khomr". kalo sampeyan ingin tau lebih dalem monggo tanya paklik gugel soal ini.

    kalo sampeyan beralasan asosiasi ulama ndak bilang haram lucu juga mbak, ini seperti halnya ulama ndak mbikin fatwa kalo mencuri itu haram. fatwa ndak diperlukan untuk sesuatu yang telah jelas diatur.

    tanpa bermaksud merendahkan derajad keilmuan sampeyan, urusan halal haram masuk kaidah ilmu fikih, yang juga bukan cabang ilmu cetek.

    benar kata sampeyan, perlu banyak ilmu yang digunakan untuk menghukumi sesuatu. dan yang pertama kali perlu dilakukan adalah penyamaan konsep dan persepsi dulu, biar ndak saling tumpang tindih dan menyalahkan.

  4. Yang diharamkan kan MABUK-nya, bukan ALKOHOL-nya. Kalau alkoholnya nggak banyak ya nggak akan bikin mabuk. Sekarang yang bilang alkohol itu haram kan belum ada, lha dasar hukumnya yang sah juga belum ada. Kalau mau bilang agama mengharamkan ya mesti ada dalil aqli dan dalil naqli-nya, bukan begitu?

  5. U-marr says:

    memang mbak minuman alkohokl itu di haramkan menurut agama karna memabukan. tapi menurut saya bila alkoholnya diminumnya gak banyak banget dan cman buat ngangetin aja. gapapa, betul tidak???

  6. salam kenal,

    rasanya diskusi yang sudah ada sudah cukup mewakili aspirasi saya… 🙂

    semoga mereka yang didewan diberikan pencerahan agar secara betul betul dalam membuat perundangan, agar tidak terjadi bentrok kepentingan…

    hehehe… rame ya….

  7. Jeng Yuni,
    Susah kalau mau melarang pegawai pemerintah FB-an. Mungkin yang mesti dicek, itu yang mengharamkannya sudah pernah FB-an apa belum, hehehe.. 😀

    Untuk Dek Reza,
    Nampaknya Dek Reza ini bersekolah di SMK yang belum ada pelajaran kimia organiknya. Jadi begini ya, Dek, alkohol dalam kadar tertentu tidak berbahaya buat kesehatan. Alkohol banyak digunakan dalam farmasi sebagai bahan obat dan efeknya bagus untuk jantung dan sistem pernafasan. Contoh kecilnya bisa ditanyakan oleh Dek Reza ke SMU-SMU atau SMK yang mengajarkan kimia organik. Bisa juga dicek ke warung-warung obat sekitar rumah Dek Reza, pasti mereka menjual obat batuk yang mengandung varian senyawa alkohol.

    Dan ngomong-ngomong tidak ada itu orang minum alkohol sampai segelas. Jangankan teler, pasti langsung tewas. Kecuali kalau kita bicara kalimat "minum minuman beralkohol sampai segelas". Itu bahkan belum tentu teler, karena jumlah kandungan alkoholnya pasti sedikit sekali dan tidak akan sampai mabuk.

    Demikian adanya, Dek Reza.

  8. yuniarinukti says:

    jadi bingung baca RUUnya Pemerintah, lama-lama semua dianggap haram ga ada halalnya, FB sdh di fatwa haram aja tapi masih banyak pegawai pemerintah yang bermain FB…
    Salut, postingan yang baik Mba…

  9. Rhyzaboy says:

    Kalau menurut saya tetap saja tuh alkohol haram, sedikit maupun banyak pasti membuat mabuk secara tanpa terasa. layaknya air jika minum banyak kita tidak akan mabuk kan? berbeda dengan alkohol segelas saja sudah teler, yang dimaksudkan adalah kandungannya bukan banyak sedikitnya…

  10. Pasalnya kan nggak semua orang pengetahuannya sampai setinggi itu, Mbak. Yang bilang alkohol itu haram tanpa ngerti asal-muasalnya dengan teliti, pasti minta alkohol dilarang sama sekali tanpa ba-bi-bu.

  11. Fanda says:

    Bukankah alkohol itu hanya berbahaya ketika dikonsumsi berlebihan?

    Aku setuju sama paragraf terakhirmu. Memang harusnya peredarannya dibatasi dan ada ijin khusus, tp jangan dilarang sama sekali.

  12. Orang-orang yang mengharamkan wine pasti nggak tahu efek bagusnya wine buat jantung. Padahal itu sudah ada bukti ilmiahnya.

    Memang betul konsumsi minuman beralkohol ini mesti kembali ke pengendalian diri masing-masing. Lha peraturan perundangan kan dibikin lantaran pengendalian diri masyarakat sudah nggak berfungsi lagi?

    Oh ya, minuman beralkohol jangan disama-samain dengan rokok dalam menghasilkan devisa. Beberapa jenis minuman beralkohol masih bermanfaat buat kesehatan. Tapi rokok? Sama sekali nggak berguna dan bikin bodi jadi remuk.

  13. christin says:

    saya rutin minum red wine tiap malam satu sloki karena saya tahu itu baik buat jantung… dan saya belum pernah mabuk juga tuh gara-gara minum sesloki wine… kalo sebotol sih ya mungkin aja 😀 intinya pengendalian diri juga kali ya…

  14. Lisha Boneth says:

    hahahahaha.. es batu mah mana bisa diminum kak.. ya musti encer dulu kalee.. kecuali ada yang mau lehernya bentuk balok es batu.. hehehe

    alkohol mau diharamkan sama dengan rokok jg..
    klo dilarang mengurangi depisa 🙂

  15. Kalau legen mengandung alkohol, ya ndak boleh. Kan judulnya juga dilarang mengonsumsi minuman beralkohol. Itu minum es batu juga ndak boleh, soalnya es batu kan keras, sedangkan minuman keras itu pun dilarang. Hayoo..bingung kan? 😉

  16. fahmi! says:

    eh iya ya, kalo alkohol haram berarti makanan hasil fermentasi semacam tape gitu haram juga ya? minum legen juga nggak boleh?

  17. aan says:

    jadi yang bikin puyeng tuh gramitkalnya gitu ya mba,,alkohol sy yakin bahan2 mkanan bnyk mengandung alkohol, harus nya minuman keras yang di kharamkan ..*tidak termasuk es batu*

    tambaah puyeng dah..

  18. zee says:

    Seharusnya memang klo mo beli minuman keras pakai KTP, jd ga akan ada istilah disalah gunakan. Lagipula minuman keras ada ya utk diminum kan?
    Bandung kota agamis? Hihih… duh ga yakin deh…

  19. Memang di Bandung adem-ayem aja. Baru sekarang isunya jadi hangat lantaran akhir-akhir ini banyak bar ecek-ecek digerebek lantaran menyediakan penari striptis. Minuman beralkohol pun dibawa-bawa, apalagi ternyata banyak beredar minuman-minuman keras ilegal. Belum lagi kebanyakan minuman keras ilegal yang bikin gara-gara itu ternyata minuman keras ecek-ecek, antara lain berupa vodka oplosan. Kesiyan deh, nggak bisa beli vodka sungguhan, akhirnya beli yang versi oplosan..

  20. memang bener sih, sebelum mengajukan fatwa atau larangan mesti ditinjau dulu dari beberapa aspek dan melibatkan banyak hal yang berhubungan, dari dulu di abndung udah biasa yang jual minuman beralkohol, dan adem ayem aja tuh

  21. Elsa says:

    ya setuju
    kalo nanti dibilang minumal beralkohol… timbul lagi pertanyaan: alkodho kadar berapa yang boleh dan gak boleh…

    lebih bingung lagi nantinya.

  22. Saya juga suka banget rhum. Kalau sepupu saya yang ortodoks itu sampai baca ini, dia pasti akan mementung saya habis-habisan sambil berseru, "Haram, Ky!"

    Untunglah dia gaptek. Hihihi.. *ketawa licik*

  23. mawi wijna says:

    Bir Jawa alias Bir Plethok ndak pakai alkohol dalam pembuatannya. Bahan-bahannya rempah-rempah semua, macam jahe, daun pandan wangi, dan serai.

    Kebanyakan orang berpikir "aman". Yaitu melegalkan kandungan alkohol untuk obat dan tidak menyantap sajian berkandungan alkohol apabila tidak terpaksa sama sekali.

    Wlo begitu saya mendukung penggunaan Rum pada cake 😀 nyam!!!

  24. Depp, sebenarnya bisa kalau di cafe itu ada yang peduli. Misalnya a-be-geh itu beli bir tanpa KTP, lantas pengunjung lain melihat dan lapor polisi. Gw yakin laporan itu pasti ditindaklanjutin, meskipun tindak lanjut itu berupa "simpan di laci".

    Gw sendiri nggak terlalu ngeh apakah bir itu haram atau nggak. Di Jogja ada yang namanya bir Jawa, tapi nggak difatwain haram, malah jadi minuman kebangsaan bangsawan Jogja kalau menjamu tamu resminya. Dan gw penasaran kenapa disebut bir, apakah bisa bikin mabuk juga? Jeng Emmy bener, kalau sesuatu iv dikonsumsi tidak pada tempatnya (fungsi maupun jumlah yang tidak pantas), itu namanya ya haram.

  25. emmy says:

    yang haram itu bukan alkoholnya.. tapi mabuknya!!
    semua itu kan dari pengendalian diri sendiri.. kayak semisal narkotika, dokter Vicky pasti tau kan ada obat yang mengandung narkotika yg kadang disuntikkan ke pasien? kalo dosisnya pas justru akan melegakan pasien kan..

    semuanya sebenernya memiliki fungsi, kadang orang aja yang salah pakenya!

  26. depz says:

    yg harus diatur memang distribusinya

    tapi bknkah sbnrnya smua sudah diatur
    tinggal implementasinya yg acakadut
    kagak ada yg peduli

    gw kaga pernah liat tu di cafe, pas anak abegeh beli (misal bir) disuruh nunjukin KTPnya

  27. Jokostt says:

    Arti Gramatikal sebuah kata dalam bahasa memang perlu dipelajari dengan mendalam agar tidak menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam. Jika tidak, sering menimbulkan arti yang multi tafsir. Contoh UU ITE. Makanya dalam membuat undang2 atau hukum jangan hanya melibatkan ahli hukum aja tapi juga ahli bahasa.

  28. Makanya itu sebabnya kalau bikin undang-undang itu bisa rapat berbulan-bulan nggak kelar-kelar cuma untuk mendebatkan makna sebuah kata. Kadang-kadang kita pikir itu sepele, tapi efeknya jauh lebih berat dari yang kita bayangkan.

  29. Tukang komen says:

    Betul sekali, setuju dengan pendapatnya… sebuah nama dari perundangan jika tidak diperhatikan secaras seksama akan menjadikan peraturan itu sebagai bumerang yang siap melukai diri sendiri…. memang harus diperjelas peraturan tersebut..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *