Undangan Membingungkan


Ada sedikit perdebatan penting yang nggak penting, seperti biasa di keluarga gw. Jadi gini, ingat ketika dua bulan lalu orang rame ngomongin foto pre-wed? Nah, ada yang bisa jelasin nggak seh sebenarnya foto pre-wed itu buat apa? Selain buat dipamer-pamerin di venue resepsi pas hari H? Selain buat meluapkan hasrat narsis sang penganten? Dan selain buat lahan rejeki para fotografer?

Jawab gw, foto pre-wed itu buat ditaruh di kartu undangan.

Nyokap gw nggak mufakat. Soalnya, undangan pernikahan itu pasti ujung-ujungnya ditaruh di tempat sampah. Jadi ngapain juga dipasangin foto pengantennya? Apa ada orang nyimpen kartu undangan pernikahan buat kenang-kenangan?

(Ada. Orang macam gini pasti jenis orang yang seumur hidupnya cuman sekali diundang ke pernikahan.)

Nah, kemaren siang, ada kurir nganterin undangan pernikahan ke rumah gw. Undangannya buat bokap gw. Yang nerimanya asisten pribadi nyokap gw, dan dia nggak tanya itu undangan kiriman siapa. Di sampul depan tertulis nama bokap gw, tanpa alamat. Jadi undangan itu dianter setangan, bukan pakai pos.

Ternyata bokap gw jadi bingung. Soalnya, baik nama pengantennya maupun nama orang tua kedua penganten itu, bokap gw nggak kenal.

Dilihat dari gelarnya, pengantennya bukan dokter. Jadi pasti bukan mahasiswanya bokap gw. Yang bikin pusing, alamat orangtuanya nggak ditulis lengkap, cuman nama pasangan suami-istri dan tulisan Bandung doang. Pasangan satunya di Pekanbaru. Dooh..ini undangan dari siapa seeh?

Dan yang nikah itu juga bukan temen-temen gw atau adek gw. Jadi ini siapa?

Gw malah akhirnya becanda ke bokap gw, “Mungkin ada orang merasa kenal sama Dad tapi Dad-nya nggak kenal sama dia..” :-p

Nah, terjawab kan sekarang kenapa kita sebaiknya naruh foto di undangan pernikahan? Soalnya orang memang suka nggak kenal sama yang empunya hajat, jadi mereka butuh petunjuk-petunjuk pengenal seperti nama kecil para pengantennya, alamat lengkap orang tua pengantennya, dan kalau perlu ya sekalian foto para pengantennya.

Jadi melalui blog ini, gw mau memohon maaf buat calon penganten yang udah ngirim undangan ke bokap gw, yang sedianya mau nikah hari ini di kawasan Turangga. Maaf, bukannya kita sombong, nggak mau dateng ke hajatan kalian. Tapi masalahnya, kita nggak tahu kalian ini siapa. Lain kali, kalau mau nikah, mbok sekalian dilampirin surat dong. “Halo Pak/Bu X, apa kabar? Dateng ya ke pesta hajatan kami. Jangan kuatir, suguhannya enak-enak lho.. Eh, masih inget kami kan? Itu lho, yang dulu pernah kenalan sama Pak/Bu X pas lagi ngantre beli sate Maranggi..”

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

26 comments

  1. Arman says:

    jadi inget ama satu temen gua. dia ini nama aslinya erni. jadi di kampus, di absensi ya namanya erni. tapi di rumah nama panggilannya niken. nah kalo pergi clubbing, dia suka memperkenalkan dirinya sebagai michelle. dan ini dia jalanin secara konsisten lho. jadi banyak juga temen2 kita yang manggil dia michelle.

    pas dia married, namanya ditulis erni/niken/michelle.
    huaahahahaa….

  2. Yaah..pokoknya ujung-ujungnya sama. Keluargaku merasa nggak mengenali identitas yang empunya hajat, jadi nggak merasa harus datang. Gitu lho..

    Sebenarnya kalo nggak merasa menganggap kami cukup dikenal, nggak usah ngundang juga nggak pa-pa kok. Jangan mengundang hanya lantaran takut dikira menyinggung perasaan.. 🙂

  3. emmy says:

    wakakakka…aku ngakak nih! ini yg salah siapa siihh… si empunya hajatan yang ga kasi alamat lengkap atau kluarga vicky yg ga inget hayooo 😛

    tapi aku stuju sih sbenernya uundangan ga perlu kasi foto, karena ujung2nya dibuang.. kan sayang..
    caranya ya supaya efektif, sebelum kirim undangan, si empunya hajatan telponin para undangan kalo mau kirim invitation.. biar ga bingungg gituu :))

  4. tambahan kalau bisa foto di undangan se natural mungkin. Jangan sampai di photoshop, badannya super langsing, super putih, trus kulitnya terang bangets. Lha kalau ada undangan model gene malah menduga ini orang "jadi-jadian" yo kaborrrrrrrrrrr.

  5. fahmi! says:

    jiaaahh… kok nggak dateng? banyak cerita mahasiswa mahasiswi yg dateng undangan kawinan bahkan tanpa diundang. hore, makan enak gratisan 😀

  6. Jokostt says:

    Ada kemungkinan yang ngundang merasa orang yang diundang sudah tahu siapa dia atau mungkin saja ngganggap dirinya orang terkenal sehingga tidak perlu membuat foto, alamat lengkapnya dll. Kemungkinan kedua bisa jadi karena memang salah undang. He…He….

  7. depz says:

    potonya close up kaya poto ijazah aja kali ya vik?
    kalo masih blm lgkp, skalian no hape, tanda tangan juga gmn?
    😛

  8. Hendriawanz says:

    Jadi ingat pengalamana rekan di tempatku waktu datang ke satu pernikahan. Sudah isi buku tamu, masukin amplop, waktu di dalam ternyata bukan itu. MEmang kebetulan ada 2 hajatan dan tempatnya berdekatan.
    Masa amplopnya mau diambil lagi..nggak mungkin kan..hehehe.

  9. Hihihi..memang kita kan suka nggak hafal nama asli teman-teman kita. Makanya itu gunanya foto pre-wed di kartu undangan.

    Baru ngeh juga sekarang fungsinya foto penganten yang sering dipajang di pintu masuk venue. Biar ngusir tamu-tamu yang salah masuk ya.. 😀

  10. hildaw says:

    Kadang kita suka lupa nama lengkap teman kita, taunya hanya nama panggilan saja, sehingga sering bingung, kalau dapat undangan2 spt itu

  11. kelly says:

    Betul mba!
    sekalian entar dipasang di pintu masuk resepsian
    jadi bisa dicocokkan dulu dengan yang ada di undangan
    biar engga salah masuk!

  12. Jadi.., undangan kudu jelas menyebutkan nama si pengundang (lengkap), alamatnya dan kalau perlu pekerjaannya sekalian ya..?
    Ditambah foto pengantin akan lebih afdol.., jadi kalau salah masuk gedung akan tahu karena pengantinnya beda dg yang ada di undangan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *