Perkara Perkomentaran


Waktu blog gw di Blogspot ini baru dikenal, seorang blogger ngomporin gw buat buru-buru pindah ke WordPress. Alasannya, sistem perkomentaran Blogspot ini cukup ribet ketimbang di WordPress. Waktu itu gw nggak ngerti, dan gw milih mempertahankan Georgetterox sampai jadi besar seperti sekarang. (Oke, gw terdengar seperti ibu dari balita berumur 1,5 tahun.)

Pertama-tama punya Georgetterox, yang komen masih do-re-mi, jadi masih terkendali mbalas komentarnya. Tapi lama-lama penontonnya jadi banyak. Ketika Georgetterox berumur enam bulan, penonton yang komentar dalam sekali post mencapai 10 orang dan mulailah gw mengenal kata “kewalahan”. Sering terjadi komentar yang masuk berendeng sampai gw kesulitan menjawab semuanya.

Oh ya, gw nggak menganut sistem menjawab komentar orang per orang. Buat gw, fungsi penting dari blog adalah diskusi buat bagi-bagi pengetahuan, di mana setiap komentar mesti layak dibaca oleh tiap orang, bukan cuman dibaca oleh gw doang. Makanya gw jarang nyebut komentar ini untuk Mbak X atau Mas Y, misalnya. Gw pikir, justru di situlah kelebihan sistem komentar di Blogspot.

Yang repot, kalau gw nggak buka internet selama beberapa jam, terus ternyata yang komentar udah lebih dari empat orang. Waduh, itu yang pusing ngebalesnya.

Makanya gw usahain, begitu satu komentar masuk, langsung gw bales saat itu juga. Jadi nggak ada yang ngantre lama di kolom moderasi. Itu sebabnya push mail gw nyalain di HP, supaya kalau ada notifikasi komentar bisa langsung ketahuan oleh gw.

Oh ya, ada dua metode kolom komentar di Blogspot. Metode pertama, kolomnya ditaruh langsung di bawah posting. Metode kedua, kolom komentar ditaruh di halaman tersendiri. Menurut gw, masing-masing metode ada kelebihan dan kelemahannya sendiri.

Gw pernah pakai metode pertama. Jadi kolom komentarnya langsung di bawah posting-nya. Ini memberi efek menggoda langsung kepada penonton untuk langsung berkomentar setelah membaca artikel.

Tapi jeleknya, kalau penontonnya masih komentator gaptek. Bingung dia, “Select profile” itu apaan sih? Di mana dia harus naruh nama dirinya? Gimana kalau dia nggak punya alamat e-mail di Google?

Jadi, metode gini cuman cocok buat blogger newbie yang kepingin blognya cepet rame komentar, dan mengincar komentator dari segmen kelas “blogger senior”.

Metode kedua, kolom komentar ditaruh di halaman tersendiri. Kelebihannya, ada petunjuk buat penonton yang kebingungan untuk berkomentar. Klik “post a comment”. Nanti pilih, mau pakai alamat di Google, atau pakai Name/URL aja. Dan komentator yang pakai alamat Google-nya, bisa dapet keuntungan tambahan coz fotonya narsis di situ.

Kelemahannya jelas. Terlalu banyak klik sungguh tidak baik buat penonton yang fakir bandwidth, hahaha!

Gw pilih metode ini, coz gw berusaha mendesain blog gw supaya ramah kepada para blogger newbie, terutama kepada para netter yang nggak pernah baca blog. Soalnya sebagian besar relasi gw adalah dokter-dokter yang gaptek dan nggak ngerti caranya berkomentar dalam blog.

Nah, segala macam kelemahan dari sistem perkomentaran di Blogspot, sebenarnya udah diatasi di WordPress. Tapi menjawab tantangan di alinea pertama, gw nggak mau memboyong Georgetterox pindah ke WordPress. Soalnya, nama www.georgetterox.blogspot.com masih jauh lebih “menjual” ketimbang nama www.georgetterox.wordpress.com, di kalangan netter non-blogger. Nama “blog” pada kata “blogspot” masih mengandung makna eksklusif.

Tapi bukan berarti WordPress nggak asyik lho. Buktinya, penonton WordPress gw di URL http://laurentina.wordpress.com masih mencapai angka kunjungan yang lumayan, untuk sebuah English blog yang penontonnya nggak biasa ngomong pakai bahasa linggis. 🙂

Oh ya, gw sering diprotes coz gw naruh satpam terlalu banyak di kolom komentar gw. Mulai dari captcha sampai moderasi. Alasannya gini lho.

Namanya juga blog publik, gw sering disatronin penonton nakal. Mereka pura-pura komentar, padahal tujuan akhirnya mau kirim iklan berupa link. Beuh, gw benci banget kalau ada yang ngiklan di blog gw tanpa bayar premi! Dan yang paling bejat mereka tuh suka nyepam. Komentar yang sama dikirim sampai lima kali, jelas bukan lantaran koneksi error. Makanya gw pasang captcha, supaya para spammer capek sendiri.

Dan kenapa tiap komentar kudu dimoderasi? Simpel aja, gw mau blog gw berkualitas, jadi sedapat mungkin gw nggak meluluskan komentar nggak nyambung dengan postingan. Misalnya gw lagi nulis tentang pencegahan kematian ibu melahirkan, tau-tau ada komentar ngiklan buat ngajakin ikutan MLM obat herbal? Komentar nggak nyambung gini ya terpaksa gw reject dong. Dan sengaja tiap komentar yang masuk gw moderasi dulu, supaya gw bisa meng-ACC mana komentar yang layak tayang dan mana komentar yang nggak layak tayang.

Dan tiap orang yang komentar pasti gw catet URL-nya, dan biasanya gw kunjungin balik. Kalau gw main ke suatu blog orang lain, biasanya gw komentar di situ juga. Terima kasih buat penonton yang udah komentar di sini, jangan bosen ya..:-)

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

28 comments

  1. Membagi pikiran itu rutinitas, sama seperti sarapan, mandi, atau manasin mesin mobil.

    Kalau langsung bales komentar, bisa aja coz aku langsung tahu ada notifikasi komentar masuk ke e-mail-ku, kan aku pakai push mail di HP buat ngawasin inbox. Buat aku, e-mail itu seperti SMS; harus cepat dibalas coz pengirimnya nungguin jawaban kita.

  2. jc says:

    Tapi beneran deh.. aku bener2 salut dan enggak bisa bayangin kok bisa ya Vicky rutin banget nulis dan bisa langsung bales comment walaupun baru ada satu aja, aku pengen banyak nulis tapi enggak ada waktunya >_<.
    Haizz.. harus belajar pada suhunya nehhh…

  3. Benar, Sel. Makanya kubilang Blogspot itu cocok banget buat para newbie, soalnya friendly user banget.

    Aku memang berencana mau punya dotcom sendiri. Fungsinya bukan cuman buat blog. Tapi lebih untuk kepentingan pekerjaan, misalnya melayani konsultasi pasien on-line, follow-up pasien, seperti itulah. Cuman belum jelas seperti apa implementasinya. Mungkin nanti kalau aku udah jadi spesialis, dan undang-undang kesehatan di Indonesia udah mengatur dokter yang berpraktek menggunakan internet.

  4. Esel says:

    Yang aku suka dari blogspot itu lebih friendly user ( apa emg aku yg gaptek ya ? hehehe ) blogspot bisa ganti2 themes sesuka hati…kalo worpress..ribet dah..hehehe..tapi menurutku mbak, jangan jadi vickylaurentina.com deh, soalnya kesannya jadi gak kayak blog… hehehe 😀

  5. Sebenarnya buat aku, blogging itu ibaratnya jualan barang. Kita sebagai pengarang adalah penjualnya, komentator adalah pembelinya. Kalau tingkah kita sebagai penjual memuaskan, pembeli akan datang lagi buat beli barang kita. Makanya hendaknya kita juga memuaskan motivasi pembeli, antara lain:
    1. Menyajikan barang (artikel) yang bermanfaat.
    2. Berterima kasih coz mereka udah beli dagangan kita, dengan cara berkunjung balik ke blog mereka.

    Selain seperti berdagang, blogging juga sebagai arena pertemanan. Dan prinsip utama pertemanan itu harus ikhlas, nggak boleh pamrih. Artinya kalau kita udah komentar ke blog seseorang, kita nggak boleh memaksa dia untuk komentar balik ke blog kita (meskipun kita mengharapkan demikian). Kalau kita mau dia komentar di blog kita, lakukan dengan cara-cara yang nggak mencolok. Misalnya sering komentar di blog dia, sering komentar di teman-teman blogroll dia, pokoknya yang bikin nama kita seolah-olah ada di lingkungan dia juga. Dengan begitu dia akan ngeh dengan keberadaan kita, dan dia akan datang sendiri ke blog kita.

    Kalau kita udah coba segala usaha tapi dia nggak komentar juga di blog kita, ya udah, berarti dia memang nggak anggap kita teman. Nggak usah patah hati.

    Oh ya, yang biasanya suka nyelip-nyelipin link pribadi secara mencolok di komentar itu, adalah tanda-tanda bahwa dia merasa tulisannya kurang "laris". Gw justru nggak mengapresiasi yang kayak gitu, soalnya blogger seperti itu kesannya putus asa banget..:-P

  6. Arman says:

    iya paling sebel kalo ada komen orang yang sebenernya bukan niat mengomentari posting kita tapi cuma buat iklan. kesel banget.

    kalo isinya bener2 iklan doang sih pasti gua hapus. kalo masih ada komennya, gua approve tapi link nya gua hapus.

    yang nyebelin juga tuh kalo komennya pake embel2 pesen kita disuruh ke blog nya juga dan komen juga. aneh banget… komen kok pamrih… hehe 😛 padahal biasa kalo ada yang baru komen juga gua pasti akan berbalas kunjungan dan komen juga di blog nya tanpa harus disuruh. kalo pake disuruh gitu malah jadi males… 😛

  7. emmy says:

    hebattttttt……beberapa bulan udah bejibun yg komen! aku udah bertaun2 masih tetep aja do-re-mi hehehe.. rahasianya apa sih kak? 😛

  8. Soalnya jeda antara waktu masuknya komentar ke blog Pak Eka dengan waktu dibacanya komentar itu oleh Pak Eka cukup lama ya, Pak? Sampai temannya kepingin komentarnya buru-buru dipasang di blog situ..

  9. Cerita Tugu says:

    inyong dulu juga menggunakan komentar jendela munculan di moderasi hampir selama 10 bln, tapi ada sahabat yang minta jangan dimoderasi biar komentarnya cepet muncul gitu, untuk jenis komentar dibawah postingan juga baru-baru aja sekitar 2 bln

  10. waduuh berarti ketat juga yaa seleksi buat bisa coment di blog mba ini

    waaaah kalau saya ga bisa begitu mba,soalnya kalau saya terlalu ketat para komentator bisa kapok coment diblod saya

    yang coment aja juga jarang diblog saya

    oh ya salam kenal

  11. depz says:

    gw dah nyobain 2 2 nya
    dan gw lbh prefer wp drpd bs

    bout komen, buat gw komen adalah feedback dan kelebihan dari web 2.0 dimana pembaca bisa "berbalas pantun" dengan si pembuat artikel

    dan komen juga penghargaan
    yg mnurut gw harus dikomen balik, bkn hanya di komen balik kalo ada pertanyaan. karna ga enak kan rasanya dicuekin 😀

  12. Bwahaha.. Blogspoter tetep keukeuh.. Yo wis.. 😀

    Captchnya Wijna unik lho. Saya pingin tahu gimana cara mbikinnya. Nanti deh kalau udah punya dotcom sendiri.

    Pak Setiawan, terima kasih tetap dimampirin. Saya sebenarnya sering mbaca blognya Pak Setiawan. Tapi karena saya lebih sering main internet dari HP, blognya Pak Setiawan sering timed-out kalau loading. Akibatnya kolom komentarnya sulit dibaca di HP saya, jadi saya kesulitan buat komentar di sana.

  13. Biasanya yang pakai Blogspot pasti belain Blogspot lah.. 😛

    Perkara moderasi itu gini: Jadi fungsinya moderasi itu mengurangi terjadinya jenis-jenis komentar tidak bermutu, misalnya komentar spam, komentar iklan, komentar tidak sopan, dan lain sebagainya yang bertentangan dengan netiket. Jika jenis-jenis komentar tidak bermutu itu dibiarkan terlalu banyak, lama-lama akan mengurangi kualitas blog itu sendiri. Begitu lho.

  14. Nirmana says:

    ulasan yang bagus vixk dan alasanmu juga logis. Btw utk bisa jadi blog berkualitas mesti di moderasi yah??

    ya okelah, gpp. semua orang punya aturan main sendiri terhadap blog pribadi.

  15. jensen yermi says:

    Kemaren saya ngetes komen pake gugel akun, tapi gagal, ya akhirnya balik lagi ke cara manual. :))

    Komen disini agak merepotkan sih, tapi saya dah pernah kok nemu blog yang jauh lebih repot lagi komennya. Intinya repot sih gak masalah, yang penting suxes aja. Kalo error trus komen yang dah diketik panjang2 ilang kan ngeselin.

    Etapi masa sih dotblolspot lebih menjual daripada dotwordpress?

  16. Justru di situ makna komunikasinya, Bang. Kalau lihat komentar membludak dan saya belum sempat jawab semuanya, berarti itu tanda-tanda bahwa saya lagi sibuk sekali. Kan fungsinya blog itu untuk memberi tahu juga kepada dunia bahwa saya ini lagi sibuk ngapain..

  17. sibaho way says:

    klo komentar udah membludak sementara vicky masih mempertahankan menjawab komentar orang per orang, boleh juga di-sub cont-kan atau hire satu orang staff buat bales2in komentar…

    klo saya sekarang hanya menjawab komentar yang yang memang bertanya dan pertanyaannya berhubungan dengan posting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *