Nestapa Korban Tilep Pajak

Pada musim hujan, Bandung menjadi kota yang menyiksa coz sama sekali nggak enak buat dipakai jalan-jalan. Hampir tiap ruas jalannya mengingatkan gw kepada muka orang yang habis kena cacar alias bolong-bolong. Bolongnya nggak kira-kira, diameter segede-gede gaban dan cukup dalem sampai bikin setiap pengendara mobil manapun jadi nggak waras. Beberapa minggu lalu sebuah skuter terperosok di tengah jalan gara-gara dos-q nekat mengangkangi sebuah lobang di situ. Lha, hujannya deras banget akhir-akhir ini, situasi banjir, mana tahu kalau di tengah jalan situ ada lobang. Apakah lantas kita mesti kesiyan sama para pengendara motor di Bandung? Hah, gw bilang, jangankan sama yang naik motor, kepada yang naik mobil aja gw merasa ikut berduka cita. Gw bilang, enaknya kita-kita yang tinggal di Bandung ini ganti aja semua mobil dengan kendaraan tinggi biar nggak gampang terperosok. Kalau gw lebay, gw pasti udah bilang bahwa ruas jalan-jalan di Bandung ngingetin gw kepada Jalan Trans Kalimantan yang melintasi Kalimantan Timur jalur utara. Rusak.

Jangan heran, ruas jalan yang rusak bukan cuman jalan-jalan pinggiran kota. Tapi nggak tanggung-tanggung kebopengan jalan sudah bisa dirasakan di jalan-jalan besar macam Jalan Djundjunan dan Jalan Setiabudi. Padahal dua jalan itu fatal; Jalan Djundjunan adalah pintu masuk Bandung dari arah barat, coz pintu Tol Pasteur ada di sana. Adapun Jalan Setiabudi adalah satu-satunya jalan protokol buat keluar dari Bandung menuju utara.

Gambar di atas gw ambil di Jalan Setiabudi dan perempatan Setrasari Mall. Dua-duanya sama-sama daerah mahal di Bandung, perekonomian maju pesat di sana, setiap hari ribuan kendaraan berseliweran dan nggak terhitung berapa orang pengendara yang memaki ketika ban kendaraan mereka terperosok menginjak lobang.

Ada apa ini? Apakah penduduk Bandung terlalu melarat sampai-sampai nggak bisa bayar biaya perbaikan jalan? Ide itu malah bikin gw tersinggung. Jelas-jelas bokap gw selalu rajin bayar pajak.

Kakak gw pernah nasehatin gw, sekitar beberapa tahun lalu, waktu gw masih baru lulus dan semangat-semangatnya nyari lowongan kerjaan. Katanya, jangan pernah mengusik-usik gajimu berapa. Kalau dapet ya terima, jangan nanya kenapa kamu cuman dapet segitu. Dia bilang, gaji kita itu sebenarnya jumlahnya X, tapi lantaran dipotong pajak ini pajak itu, akibatnya yang kita terima masuk ke dompet cuman sejumlah X – pajak. Jadi kalau nerima slip gaji itu bawaannya pasti sakit hati.

Sewaktu beberapa hari yang lalu gw nonton siaran langsung dari Bandara Soekarno Hatta – Tangerang (bukan Jakarta lhoo..) mengenai liputan kepulangan Gayus Tambunan, gw nggak bisa nahan rasa kesal. Gw pribadi nggak bisa habis pikir kenapa seorang tukang pajak bisa nekat-nekatnya nilep duit rakyat yang udah dikumpulin rame-rame buat bayar pajak (yang katanya buat kesejahteraan rakyat).

Bokap gw udah bayar pajak daerah, tapi jalan di Bandung masih bolong-bolong. Gaji kakak gw udah dipotong pajak penghasilan, tapi buat berobat aja masih harus bergantung kepada asuransi. Untung dia punya adek yang dokter jadi bisa minta konsultasi gratis via telepon (Mbak, ini nggak gratis ya. Jangan lupa nanti traktir makan! :-p) Jadi kesimpulannya, pajak yang selama ini kita bayarin itu dipake buat apa aja, heh?

Maksudnya bukan gw mau jelek-jelekin tukang pajak. Paman gw tukang pajak. Dan teman-teman blogger gw juga tukang pajak. Termasuk sepupu gw juga lagi jadi freshman di kantor pajak. Kita semua tahu persis bahwa teorinya pajak itu adalah untuk bayarin fasilitas buat rakyat. Tetapi kalau tuh pajak malah ditilep oleh tukang pajaknya sendiri, bukannya dipakai buat betulin aspalnya Jalan Setiabudi, Jalan Djundjunan, dan perempatan Setrasari Mall, bahkan malah pajaknya dipakai buat kasih makan para narapidana yang dipenjara gara-gara korupsi pajak, gw malah pikir duit itu muter-muter sia-sia seperti lingkaran setan.

Dan yang patut harus digarisbawahin, nggak semua tukang pajak demen korupsi. Beberapa orang tukang pajak sudah bersedia jadi pegawai negeri yang mulia, nggak ngiler lihat duit orang meskipun kerjaannya tiap hari ngitung sampai milyaran. Tapi kalau ada satu-dua orang aja tukang pajak yang korup, tentu itu akan merusak nama baik kolega-kolega lainnya sesama tukang pajak toh?

Syukurlah Gayus Tambunan udah pulang. Gw udah empet baca halaman Twitternya Gayus Tambunan. Mbok sekalian dos-q disuruh nyanyi aja, berbuat penilepan itu nyontoh ke siapa. Siapa lagi orang-orang di kantor pajak yang suka nilepin pajak, biar orang-orang itu dicopot aja dan nggak usah dipakai buat ngumpul-ngumpulin pajaknya rakyat. Dan ntie kalau udah ketahuan nama-namanya, tangkep aja dan masukin ke penjara. Dan tolong deh, ntie kalau udah di penjara, makannya bayar sendiri-sendiri, jangan dibiayain dari duit pajaknya rakyat!

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

36 comments

  1. - H - says:

    lols, kemarin nyokapku kelebihan bayar pajak sekitar 2.5jt, tapi diikhlasin buat orang pajaknya karena mereka berbelit-belit untuk balikin kelebihan pajak.

    ada juga temen mamaku yang kelebihan 8 dan 40 juta juga dilegoin buat orang pajak 🙁

  2. Begini maksud saya. Pertama, saya tidak membela Gayus, tapi menyampaikan fakta berdasarkan apa yg saya tahu dan dengar dari rekan2 sejawat Gayus. Dalam posisinya, Gayus bisa melihat celah dan kelemahan yang ada pada suatu sistem perpajakan yang menguntungkan suatu Wajib Pajak (dan ini bukan zero sum game, di mana jika suatu pihak diuntungkan, maka pihak lain dirugikan — yang dalam hal ini Jeng Vicky anggap adalah rakyat). Dalam posisinya itu, Gayus menguatkan apa yang sudah diketahui para Wajib Pajak mengenai apa yang seharusnya mereka bayar (itulah sebabnya mereka berpekara di pengadilan in the first place). Para WP tersebut mengajukan keberatan dengan pajak yang dianggap harus mereka bayar — dan ini sangat sah. Perbedaan tafsir akuntansi akan mempengaruhi berapa besar yg seharusnya dibayar WP. Dan perbedaan tafsir inilah yang di-tantang WP di pengadilan. Mereka sudah tahu, dan seperti saya sampaikan di atas, Gayus menguatkan apa yang mereka ketahui itu sehingga para WP tsb bisa meyakinkan hakim bahwa mereka benar, dan hakim lah yang kemudian memutuskan perkara. Coba lihat dari kacamata ini: Seorang punya penyakit dan divonis oleh seorang dokter untuk melakukan perawatan tertentu. Orang tersebut kemudian mencari second opinion, dan setelah melakukan cek dan ricek, dokter lain memberikan diagnosa yang sangat menghemat biaya perawatan orang tersebut. Sebagai ungkapan terima kasih, sang pasien memberikan pembayaran lebih kepada sang dokter. Hypothetically speaking, para dokter tersebut bekerja di RS yang sama tempat seharusnya orang tadi menghabiskan uangnya untuk perawatan sesuai anjuran dokter pertama. Apakah artinya dokter pemberi second opinion mencuri uang pemasukan RS yang seharusnya lebih besar jika mengikuti anjuran dokter pertama?

    Oh, agak ekstrem ya, kasih contohnya?

  3. Cahya says:

    Yah…, begitulah negeri ini, tapi rakyatnya kebanyakan diam saja tidak pernah menggugat, entah dengan perwakilan rakyatnya apa pernah menyuarakan suara yang ia wakilkan?

  4. Terima kasih, Mas Leo. Memang yang didapatkan Gayus hanya berupa "biaya konsultasi", supaya perusahaan tersebut tidak membayar pajak dalam jumlah yang seharusnya. Tapi jumlah pajak yang seharusnya itu adalah jumlah yang mestinya dibayarkan sebagai pajak, yang alokasinya bisa digunakan untuk mendanai kesejahteraan rakyat. Mendanai kesejahteraan rakyat itu juga termasuk "uang rakyat" kan? Karena itu, pihak-pihak yang berkontribusi mencegah perusahaan membayar pajak pada jumlah yang seharusnya, secara tidak langsung juga berkontribusi menghilangkan uang rakyat. Karena jumlah modal yang diterima sebagai dana pembangunan adalah jumlah yang kurang dari semestinya. Begitu maksud saya.

  5. [quote]
    Gw pribadi nggak bisa habis pikir kenapa seorang tukang pajak bisa nekat-nekatnya nilep duit rakyat yang udah dikumpulin rame-rame buat bayar pajak (yang katanya buat kesejahteraan rakyat).
    [end-quote]

    Sekedar meluruskan: Gayus ngga nilep duit rakyat. Dia mendapat uang sebagai jasa konsultasi. Perusahaan2 yang meminta pengembalian pajak "dikonsultasikan" oleh Gayus sehingga menang dalam sidang2 perpajakannya yg diputuskan oleh hakim independen. Kesalahan Gayus bukan dalam mencuri atau menggelapkan pajak, tapi karena tidak setia pada korpsnya.

  6. Kalau gitu mestinya kita lewat jalan mana dan pakai kendaraan apa, kok semua-semua kecebur lobang? Ternyata jalan nggak di Bandung dan di Semarang sama aja bobroknya, apa kontraktor yang ngaspalin jalannya sama? Semprul itu kalau banteng aja bisa berendam di lobang itu, lama-lama kita beneran jalan mendingan pakai perahu jukung aja..

    Kenapa tilep-tilepan pungutan jadi budaya? Apakah karena buat ndaftar jadi pegawai itu biayanya aja gede? Ngomong-ngomong, apa nggak takut nanti sakit perut gara-gara makan dari rejeki yang nggak halal?

    Mudah-mudahan kita bisa tetap jujur sampai mati ya. Males aja kalau mati gara-gara usus busuk lantaran makan nasi dari rejeki haram.

  7. Jadi inget jalan ke stasiun tawang/kota lama di Semarang. Hampir aja nabrak motor lain karena motorku oleng masuk lubang. Itu lubang, banteng bisa berendam dengan nyaman. Terus ketutup rob (air laut yang naik ke jalan). Kalo mau ke pelabuhan tanjung mas, sebaiknya lewat Kaligawe, karna jalan lain rob-nya setinggi dengkul. Dan jangan pake motor. Pake perahu layar masih lebih masup akal. Kalo bisa bawa bibit lohan sekalian =p

    Aku baru calon pegawai. Belom digaji (SK blm turun), udah mulai kerja dan *semoga selamanya* masih jujur. Itu karna aku merasa idup sederhana tanpa nilep udah cukup dan nggak terobsesi punya mobil (karna Semarang kayaknya lebih cocok kalo punya heli). Setahuku pas aku daftar ulang aja biaya periksa kesehatan/urin udah pake ditilep-padahal ama kolega sendiri. Pas aku tanya, "Ya ampun mas masa surat begini aja seratus ribu? Saya kan juga alumni sini," Jawabnya malah, "Ya nanti kalo sudah jadi pegawai kan Mbaknya juga dapet," Gimana itu ya?

  8. Bang Aswi says:

    Beberapa kali saya harus menahan deburan jantung saat roda motor masuk ke dalam lobang, padahal sudah hati2 pas jalan malem2. Hehh! Beberapa hari lalu, om saya juga terpaksa jatuh karena menghindar lobang2 itu. Duh gustiiii….!

  9. Aku pernah dikasih tahu, kalau mau punya laki-laki yang nggak korup, harus dilihat istrinya dulu. Kalau istri tuh bawaannya matre binti tukang jajan yang mahal-mahal, biasanya suaminya rawan godaan buat korup.

    Mau konsultasi gratis? Hayu.. 😀

  10. vicky..bener..aku juga sakit hati,..hasil kerja kerasku sampe lembur2 dipotong pajak gede banget trus aku belum menikmati hasil nyata dari fasilitas yang memadai sebagai kompensasi gajiku yang dipotong hiks hiks…pernah pas aku lagi naek motor boncengan ama suamiku hampir jatuh gara2 jalannya bolong segede gaban. untung ga jatuh beneran….bisa2 aku ga bisa bayar pajak lagi kan…
    semoga gayus bisa bertobat dan duitnya dibagi2 ke rakyat miskin yang boro2 ke singapore buat kabur…ke mall aja belum pernah kali…

    btw soal konsultasi gratis.,..boleh dunk sekali2 aku konsultasi hehehe

  11. ImUmPh says:

    setuju mbak. sekarang ga cuma di jalan tikus aja yang lobangnya segedo goabn, di jalan2 gede juga lobangnya gede pisan!
    Hampir seluruh jalan di Bandung ga ada yang mulus semulus kulit artis!
    Hatiku juga hancur pas nulis komeng ini!

  12. Pabrik-pabrik di Jababeka pasti bertanggungjawab bayar pajak yang besar, coz truk-truk pengangkut barang mereka melindas jalan-jalan sampai menggerus aspal. Tapi itu tidak jadi masalah asalkan pajak yang mereka bayarkan dipake buat perbaikan jalan dengan kualitas terbaik.

    Sekarang masalahnya, apakah para pegawai negeri yang digaji Rp 5 juta/bulan itu bisa dipercayai atau tidak untuk mengolah pajak ke alokasi pos-pos rakyat, bukannya menerima sogokan dari orang-orang yang nggak mau bayar pajak seperti jumlah yang seharusnya?

  13. REYGHA's mum says:

    pertama : Vicky hebat, ditampaku jalur menuju kawasan industri jababeka rusak berat padahal pabrik2 besar ada dikawasan ini dan pasti pajaknya ngga sedikit.
    kedua: aku sesak napas baca komentnya Ranny…sebel…gaji 5juta/bln itu gede dan pelayanan buat masyarakat minimalis
    ketiga: aku tinggal dikomplek pegawai negri dan rasanya udah eneg banget pengen pindah dari situ….bukan iri tapi kesel berangkat jam tujuh hampir jam delapan atau lebih jam 4 sore udah sampai rumah….bisa beli rumah lagi ditempat lain, bisa beli mobil….gajimu piro opo duite sopo?….

  14. mawi wijna says:

    Korupsi bagaikan jalan yang berlubang. Memang, tak semua bagian yang berlubang. Tapi lubang tetap mengesalkan.

    Hujan ibaratnya rejeki. Jalan yang berlubang dan yang tak berlubang. Kiranya mana yang menampung lebih banyak air? Kiranya mana yang bakal mencelakakan pelintasnya. Ah, Korupsi.

  15. Kenaikannya sebanyak Rp 5 juta/bulan, atau hasil akhir gajinya adalah Rp 5 juta/bulan?

    *gag penting*

    Ya sama aja, gaji Rp 5 juta/bulan itu gede!

    Bukannya aku nggak setuju gaji PNS dinaikin. (Aku malah lebih antusias kalau pensiunan PNS yang dinaikin, coz aku pasti kecipratan :-p) Tapi pertanyaannya, memangnya dengan kenaikan gaji, kinerja mereka akan lebih baik? Itu pegawai-pegawainya sudah dipanggilin rohaniawan agama masing-masing apa belum? Percuma gajinya gede tapi akhlaknya tiarap.

    Lantas, memangnya yang boleh sejahtera di negeri ini cuman pegawai negeri? Atau lebih spesifiknya, yang boleh sejahtera cuman yang pakai kerah putih? Gimana yang bukan pegawai negeri, yang kerahnya item, kerahnya bulet, atau yang bajunya nggak ada kerah? Apa mereka harus bertahan dengan pendapatan per kapita yang sangat minim dan harus hidup dengan jalan yang rusak?

  16. ranny says:

    mbak sini kubisikkan suatu fakta : bahwa 75% APBN berasal dari pajak 😀 *gag penting*
    dan keknya (menurut sayah) paling banyak terserap untuk menggaji para orangorang berkerah putih itu >_<
    barusan release dari MENPAN bahwa gaji orangorang itu akan dinaikkan 5juta per bulan..
    see,betapa tidak adilnya!!emang ga bisa dipungkiri hal tersebut yang mendorong masyarakat berbondong2 untuk jadi anggota di "club" itu *pfuhh*
    sedangkan untuk kita yang diluar "club" itu (baca swasta) apa yang kita dapatkan??ok dibangun rumah sakit,jembatan..tapi plizz deh coba diliat lagi..fasilitas gag memadai skrang,banyak jalan yang rusak,fasilitas umum sangat minim dan berbagai banyak keluhan
    *kok jadi ngeluh*
    intinya sama juga kek mbak,,sayah mempertanyakan kemana tuh duidudid pajak mengalirrrr??T_T huhuhuhu

    salam kenal mbak yah maap kepanjangan..esmosi jiwa sayah kalo bahas soal ini >_<
    aku follow yah

  17. hildaw says:

    Gaji pegawai pajak tuh sdh tinggi banget. Gaji Gayus saya sudah sudah 12 juta per bulan. Tapi tetap saja mereka pada nilep pajak. Sdh seharusnya dapat hukuman yang berat, supaya jera

  18. Itik Bali says:

    Kita disuruh, dimintai untuk tertib pajak, tapi kok masih aja di korup kaya begitu
    jalanan bolong-blong..apa uang pajak yang dibayarin emang ga cukup sih buat nambal bolong2 itu??

  19. hunk says:

    wes wes pindah sini ae… surabaya timur jalannya mulus. mau ke kampus unair juga deket, nggak sampek 10 menit 😀

    *menghasut*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *