Nama dan Pelototan Ekstra

Jika Anda dikasih kesempatan buat mengubah nama Anda, entah itu sekedar menambah nama belakang atau ganti pakai nama suami, atau mengganti namanya sampai berubah sama sekali, mau nggak?

Gw kepikiran ini waktu baca surat pembaca di sini tadi pagi. Seorang bapak asal Bogor mengeluh, saban kali dos-q mau masuk Singapura, dos-q selalu kudu diinterogasi. Padahal dos-q masuk ke Singapura pakai student visa yang mestinya secara normal mbok ya dibiarkan masuk dengan tenteram. Ternyata, dos-q kudu diinterogasi soalnya paspornya ditandain “spesial”. Seorang petugas imigrasi entah kapan telah menuliskan “common name” pada pemeriksaan paspornya, dan menuliskan angka “480”, lalu mengirimkannya ke ruang interogasi. Dengan perlakuan itu, bapak ini merasa selalu diperlakukan bak buron. Oh ya, nama bapak ini adalah Abdul Wahid.

Gw nggak ngerti apanya yang “common” dengan nama Abdul. Apakah setiap orang bernama Abdul itu pasti akan dipelototin ekstra oleh petugas imigrasi, sama seperti polisi Bandung melototin dada ibu-ibu yang naik mobil karena nyari-nyari apakah ibu-ibu nggak pakai sabuk pengaman?
Tidak bisa dipungkiri, peristiwa 9/11 sudah merusak citra orang-orang Arab, sehingga orang-orang dengan nama berbau Arab sering dipelototin ekstra ketika bepergian ke negara-negara tertentu yang mengobarkan semangat antiterorisme secara berlebihan. Dicurigainya yang namanya bau-bau Arab itu simpatisan teroris, jadi mesti diperiksa ketat. Kasihan sekali warga-warga yang namanya bau Arab kalau gitu.
Gw jadi mikir, sekiranya gw orang Indonesia, dan nama gw bau Arab, mungkin gw bakalan diperiksa sekalian. Padahal boro-boro kenalan sama teroris, bikin bom molotov aja gw nggak tahu caranya. *** Nama gw Vicky Laurentina. Gara-gara nama itu, banyak yang ngira gw Katolik, Kristen, atau minimal Tionghoa. Padahal agama gw Islam. Gw sendiri nggak pernah ambil pusing kalau gw dikira bukan muslimah. Gw pikir, sebodo amat orang mengira gw nggak religius, yang penting Tuhan tahu gw muslimah. Agama gw itu urusan gw dan Tuhan, bukan urusan orang lain.
Suatu ketika, sekitar sepuluh tahun lalu, nyokap gw yang baru seneng-senengnya ikut pengajian pertama kali, mengeluh ke bokap gw, kenapa nama gw bukan nama Islami. Nyokap gw malah nawarin manggil gw dengan nama lain yang kebetulan rada berbau Arab, tapi gw menolak. Bukan gw menolak nama berbau agama atau etnis tertentu. Tetapi gw pikir, ketika bokap gw ngasih nama gw pertama kali waktu gw lahir, bokap gw pasti berdoa dulu. Doa itu original. Kalau nama gw diganti dengan nama lain, berarti doa original yang dulu diucapkan bokap gw, nggak akan terucapkan lagi dong?
Suatu ketika, gara-gara nama gw, gw pernah dapet yang nggak enak juga. Dalam suatu makan siang di kantin bareng teman-teman kuliah, seorang adek kelas menghampiri kami dan nyebarin undangan ikutan tabligh akbar. Si neng itu memberikan tiap orang di meja kantin itu undangan satu per satu (undangan itu nggak ada nama penerimanya), tapi gw satu-satunya yang nggak dikasih undangan. Beruntungnya teman gw ada yang ngeliat, lalu negor si neng itu. “Eh, Dek, teteh yang ini nggak dikasih?”
Si neng itu terkejut dan nampak salah tingkah. Dengan malu dia kasih undangan juga ke gw, seraya bilang, ”Maaf, Teh.* Kirain, (Teteh ini) non-i..**”
Nyokap gw pernah bertanya ke gw, kalau gw punya anak nanti, mau nggak gw kasih nama yang berbau Islami? Gw abstain. Pikiran gw cuman satu: kalau gw punya anak, gw nggak mau paspor anak gw dipersulit untuk masuk negara tertentu cuman gara-gara namanya disangka bersodara sama teroris.
***
Dan lagian, nggak semua nama Arab itu pasti Muslim. Di jazirah Arab sana, banyak banget orang keturunan Arab tapi tidak beragama Muslim. Mereka memeluk Kristen, dan nama mereka tetap nama Arab. Gw baca di National Geographic Indonesia Juni 2009, bahwa orang-orang Kristen Arab kadang-kadang dipersulit juga ketika mereka jalan-jalan ke Amerika Serikat. Banyak petugas (imigrasi) Amerika salah mengira bahwa orang-orang dari negeri Timur Tengah pasti beragama Arab, tidak mungkin beragama Kristen, dan mereka pikir agama Kristen itu lahir di Italia.
Membuat gw sadar bahwa ternyata ada negara yang pengetahuan sejarah dan geografi penduduknya lebih bobrok ketimbang Indonesia.
Memeluk agama itu hak prerogatif tiap orang. Menamai anak, entah itu dengan nama yang religius ataupun dengan nama yang tidak religius, itu juga hak pribadi tiap orang. Ya nggak usah dicurigain macam-macamlah, mulai dari yang nggak diundang ke tabligh akbar, apalagi sampek ditahan di ruang interogasi imigrasi segala.
Haruskah orang paranoid bahwa nama seseorang berarti berasosiasi dengan agama tertentu, dan agama tertentu diasosiasikan dengan teroris? Dan haruskah kita terobsesi untuk menamai anak dengan bau agama tertentu, cuman gara-gara takut dikira anak kita nggak religius?
*Teteh = sebutan untuk mbak-mbak di kalangan masyarakat Sunda **non-i = kode di kalangan pelajar dan mahasiswa, biasa digunakan untuk menyebut mereka yang bukan muslim

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

28 comments

  1. asopusitemus says:

    Hmmm… kadang saya juga berpikir, kenapa kok nama saya ga ada unsur islaminya? Tapi setelah saya pikir2 lagi, bener juga ya, dalam suatu nama yang diberikan pertama kali oleh ortu, terdapat doa dan harapan. Jadi, biarkanlah nama saya ini tetap seperti apa adanya. 😀

  2. Jujur aja. Awal-awal saya kenalan sama Pak Willy, saya sangka Pak Willy ini blogger Tionghoa lho. Baru setelah saya ngobrol sama Pak Willy, saya ngeh kalo Pak Willy ini guru madrasah tsanawiyah. Langsung Pak Willy saya copot dari daftar kartu Natal saya, hehehe..

    Alangkah cepatnya kita menilai seseorang cuman dari namanya. Saya tersinggung. Kalo kayak gini caranya, saya bisa ditolak jadi ketua majelis taklim manapun.

  3. willyedi says:

    Nasib sama, Vicky. Nama saya juga dianggap gak islami, Willy Ediyanto, kata seorang kakanwil depag dulu, tahun 1997, gak bisa jadi kepala sekolah – saya guru madrasah. Saya sih enjoy aja dengan nama ini. Bahkan seorang kawan lama berkomentar di blog saya, namanya sangat islami, katanya "Anda hebat" karena dia tidak berani keluar dari tempurung kampung halamannya.

  4. Betul. Kan Ibrahim itu lahir di kalangan yang sebenarnya memanggilnya Abraham. Ibrahim itu sebutan yang disesuaikan dengan pelafalan Arab. Meskipun dipanggil dengan dua nama yang berbeda oleh dua etnis yang berbeda juga, tapi toh orangnya tetap sama juga. Orang yang menghancurkan berhala sembahan raja, orang yang mencintai Sarah dan Hajar, orang yang memelopori pengorbanan daging untuk tanda bersyukur. Agak berlebihan kalau memuja nama Arab hanya karena (sebagian kecil) nabi berkebangsaan Arab.

    Ngomong-ngomong, saya nggak tahu kalau nama saya artinya mahkota. Ayah saya menamai saya Lauren sebagai pelesetan dari Flora yang artinya kembang, hahaha.. 😀

  5. yg salah dlm pandangan kita adalah bahwa nama yg baik adl nama arab.
    pdhal perintah nabi SAW hanyalah berilah nama anakmu dg nama yg baik..

    kebetulan, nabi seorang ARab.
    namun anak beliau diberi nama bukan dg nama Arab
    krn setahuku nama Ibrahim itu bukan nama yg berasal dr kata ARAB
    begitupula MUSA –> bahasa Ibrani Israel

    CMIIW !!

    nama Vicky Laurentina juga sebuah nama yg bagus dan mjd doa bg pemiliknya yg dipanjat dan harapkan oleh yg memberikan nama.
    Vicky -> from latin means kemenangan
    Laurentina -> Laurent –> Mahkota Kemenangan Puncak

    jadi diharapkan menjadi seorang yg mencapai puncak kemenangan barangkali…
    😀 😀

    CMIIW
    *salam

  6. Setuju sama Ariyanti. Namaku sendiri Sri Riyati (trus knp ya?). Apa sering dikira jualan jajanan di kampung? Nggak juga sih, padahal bener hahaha (bnr lho, bokap jual emping di Limpung). Iya, sayang ya orang sering dikait2kan sama namanya (yang dinilai dengan seenak udel), padahal yang ngasih kan ortu, kita terima jadi aja. Untung seribu beliung britama, namaku nggak aneh2 banget. Ada orang yang aneh namanya tapi sesuai: Doolittle and DeLay: orang amrik yang menunda penanganan pemanasan global, Lord Brain: dokter bedah saraf asal UK. Maria Stepanova: penunggang kuda loncat. Anna Smashanova :Petenis Israel. The Boxwell Brothers: perusahaan peti mati di Texas. Chip Silvertooth : dokter gigi .Dr Look: optalmologis asal cina, Dr Failor: prof di universitas, Justin Case: agen asuransi. Dan ada orang cina bernama Ho Lee Chouw. Aku baca dari sini: http://mrjam.typepad.com/diary/2008/07/people-whose-na.html

  7. Nah, Mbak Ariyanti bisa merasakan kan stigma beberapa orang yang dicapkan ke saya gara-gara nama saya bukan seperti nama Timur Tengah. Nama itu cuman nama, nggak mencerminkan keimanannya kok. Ya maaf aja, banyak kok saya lihat orang-orang yang namanya bau Timur Tengah tapi doyannya ngebuang bom sembarangan. Contohnya, Amr*zi, Im*m, dan entah mana lagi.

    Gimana kalau namanya seperti nama Timur Tengah, tapi doyan menyakiti hati wanita dengan cara mengoleksi gundik dan kawin di bawah tangan? Apakah itu perilaku yang diamanatkan sebagai muslim juga?

    Wijna, saya bisa ngerti kenapa orang lebih nyaman berkumpul dengan yang seiman. Tapi apakah kalau kita kumpul dengan yang bukan seiman, lantas apakah kita mesti pasang tameng ekstra waspada?

    Oh ya, yang dimaksud prinsip nama Indonesia itu kayak apa? Kalau orang Flores yang namanya bau-bau Portugis itu, termasuk nama Indonesia, nggak?

  8. Ariyanti says:

    Saya seorang muslim. Nama saya nama Jawa, hehe… Semua nama gak masalah, yg penting artinya baik… Yg agak bikin males adalah sekarang banyak yg pakai nama berbau Timur Tengah bukan karena artinya, tapi hanya karena lagi mode, seperti yg sering dipake utk anak2nya artis2 sinetron itu.

    Sepupu saya sempat diprotes sama keluarga besar, karena menamai anak laki2nya dengan nama berbau kebarat2an. Katanya seperti nama non muslim. Menurut saya, SO WHAT??? Memangnya kalau pakai nama yg gak berbau Timur Tengah, berarti menjadikan seseorang itu bukan muslim?

    Kita sendiri yg memberi makna kepada nama kita, bukan nama yg menentukan kita menjadi orang yg seperti apa.

  9. mawi wijna says:

    Ah agama, sepertinya mbak dokter orang-orang lebih nyaman berkumpul diantara kerumunan yang seiman. Jadilah tercipta pembeda yang berkedok agama. Nama orang pun disalahkan. Ckckck…ciloko tenan!

    Kalau saya sih, punya prinsip orang Indonesia mesti bernama Indonesia. 😀

  10. Tergantung dilihat dari sudut pandang mana, saya mirip orang China, hehehe. Sahabat saya dulu juga banyak yang orang China, makanya saya sering dikira China Kristen. Tapi dampak jeleknya kalo saya jalan-jalan ke pasar, penjualnya lihat tampang saya, langsung mereka pasang harga tinggi dan saya nggak boleh beli murah. Kesiyan deh diriku.. 😛

  11. Itik Bali says:

    Yah untung namanya Mbak Vicky adalah Vicky
    bukan jamilah atau siapa yang berbau Arab
    karena saat ini penyandang nama yang demikian lagi banyak mendapat tantangan

    Mba Vicky wajahnya mirip china, namanya juga mendukung..
    ibuku namanya Fitri padahal orang Hindu
    pas diBandara..dicurigaiii melulu..
    nasib nasib

  12. Qori says:

    Kalau setau ane,,,
    nama itu mengandung doa,,,
    jadi lewat sebuah nama itu mengandung sebuah doa,,,
    misalnya nama Muhammad, diharap anaknya bisa mengikuti perilaku Nabi Muhammad.
    Nah karena nama itu doa yang mungkin tidak dikabulkan Tuhan doanya, ya jadi jangan salahkan ada orang gak baik bernama Muhammad.

    Ps: Kalau ane sih pengen nambah nama klan dibelakang menjadi Muhammad QOri Reader.
    Diluar ternyata ada nama internasional rupanya.

  13. Ya itulah, untungnya kalo orang-orang Sunda jarang dikaitin sama teroris, biarpun sebenarnya banyak teroris dari tanah Sunda tapi mereka sendiri ganti nama jadi nama Timur Tengah. 😀 Gw juga curiga jangan-jangan komputernya petugas imigrasi dipasangin semacam alarm gitu, biar kalo dimasukin nama warga bernama tertentu, langsung komputernya kedap-kedip kayak disko..

    Nyari nama anak tuh emang nggak usah banyak aturan. Yang penting namanya nggak bikin susah diucapin oleh orang yang mau manggil dia.. 😀

  14. cepot says:

    huhu kenapa arab atau timur tengah selalu identik dengan teroris?? untung nama gua sunda jadi identik sama cepot hahaha

  15. sibaho way says:

    kayak pola berpikir ala aritmatik mbah google aja, kata-kata 'kaki telanjang' atau 'mata telanjang' juga dianggap pornografi xixixixi….

  16. abrus says:

    Kata2 : apalah arti sebuah nama, hanya utk membedakan si A dgn sI B dst dst … padahal ibu kita waktu memberi nama anaknya 'pake acara bubur merah putih … 😛

  17. Mas Fahmi aman kalo mau ke Timor Leste. Negara itu nggak pernah dibikin kacau oleh orang-orang yang namanya berbau Mesir. 😀

    Aku sudah ratusan kali dikira non-muslim, baik oleh orang-orang di luar agamaku, maupun yang di dalam agamaku sendiri. Nggak masalah.

  18. Jujur aja, sebelum film ini beredar, aku nggak tahu nama Khan itu nama muslim. Aku selalu ngira nama Khan itu nama India atau nama Mongol. Lihat aja, Shakrukh Khan, Genghis Khan.. 😀

  19. Film My Name is Khan kalau gak salah juga bercerita tentang praduga bahwa setiap nama "Khan" adalah teroris shg waktu ada "Khan" di Amerika maka dia kerepotan berurusan dg pihak yg berwenang disana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *