Kamu Loncat, Saya Ongkang-ongkang

“If you jump, I jump.” Itu kata Leonardo DiCaprio waktu Kate Winslet waktu mau loncat dari pinggir kapal Titanic. Mestinya orang-orang itu ditontonin film ini dulu sebelum direkrut jadi Satpol PP.
Kerusuhan di Koja, Tanjung Priok, Jakarta, dua hari lalu, ternyata membunuh anggota Satpol PP sendiri. Polisi-polisi pamongpraja itu semula diperintahkan oleh bosnya (gw bosen dengan kata “atasan”) untuk menertibkan bangunan liar di kawasan pemakaman mesjid Mbah Priok. Entah kenapa manifestasi di lapangannya jadi liar, penertiban itu berujung-ujung perlawanan sengit dari warga setempat, yang membuahkan kerusuhan berat. Ratusan orang terluka, dan sejauh yang gw lihat di Koran tadi pagi, ternyata jumlah korban yang terluka lebih banyak berasal dari Satpol PP ketimbang warga sendiri. Aneh, batin gw. Sampeyan yang nyulut api, tapi sampeyan yang lebih banyak terluka.
Tiga orang sudah meninggal gara-gara kerusuhan itu, dan tiga-tiganya adalah anggota Satpol PP. Semuanya laki-laki. Terus terang aja, buat gw pribadi, gw lebih kesiyan kalau lihat laki-laki yang meninggal ketimbang perempuan yang meninggal. Apalagi kalau yang tewas ini orangnya masih muda. Konsekuensi dari laki-laki yang meninggal, akan ada istri yang jadi janda, dan akan ada anak yang jadi yatim. Itu jauh lebih berat ketimbang duda ditinggal mati istrinya. Gw bertanya-tanya, apakah orang-orang Satpol PP itu nggak mikir dulu sebelum mereka menyerbu kompleks pemakaman itu, bahwa tindakan itu bisa bikin marah banyak orang? Semua orang di mana-mana juga tahu prinsip dasarnya, “Kalau kuburan diganggu, pasti akan ada yang ngamuk!” Entah yang ngamuk itu adalah yang masih hidup, atau yang ngamuk itu adalah yang sudah mati. Hasilnya ya tetap sama aja, akan ada korban.
Tapi kalau kita memikirkan secara personal, pasti tiap anggota Satpol PP itu akan kasih jawaban yang seragam seperti kaset rusak, “Kami hanya menjalankan perintah atasan.”
Apakah perintah atasan itu juga termasuk mengganggu tempat tinggal orang?
Lalu sebagai warga sipil yang awam, gw pun bertanya-tanya, kalau atasan itu nyuruh anak buahnya masuk jurang, apakah para anak buah juga akan masuk jurang sungguhan?
Makanya gw benci banget sama kata “anak buah”. Kesannya anak buah itu bisa disuruh-suruh apa aja gitu. Coba diganti dengan kalimat “pegawai Satpol PP diperintahkan untuk menertibkan bangunan liar”, pasti eksekusi di lapangannya akan dilaksanakan lebih sopan. Tidak perlu ada yang marah-marah, tidak perlu ada yang sampai lempar-lemparan bom molotov, tidak perlu ada anggota Satpol PP yang tewas gara-gara dihajar warga. Warga mana ngerti kalau sang anggota Satpol PP itu sebenarnya adalah jemaah mingguan mesjidnya Mbah Priok? Warga cuman tahu Satpol PP itu orang-orang bertameng yang mau ngobrak-abrik kompleks mesjidnya Mbah Priok, jadi ya harus dilawan.
Kalau gw jadi janda dari salah satu anggota Satpol PP yang tewas itu, gw akan bertanya-tanya, siapa bosnya suami gw? Siapa orang yang udah nyuruh suami gw ngebongkar kuburan orang? Siapa orang yang udah memerintahkan suami gw buat maju menindas bangunannya warga sipil? Siapa orang yang udah menitah suami gw buat bikin orang lain ngamuk dan sebagai balasannya malah melawan dan mengeroyok suami gw sampek tewas? Siapa yang bertanggungjawab bikin gw jadi janda, sanggup nggak sekarang tuh orang nyekolahin anak-anak gw setelah bokapnya anak gw terbunuh gara-gara katanya “menjalankan perintah atasan”?
Atasan tuh, kalau mau kasih perintah berbahaya ke bawahannya, dirinya sendiri ya mesti ikutan melaksanakan. Jangan cuman ongkang-ongkang kaki doang sembari ngebul ji-sam-su di pos. Tirulah kata Leonardo DiCaprio di Titanic, “You jump, I jump.” Sampeyan masuk jurang, saya ya ikutan masuk jurang. Karena saya yang nyuruh sampeyan masuk jurang.
Makanya gw bilang juga, sebelum direkrut jadi Satpol PP, mbok anggota-anggotanya itu disuruh nonton Titanic dulu. Supaya semua orang, baik bawahan maupun atasan, tahu artinya setia kawan, dan bukan cuman satu orang yang duduk enak-enak sementara yang lainnya menyabung nyawa. Ngomong-ngomong, apakah konsekuensi dari Satpol PP di Indonesia itu memang menyabung nyawa?
Salut, buat para wanita yang bersedia jadi istrinya anggota Satpol PP. Siapa mau nyusul?
Yang di atas itu foto Aida Afriyanti, pacar dari Ahmad Tajudin, salah satu korban Satpol PP yang meninggal, diambil dari sini

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

22 comments

  1. asopusitemus says:

    Yah, emang ironis…
    Kayaknya ada kesalahpahaman di antara dua pihak itu… Dua2nya malah tersulut emosinya. Ya udah deh, perang jadinya.
    Tapi yang saya baca di tvone.co.id, kata Satpol PP, waktu kerusuhan itu, para polisi malah kabur meninggalkan Satpol PP. Ga tahu deh yang mana yg bener… 🙁

  2. Sri Riyati says:

    Paling males berurusan sama aparat…sedih2, nggak bisa apa2. Sebenernya aku lebih sedih dengan warga yang dikasari. Kalo warga bales ngamuk, itu karena ini bukan yang pertama kalinya ditindas. Lha aparat kok mau aja ya disuruh nyemplung sumur? Emang penertiban itu bnr2 tugas? Bisa nggak sih dilakukan scr baek2?

  3. Bukti lingkaran setan yang kronis. Mereka merasa tinggal dengan sah coz bukti hukumnya memang ada, mereka punya dokumen hukum yang menyatakan itu. Sayangnya ada surat hukum lain yang dimiliki Pemda yang menyatakan itu tanahnya Pemda juga. Jadi ini akibatnya kalo legalisasi surat itu dobel.

    Tapi masalah ini sebenarnya bisa diomongin baik-baik kalau Pemda mau berunding dengan tokoh masyarakat lokal. Cari solusinya biar sama-sama enak buat kedua pihak. Pemda kan kerjaannya mestinya gitu. Melindungi rakyat, bukan menyulut amarah rakyat.

  4. Cynical Girl says:

    susah juga sih, kadang orang2 kita itu udah salah tapi ngelawan juga. uda tau bukan tanah milik mereka, ditempatin juga. malah sampe bikin bangunan semi permanen. kalo diusir alasannya penindasan rakyat kecil. kayaknya diajak ngomong juga yg ada malah marah2

  5. Ih, saya baru tahu kalo BOS = Bikin Orang Susah, hahaha..

    Saya cuma kesiyan sama para wanita yang menderita karena suami dan pacar mereka tewas dan luka-luka. Dan penderitaan itu terjadi karena mereka jadi anggota Satpol PP.

  6. mawi wijna says:

    Katanya Satool PP:

    Kami hanya menjalankan perintah atasan. Kalau nggak, nanti kami dipecat. Kami ndak dapat duwid. Keluarga mau makan apa? Cari kerjaan aja susah.

    Jadi ini semua gara-gara perkara duid (harta) toh?

    Kalau nggak, ngapain harus mpe bentrok-bentrokan memperebutkan makam. Beh!

  7. Enaknya sesudah Priok Berdarah ini, semua kran air dimatiin aja biar nggak ada yang panik nyari kobokan. Cuci tangan sama sekali bukan tindakan pimpinan yang arif.

  8. tuh dia..kadang boss suka seenaknya merintah, anak buah, eh ..pegawainya yg kena batunya deh. kanan kiri oke. gak dilaksanakan dimarahin, masih bagus kalo gak ampe di pecat. dilaksanakan, dihajar orang byk. duuuh….

  9. depz says:

    berad dah kalo dikait2in sama kepercayaan dan agama

    yg gw sayangkan cuma 1
    kenapa kekerasan (hampir) selalu menjadi solusi yg diambil

  10. Kalau mau cepat terlaksana, ya memang pakai adu jotos. Durasinya kilat, langsung sehari selesai. Mungkin satu-dua orang akan terluka, tapi yang penting atasannya nggak terluka. Bukan begitu?

    *sinis*

    Bandingkan kalau pakai acara runding-rundingan dulu, sampai bertahun-tahun juga nggak akan tercapai tujuannya "para atasan". Yang penting proyeknya "atasan" kan tercapai, perkara warga keilangan tempat, siapa mau peduli?

    Sebenarnya, di kompleksnya Mbah Priok itu memang ada bangunan liar. Dari dulu mau ditertibkan untuk keamanan dan ketertiban kota, tapi warganya nggak mau bangunan liar itu dipindahkan. Jadi memang maksudnya Satpol ini baek. Tapi caranya itu yang salah, pakai acara sodok-sodok segala..

  11. DewiFatma says:

    Mestinya para "atasan" nggak langsung nyuruh Satpol PP langsung berkompi-kompi kesana dengan arogannya. Grasa-grusu bikin warga marah. Mestinya ada pedekate dulu oleh para atasan kepada warga sana. Ngomongin baik-baik, kita mau begini mau begitu. Mesti ada pedekate dari hati ke hati antara si "atasan" entah siapapun itu ke warga apalagi menyangkut tempat yang istilahnya "diistimewakan". Biar gak ada korban yang notabene orang rendahan, yang atas sih nyante… Btw, lagian kenapa sih komplek Mbah Priok mau di obok-obok? Apa yang salah sih disono?

  12. AdeLheid says:

    harusnya jadi pimpinan maju didepan kek orang perang jaman dulu itu…
    Kalau jaman sekarang cuma bilang "serbuuuu", tapi yang punya suara mundur kebelakang sambil cuci tangan~
    Ngga ada solusi lain apa ya, sampe harus adu jotos kek gini 🙁 *sedih jadinya*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *