Disakiti Guru


Ironisnya, curhat ini gw tulis pada Hari Pendidikan Nasional.

Hari masih pagi, mata gw masih kriyep-kriyep waktu kemaren adek gw memberondong sambil mengacungkan sebuah lukisan cat minyak. “Ky, menurutmu ini gambar apa?”

Gw membuka sebelah mata dan memandangnya sekilas. “Musim gugur,” jawab gw pendek, lalu merem lagi.

Tapi adek gw nggak puas. “Bisa nggak kamu lihat di sini ada pohon?”

Gw melek lagi, menatapnya agak lama. “Itu pohon besar dan daun-daun berguguran,” lalu gw merem lagi.

Adek gw kemudian mendengus.
“Katanya guruku, pohon ini pohon setan. Ini mah gambarnya anak te-ka.” Dia terdengar marah. “Menurutku, dia bukan (pantas jadi) guru seni.”

Kali ini gw melek sungguhan. Hati gw tersinggung. Mosok karya adek gw dibilang pohon setan? Memangnya adek gw pemuja aliran sesat?

Gw menatap lukisan itu. Oke, memang ada pohon, tapi yang daunnya lebat berguguran melayang-layang, keliatan kok dari sapuan kuasnya yang kasar. Apakah gurunya nggak pernah lihat pohon di musim gugur? Apa wawasan gurunya nggak sampek ke situ?

“Dek,” kata gw belagak bijak. “Beberapa orang (yang sebenarnya tidak cukup pantas) ada yang menyogok untuk bisa (diangkat) jadi guru.”

***

Gw sering lihat murid trauma kepada pelajaran matematik atau fisika, tapi jarang ada orang trauma kepada pelajaran menggambar seperti gw (dan adek gw). Gw inget jaman kami masih sekolah dulu, pelajaran gambar selalu bikin gw stress. Nggak ngerti kenapa, tiap kali gw ngegambar tuh selalu nampak jelek di mata guru gw. Dia selalu ngetawain gambar gw dan kasih nilai gw 6 (nilai paling jelek dalam pelajaran kesenian), sampek-sampek gw malu sendiri dibuatnya dan gw jadi nggak pe-de kalau ngumpulin karya gw. Maka sekarang nggak ada sisa-sisa gambar gw pas jaman gw masih sekolah dulu, coz sepulang sekolah selalu aja gambar gw yang udah dinilai oleh guru gw tuh gw buang ke tempat sampah.

Padahal, menggambar seharusnya jadi pekerjaan yang mudah. Kan tinggal ambil pensil, terus corat-coret seenak hati. Tapi gw dan adek gw nggak pernah dapet nilai bagus untuk pelajaran seni rupa, maka tidak heran setelah besar kami nggak mau jadi seniman dan malah memilih jadi dokter. Trauma pelajaran menggambar itu membekas di hati kami terlalu dalam.

Yang mengusik gw, gw nggak pernah percaya gw nggak bisa menggambar. Gw jagoan banget kalau ngegambar denah rumah, atau gambar peta kota, atau gambar rute pembuluh darah. Dan itu nggak usah lihat contoh, tinggal lihat objeknya sungguhan, lalu gambarlah. Jadi bo’ong kan kalau dibilang gw nggak becus di pelajaran seni rupa?

Gw nggak pernah ngerti, sebenarnya apa yang jadi standar buat guru pelajaran seni rupa untuk menilai karya muridnya itu bagus apa enggak. Celetukan “pohon setan” yang keluar dari mulut guru kami untuk lukisan adek gw seolah melecehkan karya kreasi adek gw sebagai murid. Kesannya tuh, pohon bikinan adek gw itu jelek banget. Padahal apa yang jelek menurut guru gw bisa jadi indah menurut orang lain. Gw ngomong begini bukan karena murid korban di sini adalah adek gw. Tapi karena seni itu tidak relatif, sehingga mestinya selera tidak bisa jadi standar untuk kasih nilai bagus atau jelek.

Kenapa gurunya nggak bilang aja ke adek gw, “Saya nggak bisa mengerti, sebenarnya kamu ini mau menceritakan apa dalam gambar ini?” Barangkali adek gw mungkin tidak menyampaikan maksud “pohon di musim gugur”-nya dengan jelas, sehingga pesan yang disampaikan dalam gambar itu tidak nyantol di mata orang yang melihat gambarnya. Kan dari situ bisa nampak kekurangan muridnya, sehingga gurunya bisa membimbing bagaimana caranya menggambar supaya fokus pohon itu jelas. Bukan sekedar menggoreskan angka 6 di belakang kanvas dan menyebutnya “pohon setan”. Adek gw patah hati gara-gara itu, dan dia mengubur lukisannya dalam peti di kamar, tanpa mau melihatnya lagi sampek belasan tahun kemudian, ketika kami berdua sudah jadi dokter dan dia mau membersihkan kamarnya.

Guru seharusnya membimbing, bukan sekedar menyalahkan murid. Guru seharusnya memotivasi murid, bukan sekedar berpegang pasif pada garis-garis besar pengajaran dari Departemen P & K. Guru seharusnya berupaya supaya murid itu menyukai pelajaran yang diajarkannya, bukan sekedar bertingkah “Kamu kalau nggak suka pelajaran saya, keluar!” Guru seharusnya merangsang rasa percaya diri murid untuk menghargai hasil kerjanya sendiri, bukan malah menjelekkan hasil jerih payah murid dengan angka pas-pasan.

Adek gw, kini menggantung lukisan pohon itu di kamarnya. Persetan gurunya cuman kasih gambar itu nilai 6, tapi adek gw bangga dengan hasil karyanya sendiri. Dan buat gw, itu bukan gambar pohon setan. Itu pohon di musim gugur, dan gambar itu adalah bikinan adek gw, dan gw bangga bahwa dia bisa menggambar musim di negeri yang tidak pernah dia lihat.

Vicky Laurentina

I am a commercial blogger, a physician, a trader, and a mother.

30 comments

  1. Hoeda Manis says:

    Like this. Mirip banget dengan kisahku. Bedanya, aku selalu dapat nilai 9 untuk menggambar, tapi ancur banget di matematika. In fact, sampai sekarang tetap aja aku goblok banget kalau urusan angka2.
    Btw, para guru seharusnya baca post ini nih, biar pada sadar dan segera kembali ke jalan yang benar. Halah!

  2. hadisome says:

    dok, apa yg diutarain si guru itu cuma nurutin egonya. gak usah didengerin lah…
    salut buat adikmu yang sekarang mulai bangga memajang gambar pohon setannya hehehe

  3. didut says:

    mungkin yg bslm diajarkan ke guru-guru di Indonesia adalah bagaimana encouraging murid-murid mereka 😛 …sedih juga kl ada yg bandel terus dihukum fisik doang ..lah bentuk pendidikannya dimana?

  4. Kami berdua nggak kidal. Kami berdua masih suka makan donat pakai tangan kanan.. ^_^

    Saya mikir juga sih bahwa mungkin lukisan adek saya yang waktu itu masih SMP itu mirip lukisan anak TK. Mungkin kemampuannyamemang cuman segitu. Tapi bisakah itu dikomunikasikan oleh gurunya tanpa harus diucapkan dengan nada penuh pelecehan?

  5. berarti dirimu dan adekmu ga kidal ya? konon yang kidal punya kemampuan lebih dalam hal seni dan bahasa…

    Bukannya membela sang guru, tapi menggambar dengan melukis itu berbeda. Peta, bangunan, dan aliran darah itu menggambar, karena dirimu tidak bisa keluar dari pola yang ada. Sementara melukis memerlukan kreatifitas. Kalau sang guru berpendapat lukisan adekmu bagaikan gambar anak TK berarti mungkin yang dilakukan adekmu lebih seperti menggambar. Ini cuma pendapat lho…

    Lukisan adekmu bagus kok, sangat menggambarkan suasana musim gugur ^_^

  6. Ari says:

    saya seorang guru, cerita di atas memang seringkali terjadi.
    Seorang guru mungkin tidak memikirkan kata2nya yg telah dia ucapkan (lupa) krn sambil lalu saja. Tetapi hal itu bisa membekas pada diri anak.
    Sebaiknya seorang guru harus memahami dan sangat berhati-hati dalam hal itu.

    SALAM KENAL

  7. Hehe… kalo dulu kebetulan guruku gak tega2 amat ngasih nilai jelek paling jelek nilainya 7, tapi ya kelemahannya beliau gak ngasih tahu kenapa gambranya X yang kupikir sama aja dengan gambarku nilainya lebih bagus… Mungkin gurunya asal kali ye….

  8. Wah, aku pernah ngerasain juga tuh udah capek-capek bikin tugas tapi kemudian malah dituduh nyontek. Kadang-kadang aku merasa posisi kita terhadap guru tuh bukan menghadapi orang yang mendidik kita, tapi lebih mirip menghadapi atasan, cuman dia mengupahi kita dengan ijazah..

  9. avokadojuice says:

    Q pernah ky gt, tp sama guru TIK, gra2 disuruh ngumpulin tgs yang diharuskan browsing di internet, karna hasil gambar dari internet warnanya kuning pas diprint jadinya agak nggak jelas gitu, eh si guru lgs nuduh klo Q fotocopy tgs dr temen, dy blg gn: "saya itu tau mana yang hasil print2an dan mana hasil fotocopy"
    Q lmyan dendam ma tu guru,dan sekarang sampe Q jd mhasiswa TI jg te2p ksel klo ingt kjadian itu

  10. Kurasa mengajar itu gampang. Tapi mendidik murid untuk jadi kreatif itu susah. Apalagi kalau pola pikir guru menganggap bahwa kreasi murid haruslah sama dengan apa yang dipikirkan guru.

    Sebenarnya aku senang menggambar. Tapi aku nggak suka gambarku dinilai. Coz kreativitas itu tidak punya standar penilaian. 🙂

  11. Ira says:

    berarti gurunya tidak bisa mendidik murid untuk berpikir kreatif… harusnya bebaskan saja murid berkreasi seperti apa…

  12. Heran.., guru2 sekarang kok banyak yg cuek bgt ya..?
    Waktu aku sekolah dulu guru2nya masih perhatian dan care pada murid2nya.
    Giliran Shasa… dia dapatnya guru yg jutek dan cuek…

  13. Ya ndak bisa gitu, Ndri. Itu namanya gurunya nggak mau membimbing murid yang "tidak seiman". Padahal kan guru mestinya ndak boleh pilih-pilih..

    Ndak pa-pa, adekku lulus Ebtanas, lulus UMPTN, sekarang udah disumpah. Tidak akan mati cuma gara-gara nilai menggambar dapet 6. Paling-paling, jadi nggak gampang menghargai hasil karya orang lain aja..

  14. Guru lukisnya mungkin punya aliran yg lain vic..kalo alirannya abstrak bisa jadi ngasih nilai bagus..hmm..Dapet nilai jelek juga gak pa pa..toh gak masuk UN kan?..hihi..

  15. Aku nggak percaya siapapun, selain Tuhan dan diriku sendiri. Jadi aku nggak pernah membiarkan guruku "membunuh" karakterku.

    Oh ya, aku belum nonton film India itu. Katanya seh filmnya bagus. 🙂

  16. sibaho way says:

    cocok dengan cerita 3 Idiot ( dah nonton kan vic ? ) bedanya, guru yang kompeten pun dapat 'membunuh' siswanya dengan cara berpikir yang kaku 🙂

  17. Seharusnya kita satu sekolah, Mas. Jadi kalau aku ada masalah dengan pelajaran menggambar, aku bisa pura-pura minta diajarin sama Mas. :-p

    Di sekolahku ndak ada pelajaran bahasa Jawa, tapi ada bahasa Sunda. Ndak ada pelajaran nulis huruf Sunda yang mirip honocoroko itu, tapi ada pelajaran memahami isi pupuh (karya sastra khas Sunda, berupa puisi yang ada rima-rima tertentu). Nah, itu juga mbencek'no, hehehe.. 😀

  18. fahmi! says:

    Lha kalo aku dulu malah paling menikmati pelajaran seni rupa. Nilaiku selalu bagus, bahkan ada lukisanku yg sempat dipamerkan. Pelajaran paling mbencekno buat aku dulu bahasa daerah dg tulisan honocoroko yg asing pol buat aku. Aku merasa seperti berkomunikasi dg alien 😛

  19. Wah, kalau gurunya nggak tulus, jangan jadi guru deh. Mendingan jadi pedagang aja. Murid-murid dalam bahaya trauma psikologis kalau dididik oleh orang yang nggak niat jadi pendidik begitu.

    Atau..jangan-jangan, guru itu hanya pengajar, bukan pendidik?

  20. ada SD deket rumah saya yang gurunya juga suka nyebelin gitu…
    yah, memang banyak orang yang jadi gurunya gak tulus, terpaksa dan tanpa dedikasi.
    semmoga gak terus-terusan begitu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *